Menyusui

Efektif Turunkan Berat Badan, Apakah Ibu Menyusui Boleh Puasa Intermitten?

November 4, 2020 | Anisya Fitrianti | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Moms, menurunkan berat badan setelah melahirkan tentu jadi tantangan besar bagi setiap wanita. Terlebih pada masa menyusui yang seringkali membuat Moms ingin makan lebih banyak.

Ada banyak cara yang populer untuk dilakukan agar berat badan bisa turun selagi menyusui. Salah satunya adalah dengan puasa intermitten. 

Puasa intermitten merupakan cara diet yang dilakukan dengan membatasi waktu makan dan minum. Namun apakah benar bahwa ibu menyusui boleh melakukan puasa intermitten? Ketahui manfaat, risiko, serta informasi selengkapnya di sini. 

Baca Juga: Berat Badan Turun Drastis Akibat Menyusui, Apa Saja Penyebabnya?

Manfaat puasa intermitten

Secara umum, puasa intermitten adalah diet dengan cara menerapkan pola makan yang berbeda dalam kurun waktu tertentu. Ada beberapa teknik yang digunakan oleh orang untuk melakukan puasa intermitten. 

Ada yang melakukan dengan metode 16:8 yakni berpuasa selama 16 jam dan menyisakan 8 jam untuk makan. Ada juga yang melakukannya dengan metode eat-stop-eat yakni menjalani 24 jam tanpa makan selama sekali atau dua kali dalam seminggu.

Manfaat puasa intermitten, utamanya adalah untuk menurunkan berat badan. Puasa intermitten juga mengurangi peradangan dalam tubuh, menurunkan kadar gula darah, kolesterol dan tekanan darah.

Puasa intermitten efektif menurunkan berat badan karena tubuh mengalami pengurangan konsumsi kalori selama beberapa waktu. Tubuh kemudian menggunakan cadangan lemak sebagai energi. 

Lalu, bolehkah ibu menyusui melakukan puasa intermitten?

Dilansir dari Women’s Health, Torey Armul, R.D.N, seorang ahli dari Academy of Nutrition and Dietetics tidak menyarankan puasa intermiten pada ibu yang sedang menyusui. Terutama jika Moms sedang menjalani masa menyusui yang sangat aktif dan sumber nutrisi utama untuk si Kecil. 

Secara umum, ibu menyusui membutuhkan tambahan 330 hingga 600 kal makanan tambahan untuk menambah produksi ASI. Jenis makanan yang dikonsumsi juga harus kaya akan protein, zat besi dan kalsium untuk memberikan nutrisi yang tepat bagi bayi.

Ketika Moms makan dengan benar dan cukup, si Kecil juga akan mendapatkan kebutuhan yang diperlukan. Sebaliknya, ketika asupan Moms berkurang si Kecil dapat terkena dampaknya juga lewat ASI yang ia konsumsi.

Di samping itu, sebagian besar cairan yang dibutuhkan tubuh juga berasal dari makanan yang dikonsumsi. Bila melakukan puasa intermitten, asupannya akan berkurang drastis dan dapat menyebabkan dehidrasi.

Pada kondisi tertentu, dehidrasi pada ibu menyusui juga dikhawatirkan dapat menyebabkan penyumbatan saluran ASI. 

Risiko puasa intermiten bagi ibu menyusui 

Ketika melakukan puasa intermiten, otomatis asupan makanan menjadi lebih rendah. Kondisi ini dapat  berdampak negatif pada kandungan nutrisi dalam ASI. Khususnya zat besi, yodium, dan vitamin B-12. Sehingga bayi tidak mendapatkan nutrisi yang cukup. 

Risiko lainnya adalah suplai ASI akan menurun atau rendah. Ketika asupan kalori, nutrisi maupun cairan rendah, produksi ASI dalam tubuh akan menurun. Belum lagi, bagi sebagian ibu menyusui, mengembalikan suplai ASI tidak akan mudah dan butuh kerja keras. 

Di samping itu, nutrisi tubuh yang tidak tercukupi juga sangat mungkin memengaruhi kesehatan tubuh Moms sendiri. Kekurangan nutrisi dapat menyebabkan penyakit anemia defisiensi vitamin. Kondisi ini ditandai dengan kelelahan, sesak napas, penurunan berat badan hingga kelemahan otot. 

Puasa intermiten sebenarnya lebih berisiko pada kondisi kesehatan Moms daripada si Kecil. Bila kondisi Moms tidak fit atau mudah kelelahan pastinya mengurus si Kecil jadi lebih sulit.

Bagaimana dengan puasa intermitten karena alasan agama?

Bila Moms perlu berpuasa karena alasan agama, seperti di bulan Ramadhan misalnya, Moms disarankan untuk makan lebih banyak pada hari-hari atau sesaat sebelum puasa. Juga, pilihlah makanan yang mengandung banyak protein. 

Moms juga perlu asupan cairan yang banyak sebelum berpuasa agar tubuh tetap terhidrasi dengan baik. Dengan begitu suplai ASI dapat kembali normal setelah puasa selesai.

Baca Juga: Wajib Tahu! Ini Dampak Psikologis Bagi Ibu dan Anak saat Menyusui

Hal yang harus dipertimbangkan sebelum puasa intermitten

Keamanan puasa intermitten bagi ibu menyusui sebenarnya bergantung pada banyak faktor. Setiap ibu menyusui pasti memiliki kondisi tubuh berbeda-beda yang memengaruhi kemampuannya dalam menjalankan puasa intermitten.  

Namun secara umum ada beberapa faktor utama yang harus dipertimbangkan sebelum melakukan puasa intermitten, seperti: 

  • Usia anak
  • Apakah anak sudah mulai konsumsi MPASI atau masih konsumsi ASI secara penuh
  • Kondisi kesehatan ibu
  • Jenis puasa yang ingin dipilih
  • Masalah laktasi pada ibu.

Puasa intermitten memang dapat memberikan manfaat bagi kesehatan. Namun ketika dalam kondisi menyusui, tubuh memiliki cara kerja yang berbeda. Berkonsultasilah dengan dokter bila Moms ingin menemukan cara diet lain yang lebih aman dan cocok dilakukan saat menyusui. 

Punya pertanyaan lebih lanjut seputar info sehat lainnya? Silakan chat langsung dengan dokter kami untuk konsultasi. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference
    register-docotr