Kamus Penyakit

Sinusitis

April 30, 2020 | Dani Kosasih | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Sinusitis bisa terjadi pada siapa saja karena merupakan infeksi yang menyebabkan saluran hidung meradang. Penyakit sinusitis perlu penanganan segera karena jika dibiarkan bisa menyebabkan komplikasi serius.

Baca juga: 5 Cara Mengobati Kista Secara Alami: Kompres Panas hingga Memanfaatkan Madu

Apa itu penyakit sinusitis?

Sinusitis adalah istilah kedokteran yang biasa digunakan untuk menyebutkan penyakit infeksi atau peradangan yang terjadi pada dinding sinus.

Sinus sendiri adalah rongga kecil yang saling terhubung melalui saluran udara di dalam tulang tengkorak. Letaknya ada di belakang tulang dahi, bagian dalam struktur tulang pipi, kedua sisi batang hidung dan belakang mata.

Apa penyebab sinusitis?

Sinus menghasilkan lendir atau mukus yang berfungsi untuk menyaring dan membersihkan bakteri atau partikel lain dalam udara yang dihirup. Sinusitis atau infeksi sinus biasanya disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, atau jamur.

Pada kondisi lain, tidak jarang terjadi akibat oleh alergi, polip hidung, dan infeksi gigi yang dapat menimbulkan pembengkakan pada selaput lendir hidung dan sinus.

Pembengkakan tersebut akan menutup jalur antara sinus dan hidung yang akhirnya akan menyebabkan penyumbatan di dalamnya.

Sinus yang sehat seharusnya dipenuhi dengan udara. Tetapi ketika tersumbat dan dipenuhi cairan, kuman dapat tumbuh dan menyebabkan infeksi.

Siapa saja yang lebih berisiko terkena sinusitis?

Siapa yang paling beresiko mengidap sinusitis di hidung? Semua orang memiliki potensi besar terkena infeksi sinus. Berikut beberapa orang dengan kondisi yang paling berisiko:

  • Orang dengan pembengkakan di dalam hidung yang terlihat seperti flu biasa
  • Penderita polip hidung
  • Memiliki riwayat rinitis alergi.
  • Orang dengan kekurangan sistem kekebalan tubuh.
  • Orang yang mengkonsumsi obat-obatan yang menekan sistem kekebalan tubuh

Kondisi yang lebih rentan paling sering dialami oleh perokok atau orang yang sering berenang.

Untuk anak-anak, hal-hal yang dapat menyebabkan sinusitis meliputi:

  • Alergi
  • Asap yang dihirup dari lingkungan tidak bersih
  • Meminum dengan botol sembari berbaring telentang

Apa gejala dan ciri-ciri sinusitis?

Secara umum, gejala sinusitis mirip dengan flu biasa, termasuk indra penciuman menurun, demam, hidung tersumbat, sakit kepala, kelalahan, dan batuk. Namun, ciri-cirinya juga bisa berbeda sesuai dengan jenis yakni sebagai berikut:

Sinusitis akut

Sinusitis akut mengacu pada gejala infeksi pada sinus yang berlangsung kurang dari empat minggu. Kasus seperti ini kebanyakan dimulai dari gejala flu umum yang biasa terjadi.

Namun, virus dari flu tersebut kemudian berkembang menjadi infeksi bakteri dan berlanjut menjadi kondisi akut.

Meskipun kebanyakan kasus disebabkan oleh virus, bakteri dan jamur juga terkadang bisa menjadi penyebabnya. Infeksi sinus jenis ini paling umum terjadi pada orang dewasa dibandingkan anak-anak.

Gejala sinusitis akut

Sinusitis akut memiliki gejala seperti:

  • Keluarnya ingus tebal berwarna kuning atau kehijauan dari hidung atau bagian belakang tenggorokan
  • Hidung tersumbat yang menyebabkan kesulitan bernafas
  • Rasa sakit, nyeri dan bengkak yang dirasakan bersamaan dengan tekanan di sekitar mata, pipi, hidung atau dahi saat kamu membungkuk

Tanda-tanda lain yang harus diperhatikan:

  • Mengalami tekanan pada telinga
  • Sakit kepala
  • Sakit pada gigi
  • Menurunnya fungsi indera penciuman
  • Batuk
  • Bau mulut
  • Mudah merasa lelah
  • Demam

Sinusitis kronis

Merujuk data Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, jumlah orang dewasa yang terdiagnosis mengalami sinusitis sekitar 28,9 juta. Sebanyak 4,1 juta di antaranya didiagnosis mengalami kondisi yang kronis.

