Kesehatan Anak

Mengupas 5 Mitos Soal Vaksin pada Anak, Benarkan Sebabkan Autis?

October 10, 2020 | Fitri Chaeroni | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Melansir situs KPAI, vaksin atau imunisasi adalah hak anak yang harus diberikan. Sayangnya, sampai saat ini masih ada orang tua melakukan gerakan anti vaksin.

Kelompok anti vaksin menentang pemberian imunisasi atau vaksin pada anak karena dianggap dapat berdampak negatif pada anak.

Mitos seputar imunisasi dan vaksin memang masih banyak berseliweran di masyarakat. Nah, biar Moms semakin paham mana mitos dan mana fakta, yuk simak penjelasan berikut ini.

Mitos 1: Anak tidak perlu vaksin karena wabah penyakit sudah usai

Faktanya meskipun sudah tidak ada atau jarang ditemui orang yang menderita sebuah penyakit, bukan berarti virus dan bakteri penyebabnya hilang.

Justru dengan vaksin, Moms bisa mencegah anak terserang penyakit di kemudian hari. Anak yang tidak divaksin akan rentan terhadap serangan penyakit.

Sehingga, dalam kondisi bagaimana pun anak harus mendapatkan vaksin, meskipun wabah penyakit sudah usai.

Baca Juga : Mom’s, Catat Jadwal Imunisasi Agar Si Kecil Terhindar dari Serangan Penyakit

Mitos 2: Vaksin memiliki kandungan berbahaya

Setiap produk vaksin dibuat dan dikomposisikan dengan kadar aman untuk anak dan bayi. Vaksin mengandung bahan-bahan dengan dosis rendah dari dosis yang kita dapatkan secara alami di lingkungan kita. Contohnya, Thimerosal.

Thimerosal (senyawa yang mengandung merkuri) adalah pengawet yang banyak digunakan untuk vaksin yang diproduksi dalam botol multi-dosis. Kita secara alami terpapar merkuri dalam susu, makanan laut, dan larutan lensa kontak.

Bahan vaksin lain seperti formaldehida juga terdapat pada knalpot mobil, perabotan rumah tangga seperti karpet, kain pelapis, kosmetik, cat dan spidol, serta produk kesehatan seperti antihistamin, obat batuk, dan obat kumur.

Baca Juga : Jangan Terlewat, Ini Daftar Imunisasi untuk Dewasa yang Perlu Dilakukan

Mitos 3: Vaksin sebabkan autis dan sindrom kematian bayi mendadak (SIDS)

Vaksin dan imunisasi sangat aman untuk bayi dan anak-anak. Sebagian besar reaksi pasca vaksin biasanya bersifat sementara dan kecil, seperti demam atau lengan yang sakit. Sangat jarang terjadi kondisi medis yang sangat serius setelah vaksinasi.

Melansir AAAAI, studi pada tahun 1998 yang menimbulkan kekhawatiran tentang kemungkinan hubungan antara vaksin campak-gondok-rubella (MMR) dan autisme ditarik kembali oleh jurnal yang menerbitkannya karena secara signifikan cacat ilmu pengetahuan.

Selain itu tidak ada bukti yang menghubungkan vaksin sebagai penyebab autisme atau SIDS. Anak justru lebih berisiko terkena penyakit berbahaya apabila tidak mendapat vaksin atau imunisasi.

Misalnya polio, penyakit ini dapat menyebabkan kelumpuhan, lalu campak yang dapat menyebabkan ensefalitis (radang otak) dan kebutaan.

Baca Juga : Pentingnya Imunisasi BIAS yang Diwajibkan bagi Anak dan Kenali Jenis-jenisnya

Mitos 4: Anak tidak perlu vaksin karena anak lain di sekitarnya sudah kebal

Kekebalan kawanan (herd immunity) terjadi ketika populasi besar komunitas mendapat imunisasi pencegahan penyakit menular, dan mengurangi kemungkinan wabah. 

Bayi, wanita hamil, dan orang yang immunocompromised (orang dengan gangguan imunitas) yang tidak dapat menerima vaksin sangat bergantung dengan perlindungan ini.

Namun, jika cukup orang mengandalkan herd immunity sebagai metode mencegah infeksi dari penyakit yang dapat dicegah vaksin, herd immunity akan segera hilang. 

Jadi untuk bisa mendapat herd immunity Moms harus ikut serta berperan, caranya ya ikut melakukan vaksin untuk anak dan seluruh keluarga.

Baca Juga : Daftar Imunisasi untuk Ibu Hamil dan Jadwal Pemberiannya yang Tepat

Mitos 5: Anak bisa terkena penyakit dari vaksin

Kemungkinan anak terserang penyakit dari vaksin sangatlah kecil. Sebagian besar vaksin adalah vaksin yang dinonaktifkan (dimatikan) dan tidak mungkin tertular penyakit dari vaksin.

Beberapa vaksin mengandung organisme hidup, dan ketika divaksinasi menyebabkan kasus penyakit yang ringan. Vaksin cacar air, misalnya, dapat menyebabkan ruam pada anak, tetapi hanya dengan beberapa bintik.

Ini tidak berbahaya, dan benar-benar dapat menunjukkan bahwa vaksin tersebut bekerja. Satu pengecualian adalah vaksin polio oral hidup, yang sangat jarang dapat bermutasi dan benar-benar menyebabkan kasus polio.

Baca Juga : Tenang, Ini yang Perlu Moms Lakukan Jika Anak Menunjukkan Efek Setelah Imunisasi

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

KPAI. Diakses pada 8 Oktober 2020. Orangtua Anti Vaksin Akan Dipidana?

AAAAI. Diakses pada 8 Oktober 2020. VACCINES: THE MYTHS AND THE FACTS

Caring for Kids. Diakses pada 8 Oktober 2020. Vaccines: Myths and facts

    register-docotr