Kamus Penyakit

Moms Wajib Tahu! Ini 6 Penyebab Stunting pada Anak yang Sering Diabaikan

June 30, 2020 | Muhammad Hanif S. | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Stunting merupakan gangguan tumbuh kembang pada anak, mengutip Badan Kesehatan Dunia (WHO). Kondisi ini bisa dimulai sejak proses pembuahan hingga 1.000 hari pascakelahiran. Ada banyak hal yang dapat menjadi penyebab stunting pada anak, yang utama adalah kekurangan gizi.

Kasus stunting di dunia didominasi negara-negara dengan tingkat kemiskinan yang tinggi. Pada 2020, jumlah anak di bawah lima tahun yang mengalami kondisi ini mencapai 141 juta jiwa, sebagian besar ada di benua Afrika.

Penyebab stunting pada anak

Kekurangan gizi adalah alasan utama mengapa anak bisa mengalami gangguan pertumbuhan. Meski, masih ada sejumlah faktor pemicu lain yang dapat meningkatkan risiko kondisi tersebut. Simak apa saja penyebab stunting pada anak berikut ini.

1. Kurang gizi saat hamil

Menurut Kementerian Kesehatan, stunting pada anak umumnya disebabkan oleh kurangnya asupan gizi seimbang, terutama saat kehamilan. Saat berada di dalam rahim, perkembangan janin sangat bergantung pada nutrisi yang diberikan.

Trimester ketiga misalnya, periode saat janin mengalami proses tumbuh kembang paling optimal. Jika pada periode ini janin tidak mendapat nutrisi maksimal, ia sangat rentan mengalami masalah, baik saat lahir maupun setelahnya.

Salah satu faktor tidak tercukupinya nutrisi pada janin adalah keadaan ekonomi orang tua yang berada di level menengah ke bawah.

Berdasarkan data yang dirilis oleh Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), harga komoditas makanan di sejumlah daerah, termasuk Jakarta, masih ada di atas kota-kota lain di beberapa negara berkembang.

Baca juga: Moms, Cegah Stunting Rajin Cek Status Gizi Anak Yuk

2. Bayi tidak mendapat ASI eksklusif

Salah satu penyebab stunting pada anak yang jarang disadari adalah tidak adanya ASI eksklusif untuk bayi yang baru lahir.

Menurut sebuah publikasi di Perpustakaan Kedokteran Nasional Amerika Serikat, enam bulan pertama setelah lahir adalah periode paling penting bagi bayi untuk mendapat ASI eksklusif.

ASI eksklusif mengandung makro dan mikronutrien penting, sangat erat kaitannya dengan postur bayi, seperti berat dan tinggi badan. Kekurangan ASI, atau bahkan tidak sama sekali, bisa menghambat pertumbuhan bayi.

3. Penyebab stunting: bayi tidak mendapat MPASI

Makanan pendamping ASI (MPASI) sangat dibutuhkan saat bayi beranjak enam bulan. MPASI sendiri diperlukan untuk mengenalkan jenis makanan baru selain ASI. MPASI juga bisa memenuhi nutrisi bayi saat ia tidak lagi disokong oleh air susu ibu.

The Food and Agriculture Organization (FAO), organisasi pangan di bawah naungan PBB, menyarankan, MPASI sebaiknya terdiri dari kombinasi makanan yang mengandung beragam nutrisi, seperti kentang, daging merah, ikan laut, dan sayuran segar.

Baca juga: Tips Membuat MPASI dengan Bubur Susu untuk Anak 6 Bulan.

4. Ibu hamil yang mengidap penyakit tertentu

Faktor lain yang bisa memicu stunting pada anak adalah kondisi ibu yang mengidap penyakit tertentu saat hamil. Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah salah satunya. Selain itu, adanya infeksi di area sekitar rahim juga bisa meningkatkan risiko gangguan pertumbuhan pada janin.

