Kamus Penyakit

Mengenal Kondisi TB Paru pada Anak yang Harus Moms Antisipasi

July 10, 2020 | Dani Kosasih
feature image

TB paru pada anak biasanya terjadi saat anak menghirup bakteri mycobacterium tuberculosis yang berada di udara. Bakteri tersebut menyebar ketika orang yang terinfeksi TB mengalami batuk dan menyebarkan bakterinya ke udara.

Kasus TB paru pada anak biasanya ditularkan oleh orang dewasa. Karena TB pada anak di bawah 10 tahun biasanya jarang menginfeksi orang lain. Anak di bawah 10 tahun cenderung memiliki sedikit bakteri dalam sekresi lendir mereka dan juga memiliki batuk yang relatif tidak efektif.

Baca Juga: Kulit Gatal seperti Terbakar Bisa Jadi Kena Penyakit Eksim, Kenali Penyebabnya

Apa itu TB?

Melansir kemkes.go.id, TB atau Tuberkulosis adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri micro tuberculosis. Bakteri ini dapat menular melalui percikan dahak saat batuk.

Ketika terhirup, bakteri mycobacterium tuberculosis akan berdiam di paru-paru dan mampu berkembang ke bagian tubuh yang lain, seperti tulang belakang, ginjal, bahkan otak.

Gejala TB paru pada anak

Gejala TB pada anak saat awal bisa tidak spesifik, namun umumnya bisa dilihat dari beberapa gejala berikut:

  • Mengalami sesak nafas
  • Mengalami nyeri pada dada
  • Tidak aktif dan terlihat lebih diam
  • Mengalami anemia atau kekurangan darah
  • Mudah merasa lelah dan berkeringat di malam hari
  • Jika sudah cukup parah akan mengalami batuk darah
  • Batuk produktif yang berkepanjangan lebih dari tiga minggu

Pada anak yang menderita TB juga memiliki kemungkinan mengalami gejala batuk yang bersifat non remitting cough. Artinya, batuk yang terjadi sepanjang hari dan berbeda dengan batuk pada penderita asma yang batuknya terjadi pada malam dan pagi hari.

Moms harus mengetahui juga bahwa seluruh gejala yang disebut di atas sering dianggap tidak khas karena juga dijumpai pada penyakit lain. Karena itu butuh pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis.

Diagnosis TB paru pada anak

Hingga saat ini, memastikan hasil diagnosis masih menjadi salah satu masalah TB paru pada anak dibandingkan dengan orang dewasa. Kondisi seperti ini disebabkan karena tidak semua fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia mempunyai fasilitas untuk melakukan diagnosis.

Beberapa jenis tes yang dibutuhkan untuk melakukan diagnosis TB paru pada anak adalah:

Uji tuberkulin

Uji tuberkulin bermanfaat untuk membantu memastikan diagnosis TB paru pada anak, khususnya jika riwayat kontak dengan pasien TB tidak jelas.

Hasil uji tuberkulin sendiri masih belum bisa membedakan antara infeksi dan sakit TB. Pada anak yang dilakukan penyuntikan uji tuberkulin harus kembali melakukan pemeriksaan dalam rentang waktu 48 hingga 72 jam kemudian untuk melihat hasil penyuntikan.

Pemeriksaan bakteriologis

Pemeriksaan bakteriologis (dahak) adalah pemeriksaan yang penting untuk menentukan diagnosis TB, baik pada anak maupun dewasa. Pemeriksaan sputum pada anak terutama dilakukan pada anak berusia lebih dari 5 tahun dan memiliki gambaran kelainan paru luas.

Dengan semakin meningkatnya kasus TB resisten obat dan TB HIV, saat ini pemeriksaan bakteriologis pada anak merupakan pemeriksaan yang sebaiknya dilakukan, terutama di fasilitas pelayanan kesehatan yang mempunyai fasilitas pengambilan sputum dan pemeriksaan bakteriologis.

Pemeriksaan Tes Cepat Molekuler (TCM)

Pemeriksaan TCM dilakukan untuk mendeteksi kuman mycobacterium tuberculosis secara molekular sekaligus menentukan ada tidaknya resistensi terhadap obat Rifampisin yang dikonsumsi. Pemeriksaan TCM mempunyai nilai diagnostik yang lebih baik dari pada pemeriksaan mikroskopis sputum.

Foto toraks

Foto toraks merupakan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis TB pada anak. Namun gambaran foto toraks untuk anak yang menderita TB tidak khas kecuali gambaran TB milier.

Pengobatan TB paru pada anak

Pengobatan TB pada anak dilakukan dengan memberikan minimal tiga macam obat yang harus dikonsumsi dalam jangka waktu enam hingga 12 bulan. Setiap bulan, anak harus melakukan kontrol untuk memastikan hasil kerja dari obat yang diminum.

Moms harus memastikan bahwa anak meminum obatnya setiap hari pada jam yang sama secara teratur. Karena jika tidak, dapat menyebabkan resistensi obat yang akhirnya mengakibatkan anak harus menjalani pengobatan jauh lebih lama dan meminum obat lebih banyak.

Setelah akhir bulan ke enam, dokter akan menentukan apakah anak akan meneruskan atau menghentikan konsumsi obat sesuai kondisinya.

Jaga kesehatan Anda dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!

Reference

1. yankes.kemkes.go.id (2018). Diakses 6 Juli 2020. http://www.yankes.kemkes.go.id/read-bagaimana-menegakkan-diagnosis-tuberkulosis-pada-anak–3887.html

2. healthychildren.org. Diakses 6 Juli 2020. https://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/chest-lungs/Pages/Tuberculosis.aspx

3. ljj-kesehatan.kemkes.go.id (2016). Diakses 6 Juli 2020. http://www.ljj-kesehatan.kemkes.go.id/pluginfile.php/3202/mod_page/content/303/Buku%20TB%20anak%202016.pdf

4. kemkes.go.id (2017). Diakses 6 Juli 2020. https://www.kemkes.go.id/development/site/dinas-kesehatan/index.php?cid=1-17042500005&id=tuberkulosis-tb-

5. kidshealth.org. Diakses 6 Juli 2020. https://kidshealth.org/en/parents/tuberculosis.html

6. pubmed.ncbi.nlm.nih.gov. Diakses 6 Juli 2020. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/22759843/

    register-docotr