Penyakit sinus yang sudah kronis biasanya terjadi apabila ruang di dalam hidung dan sinus membengkak hingga mengalami peradangan selama tiga bulan atau lebih meskipun telah mendapatkan pengobatan.

Kondisi tersebut akan mengganggu proses aliran lendir dan membuat hidung terasa sulit bernapas. Biasanya, jika sudah parah maka akan terjadi pembengkakan di area sekitar mata.

Sinusitis kronis dapat disebabkan oleh infeksi karena pertumbuhan pada sinus (polip hidung) atau pembengkakan pada lapisan sinus. Kondisi seperti ini dapat menyerang orang dewasa dan anak-anak.

Gejala sinusitis kronis

Tanda dan gejala yang sudah kronis biasanya hampir sama dengan kondisi akut. Namun, jika sudah kronis, gejalanya bisa berlangsung lebih lama dibandingkan sinusitis akut atau sekitar 12 minggu.

Apa saja komplikasi yang mungkin terjadi akibat sinusitis?

Kasus komplikasi pada sinusitis akut memang jarang terjadi. Namun, jika terjadi, beberapa risiko yang harus diperhatikan yakni berupa:

  • Jika berlangsung panjang, maka sinusitis akut dikhawatirkan akan berkembang menjadi kondisi kronis.
  • Berkembang menjadi meningitis. Infeksi ini akan menyebabkan peradangan selaput dan cairan yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang.
  • Masalah penglihatan. Jika infeksi menyebar ke rongga mata, maka risiko berkurangnya penglihatan atau bahkan kebutaan yang permanen akan mungkin terjadi.

Selain itu, kasus komplikasi pada kondisi yang sudah kronis juga dikatakan jarang terjadi. Namun jika terjadi, beberapa risiko yang mungkin terjadi seperti:

  • Masalah penglihatan. Jika infeksi sinus menyebar ke rongga mata, ini akan menyebabkan berkurangnya penglihatan atau mungkin kebutaan yang permanen.
  • Orang dengan sinusitis kronis dapat mengalami radang selaput dan cairan yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang (meningitis), infeksi pada tulang, atau infeksi kulit yang serius.

Bagaimana cara mengatasi dan mengobati sinusitis?

Penanganan terhadap sinusitis di hidung bisa dilakukan dengan tindakan oleh dokter atau diobati secara mandiri di rumah. Nah, berikut beberapa cara pengobatan penyakit sinus yang bisa kamu lakukan.

Perawatan di dokter

Jika kondisi yang sudah kronis tidak kunjung membaik seiring waktu, maka tindak operasi sinusitis perlu dilakukan. Operasi sinusitis atau pembedahan ini bertujuan untuk membersihkan sinus, memperbaiki septum, atau menghilangkan polip.

Cara mengatasi sinusitis secara alami di rumah

Sinusitis bisa juga diobati dengan cara alami, yakni menempelkan kain hangat dan lembab ke wajah serta dahi. Selain itu, lakukan juga pembilasan garam hidung karena dapat membantu membersihkan lendir yang lengket dan kental.

Apa saja obat sinusitis yang biasa digunakan?

Pengobatan infeksi sinus pada umumnya akan membutuhkan beberapa obat-obatan, baik dari apotek atau menggunakan bahan alami. Nah, untuk lebih jelasnya berikut obat-obatan yang bisa kamu gunakan.

Obat sinusitis di apotek

Saat berkonsultasi dengan dokter, mungkin dokter akan memberikan resep obat untuk mengurangi penyumbatan atau mengendalikan alergi yang akan membantu menjaga saluran sinus tetap terbuka. Obat resep yang bisa digunakan, yakni berupa:

  • Dekongestan
  • Obat pengencer lendir atau semprotan hidung.

Jika infeksi sinus kamu disebabkan oleh bakteri, maka dokter mungkin akan memberikan resep antibiotik. Sedangkan bagi kamu yang memiliki alergi, akan dibutuhkan perawatan jangka panjang guna mengendalikan dan mengurangi gejala alergi yang akan terus memburuk.

