Diabetes

Penderita Diabetes Berisiko Terkena Hipotensi, Benarkah Demikian?

November 14, 2020 | Nik Nik Fadlah | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Diabetes dan hipotensi atau tekanan darah rendah adalah dua kondisi yang berbeda. Meskipun berbeda, penderita diabetes dianggap berisiko untuk terkena hipotensi. Lantas benarkah demikian?

Sekilas mengenai diabetes dan hipotensi

Diabetes adalah penyakit kronis yang terjadi ketika pankreas tidak lagi dapat membuat insulin, atau ketika tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang diproduksi dengan baik.

Insulin sendiri adalah hormon yang dibuat oleh pankreas. Insulin bertindak seperti ‘kunci’ untuk melepaskan glukosa (gula) dari makanan yang kita konsumsi, mengalir dari aliran darah menuju sel-sel di dalam tubuh untuk menghasilkan energi.

Di sisi lain, hipotensi adalah kondisi di mana tekanan darah rendah atau kurang dari 90/60 mmHg. Sedangkan, tekanan darah yang normal atau optimal adalah kurang dari 120/80 mmHg.

Perlu kamu ketahui bahwa, penyebab tekanan darah rendah sangat bervariasi, dari mulai dehidrasi hingga suatu kondisi medis tertentu.

Baca juga: Hipotensi Ortostatik

Lantas, apakah penderita diabetes lebih rentan untuk terkena hipotensi?

Melansir dari Diabetes self-management, pada kasus neuropati diabetik, orang yang menderita diabetes mungkin mengalami hipotensi postural. Yakni tekanan darah rendah yang terjadi saat kamu beralih dari duduk atau berbaring, kemudian berdiri.

Hal tersebut mungkin saja terjadi karena jenis kerusakan saraf yang disebut dengan neuropati otonom (autonomic neuropathy). Neuropati diabetik sendiri adalah komplikasi diabetes yang mengakibatkan kerusakan sistem saraf.

Mengenal lebih dalam hipotensi postural dan neuropati otonom

Agar kamu lebih paham, berikut adalah penjelasan masing-masing dari hipotensi postural dan neuropati otonom.

Hipotensi postural

Seperti yang sudah diketahui sebelumnya bahwa hipotensi postural atau yang juga dikenal sebagai hipotensi ortostatik adalah bentuk tekanan darah rendah yang terjadi saat seseorang berdiri dari duduk atau berbaring.

Hipotensi ortostatik sendiri memiliki beberapa gejala di antaranya adalah:

  • Sensitif terhadap cahaya
  • Pusing saat berdiri
  • Penglihatan kabur
  • Merasa lemah
  • Mual.

Terdapat beberapa faktor risiko dari hipotensi ortostatik yang perlu kamu ketahui. Berikut adalah faktor risiko dari hipotensi ortostatik seperti yang telah dilansir dari Mayo Clinic.

  • Usia: Kondisi ini sering terjadi pada mereka yang berusia 65 tahun ke atas.
  • Kondisi medis tertentu: Beberapa kondisi jantung, seperti masalah katup jantung, serangan jantung atau gagal jantung, gangguan sistem saraf tertentu, seperti penyakit Parkinson. Selain itu, penyakit yang menyebabkan kerusakan saraf (neuropati) seperti diabetes juga meningkatkan risiko tekanan darah rendah.
  • Berada di lingkungan yang panas: Berada di lingkungan yang panas dapat menyebabkan keringat berlebih dan kemungkinan dehidrasi. Hal ini dapat menurunkan tekanan dan memicu hipotensi postural.
  • Kehamilan: Selama kehamilan, sistem peredaran darah berkembang pesat, hal ini memungkinkan tekanan darah turun.

Neuropati otonom

Neuropati diabetik dibagi dalam 4 jenis, di antaranya adalah neuropati perifer, neuropati otonom, neuropati proksimal, serta mononeuropati (neuropati fokal).

Neuropati otonom sendiri adalah jenis neruopati diabetik yang dapat memengaruhi tekanan darah, kontrol suhu, pencernaan, fungsi kandung kemih, atau bahkan fungsi seksual.

Tanda dan gejala neuropati otonom sangat bergantung pada saraf yang terkena. Namun, beberapa gejala yang mungkin saja ditimbulkan dapat termasuk:

  • Pusing atau bahkan pingsan saat berdiri, yang dapat disebabkan oleh penurunan tekanan darah secara tiba-tiba.
  • Kesulitan buang air kecil, inkontinensia (kehilangan kontrol kandung kemih), atau bahkan ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih sepenuhnya.
  • Kesulitan mencerna makanan.
  • Berkeringat terlalu banyak atau sedikit.

Adapun beberapa faktor risiko dari neuropati otonom di antaranya adalah:

  • Diabetes: Faktor risiko pertama adalah diabetes, terutama jika tidak terkontrol dengan baik, yang mana dapat meningkatkan risiko neuropati otonom maupun kerusakan saraf lainnya.
  • Kondisi tertentu: Porfiria, amiloidosis, atau bahkan hipotiroidisme juga dapat meningkatkan neuropati otonom.

Baca juga: Diabetes Sebabkan Keringat Berlebihan? Ini Penjelasan Medis dan Cara Mengatasinya!

Bagaimana cara mencegah hipotensi?

Setelah mengetahui fakta sebenarnya, sangat penting bagi penderita diabetes untuk melakukan pencegahan terhadap hipotensi.

Seseorang mungkin saja dapat mencegah hipotensi dengan mengubah gaya hidup dan pola makan. Nah, berikut ini adalah beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah hipotensi.

  • Makan dalam porsi kecil serta batasi makanan berkarbohidrat tinggi
  • Hindari minuman beralkohol
  • Tetap terhidrasi dengan mengonsumsi air putih
  • Berdiri perlahan ketika kamu duduk atau berbaring.

Itulah beberapa informasi mengenai diabetes dan hipotensi. Baik diabetes maupun hipotensi adalah kondisi yang harus diperhatikan. Untuk mengetahui kondisi ini lebih lanjut, kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

Cleveland Clinic (2019). Diakses pada 13 November 2020. Low Blood Pressure (Hypotension): Prevention 

Diabetes Self-Management (2017). Diakses pada 13 November 2020. When Is Blood Pressure Too Low

International Diabetes Federation (2020). Diakses pada 13 November 2020. What is diabetes 

Mayo Clinic (2020). Diakses pada 13 November 2020. Orthostatic hypotension (postural hypotension) 

Mayo Clinic (2020). Diakses pada 13 November 2020. Autonomic neuropathy

Medical News Today (2019). Diakses pada 13 November 2020. What to know about diabetic neuropathy 

Webmd (2019). Diakses pada 13 November 2020. Understanding Low Blood Pressure — the Basics 

 

    register-docotr