Kesehatan Seksual

Hiperseksual: Sebuah Gangguan Mental atau Kebutuhan Normal Manusia?

August 22, 2020 | Muhammad Hanif S. | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Melakukan hubungan seksual adalah hal normal bagi setiap manusia. Hanya saja, jika tak bisa lepas dari aktivitas itu, mungkin kamu sedang mengalami kondisi hiperseksual. Saat mengalami keadaan ini, beberapa orang akan kesulitan mengendalikan gairah seks-nya.

Ketika sudah ketergantungan dan menjadi candu, sepertinya kamu harus segera mengambil tindakan untuk mengatasinya. Lantas, apa sih sebenarnya hiperseksual itu? Apakah termasuk sebuah gangguan? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Baca juga: Amankah Melakukan Hubungan Seksual saat Pandemi?

Apa itu hiperseksual?

Hiperseksual merupakan perilaku seks kompulsif di mana seseorang telah kecanduan terhadap aktivitas itu secara berlebihan. Mengutip Mayo Clinic, hiperseksual bukan hanya merujuk pada hubungan seks yang melibatkan dua orang, tapi juga dorongan fantasi yang lebih tinggi.

Kondisi ini cenderung sulit dikendalikan dan menyebabkan seseorang menjadi tertekan. Terkadang, bisa berdampak negatif pada hubungan dengan pasangan, pekerjaan, kesehatan, serta lingkungan sekitar.

Faktor penyebab hiperseksual

Obat-obatan rekreasional bisa sebabkan hiperseksual. Sumber foto: www.britannica.com

Hingga saat ini, belum diketahui secara pasti penyebab dari hiperseksual. Hanya saja, beberapa faktor yang sering dikaitkan sebagai pemicu kondisi ini di antaranya adalah:

  • Ketidakseimbangan hormon. Pelepasan hormon pengatur rasa seperti serotonin, dopamin, dan norepinefrin bisa mendorong seseorang untuk mengalami hiperseksual.
  • Sering menonton konten pornografi. Sebuah riset di Amerika Serikat menemukan keterkaitan antara hiperseksual dengan tontonan konten pornografi yang intensif. Konten tersebut bisa menstimulasi otak untuk melepaskan banyak hormon kesenangan.
  • Penyakit. Gangguan kesehatan yang menyerang otak seperti parkinson, epilepsi, dan demensia, dapat memicu kerusakan struktur dan beberapa bagiannya lalu memengaruhi perilaku seksual.
  • Pengaruh obat-obatan. Beberapa obat memiliki efek meningkatkan libido atau gairah seksual pada seseorang, terutama obat-obatan rekreasional

Jika selama ini gambaran hiperseksual lebih sering dilekatkan pada pria, ternyata keadaan yang sama juga bisa terjadi pada wanita, lho. Live Science menjelaskan, perilaku seks kompulsif pada wanita biasanya dipengaruhi oleh tontonan pornografi yang intens.

Bahkan, Psychology Today menemukan fakta bahwa dorongan seks pada wanita lebih bervariasi ketimbang pria. Sehingga, ada kemungkinan memiliki tingkat hiperseksualitas lebih tinggi daripada pria.

Apakah hiperseksual merupakan gangguan?

Para pakar masih memperdebatkan apakah hiperseksual merupakan sebuah gangguan atau tidak. Beberapa ahli berpendapat, kondisi tersebut hanya terkait dengan perilaku berlebihan. Sedangkan sebagian lainnya menyatakan jika hiperseksual adalah sebuah kelainan.

Pada 2018, World Health Organization (WHO) telah memasukkan hiperseksual ke dalam daftar gangguan mental.

Sedangkan Asosiasi Psikiatri Amerika Serikat (APA) menolak untuk menggolongkannya sebagai suatu gangguan. APA mendefinisikan hiperseksual sebagai ‘perilaku seks yang tidak terkendali’.

