Kamus Penyakit

Spina Bifida pada Bayi

November 10, 2020 | Muhammad Hanif S. | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Spina bifida merupakan salah satu cacat lahir yang bisa mengganggu masa tumbuh kembang anak. Pada umumnya, spina bifida pada bayi bisa dideteksi ketika masih dalam kandungan.

Di Indonesia sendiri, menurut Kementerian Kesehatan, ada ratusan ribu angka kelahiran yang disertai kelainan bawaan setiap tahunnya, salah satunya adalah spina bifida. Yuk, cari tahu apa itu spina bifida pada bayi dengan ulasan berikut ini!

Apa itu penyakit spina bifida? 

spina bifida pada bayi
Tiga jenis spina bifida. Sumber foto: Wikihealth.

Spina bifida adalah kondisi yang dikenal sebagai cacat tabung saraf. Mengutip dari Mayo Clinic, spina bifida terjadi ketika tulang belakang dan sumsum tulang tidak terbentuk dengan baik di dalam rahim.

Sebagian dari tabung saraf, pada bayi dengan spina bifida tidak menutup atau berkembang dengan baik, hingga akhirnya memicu cacat di sumsum tulang dan tulang belakang.

Ada tiga jenis spina bifida pada bayi yang umum terjadi, yaitu:

  • Mielomeningokel, yaitu kondisi spina bifida paling parah. Saluran tulang belakang bayi tetap terbuka, memungkinkan sumsum tulang dan selaput pelindungnya terdorong keluar membentuk kantung di punggung.
  • Meningokel, yaitu kondisi yang hampir mirip dengan mielomeningokel, namun satu tingkat lebih ringan, ditandai dengan selaput pelindung sumsum tulang (meninges) yang terdorong keluar melalui tulang belakang. Prosedur bedah dapat mengatasi kondisi ini.
  • Occulta, yaitu kondisi spina bifida paling ringan. Satu atau lebih tulang belakang tidak terbentuk dengan tepat, namun celah yang dihasilkan sangat kecil. Biasanya, occulta tidak menimbulkan masalah serius dan kebanyakan orangtua tidak menyadarinya.

Baca juga: Mengenal Penyakit Rakitis, Kelainan Tulang yang Menyerang Anak-anak

Apa penyebab spina bifida pada bayi?

Dilansir dari NHS UK, hingga saat ini, belum diketahui secara pasti apa penyebab spina bifida pada bayi. Namun, ada beberapa hal yang dipercaya bisa meningkatkan risiko terjadinya kondisi tersebut, di antaranya:

  • Asupan asam folat yang rendah oleh ibu selama masa kehamilan
  • Riwayat keluarga
  • Konsumsi obat-obatan tertentu, seperti asam valproik untuk mencegah kejang selama kehamilan

Siapa saja yang lebih berisiko terkena spina bifida?

Pada umumnya, spina bifida adalah kondisi yang sebagian besar kasusnya terjadi pada bayi. Namun, kondisi tertentu pada ibu secara tidak langsung bisa meningkatkan potensi janin mengalami spina bifida, seperti:

  • Diabetes: Wanita hamil yang tidak mengontrol kadar gula darahnya bisa mengganggu proses tumbuh kembang janin di dalam kandungan.
  • Obesitas: Ibu hamil yang memiliki berat badan tidak ideal atau kegemukan dikaitkan dengan peningkatan risiko cacat lahir pada bayi.
  • Peningkatan suhu tubuh: Beberapa bukti menunjukkan bahwa peningkatan suhu tubuh (hipertermia) pada minggu-minggu awal kehamilan bisa menaikkan potensi spina bifida pada bayi.

Apa gejala dan ciri-ciri spina bifida pada bayi?

Gejala spina bifida bisa berbeda-beda, tergantung tingkat keparahannya. Ciri-ciri spina bifida yang paling umum meliputi:

  • Mati rasa atau lumpuh total pada kaki
  • Inkontinensia urine, menyebabkan sering mengompol
  • Bayi tidak bisa merasakan suhu panas atau dingin

Apa saja komplikasi yang mungkin terjadi akibat spina bifida?

