Kesehatan Anak

Memahami Stunting: Penyebab hingga Langkah Pencegahannya

September 2, 2020 | Fitri Chaeroni | dr. Ario W. Pamungkas
feature image

Tahukah Moms, jika 1 dari 3 balita di Indonesia mengalami stunting? Berdasarkan data WHO, saat ini Indonesia berada dalam kondisi darurat stunting. Istilah stunting memang masih asing bagi masyarakat Indonesia. Ini juga yang jadi penyebab semakin tingginya angka stunting di Indonesia.

Sebenarnya apa itu stunting? Seperti apa gejalanya? Apa penyebab stunting? Serta apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah terjadinya stunting? Langsung saja simak pembahasan berikut ini, ya!

Apa itu stunting?

Multicentre Growth Reference Study WHO. Sumber Foto : Youtube WHO

Stunting adalah kondisi kurang gizi kronis yang ditandai dengan tubuh pendek pada anak balita (di bawah 5 tahun). Anak yang mengalami stunting akan terlihat pada saat menginjak usia 2 tahun. 

Seorang anak dikatakan mengalami stunting apabila tinggi badan dan panjang tubuhnya minus 2 dari standar Multicentre Growth Reference Study atau standar deviasi median standar pertumbuhan anak dari WHO.

Selain itu, Kementerian Kesehatan RI menyebut stunting adalah anak balita dengan nilai z-skor nya kurang dari -2SD/standar deviasi (stunted) dan kurang dari -3SD (severely stunted). Tabel grafik ini bisa dijumpai di buku kesehatan ibu dan anak.

Memahami darurat stunting di Indonesia

Berdasarkan data Pemantauan Status Gizi yang dilansir dari situs Kemenkes RI, pada 2016 angka prevalensi stunting di Indonesia sebesar 27,5 persen. Artinya sekitar 1 dari 3 balita di Indonesia mengalami stunting. Bahkan pada 2017 angkanya meningkat menjadi 29, 6 persen. 

Angka ini menempatkan Indonesia berada pada status kronis. Sebab WHO mengklasifikasikan negara mengalami status kronis jika angka prevalensinya melebihi 20 persen. 

Angka ini juga menempatkan Indonesia di posisi teratas angka stunting terparah di Asia tenggara. Negara tetangga kita yakni Malaysia, angka prevalensinya hanya 17,2 persen.

Dampak stunting pada anak

Selain pertumbuhan yang terhambat, stunting pada anak juga dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan dan juga sosial di masa depan. Dilansir dari Buletin Stunting Kemenkes RI tahun 2018 berikut beberapa dampak stunting.

Dampak stunting pada anak jangka pendek:

  • Meningkatkan potensi sakit dan kematian pada anak
  • Perkembangan kognitif, motorik, dan verbal anak menjadi terhambat dan tidak optimal
  • Meningkatkan biaya kesehatan.

Dampak stunting pada anak jangka panjang:

  • Postur tubuh yang tidak optimal saat dewasa, lebih pendek ketimbang orang-orang seusianya
  • Meningkatkan risiko obesitas dan mengidap Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti hipertensi, penyakit jantung, diabetes, kanker, dan lain-lain.
  • Kesehatan reproduksi yang menurun
  • Kapasitas belajar dan performa yang tidak optimal saat masa sekolah
  • Produktivitas dan kapasitas kerja yang tidak optimal saat dewasa.

Dilansir dari laporan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), stunting juga memiliki dampak panjang pada pertumbuhan negara.

Dari produktivitas rendah bisa mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan ekonomi yang nantinya bisa meningkatkan angka kemiskinan dan memperlebar angka ketimpangan ekonomi.

Penyebab stunting

Stunting tidak terjadi begitu saja, melainkan dimulai dari janin hingga sang anak menginjak usia 2 tahun. Minimnya asupan nutrisi pada usia 1.000 Hari Pertumbuhan Anak (HPK) menjadi faktor utama penyebab stunting pada anak. 

1. Kurangnya edukasi soal asupan gizi saat hamil

Kurangnya pengetahuan ibu terkait kesehatan, pentingnya gizi saat kehamilan, dan pemenuhan gizi anak menjadi faktor yang penting. Selain minimnya edukasi, kurangnya pemenuhan gizi ini bisa juga terkait dengan status ekonomi keluarga.

2. Kurangnya gizi saat bayi lahir hingga usia 2 tahun

stunting
Ilustrasi anak stunting. Sumber foto : https://www.vanguardngr.com/

Kurangnya edukasi ibu terkait pengetahuan tentang kehamilan dan anak, mengakibatkan kurangnya pemenuhan gizi anak pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan.

