Kesehatan Seksual

Perdarahan saat Berhubungan Seks? Ketahui Penyebab & Cara Mengatasinya

October 27, 2020 | Muhammad Hanif S.
feature image

Seks adalah aktivitas yang memiliki banyak manfaat, baik untuk fisik maupun psikis. Ini yang menjadi alasan mengapa tak sedikit pasangan gemar melakukannya secara rutin.

Sayangnya, ada satu keluhan yang sering dirasakan oleh sebagian wanita, yaitu perdarahan baik sedang atau setelah berhubungan intim.

Normalkah terjadi perdarahan ketika berhubungan seks? Apa yang menjadi pemicunya? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Baca juga: Seks Bisa Bikin Tidur Lebih Nyenyak dan Pulas, Benarkah?

Perdarahan ketika berhubungan seks

Perdarahan saat sedang atau setelah berhubungan seks adalah hal yang wajar. Hanya saja, jika darah yang keluar cukup banyak dan tidak biasa, kamu perlu mewaspadainya.

Menurut sebuah riset pada 2014, tak kurang dari 9 persen wanita mengalami spotting atau perdarahan ketika melakukan hubungan seks. Sekitar 60 persen di antaranya telah memasuki masa menopause.

Penyebab perdarahan saat berhubungan seks

Faktor pemicu perdarahan saat berhubungan intim bisa berbeda-beda. Bagi wanita yang sedang menstruasi, perdarahan sudah pasti akan terjadi. Kondisi yang akan dibahas adalah perdarahan ketika tidak sedang haid.

Dilansir dari Healthline, pada wanita yang belum memasuki masa menopause, sumber perdarahan biasanya berasal dari serviks. Beberapa hal yang bisa menyebabkan perdarahan ketika berhubungan intim adalah:

1. Vagina yang kering

Vagina yang kering adalah penyebab paling umum dari perdarahan ketika seks. Kulit yang kering rentan mengalami kerusakan saat ada benda asing masuk dari luar, termasuk gesekan penis ketika penetrasi. Keringnya vagina dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya:

  • Atrofi vagina: Berkurangnya kadar pelumas alami pada vagina karena penipisan dinding dan jaringan.
  • Kerusakan ovarium: Kecelakaan atau cedera parah bisa merusak ovarium, yang merupakan sumber estrogen terbesar pada tubuh wanita. Estrogen bisa memengaruhi kadar pelumas alami di vagina.
  • Melahirkan dan menyusui: Setelah persalinan, estrogen akan menurun drastis. Ini akan berdampak pada kadar pelumas alami di vagina, yang pada akhirnya membuatnya menjadi kering.
  • Douching: Metode membersihkan vagina ini dapat mengiritasi jaringan di organ kewanitaan hingga membuatnya lebih kering.

2. Kanker serviks

Perdarahan vagina yang tidak teratur, termasuk saat berhubungan seks, bisa mengindikasikan adanya sel kanker pada serviks. Menurut sebuah penelitian, perdarahan pada vagina adalah gejala paling umum yang dialami oleh 11 persen penyintas kanker serviks.

Baca juga: Deteksi Kanker Serviks Sejak Dini Itu Penting, Ini Ragam Manfaat Pap Smear!

3. Polip

Polip adalah pertumbuhan jaringan baru bersifat non-kanker. Jaringan menyerupai daging ini terkadang berada di leher rahim atau lapisan endometrium. Penetrasi penis bisa menyebabkan pembuluh darah kecil di sekitarnya pecah, hingga akhirnya menyebabkan perdarahan.

4. Infeksi

Perdarahan ketika berhubungan seks bisa dipicu oleh adanya infeksi atau peradangan di sekitar vagina, seperti:

  • Pelvic inflammantory disease (PID): Peradangan di sekitar panggul yang berada di perut bagian bawah.
  • Servisitis: Peradangan yang terjadi di leher rahim, bagian paling bawah dari uterus. Di sinilah darah haid keluar dari dalam tubuh.
  • Vaginitis: Peradangan yang terjadi di area vulva vagina. Kondisi ini sering dipicu oleh infeksi virus, jamur, dan parasit.

5. Penyakit menular seksual

Selain empat hal di atas, perdarahan ketika berhubungan seks juga bisa mengindikasikan adanya penyakit menular seksual (PMS), lho. Beberapa PMS yang memiliki gejala tersebut di antaranya adalah gonore, klamidia, sifilis, dan herpes.

Tak hanya perdarahan pada vagina, gejala penyakit menular seksual biasanya disertai rasa nyeri dan sensasi terbakar pada organ intim.

Baca juga: Waspadai 9 Penyakit Menular Seksual yang Sering Terjadi di Indonesia

Bagaimana mengatasinya?

Hal yang bisa dilakukan ketika terjadi perdarahan adalah menghentikan hubungan seks itu sendiri, apalagi jika disertai rasa perih, sakit, dan sensasi terbakar. Sebab, bisa jadi itu adalah tanda dari penyakit serius.

Kamu juga bisa melakukan langkah pencegahan berupa:

  • Gunakan pelumas berbahan dasar air ketika vagina kering
  • Tetap terhidrasi dengan penuhi asupan cairan harian
  • Hindari tindakan seks yang agresif
  • Gunakan pelembap vagina
  • Selalu gunakan kondom, untuk menghindari penularan penyakit seksual
  • Tidak melakukan penetrasi ketika vagina masih kering

Nah, itulah beberapa faktor yang bisa menyebabkan perdarahan ketika berhubungan intim dan cara untuk mengatasinya. Jika itu adalah tanda dari penyakit, tak perlu berpikir panjang untuk segera periksa ke dokter, ya!

Pastikan untuk mengecek kesehatan Anda dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Download di sini untuk berkonsultasi dengan mitra dokter kami.

Reference

  1. Healthline, diakses 26 Oktober 2020, What Causes Bleeding After Sex?
  2. Medical News Today, diakses 26 Oktober 2020, Is it normal to bleed after intercourse?
  3. Verywell Health, diakses 26 Oktober 2020, Vaginal Bleeding During or After Sex.
  4. Hindawi Journal, diakses 26 Oktober 2020, Postcoital Bleeding: A Review on Etiology, Diagnosis, and Management.

    register-docotr