Kesehatan Seksual

Tes Keperawanan: Fakta dan Mitos yang Perlu Diketahui!

November 8, 2020 | Ajeng Dwiri Banyu
feature image

Tes keperawanan biasanya dapat dilakukan oleh wanita untuk beberapa kondisi tertentu, seperti proses perekrutan polisi. Pemeriksaan ini memang masih menjadi perdebatan karena keperawanan wanita sangat penting. 

Padahal, perlu diketahui bahwa ketidakperawanan wanita tidak hanya dikarenakan oleh hubungan seksual. Nah, untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai tes keperawanan yuk simak penjelasannya berikut.

Baca juga: Bahaya Vaginal Douche, Mulai dari Infeksi hingga Sulit Hamil!

Mitos tes keperawanan yang perlu diketahui

Dilansir dari NCBI, tes keperawanan merupakan pemeriksaan alat kelamin wanita untuk menilai apakah selaput dara masih utuh atau tidak. Selaput dara atau hymen sendiri adalah jaringan tipis berdaging yang terletak di bukaan vagina. 

Dalam pelaksanaan tes keperawanan, banyak yang menunjukkan ketidakadilan sehingga beberapa di antaranya bisa mengalami trauma. Karena itu, muncul mitos tes keperawanan yang membuat beberapa wanita takut untuk melakukannya.

Semua jenis pemeriksaan untuk melihat keperawanan wanita yang bergantung pada pengamatan selaput dara atau ketatnya vagina tidak meyakinkan. Biasanya, pemeriksaan untuk mengetahui keperawanan pada wanita bisa dilakukan dengan dua cara, yakni sebagai berikut:

Melihat ukuran dan bentuk

Tes keperawanan umumnya dilakukan hanya dengan visual atau melihat ukuran dan bentuk robekan selaput dara. Jika selaput dara masih rapat, maka dianggap masing perawan.

Sementara sebaliknya, jika selaput dara atau hymen sudah robek atau meregang maka bisa dikategorikan tidak perawan.

Melalui tes dua jari

Seperti namanya, pemeriksaan untuk melihat keperawanan wanita ini melibatkan dua jari tangan yang dimasukkan ke dalam vagina. Namun, pada prakteknya tes dengan metode ini tidak dapat dibuktikan secara ilmiah keakuratannya. 

Pada dasarnya, pemeriksaan dengan cara ini cukup mengerikan karena adanya alasan selaput dara bisa robek selain akibat berhubungan seksual. Banyak orang berpikir selaput dara menutupi lubang vagina sepenuhnya, padahal dalam beberapa kasus selaput dara hanya mengelilinginya. 

Fakta seputar keperawanan

Ada banyak kebingungan tentang selaput dara yang membuat orang salah paham. Banyak orang mengira selaput dara benar-benar menutupi lubang vagina sampai terbuka, padahal sebenarnya tidak demikian.

Seringkali, selaput dara secara alami memiliki lubang yang cukup besar untuk keluarnya dara menstruasi sehingga kamu bisa menggunakan tampon dengan nyaman.

Beberapa orang terlahir dengan jaringan selaput dara yang sangat sedikit dan dalam kasus jarang, hymen bisa menutupi seluruh lubang vagina.

Selaput dara wanita juga bisa dibuka saat pertama kali melakukan hubungan seks vaginal sehingga mungkin menyebabkan rasa sakit atau perdarahan.

Namun, ada alasan lain selaput dara bisa robek atau meregang, yakni mengendarai sepeda, berolahraga, atau memasukkan sesuatu ke dalam vagina.

Beberapa orang percaya bahwa jika selaput dara tidak terbuka artinya sudah tidak perawan. Namun, memiliki selaput dara dan masih perawan bukanlah hal yang sama. Untuk itu, kamu tidak dapat mengetahui apakah seseorang telah berhubungan seks dari bentuk dan ukuran selaput dara.

Apa tes keperawanan menimbulkan konsekuensi berbahaya?

Tes untuk mengetahui keperawanan dapat menimbulkan konsekuensi psikologis yang merusak bagi anak perempuan maupun wanita dewasa. Dampak yang mungkin dirasakan adalah perasaan bersalah, jijik pada diri sendiri, depresi, kecemasan, dan citra tubuh yang buruk.

Dalam banyak kasus, tes keperawanan dilakukan atas permintaan anggota keluarga, pasangan, dan bahkan seringkali tanpa persetujuan. Karena tidak ada padanan untuk pria, pemeriksaan keperawanan menyiratkan bahwa seks sebelum menikah hanya tidak dapat diterima oleh wanita.

Stigma seksual yang diabadikan oleh tes ini dapat mendorong wanita untuk melakukan tindakan berisiko. Beberapa wanita mungkin akan memilih melakukan seks oral atau anal untuk memertahankan keperawanan.

Hal ini kemudian justru bisa menyebabkan infeksi menular seksual yang cukup berbahaya. Infeksi menular seksual bisa menyebar dengan mudah, terutama jika melakukan hubungan seksual tanpa pengaman atau kondom.

Baca juga: Perlukah Makan Sebelum Olahraga? Yuk Simak Penjelasan Berikut

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference
  1. CNN (2019), diakses 2 November 2020. So-called virginity tests are unreliable, invasive and sexist. And yet they persist
  2. NCBI (2017), diakses 2 November 2020. Virginity testing: a systematic review
  3. Theconversation.com (2014), diakses 2 November 2020. Women suffer the myths of the hymen and the virginity test
  4. Plannedparenthood.org, diakses 2 November 2020. Virginity
    register-docotr