Kesehatan Pria

Kenali Andropause: Fase Menopause pada Pria dan Hal-hal yang Perlu Diwaspadai

September 12, 2020 | Dewi Nurfitriyana | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Menopause pada pria atau yang lebih dikenal dengan istilah kesehatan andropause, merupakan sebuah kondisi yang umum terjadi saat pria memasuki usia 50 tahun.

Sekilas penyebab dan gejala yang ditimbulkan cukup mirip dengan menopause pada wanita. Namun ada beberapa perbedaan di antara keduanya yang perlu diketahui .

Apa itu andropause?

Dilansir Healthline, andropause adalah istilah yang dipakai untuk menjelaskan perubahan hormon dalam tubuh pria akibat bertambahnya usia.

Beberapa istilah lain yang dipakai untuk kondisi ini yakni kekurangan testosteron atau defisiensi androgen.

Andropause juga berkaitan erat dengan hipogonadisme. Ini merupakan kondisi penurunan kemampuan kelenjar seks yang menghasilkan hormon seksual pada pria.

Penyebab terjadinya andropause

Saat seorang pria semakin tua, tubuhnya tidak lagi mampu menghasilkan hormon testosteron dalam jumlah yang cukup.

Padahal hormon ini berperan dalam mendorong gairah seksual pada pria, serta membentuk massa otot dan mengatur beberapa respons tubuh.

Bukan hanya testosteron, tubuh juga tidak lagi mampu menghasilkan hormon seks yang dinamakan sex hormone binding globulin (SHBG). Hormon ini berfungsi menarik testosteron yang beredar di dalam darah untuk digunakan oleh tubuh.

Gejala-gejala andropause

Pria yang mengalami gejala andropause akan mengalami beberapa perubahan fisik dan mental seperti:

  1. Energi terasa semakin menurun
  2. Depresi
  3. Mudah merasa sedih
  4. Merasa tidak percaya diri
  5. Sulit berkonsentrasi
  6. Susah tidur
  7. Lemak tubuh meningkat
  8. Massa otot berkurang
  9. Kepadatan tulang menurun
  10. Gangguan ereksi
  11. Tidak memiliki gairah seksual seperti biasanya

Baca juga: Praktis dan Mudah Diolah, Apa Kandungan Gizi yang Dimiliki Telur?

Diagnosis dan pemeriksaan andropause

Untuk mendapatkan diagnosis yang tepat, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik, wawancara, dan mengambil sampel darah untuk mengetahui kadar testosteron dalam tubuhmu.

Penanganan dan perawatan andropause

Jika gejalanya tidak terlalu mengganggu, umumnya dokter hanya akan menganjurkan pola hidup sehat untuk mengatasinya. Beberapa hal yang sering disarankan di antaranya adalah:

  1. Manjalankan diet sehat
  2. Berolahraga secara rutin
  3. Tidur cukup setiap hari
  4. Tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang bisa menyebabkan stres

Namun jika kondisi ini terjadi semakin parah, maka beberapa langkah penanganan yang dapat dilakukan di antaranya adalah:

Pemberian obat antidepresi

Ada kalanya andropause bisa sampai membuat seorang pria mengalami depresi. Ini terjadi karena ia menjadi tidak percaya diri terhadap pasangan dan merasa dirinya tidak lagi berharga.

Dalam kasus ini, besar kemungkinan dokter juga akan menyertakan resep obat-obatan antidepresi dan terapi untuk mengatasinya.

Terapi pergantian hormon

Dilansir Medbroadcast, ini merupakan langkah pengobatan paling umum untuk mengatasi andropause.

Perawatan ini dianggap dapat meredakan gejala dan membantu meningkatkan kualitas hidup penderita andropause. Pemberian testosteron dalam terapi ini bisa dilakukan dalam berbagai macam bentuk, yakni:

1. Plester kulit

Metode ini menggunakan semacam koyo yang mengandung testosteron dan ditempelkan ke area kulit kering di punggung, perut, lengan atas, atau paha.

Lewat teknik ini, kamu diharapkan bisa menerima asupan hormon melalui kulit secara stabil.

2. Gel testosteron

Perawatan ini dilakukan dengan cara mengoleskan gel yang mengandung testosteron ke kulit, biasanya di lengan.

Perlu diperhatikan bahwa gel dapat dengan mudah berpindah ke orang lain melalui kontak kulit. Maka dari itu, seseorang yang memakai gel ini harus berhati-hati dan menjauhkan pakaian dengan bekas obat ini dari jangkauan anak-anak.

Baca juga: Suntik Putih, Kenali Efek Samping Mematikan Sebelum Mencoba

3. Kapsul

Pemberian kapsul untuk mengganti testosteron di dalam tubuh adalah alternatif solusi selanjutnya untuk menangani andropause.

Namun perlu diingat bahwa pria yang mengalami gangguan fungsi hati, memiliki riwayat penyakit jantung, atau ginjal, tidak disarankan menjalani pengobatan jenis ini.

4. Suntikan testosteron

Perawatan ini melibatkan suntikan testosteron di otot setiap 2-4 minggu sekali. Efek samping dari metode ini adalah terjadinya perubahan suasana hati secara drastis.

Ingat ya, semua terapi pengobatan ini hanya boleh diberikan dan dilakukan oleh dokter. Hindari melakukan terapi sembarangan tanpa konsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

Demikian informasi tentang menopause pada pria alias andropause yang perlu diketahui. Jangan ragu untuk konsultasi ke dokter jika ada keluhan yang dirasa terlalu mengganggu aktivitas sehari-hari, ya.

Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter terkait dengan masalah kesehatan kamu di aplikasi Good Doctor. Dokter terpercaya kami akan membantu dengan layanan 24/7. Yuk berkonsultasi sekarang!

register-docotr