Obat sinusitis alami

Selain itu, beberapa perawatan non-obat juga dapat membantu kamu mengatasi keparahan gejala. Cara alami yang diketahui mampu meringankan gejala sinusitis, antara lain:

  • Menghirup uap panas.
  • Mencuci rongga hidung dengan air garam.

Pada kasus tertentu yang tergolong berat, dibutuhkan pembedahan untuk memperbaiki struktur hidung. Untuk melakukan hal tersebut, Dokter akan merujuk kamu ke dokter spesialis Telinga, Hidung, Tenggorokan (THT).

Bagaimana cara mencegah sinusitis?

Untuk mencegah terkena semua tipe sinusitis, baik akut hingga kronis, beberapa langkah ini bisa kamu lakukan:

  • Cobalah untuk menjauh dari orang yang menderita flu.
  • Sering-seringlah mencuci tangan dengan sabun dan air, terutama sebelum makan.
  • Jika kamu memiliki alergi, maka perhatikan gejala-gejalanya. Konsultasikan dengan dokter agar alergi anda dapat terkontrol.
  • Hindari asap rokok dan udara yang tercemar. Asap tembakau dan polutan lainnya dapat menyebabkan iritasi pada paru-paru dan saluran hidung kamu

Tipe sinusitis

Berdasarkan durasinya, sinusitis terbagi menjadi empat tipe, yaitu:

  • Sinusitis akut. Jenis infeksi sinus yang umumnya berlangsung selama 2 hingga 4 minggu.
  • Sinusitis subakut. Jenis infeksi sinus akut yang mampu bertahan selama 4 hingga 12 minggu.
  • Sinusitis kronis. Jenis infeksi sinus ini mampu bertahan selama lebih dari 12 minggu. Bahkan, dalam kondisi tertentu dapat berlanjut hingga berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.
  • Sinusitis kambuhan. Jenis yang ini adalah jenis infeksi sinus yang terjadi beberapa kali dalam satu tahun.

Penyakit sinus akut dan kronis adalah tipe yang paling banyak mendapat perhatian karena dialami oleh banyak orang dan termasuk dalam tipe infeksi sinus yang berbahaya bila tidak segera dicegah.

Siapa yang berisiko mengalami sinusitis kronis?

Penyakit sinus bisa berlanjut menjadi kondisi yang kronis jika diderita oleh beberapa orang dengan riwayat kesehatan tertentu. Nah, berikut beberapa orang yang memiliki risiko paling tinggi:

  • Septum yang menyimpang
  • Polip hidung
  • Asma
  • Sensitivitas terhadap aspirin
  • Mengalami infeksi gigi
  • Memiliki gangguan pada sistem kekebalan tubuh seperti HIV/AIDS atau cystic fibrosis
  • Alergi
  • Sering terpapar polutan seperti asap rokok

Jika penyakit sudah sampai pada tahap kronis, maka operasi sinusitis perlu segera dilakukan. Biasanya, dokter akan melakukan diagnosis terlebih dahulu melalui beberapa pemeriksaan untuk mengentahui kondisi pasien.

Cara mendiagnosis sinusitis di hidung

Untuk mendiagnosis sinusitis di hidung, seorang dokter atau ahli alergi akan melakukan pemeriksaan fisik dan melakukan beberapa tes seperti pengujian alergi atau CT Scan sinus untuk mengambil gambar yang berada tepat dari rongga sinus.

Selain itu, dokter juga akan menyarankan untuk mengambil atau sampel dari sekresi atau lapisan hidung kamu. Pemeriksaan endoskopi juga salah satu yang dianjurkan oleh dokter.

Dokter akan memasukkan sebuah alat yang terpasang lampu ke dalam rongga hidung melalui lubang hidung setelah sebelumnya dilakukan anestesi lokal.

Endoskopi akan memungkinkan dokter untuk melihat daerah di mana sinus kamu mengalir ke hidung dengan cara yang mudah dan tidak menyakitkan.

Adakah hubungannya antara alergi dan sinusitis?

