Info Parenting

Apa Itu Hyper Parenting dan Bagaimana Mengenali Ciri-cirinya

August 11, 2020 | Husni Efendi | dr. Ario W. Pamungkas
feature image

Moms dan pasangan tentu punya keinginan mempunyai anak yang tumbuh sehat dan aktif. Dalam pola pengasuhan anak yang diterapkan juga tentu berharap menciptakan keluarga yang bahagia.

Namun, ada kalanya dalam penerapan pola asuh anak, ada beberapa hal yang justru mengganggu tumbuh kembang si anak, dan membuat mereka tertekan hingga merasa tidak bahagia.

Dalam pola pengasuhan anak, bisa jadi orang tua menerapkan hyper parenting tanpa disadarinya.

Apa itu hyper parenting?

Hyper parenting adalah istilah untuk penerapan pola asuh Moms dan pasangan yang tanpa disadari seringkali dilakukan di luar kontrol, walaupun niatnya pasti memiliki tujuan agar anak-anaknya bisa memiliki pencapaian terbaik.

Dalam pola pengasuhan hyper parenting, anak-anak seperti tidak boleh ada celah untuk terlihat kurang sempurna.

Korbannya tentu perasaan anak dan kelelahan baik fisik ataupun mental yang dialaminya.  

Hyper parenting  mensyaratkan tuntutan demi tuntutan kepada si anak, dan hal tersebut bisa mengganggu kesehatan mentalnya.

Penerapan hyper parenting yang dilakukan pada anak-anak yang membuat mereka tidak bebas bermain. Karena waktunya dihabiskan untuk les serta kegiatan tambahan lainnya yang diwajibkan oleh orang tuanya.

Hyper parenting juga bisa berakibat membuat anak menjadi terlalu penurut dan kurang bisa mengembangkan bakat dan potensinya sendiri.

Banyaknya tugas dari orang tua dan aturan-aturan yang membatasi gerak mereka berpotensi membuat anak tertekan, terbebani, bahkan bisa depresi.

Dampak buruk hyper parenting

1. Anak menjadi mudah cemas

Mereka yang menerapkan hyper parenting kepada buah hatinya, akan membuat anak cenderung menjadi mudah cemas.

Hal ini disebabkan karena orang tua menerapkan  peraturan yang berlebihan dari setiap detail yang anak lakukan.

Akhirnya membuat anak menjadi mudah merasa cemas, dan hal ini berkibat anak jadi kurang percaya diri dan kurang bebas untuk mengekspresikan keinginannya.

2. Emosi anak yang menjadi susah dikontrol

Karena hyper parenting dominannya memaksakan kehendak kepada anak, dengan sekian perintah dan aturan hal ini akan membuat anak cenderung bersikap memendam perasaannya, termasuk marah.

Saat tekanan yang dirasakan anak sudah dirasakan menumpuk, apalagi jika perintah dan keinginan orang tua tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Hal ini akan berakibat membuat emosi anak mudah meledak.

Jika orang tua tidak cukup sensitif dengan hal tersebut, anak selanjutnya bisa menjadi pemberontak yang bahkan enggan mendengarkan nasihat orang tuanya.

3. Anak menjadi pemurung dan kurang aktif

Pengasuhan hyper parenting menjadikan anak selalu terbatasi karena orang tua yang memberikan perintah dan menekankan kehendak kepada anak setiap saat.

Tanpa orang tua sadari, inilah yang membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang tidak kreatif dan menjadi murung, karena takut apa yang ingin dilakukannya tidak sesuai dengan yang orang tua instruksikan.

4. Bahaya depresi pada anak

Penerapan hyper parenting pada anak-anak yang paling mengkhawatirkan adalah saat mereka menjadi depresi.

Depresi pada anak bisa terjadi seiring dengan disibukkan  berbagai kegiatan dan tugas yang diberikan oleh orang tua, dan anak menjadi sulit mendapatkan teman.

Masa anak-anak yang mempunyai hak untuk bermain lantas terabaikan, karena setiap harinya selalu disibukkan dengan tugas yang menumpuk.

Sehingga tidak ada waktu untuk anak bersosialisasi dengan lingkungan atau teman sebayanya.

Jika anak sudah mengalami depresi, orang tua pula yang akan kerepotan sendiri, dalam tahap tertentu bahkan mungkin perlu penanganan psikolog.

Mengenali potensi hyper parenting

Persoalan mendasar dari pola pengasuhan hyper parenting ini adalah orang tua yang mungkin tidak menyadari apa yang dilakukannya berdampak buruk pada anak.

Menjadi penting kemudian untuk Moms dan pasangan, juga orang tua yang lain mengetahui gejala-gejala berikut yang cenderung akan menjurus kepada pola-pola hyper parenting

1. Memiliki rasa cemas berlebihan bisa jadi tanda hyper parenting

Yang bisa dideteksi dari awal adalah saat Moms atau pasangan memiliki rasa cemas yang berlebihan kepada anak.

Cemas ini mencakup beberapa hal terhadap sesuatu yang sedang dialami oleh anak. Sehingga orang tua cenderung ingin selalu memastikan anak tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang dilarang olehnya.

2. Menjadi pengawas yang berlebihan

Dalam hal ini kecenderungan hyper parenting dilakukan karena orang tua selalu memantau hingga ke hal-hal yang sangat detail pada anak.

Seperti harus mengetahui dan memastikan kondisi anak-anaknya setiap saat, di sekolah main dengan siapa, menanyakan apakah teman-temannya merugikan, bertanya tentang apa yang dimakannya sehat atau tidak, dan lain-lain.

3. Selalu menarget yang dilakukan anak

Ini juga dilakukan Moms dan pasangan yang bisa membuat anak menjadi mudah sekali frustasi.

Target yang ditetapkan kepada anak, misal selalu harus rangking satu di kelas.

Hal ini justu akan membuat frustasi bukan hanya Moms dan pasangan sendiri, anak pun akan mengalami hal yang sama.

4. Memaksakan kehendak

Orang tua seringkali berperilaku tidak masuk akal dengan meminta anak melakukan berbagai kegiatan tanpa melihat kondisi tubuhnya. 

Seperti mewajibkannya mengikuti sekian les, tanpa ditanya terlebih dulu apakah anak ingin mengikutinya atau tidak.

Kewajiban-kewajiban tersebut harus dilakukan sepulang sekolah, saat anak sudah merasa lelah. Waktu untuk istirahat dan bermainnya otomatis menjadi terampas.

Penting untuk melakukan deteksi dini kesehatan pada anak, baik kesehatan fisik maupun psikisnya. Berkonsultasi dan bertanya ke dokter bisa dilakukan seawal mungkin.

Moms dan pasangan bisa melakukannya melalui Good Doctor. Silakan chat langsung dengan dokter kami untuk konsultasi. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

– Metro.us, The dangers of hyper-parenting, diakses 10 Agustus 2020

https://www.metro.us/the-dangers-of-hyper-parenting/

 

– Sciencedirect.com, Hyper-parenting is negatively associated with physical activity among 7–12 year olds, diakses 10 Agustus 2020

https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0091743515000171

 

– Psychcentral.com, Why Hyper Parenting is Harming Children, diakses 10 Agustus 2020

https://psychcentral.com/blog/why-hyper-parenting-is-harming-children/  

– Researchgate, diakses 21 September 2020 Hyper-parenting in Children withIntellectual and Developmental Disabilities, diakses 21 September 2020

– Hyper-parenting.com, diakses 21 September 2020, The Over-scheduled Child:Avoiding the Hyper-Parenting Trap

    register-docotr