1.000 HPK artinya dimulai sejak janin tumbuh hingga anak lahir dan menginjak usia 2 tahun.  Dilansir dari data TNP2TK, 60 persen anak usia 0-6 bulan tidak mendapat ASI secara eksklusif. 

Dan 2 dari 3 anak usia 0-24 bulan tidak menerima Makanan Pendamping ASI (MPASI). Padahal bayi butuh nutrisi yang cukup untuk bisa tumbuh optimal.

3. Kondisi kesehatan ibu yang buruk

Selain kurangnya asupan nutrisi pada ibu hamil, kondisi kesehatan juga bisa meningkatkan potensi stunting. Dilansir WHO, ibu yang mengalami malaria, HIV/AIDS, dan cacingan berpotensi meningkatkan risiko stunting pada anak. Begitu pula dengan ibu yang mengalami hipertensi.

Selain itu, wanita yang hamil pada usia remaja juga berisiko. Sebab akan terjadi semacam persaingan perebutan nutrisi antara tubuh ibu yang masih dalam tahap pertumbuhan dan juga si jabang bayi.

4. Sanitasi dan kebersihan lingkungan yang buruk

stunting
Sanitasi yang buruk. Sumber foto : https://www.responsiblebusiness.com/

Kondisi sanitasi, kebersihan lingkungan, dan akses air bersih yang buruk bisa meningkatkan potensi terjadinya infeksi penyakit. Seperti diare dan malaria.

Kebersihan yang minim ini menyebabkan tubuh harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk melawan sumber penyakit. Penyakit infeksi yang disebabkan hygiene atau buruknya sanitasi bisa mengganggu penyerapan nutrisi pada sistem pencernaan.

5. Akses air bersih

Kebutuhan akan air bersih juga bisa mencegah anak dan keluarga dari risiko infeksi penyakit. Setiap keluarga harus memiliki sumber air yang layak.

Sumber air layak artinya tersedianya air minum, hydrant umum, terminal air, penampang air hujan, mata air/sumur terlindung, atau sumur bor/pompa, yang jaraknya 10 meter dari pembuangan kotoran atau limbah.

6. Infeksi penyakit

Dilansir WHO, salah satu penyebab stunting adalah infeksi penyakit. Penyakit seperti diare, penyakit pernapasan seperti pneumonia, dan cacingan, bisa memengaruhi pertumbuhan anak.

Data menyebut, seorang anak yang mengalami diare lebih dari 5 kali sebelum menginjak usia 2 tahun telah menjadi penyebab 25 persen anak yang mengalami diare di dunia.

Infeksi penyakit dan paparan berlebih pada bakteri ini juga menyebabkan dampak medis lain pada anak. Mulai dari inflamasi, kerusakan pada sistem pencernaan, dan semakin berkurangnya kemampuan untuk menyerap nutrisi.

Solusi pencegahan stunting di Indonesia

WHO menyebut bahwa stunting tidak dapat disembuhkan, namun bisa kita cegah. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan sebagai upaya pencegahan stunting.

1. Kesehatan ibu yang baik

Untuk melahirkan bayi yang sehat, maka seorang ibu harus memastikan kondisi kesehatannya optimal pula. 

Sebab ada siklus atau intergenerational cycle yang menjadi penyebab stunting terus terjadi dari generasi ke generasi. Terutama lebih berisiko pada wanita yang memiliki masalah kesehatan berikut:

  • Kurang gizi saat lahir
  • Mengalami stunting saat usia anak
  • Hamil saat usia remaja
  • Bekerja berlebihan saat hamil
  • Akan melahirkan bayi dengan berat lahir rendah
  • Dan tak mampu berikan ASI secara optimal.

Maka dari itu jika kamu para calon ibu yang sudah berkeinginan memiliki keturunan, mulailah untuk jaga kesehatan diri sejak sekarang dan edukasi diri dengan baik.

2. Memenuhi asupan gizi ibu hamil

Pemenuhan gizi anak harus dimulai sejak janin. Oleh karena itu ibu harus memastikan dirinya mengonsumsi makanan bernutrisi seimbang. Asupan gizi yang kurang bisa sebabkan pertumbuhan janin yang tidak maksimal. Pertumbuhan janin yang tak maksimal bisa tingkatkan risiko keguguran.

Dilansir Kemenkes RI, ibu hamil pada umumnya kekurangan energi dan protein. Maka dari itu disarankan untuk mengonsumsi makanan yang tinggi TKPM alias tinggi kalori, protein, dan mikronutrien. 

Jangan lupa juga untuk melakukan cek kesehatan dan cek kandungan secara rutin ke dokter, bidan, atau petugas medis lain yang kompeten.

