Kesehatan Anak

Mengenal Beberapa Cara Penularan HIV pada Bayi yang Umum Terjadi

August 7, 2020 | Dani Kosasih
feature image

Penularan HIV pada bayi adalah kondisi saat Moms yang mengidap HIV menularkan kondisi HIV tersebut pada bayi.

Kondisi penularan HIV dengan proses seperti ini biasanya disebut dengan penularan HIV perinatal atau penularan HIV dari Moms-ke-bayi.

Cara penularan hiv pada bayi

Cara penularan yang paling umum biasanya terjadi pada masa kehamilan, masa persalinan dan saat Moms menyusui bayi melalui ASI.

Penularan hiv pada bayi pada masa kehamilan

Jika Moms adalah seseorang dengan HIV dan sedang hamil, biasanya HIV dalam darah akan dapat masuk ke tubuh bayi.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), penularan bisa terjadi selama trimester kedua dan ketiga kehamilan.

Penularan hiv pada bayi pada masa persalinan atau melahirkan

Di antara semua proses penularan, ternyata sebagian besar terjadi pada proses melahirkan.

Persalinan yang berlangsung lama karena jangka waktu antara pecah ketuban dan bayi lahir bisa menjadi faktor risiko terjadinya penularan.

Selama persalinan, bayi sendiri berisiko tertular karena menyentuh darah dan cairan vagina yang mengandung HIV sewaktu melalui saluran kelahiran.

Besarnya paparan virus pada saat melahirkan juga sangat dipengaruhi oleh kadar HIV pada cairan vagina.

Penularan hiv pada bayi pada saat menyusui

Pada masa menyusui, potensi risiko penularan HIV dari Moms ke bayi ternyata juga cukup tinggi.

Menurut laporan WHO, risiko terhadap penularan HIV melalui pemberian ASI bisa terjadi antara 5 hingga 20 persen.

HIV ditularkan melalui ASI selama proses laktasi, sehingga tingkat infeksi pada bayi yang sedang menyusu ASI akan terus meningkat seiring dengan lamanya periode bayi menyusu ASI.

Menyusui atau tidak merupakan pilihan

Melansir dari buku saku tentang HIV, Kehamilan dan Kesehatan Perempuan yang dikeluarkan oleh Yayasan Spiritia, risiko penularan HIV saat menyusui dapat dihindari dengan memakai pengganti ASI (PASI).

Namun pilihan untuk memakai PASI ini tidaklah mudah. Karena apabila ternyata bayi terinfeksi HIV, menyusui justru akan mampu melindunginya dari banyak infeksi lain dan gizi buruk.

Namun, biasanya status HIV bayi baru dapat dipastikan setelah 18 bulan. Jadi keputusan untuk menyusui atau tidak harus diambil tanpa mengetahui status HIV bayi.

WHO, Unicef dan UNAIDS sendiri mengeluarkan rekomendasi untuk menghindari pemberian ASI apabila Moms memiliki kondisi HIV, jika memiliki alternatif susu lainnya.

Bagaimana Moms tahu bayi telah tertular HIV atau tidak?

Pada awal kelahiran, bayi yang lahir dari Moms yang terinfeksi HIV mewarisi antibodi dari ibunya. Antibodi ini berfungsi untuk melindungi bayi pada bulan-bulan pertama kehidupan, sebelum sistem kekebalan tubuhnya berfungsi secara penuh.

Pada usia sembilan bulan, 74 persen bayi yang tidak terinfeksi akan menunjukkan hasil tes HIV negatif. Angka ini bisa menjadi 96 persen pada usia satu tahun.

Oleh karena itu, sebaiknya bayi dites HIV pada usia sembilan bulan. Jika hasil tesnya negatif, maka bayi tidak terinfeksi HIV.

Tes hiv lanjutan

Setelah mendapatkan hasil tes yang negatif, bayi harus dites lagi pada usia 18 bulan atau saat Moms selesai menyusui untuk mengetahui status HIV akhir bayi.

Langkah pencegahan penularan hiv pada bayi

Menurut laporan WHO, apabila Moms yang terinfeksi HIV dan sedang hamil tidak melakukan intervensi, maka tingkat penularan akan terjadi sekitar 15 persen hingga 45 persen.

Kisaran penularan ini dapat dikurangi hingga di bawah 5 persen dengan melakukan intervensi yang efektif selama periode kehamilan, persalinan, persalinan dan menyusui.

Intervensi ini terutama melibatkan pengobatan antiretroviral untuk Moms dan obat antiretroviral jangka pendek untuk bayi.

Termasuk juga langkah-langkah untuk mencegah penularan HIV pada ibu hamil dan praktik menyusui yang tepat.

Jaga kesehatan Anda dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!

Reference

1. Mother-to-child transmission of HIV. Diakses 3 Agustus 2020. https://www.who.int/hiv/topics/mtct/about/en/

2. journals.lww.com (2020). Diakses 3 Agustus 2020. https://journals.lww.com/jaids/Abstract/2020/07010/Mother_to_Child_HIV_Transmission_With_In_Utero.1.aspx

3. Rates of mother-to-child transmission of HIV-1 in Africa, America, and Europe: results from 13 perinatal studies. The Working Group on Mother-To-Child Transmission of HIV. Diakses 3 Agustus 2020. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/7697448/

4. aidsinfo.nih.gov. Diakses 3 Agustus 2020. https://aidsinfo.nih.gov/understanding-hiv-aids/fact-sheets/20/50/preventing-mother-to-child-transmission-of-hiv#:~:text=Mother%2Dto%2Dchild%20transmission%20of%20HIV%20is%20the%20spread%20of,called%20perinatal%20transmission%20of%20HIV.

5. spiritia.or.id (2016). Diakses 3 Agustus 2020. http://spiritia.or.id/cdn/files/dokumen/kesehatan-perempuan_5c34dc02831ce.pdf

6. siha.kemkes.go.id (2015). Diakses 3 Agustus 2020. https://siha.kemkes.go.id/portal/files_upload/Pedoman_Manajemen_PPIApdf.pdf

7. avert.org. Diakses 3 Agustus 2020. https://www.avert.org/hiv-transmission-prevention/pregnancy-childbirth-breastfeeding

8. HIV transmission through breastfeeding. Diakses 3 Agustus 2020. https://www.who.int/nutrition/publications/HIV_IF_Transmission.pdf

    register-docotr