Baca juga: Stres dan Pengaruh Obat: 7 Penyebab Libido Turun pada Pria dan Wanita

Tanda-tanda umum dari hiperseksual

Indikator hiperseksual sangat bervariasi hingga tingkatan tertentu, tergantung pada setiap individu. Orang yang masih lajang dan yang sudah menikah mungkin akan memiliki tingkatan berbeda. Beberapa tanda paling umum dari hiperseksual meliputi:

  • Terlalu sering masturbasi, biasanya dilakukan dengan menonton konten pornografi.
  • Obsesi seks yang tinggi. Seseorang yang hiperseksual cenderung memikirkan seks hingga mengganggu konsentrasi normal.
  • Mengidap parafilia, yaitu terobsesi dengan perilaku seks yang tidak biasa, misalnya tertarik pada anak-anak (pedofilia). Meski begitu, tidak semua pengidap parafilia adalah orang yang hiperseksual.
  • Tidak bisa mengontrol diri. Seseorang hiperseksual cenderung melampiaskan hasratnya saat gairah sedang naik, baik dengan berhubungan badan maupun sekedar masturbasi.
  • Pelarian masalah. Mengutip Mayo Clinic, orang hiperseksual cenderung menggunakan seks sebagai pelarian dari masalah, misalnya saat sedang stres. Seks di sini tidak hanya hubungan badan antara dua orang, tapi juga masturbasi.

Hiperseksual yang mengganggu kehidupan

Penting untuk diperhatikan bahwa perilaku seksual merupakan bagian hidup normal pada manusia. Tidak ada aturan khusus seberapa sering seseorang harus berhubungan seks.

Namun, sebuah riset pada 2017 memaparkan, berhubungan seks sekali dalam seminggu sudah cukup untuk mendapatkan ‘kebahagiaan’.

Hiperseksual akan menjadi sebuah masalah serius jika sudah mengganggu rutinitas harian. Pada tahapan yang parah, seseorang mungkin akan sulit mengontrol hasratnya hingga kehilangan kendali untuk berbuat sesuatu, misalnya melukai diri sendiri atau orang lain.

Cara mengatasi kondisi hiperseksual

Cara terbaik untuk mengatasi hiperseksual adalah dengan mengontrol diri sendiri. Misalnya, minimalkan tontonan pornografi atau hal lain yang bisa membangkitkan libido. Sayangnya, pada tahapan yang parah, cara tersebut akan sulit dilakukan.

Ketika keadaan tersebut sudah mengganggu rutinitas dan membuatmu sulit berkonsentrasi, ada baiknya periksakan diri ke dokter. Penanganan perilaku seks kompulsif biasanya menggunakan psikoterapi dan obat-obatan. Obat-obatan yang dipakai meliputi:

  • Antidepresan, yaitu obat untuk memberikan rasa tenang dan mengatasi kecemasan.
  • Naltrexone, yaitu obat untuk mengatasi ketergantungan alkohol, bekerja dengan memblokir bagian otak yang melepaskan hormon kesenangan.
  • Anti-androgen, yaitu obat untuk mengurangi efek hormon seks pada pria, sehingga menurunkan dorongan seksual.

Nah, itulah ulasan tentang hiperseksual yang perlu kamu tahu. Jika kondisinya sudah mengganggu aktivitas harianmu, tak perlu pikir panjang untuk berbicara pada dokter, ya!

Jangan ragu untuk konsultasikan masalah kesehatanmu bersama dokter terpercaya melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

  1. Mayo Clinic, diakses 19 Agustus 2020, Compulsive sexual behavior.
  2. Hipersexual Disorders, diakses 19 Agustus 2020, Hypersexual Disorder Signs.
  3. Psychology Today, diakses 19 Agustus 2020, Hypersexuality (Sex Addiction).
  4. Psychology Today, diakses 19 Agustus 2020, How a High Sex Drive Differs in Men and Women.
  5. Psychology Today, diakses 19 Agustus 2020, DSM.
  6. Live Science, diakses 19 Agustus 2020, Hypersexuality in Women Linked to High Porn Use.
  7. Link Springer, diakses 19 Agustus 2020, Declines in Sexual Frequency among American Adults, 1989–2014.
  8. National Center for Biotechnology Information (NCBI), diakses 19 Agustus 2020, Pornography addiction: A neuroscience perspective.
  9. CNN, diakses 19 Agustus 2020, WHO classifies compulsive sexual behavior as mental health condition.

    register-docotr