Mengutip keterangan dari American Academy of Allergy, Asthma and Immunology (AAAAI), sebagian besar infeksi sinus disebabkan oleh virus seperti flu, sedangkan yang disebabkan oleh bakteri hanya sekitar 2 persen.

Dari dua penyebab tersebut, orang dengan masalah alergi memiliki kemungkinan yang paling rentan akan menderita infeksi sinus.

Orang yang memiliki alergi dan asma akan cenderung mengembangkan infeksi sinus yang dimilikinya jika saat bernapas bersinggungan dengan pemicu seperti debu, serbuk sari atau asap. Dalam kondisi seperti ini, hidung dan jaringan sinusnya pun akan menjadi bengkak saat bernapas.

Saat alergi memicu pembengkakan pada selaput lendir, jaringan yang meradang dapat menghalangi sinus. Sinus pun tidak dapat mengalir dengan baik hingga menjebak lendir dan udara di dalamnya.

Sering disepelekan

Banyak orang yang mengalami gejala alergi tidak peka dan tidak menganggap serius tanda-tanda ini.

Leonard Bielory, seorang profesor alergi dan imunologi di Rutgers University menjelaskan bahwa kebanyakan orang dengan alergi menganggap biasa semua gejala yang mereka alami.

“Orang-orang terbiasa dengan kemacetan dan polusi udara. Masalah sinus kronis sering mereka anggap sebagai flu biasa, hingga bau mulut dan gangguan tidur. Mereka tidak menyadari dampak alergi tersebut di kehidupan mereka hingga bertahun-tahun kemudian,” ungkapnya, mengutip webmd.com.

Namun, saat gejala tersebut memburuk, mereka masih tidak menganggap serius gejala-gejala tersebut dan hanya menebak apa yang menyebabkan alergi mereka kambuh.

Akibatnya, mereka pun mengkonsumsi obat tanpa diagnosis yang tepat dan akhirnya membuat infeksi sinus bertambah parah.

Sinusitis pada anak

American Academy of Pediatrics (AAP) mencatat setidaknya, 6 hingga 7 persen kasus anak yang mengalami masalah pernapasan juga memiliki masalah terhadap sinusitis akut.

Sinusitis akut pada anak dapat didiagnosis melalui infeksi saluran pernapasan atas akut yang menetap (keluarnya hidung atau batuk di siang hari selama lebih dari 10 hari yang terus memburuk) hingga gejala paling parah yaitu demam mencapai 39,2 derajat Celcius.

Memberi resep antibiotik pada anak harus dalam keadaan ketika anak tersebut benar-benar telah kondisi buruk dan berlangsung lama. Setelah pengobatan klinis, perawatan pada anak dapat diubah menjadi terapi oral.

Jika kondisi anak tidak membaik setelah 72 jam, penggunaan antibiotik dapat diubah. Selalu harus diingat, konsultasikan segala kondisi pada dokter. Kesalahan pemberian dosis pada anak akan menimbulkan risiko yang sangat berbahaya.

Baca juga: 7 Penyakit Akibat Kesehatan Gigi dan Mulut yang Buruk, Salah Satunya Penyakit Jantung!

Pastikan untuk mengecek kesehatan Anda dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Download di sini untuk berkonsultasi dengan mitra dokter kami.

Reference

1. webMD (2018) diakses 27 April 2020. https://www.webmd.com/allergies/sinusitis-and-sinus-infection#2
2. aaaai.org diakses 27 April 2020. https://www.aaaai.org/conditions-and-treatments/library/allergy-library/sinusitis
3. mayoclinic.org diakses 27 April 2020. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/acute-sinusitis/symptoms-causes/syc-20351671
4. cdc.gov diakses 27 April 2020. https://www.cdc.gov/nchs/fastats/sinuses.htm
5. mayoclinic.org diakses 27 April 2020. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/chronic-sinusitis/symptoms-causes/syc-20351661
6. webmd.com diakses 27 April 2020. https://www.webmd.com/a-to-z-guides/features/allergies-allergic-rhinitis
7. aaaai.org diakses 27 April 2020. https://www.aaaai.org/Aaaai/media/MediaLibrary/PDF%20Documents/Libraries/EL-allergies-colds-allergies-sinusitis-patient.pdf
8. aafp.org (2014) diakses 27 April 2020. https://www.aafp.org/afp/2014/0415/p676.html

    register-docotr