Saat bagian rahim bermasalah, ada kemungkinan terganggunya penyaluran nutrisi dari ibu ke bayi. Sehingga, proses tumbuh kembangnya menjadi tidak optimal. Untuk itu, sangat penting untuk rajin memeriksakan diri ke dokter jika mengalami gangguan kesehatan saat sedang hamil.

5. Penyebab stunting pada anak: sanitasi yang buruk

Salah satu penyebab stunting pada anak yang kerap diabaikan adalah masalah sanitasi di sekitar tempat tinggal. Air dan makanan yang terkontaminasi zat berbahaya dapat memicu infeksi serius. Infeksi inilah yang menjadi faktor penghambat pertumbuhan anak.

Menurut TNP2K, satu dari lima rumah tangga di Indonesia masih belum memiliki akses air bersih, serta masih melakukan aktivitas mandi, cuci, dan kakus (MCK) di ruang terbuka.

Ruangan terbuka yang dimaksud adalah aliran air seperti sungai. Padahal, tempat ini mengandung zat berbahaya yang bisa saja berasal dari limbah.

6. Kurangnya kesadaran orang tua

Jangan lengah saat dokter mengatakan bayi terlahir dalam keadaan sehat. Sebab, proses berhentinya pertumbuhan anak bisa dimulai setelah kelahiran. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya perhatian orang tua terhadap kesehatan si kecil.

Data yang dirilis TNP2K menunjukkan, angka kehadiran anak di pos pelayanan terpadu (posyandu) masih belum memuaskan, berada di bawah 80 persen. Padahal, dengan hadir di posyandu, tanda-tanda kekurangan gizi bisa dicegah sedini mungkin.

Baca juga: Moms Wajib Tahu: Daftar Kebutuhan Gizi pada Anak Sesuai Usia.

Prevalensi stunting di Indonesia

Pada 2019, Kementerian Kesehatan menyatakan, prevalensi stunting di Indonesia turun menjadi 27,67 persen, sekitar 6 juta kasus. Angka ini semakin mendekati target maksimal yang ditetapkan WHO, yaitu 20 persen.

Pencapaian tersebut tak lepas dari peran pemerintah yang melakukan intervensi hingga ke tingkat keluarga. Kemenkes RI sendiri mematok target untuk menurunkan prevalensi tersebut hingga ke level 19 persen pada 2024.

Nah, itulah ulasan enam penyebab stunting pada anak beserta angka prevalensinya di Tanah Air. Yuk, mulai peduli dengan keadaan janin dan kesehatan bayi untuk meminimalkan terjadinya stunting pada anak!


Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

  1. Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K). 2017. 100 Kabupaten/Kota Prioritas untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting). Jakarta: Sekretariat Wakil Presiden Republik Indonesia.
  2. World Health Organization (WHO), diakses 22 Juni 2020, Stunting in a nutshell.
  3. World Health Organization (WHO), diakses 22 Juni 2020, Global Nutrition Targets 2025: Stunting Policy Brief.
  4. World Health Organization (WHO), diakses 22 Juni 2020, Prevalence of stunting among children under 5 years of age.
  5. Kementerian Kesehatan, diakses 22 Juni 2020, Ini Penyebab Stunting pada Anak.
  6. Kementerian Kesehatan, diakses 22 Juni 2020, Pencegahan Stuntingpada Anak.
  7. Kementerian Kesehatan, diakses 22 Juni 2020, Menggembirakan, Angka Stunting Turun 3,1% dalam Setahun.
  8. The Food and Agriculture Organization (FAO), diakses Juni 2020, Complementary Feeding For Children Aged 6-23 Months.
  9. National Center for Biotechnology Information (NCBI), diakses 22 Juni 2020, Exclusive breastfeeding and its effect on growth of Malawian infants: results from a cross-sectional study.
  10. Liputan6, diakses 22 Juni 2020, Kemenkes Targetkan Angka Stunting Turun hingga 19 Persen pada 2024.
  11. Detik.com, diakses 22 Juni 2020, Strategi 2020 Melawan Stunting.

    register-docotr