Spina bifida pada bayi dapat menyebabkan cacat fisik jika tidak ditangani dengan tepat. Beberapa komplikasi yang dapat dialami oleh bayi di antaranya adalah:

  • Gangguan mobilitas atau sulit berjalan, karena saraf yang mengontrol otot kaki tidak bekerja dengan baik.
  • Skoliosis
  • Pertumbuhan tidak normal
  • Masalah pada usus dan kandung kemih. Ini karena saraf yang terhubung dengan dua organ tersebut berasal dari bagian paling bawah sumsum tulang belakang.
  • Infeksi pada otak atau meningitis.
  • Gangguan pernapasan saat tidur, seperti sleep apnea.
  • Sakit kepala akut.
  • Masalah kulit. Bayi dengan spina bifida rentan mengalami luka di kaki, tungkai, bokong, dan punggung.

Bagaimana cara mengatasi dan mengobati spina bifida pada bayi?

Penanganan spina bifida hanya bisa dilakukan di rumah sakit. Artinya, tidak ada cara khusus yang dapat diterapkan di rumah.

Sebelum menetapkan diagnosis, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan, baik itu tes darah, menggunakan bantuan ultrasound, maupun mengambil sampel cairan janin.

Sedangkan untuk perawatannya, tergantung pada tingkat keparahan. Spina bifida occulta sering kali tidak memerlukan perawatan sama sekali, namun jenis lainnya membutuhkannya, seperti:

  • Pembedahan sebelum lahir: Operasi prenatal dilakukan sebelum minggu ke-26 kehamilan, bertujuan memperbaiki sumsum tulang belakang janin.
  • Persalinan cesar: Banyak bayi dengan mielomeningokel berada dalam posisi sungsang. Sehingga, persalinan cesar adalah cara teraman yang bisa dilakukan.
  • Operasi setelah lahir: Prosedur bedah pascapersalinan pada bayi biasanya dilakukan jika spina bifida berjenis mielomeningokel. Tujuan dari operasi ini untuk meminimalkan risiko infeksi terkait saraf yang terbuka, serta melindungi sumsum tulang dari trauma.

Apa saja obat spina bifida yang biasa digunakan?

Dilansir dari Medscape, pengobatan untuk spina bifida berfokus pada disfungsi kandung kemih dan kondisi neurogenik (gangguan saraf tulang belakang). Obat-obatan yang digunakan di antaranya adalah:

  • Antikolinergik (oxybutynin chloride, hyoscyamine sulfate)
  • Antidepresan trisiklik (imipramine hydrochloride; dapat bekerja melalui efek antikolinergik)
  • Antagonis alfa-adrenergik (terazosin)

Sedangkan pengobatan herbal, hingga saat ini, belum ada penelitian yang membuktikan tentang adanya bahan alami untuk mengatasi spina bifida.

Apa saja makanan dan pantangan untuk penderita spina bifida?

Bicara soal pantangan, tidak ada larangan khusus konsumsi makanan untuk bayi pengidap spina bifida.

Hanya saja, asupan asam folat sangat dianjurkan untuk dikonsumsi secara rutin, karena dipercaya dapat membantu mengatasi dan menurunkan tingkat keparahannya. Asam folat dapat ditemukan pada sayuran berdaun hijau dan kacang-kacangan.

Baca juga: Asam Folat untuk Program Hamil, Mencegah Cacat Lahir pada Janin

Bagaimana cara mencegah spina bifida?

Salah satu faktor pemicu spina bifida adalah kurangnya konsumsi folat pada masa kehamilan. Itu artinya, sebagai pencegahan, Moms perlu menjaga asupannya. Wanita hamil disarankan untuk mengonsumsi asam folat 400 mikrogram per hari.

Selain meminimalkan spina bifida, folat berperan penting dalam mendukung proses tumbuh kembang janin di dalam kandungan, termasuk sistem sarafnya. Kekurangan asam folat dapat memicu cacat lahir, salah satunya adalah spina bifida.

Nah, itulah ulasan lengkap tentang spina bifida yang perlu Moms tahu. Selalu terapkan pola hidup sehat untuk meminimalkan spina bifida pada bayi, ya!

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

  1. Mayo Clinic, diakses 27 Oktober 2020, What Is Spina Bifida?
  2. Healthline, diakses 27 Oktober 2020, Spina bifida.
  3. NHS UK, diakses 27 Oktober 2020, Spina Bifida.
  4. WebMD, diakses 27 Oktober 2020, What Is Spina Bifida?
  5. Medscape, diakses 27 Oktober 2020, Spina Bifida Medication.
  6. Kompas.com, diakses 27 Oktober 2020, Setiap Tahun, Ratusan Ribu Bayi di Indonesia Lahir dengan Kelainan Bawaan.

    register-docotr