Info Parenting

8 Tips Sukses Jalani Pola Asuh Co-Parenting Setelah Bercerai

November 3, 2020 | Anisya Fitrianti | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Setelah bercerai, berbagi tugas untuk mengasuh anak tentu merupakan hal yang tidak mudah dilakukan. Namun orang tua tetap wajib memberikan anak rasa aman dan dan nyaman yang mereka butuhkan.

Sebuah pola asuh bernama co-parenting pun populer diterapkan oleh pasangan yang sudah bercerai pada anak mereka. Untuk melakukannya ada beberapa tips di bawah ini perlu diterapkan.

Baca Juga: 7 Dampak Negatif Keluarga Broken Home pada Psikologis Anak   

Mengenal co-parenting 

Co-parenting merujuk pada konsep mengasuh anak yang bisa dijalankan oleh pasangan yang sudah bercerai. Pola asuh ini melibatkan kedua orang tua secara aktif dalam kehidupan anak. Ini adalah langkah terbaik untuk memastikan kebutuhan anak terpenuhi meski kedua orang tuanya bercerai. 

Pola asuh ini juga memungkinkan anak untuk tetap memiliki hubungan yang dekat dengan kedua orang tua.

Penelitian menunjukkan bahwa kualitas hubungan antara sesama orang tua juga dapat memiliki pengaruh yang kuat terhadap kondisi mental serta emosional anak. Sehingga pola asuh co-parenting sangat direkomendasikan. 

Tips sukses menjalani Co-parenting

Kunci sukses dari co-parenting adalah untuk memisahkan hubungan pribadi dengan mantan pasangan dan fokus pada pengasuhan anak. Meski tidak akan mudah. Supaya co-parenting berjalan lebih sukses, berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan.

1. Singkirkan emosi yang dirasakan

Ketika menerapkan pola asuh co-parenting, hal pertama yang perlu dilakukan adalah untuk mengesampingkan rasa marah, benci, atau sakit hati lainnya. Orang tua juga sangat disarankan untuk tidak bercerita pada anak mengenai perasaannya menghadapi perceraian. 

Alih-alih cerita pada anak, cobalah untuk bercerita pada teman, terapis profesional, atau bahkan hewan peliharaan. Semuanya bisa menjadi pendengar yang baik ketika kamu perlu melepaskan emosi negatif.

Jangan mengatakan hal-hal negatif tentang mantan pasangan ataupun membuat anak merasa harus memilih. 

2. Buatlah komitmen

Pola asuh co-parenting harus dijalankan dengan komitmen antara kamu dan mantan pasangan. Mulailah secara terbuka berbicara soal pola asuh ini entah secara langsung dengan bertatap muka atau melalui pesan singkat seperti lewat e-mail atau telepon. 

3. Bekerja sama sebagai tim

Mengasuh anak adalah kegiatan yang penuh dengan keputusan. Sehingga memelihara komunikasi dengan mantan pasangan pasti harus dilakukan untuk bisa bekerja sama.

Ada banyak kebutuhan anak yang harus dipenuhi dengan menimbang berbagai hal. Misalnya kebutuhan pendidikan, kesehatan hingga finansial anak. Pastikan kamu dan mantan pasangan berbagi tugas untuk saling mendukung pertumbuhan dan kebutuhan sang anak. 

4. Rencanakan jadwal dan kegiatan anak 

Untuk meminimalisir miskomunikasi, orang tua juga perlu membuat jadwal kegiatan anak. Terutama untuk hari-hari besar. Misalnya hari pertemuan orang tua di sekolah, hari ulang tahun anak, hari liburan hingga hari kunjungan pengobatan di dokter. 

Dengan begitu anak tidak akan bingung harus menghabiskan hari dengan siapa. Juga, bila ada perubahan jadwal, orang tua dan anak bisa langsung berkomunikasi. 

Baca juga: Ini 15 Tanda Moms Sudah Terlalu Keras Pada Anak 

5. Buatlah aturan yang sama 

Setelah bercerai, anak mungkin sering pindah tempat tinggal untuk tinggal atau mengunjungi salah satu orang tuanya.

Untuk itu, pastikan aturan yang diterapkan oleh sang ayah maupun ibu sama. Hal ini penting untuk membangun sikap anak pada kedua orang tua, agar anak tidak merasakan ada perbedaan. 

6. Fokus pada kualitas bukan kuantitas 

Hubungan yang hangat dengan anak tidak hanya didasarkan pada jumlah jam yang dihabiskan dengannya. Untuk itu, orang tua tidak perlu terpaku pada pembagian yang sempurna soal waktu anak.

Tapi fokuslah dengan bagaimana memanfaatkan waktu yang dimiliki agar anak tetap merasa terhubung dengan orang tua. 

7. Saling terbuka

Salah satu hal penting ketika sudah bercerai dan menjalani co-parenting adalah untuk tidak menjadikan anak sumber informasi. Jangan mencari informasi tentang mantan pasangan lewat anak. Lebih baik, orang tua saling terbuka dengan kondisi kehidupannya masing-masing. 

8. Hindari memberikan harapan palsu pada anak 

Orang tua tidak boleh membuat anak bingung atau membiarkan anak percaya bahwa ada kemungkinan orang tua akan bersatu kembali. Tentunya semua anak diam-diam menginginkan orang tuanya kembali karena perceraian membuat mereka merasa seperti terbelah dua. 

Untuk itu, berhati-hatilah agar tidak memberi harapan palsu pada anak. Selain memberikan hal yang tidak realistis, ini juga dapat berdampak buruk pada kepercayaan anak terhadap orang tua.  

Bercerai pasti tidak pernah menjadi hal yang diinginkan oleh pasangan manapun. Namun anak tidak boleh menjadi korban dari perceraian orang tua. Lewat pola asuh yang lebih fleksibel, kebutuhan anak tetap bisa dipenuhi meskipun orang tua sudah tidak tinggal bersama. 

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference
    register-docotr