Kesehatan Seksual

Beragam Salah Kaprah Tentang Keperawanan Wanita, Termasuk Selaput Dara Robek Tanda Sudah Tak Perawan

July 22, 2020 | Putri Prima Soraya
feature image

Sampai hari ini, salah kaprah tentang keperawanan wanita masih terjadi di tengah masyarakat kita. Ini semua tidak terlepas dari masih dianggap tabunya membicarakan tentang seksual. Seksual dianggap sebagai obrolan yang bersifat “jorok” dan cabul.

Dari hal ini, yang sering menjadi korban bully dan paling dirugikan adalah wanita karena langsung mendapatkan nilai negatif. Padahal keperawanan bukanlah sesuatu yang abstrak, masalah keperawanan adalah masalah kesehatan yang wajib diketahui.

Baca Juga: Manfaat Asam Folat dan Mengapa Penting untuk Dikonsumsi oleh Wanita

Apa itu keperawanan

Mendefinisikan keperawanan bukanlah hal yang mudah. Di masyarakat umum, keperawanan sering didefinisikan sebagai seseorang yang belum melakukan hubungan seks penetrasi vagina dengan penis. 

Sementera kehilangan keperawanan dalam masyarakat dapat merujuk pada pertama kalinya mereka melakukan seks.

Apa itu selaput dara

Ketika berbicara tentang keperawanan, ada satu hal yang juga selalu menjadi pembahasan yaitu selaput dara. Selaput dara adalah jaringan tipis dan berdaging yang terletak di lubang vagina. Bentuk dari selaput dara juga beragam, dan tiap wanita bisa punya bentuk yang berbeda.

Ilustrasi selaput dara. Foto www.youngwomenhealth.com

Salah kaprah tentang keperawanan wanita

Sering sekali kita mendengar bentuk-bentuk salah kaprah tentang keperawanan dalam masyarakat. Misalnya mungkin juga kamu percayai seperti selaput dara yang robek hingga keluarnya darah ketika berhubungan seks pertama kali adalah tanda masih perawan. 

Berikut ini beberapa hal-hal salah kaprah tentang keperawanan yang beredar di masyarakat dan bagaimana fakta sebenarnya.

1. Selaput dara rapat tanda keperawanan

Ini adalah salah kaprah tentang keperawanan yang paling sering didengar dalam masyarakat. Selaput dara yang rapat adalah tanda keperawanan.

Namun faktanya, selaput dara sendiri tidak benar-benar rapat tapi elastis, justru ketika selaput dara rapat itu menjadi tanda adanya kelainan. Hal ini karena, selaput dara memang memiliki lubang yang berbentuk seperti bulan sabit.

Bentuk inilah yang memungkinkan darah menstruasi mengalir keluar dari vagina. Jika benar-benar tertutup, itu disebut selaput dara imperforate. Ini adalah kondisi medis langka yang bisa dioperasi.

2. Selaput dara robek tanda sudah berhubungan seks

Fakta yang perlu diketahui adalah selaput dara yang berubah bentuk atau sering disebut dengan robek bukan hanya disebabkan karena berhubungan seksual, ada banyak penyebab, seperti:

  • Jatuh pada benda tajam
  • Tergelincir di seluncur air
  • Cedera
  • Prosedur medis (USG transvaginal, atau menjalani langkah pencegahan kanker serviks).

Meskipun kegiatan menunggang kuda melibatkan gerakan naik dan turun, dan melakukan split membuat tekanan pada area pangkal paha kamu, kegiatan ini tidak akan merobek selaput dara.  

Dalam jurnal Reproductive Health pada 2019 mengatakan, bahwa para profesional kesehatan tidak boleh mengandalkan pemeriksaan fisik selaput dara untuk menilai apakah seseorang telah melakukan hubungan seks atau belum.

3. Semua wanita punya selaput dara

Kebanyakan masyarakat percaya bahwa setiap wanita pasti memiliki selaput dara dan harus dijaga karena itu mahkota mereka.

Ternyata tidak demikian, tidak semua wanita lahir dan punya selaput dara. Bahkan wanita yang tidak memiliki selaput dara tidak merasakan gejala yang aneh pada dirinya.

Banyak orang yang mungkin terkejut mengetahui bahwa selaput dara tidak memiliki tujuan medis atau fisiologis yang terbukti.

4. Ketika berhubungan seks pertama kali, pasti akan keluar darah

Keluarnya darah saat pertama kali berhubungan seks juga banyak dikaitkan oleh masyarakat dengan keperawanan. Ketika berhubungan seks untuk pertama kali dan tidak keluar darah, pasti wanita tersebut dicap sudah tidak perawan dan sudah pernah melakukannya seks sebelumnya.

Nah, perlu kamu ketahui, bahwa tidak semua wanita mengalami perdarahan ketika pertama kali melakukan hubungan seks.  

Perdarahan yang terjadi saat pertama kali berhubungan seks biasanya dialami oleh wanita yang selaput daranya kecil sehingga ketika terjadi penetrasi selaput dara tadi merenggang. Atau bisa juga karena hubungan seks dilakukan di usia belia.

Baca Juga: Ladies, Ini Lho 5 Ciri-Ciri Vagina Sehat yang Wajib Kamu Ketahui

5. Perempuan pasti mengalami sakit saat berhubungan seks pertama kali

Nah, sama halnya dengan keluar darah, tidak semua perempuan akan merasakan sakit ketika pertama kali berhubungan seks. 

Rasa sakit yang dirasakan saat berhubungan seks bisa jadi karena beberapa hal, yaitu:

  • Merasa tidak nyaman
  • Melakukan seks pertama kali cenderung membuat tegang, dan hal ini membuat otot-otot di sekitar vagina kencang dan membuat penetrasi yang terjadi menimbulkan rasa sakit
  • Penetrasi dilakukan saat vagina dalam keadaan kurang basah. Jika seperti ini kamu bisa memberikan pelumas.

Konsep mengenai salah kaprah keperawanan wanita telah secara turun temurun dipercaya oleh masyarakat. Tentu hal ini sangat merugikan bagi perempuan yang selalu dicap buruk dari konsep yang salah ini.

Nah dengan mengetahui fakta-faktanya di atas semoga kamu menjadi semakin paham mengenai keperawanan yang sebenarnya. Sehingga bisa memutus salah kaprah dan bisa menyebarkan informasi yang tepat ini kepada masyarakat. 

Jaga kesehatan kamu dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!

Reference

Healthline (2018). Diakses pada 18 Juli 2020. 27 Things You Should Know Before You “Lose” Your Virginity

NHS (2018). Diakses pada 18 Juli 2020. Is sex painful the first time?

Planned Parenthood (n.d). Diakses pada 18 Juli 2020. Virginity

Medical News Today (2019). Diakses pada 18 Juli 2020. What happens when you lose your virginity?

Young Women Health (2013). Diakses pada 18 Juli 2020. What can make the hymen break?

Healthline (2019). Diakses pada 18 Juli 2020. Does It Hurt When Your Hymen Breaks?

Wexner Medical Center (2020). Diakses pada 18 Juli 2020. The Hymen’s Tale: Myths and facts about the hymen

    register-docotr