Kesehatan Anak

Serba-serbi Imunisasi IPV untuk Cegah Polio, Moms Wajib Tahu!

August 16, 2020 | Muhammad Hanif S. | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Imunisasi IPV merupakan salah satu cara efektif untuk mencegah polio. Vaksin ini menjadi sangat penting, karena menurut studi di University of Rochester Medical Center, sebagian pengidap polio tak menunjukkan gejala awal, melainkan langsung mengalami kelumpuhan.

Prevalensi polio di Indonesia sendiri masih cukup tinggi. Data Kementerian Kesehatan RI menyebutkan bahwa hanya pulau Jawa dan sebagian Sumatera yang memiliki risiko sedang. Selain wilayah tersebut, risiko penularannya masih tinggi.

Apakah imunisasi IPV benar-benar efektif mencegah polio? Bagaimana cara kerjanya? Yuk, simak ulasannya berikut ini.

Apa itu imunisasi IPV?

IPV atau inactive polio vaccine adalah vaksin yang digunakan untuk mencegah penularan virus polio. Virus ini sangat berbahaya, karena dapat menyerang sistem saraf pusat yang bisa menyebabkan kelumpuhan.

Imunisasi IPV sendiri mulai populer sejak tahun 2000-an, saat penggunaan oral polio vaccine (OPV) dinilai tak cukup efektif. Mengutip dari WebMD, beberapa kasus polio justru berkembang setelah penggunaan OPV itu sendiri. Setelah itu, imunisasi berubah menggunakan IPV.

Badan kesehatan dunia WHO menjelaskan bahwa IPV diciptakan dari strain virus polio yang telah dinonaktifkan (mati). Penggunaan strain inilah yang akan mempermudah tubuh untuk mengenali virus dengan tipe serupa.

Penggunaannya bisa dikombinasikan dengan beberapa vaksin lain seperti tetanus, pertusis, difteri, hingga hepatitis B. Imunisasi ini kian populer setelah banyak negara berhasil memberantas polio di wilayahnya.

Cara kerja IPV di dalam tubuh

Berbeda dengan OPV yang diberikan melalui oral, imunisasi IPV dilakukan menggunakan suntikan intramuskular (langsung pada otot) atau intradermal (lapisan kulit dermis). Vaksin ini kemudian menghasilkan antibodi dalam darah yang dapat mencegah infeksi virus polio.

Jika terjadi infeksi, antibodi tersebut akan menghambat penyebaran virus ke sistem saraf pusat agar tidak menyebabkan kelumpuhan.

Baca juga: Mengenal Penyakit Polio: Apa Penyebab, Gejala dan Cara Mencegahnya?

Siapa yang harus mendapatkan vaksin ini?

Jika selama ini vaksinasi polio lebih dikenal untuk anak-anak, ternyata orang dewasa juga membutuhkannya, lho. Hanya saja, menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) ada beberapa kondisi yang membedakan proses vaksinasinya.

1. Imunisasi IPV untuk anak

Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa vaksinasi polio merupakan salah satu jenis imunisasi yang penting untuk bayi dan anak-anak. Berdasarkan saran dari CDC, anak-anak seharusnya mendapatkan satu kali imunisasi IPV setiap usia:

  • 2 bulan
  • 4 bulan
  • 6 hingga 18 bulan
  • 4 hingga 6 tahun

2. Vaksinasi IPV untuk dewasa

Pada dasarnya, orang dewasa tidak membutuhkan vaksin polio jika saat kecil telah mendapatkannya. Tapi, ada beberapa kelompok orang dewasa yang perlu melakukan vaksinasi ini, yaitu:

  • Berencana pergi ke negara yang memiliki kasus polio cukup tinggi, seperti Pakistan, Nigeria, dan Afganistan
  • Bekerja di laboratorium yang menangani kasus atau spesimen virus polio
  • Petugas kesehatan yang merawat pasien polio atau yang memiliki kontak erat dengan orang terinfeksi

Kelompok orang dewasa di atas perlu melakukan tiga kali vaksinasi. Tahap pertama yakni kapan saja, berikutnya 1-2 bulan berikutnya, lalu terakhir 6-12 bulan setelah vaksinasi kedua.

Efek samping imunisasi IPV

Sama seperti obat biasa, vaksin juga memiliki kemungkinan efek samping. Hanya saja, efek tersebut biasanya bersifat sementara dan akan hilang dengan sendirinya, seperti nyeri bahu dan badan lemas.

Pada beberapa kasus, imunisasi IPV terkadang dapat membuat seseorang pingsan. Oleh karena itu, setelah proses vaksinasi selesai, buat tubuh menjadi rileks dengan duduk santai atau berbaring.

Beri tahu tenaga medis jika kamu atau si Kecil merasakan pusing, gangguan penglihatan, dan telinga berdenging.

Baca juga: Setelah Imunisasi Kok si Kecil Demam? Jangan Khawatir Moms, Ini Sebab dan Cara Mengatasinya

Kondisi yang dilarang untuk imunisasi IPV

Meski imunisasi IPV diyakini lebih efektif untuk mencegah penyakit polio, ternyata vaksinasi tidak boleh dilakukan pada kondisi tertentu, seperti:

  • Alergi parah. Imunisasi IPV sangat tidak disarankan untuk orang yang memiliki alergi. Jika dipaksakan, hal tersebut dapat memicu terjadinya anafilaksis (syok akibat reaksi alergi) yang bisa berujung pada kematian
  • Sedang sakit. Jika si Kecil sedang menderita penyakit cukup parah, ada baiknya tunda dan tunggu hingga kondisinya membaik dan sembuh total

Nah, itulah ulasan lengkap tentang imunisasi IPV yang perlu kamu tahu. Agar vaksin dapat bekerja optimal, ikuti saran dan anjuran jadwal imunisasi sesuai dengan golongan usia, ya!

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

  1. Kementerian Kesehatan, diakses 10 Agustus 2020, Buletin Surveilans dan Imunisasi.
  2. Kementerian Kesehatan, diakses 10 Agustus 2020, Berikan Anak Imunisasi Rutin Lengkap, Ini Rinciannya.
  3. Centers for Disease Control and Prevention (CDC), diakses 10 Agustus 2020, Polio Vaccination: What Everyone Should Know.
  4. World Health Organization (WHO), diakses 10 Agustus 2020, Does polio still exist? Is it curable?
  5. World Health Organization (WHO), diakses 10 Agustus 2020, Inactivated polio vaccine (IPV).
  6. WebMD, diakses 10 Agustus 2020, Polio Vaccine (IPV).
  7. PolioRadication.org, diakses 10 Agustus 2020, Inactivated poliovirus vaccine.
  8. University of Rochester Medical Center, diakses 10 Agustus 2020, Poliomyelitis (Polio) in Children.

    register-docotr