3. Pentingnya ASI eksklusif untuk pencegahan stunting

stunting
Ibu menyusui. Sumber foto : https://ncphwr.org.uk/

Saat bayi lahir, sangat disarankan untuk melakukan IMD atau Inisiasi Menyusui Dini. Di mana dalam rentang 1 jam pasca lahir, tempatkan bayi pada dada sang ibu dengan posisi telungkup.

Berikan bayi ASI eksklusif, sebab pada tahap ini susu ibu mengandung banyak kolostrum yang sangat baik bagi pertumbuhan dan sistem imunitas bayi ke depannya.

WHO menyarankan ibu memberikan ASI eksklusif mulai saat bayi lahir hingga bayi berusia 6 bulan. Lalu meneruskannya hingga sang anak berusia 2 tahun.

Tahukah Moms, dilansir WHO ada dampak buruk pada bayi di bawah 6 bulan yang tidak diberi ASI eksklusif. Mereka 15 kali lebih berpotensi meninggal akibat pneumonia, dan 11 kali berisiko meninggal akibat diare.

4. Memberikan makanan pendamping air susu ibu (MPASI)

stunting
Makanan pendamping ASI. Sumber foto : https://theconversation.com/

Setelah bayi melewati usia 6 bulan, disarankan untuk mulai memberikan makanan pendamping ASI. WHO menyarankan bayi berusia 6-23 bulan mengonsumsi sekurangnya 4 dari 7 kelompok jenis makanan.

Mulai dari serealia/umbi-umbian, kacang-kacangan, produk olahan susu, telur, sumber protein lainnya, sayur dan buah kaya vitamin A, sayur dan buah lainnya.

Pemberian MPASI juga tak boleh sembarangan, harus sesuai dengan ketentuan Minimum Meal Frequency (MMF) yang disarankan WHO. Berikut uraiannya:

Frekuensi pemberian MPASI pada bayi yang masih diberi ASI:

  • Usia 6-8 bulan : 2 kali sehari atau lebih
  • Usia 9-23 bulan : 3 kali sehari atau lebih

Frekuensi pemberian MPASI pada bayi yang sudah tidak diberi ASI:

  • Usia 6-23 bulan : 4 kali sehari atau lebih

5. Rajin ke posyandu

Saat bayi masih dalam tahap 1.000 hari pertama kehidupan, jangan lupa untuk rutin mengunjungi Posyandu maupun fasilitas medis lainnya. Lakukan pengecekan kesehatan dan pertumbuhan bayi secara rutin.

Jangan lupa konsultasikan setiap perkembangan anak dengan petugas medis untuk mencegah stunting. Selain itu, jangan lupa untuk memberikan imunisasi secara lengkap agar anak lebih kebal terhadap berbagai infeksi penyakit.

6. Menjaga kebersihan sanitasi dan lingkungan

Saat ibu hamil lalu melahirkan dan menyusui, pastikan untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan dan sanitasi. Lakukan mulai dari kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan dengan sabun.

Saat anak lahir, pastikan untuk selalu menjaga kebersihan segala peralatan sang bayi. Mulai dari pakaian, perlengkapan mandi, peralatan makan, dan lain-lain.

Langkah menjaga kebersihan ini bisa menghindari ibu dan bayi dari potensi terkena berbagai penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri, seperti diare.

7. Jaga kebersihan makanan

Selain kebersihan lingkungan dan sanitasi, jangan lupa untuk jaga kebersihan makanan yang ibu dan bayi konsumsi. Sebab makanan yang tidak terjaga kebersihannya bisa terpapar mycotoxins.

Mycotoxins adalah zat kimia berbahaya yang dihasilkan oleh jamur yang ada pada makanan. Zat ini bisa sebabkan infeksi penyakit yang mengganggu pertumbuhan.

Selain itu pastikan makanan disimpan pada tempat tertutup, dalam wadah yang bersih, dan suhu yang baik. Sebab jika tidak, bakteri bisa tumbuh dan berkembang.

Jika itu terjadi, risiko anak terkena infeksi penyakit meningkat. Hal ini bisa berpengaruh pada pertumbuhan anak yang tidak bisa berkembang optimal.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

WHO. Diakses pada 28 April 2020. Stunting in a nutshell.

Paediatrics and International Child Health. Diakses pada 28 April 2020. The stunting syndrome in developing countries.

Buletin Stunting Kemenkes RI. Diakses pada 28 April 2020. Situasi Balita Pendek (Stunting) di Indonesia.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses pada 28 April 2020. 1 dari 3 Balita Indonesia Derita Stunting.

Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan. Diakses pada 28 April 2020. 100 Kabupaten/Kota Prioritas untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting).

    register-docotr