Kamus Penyakit

Epilepsi

September 18, 2020 | Putri Prima Soraya
feature image

Menurut data dari WHO, sekitar 50 ribu orang menderita epilepsi atau juga yang kita kenal dengan ayan. Penyebab epilepsi juga beragam dan tidak mengenal usia. Penyakit ini bisa terjadi pada siapapun termasuk anak-anak dan bayi.

Orang dengan epilepsi biasanya akan mengalami kejang mendadak hingga kehilangan kesadaran. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai penyebab epilepsi, simak ulasannya di bawah ini!

Apa itu penyakit epilepsi?

Epilepsi adalah gangguan sistem saraf pusat (neurologis), di mana aktivitas otak menjadi tidak normal. Karena adanya aktivitas tidak normal pada otak, penyakit ini kemudian menyebabkan kejang berulang.

Kejang adalah hasil dari aktivitas neuron yang berlebihan yang menyebabkan kejang tiba-tiba, kehilangan kesadaran, hingga perubahan perilaku tidak normal.

Penyakit yang umum dikenal dengan nama ayan ini dapat menyerang siapapun, pria, wanita, tua, dan muda. Dikutip dari Web MD, ada sekitar 180.000 kasus epilepsi baru setiap tahunnya. Bahkan sekitar 30 persen dari penderita epilepsi adalah anak-anak.

Apa penyebab epilepsi?

Ada banyak faktor yang menjadi penyebab epilepsi dan kadang sulit diidentifikasi. Seseorang mungkin mulai mengalami kejang karena mereka memiliki satu atau lebih hal berikut:

  • Kecenderungan genetik. Berdasarkan riset pada 2015, 70 persen penyebab epilepsi adalah genetik.
  • Kecenderungan genetik yang tidak diwariskan, tetapi merupakan perubahan baru dalam gen juga menjadi penyebab epilepsi.
  • Perubahan struktural (kadang-kadang disebut ‘simptomatik’) di otak, seperti otak tidak berkembang dengan baik, atau kerusakan yang disebabkan oleh cedera otak, infeksi seperti meningitis, stroke, atau tumor. 
  • Perubahan struktural karena kondisi genetik seperti tuberous sclerosis, atau neurofibromatosis, yang dapat menyebabkan pertumbuhan yang memengaruhi otak.
  • Kadar zat yang tidak normal seperti natrium atau gula darah juga bisa menjadi penyebab epilepsi.

Siapa saja yang lebih berisiko terkena epilepsi?

Risiko epilepsi pada bayi paling tinggi pada tahun pertama setelah kelahiran. Risiko epilepsi pada bayi akan semakin tinggi jika lahir terlalu dini atau prematur. Bayi lahir prematur sangat rentan terhadap cedera otak dan rentan terhadap kejang pada minggu-minggu pertama setelah lahir.

Penyebab kejang yang paling umum pada bayi prematur adalah perdarahan otak dan infeksi, meskipun penyebabnya tidak diketahui untuk semua bayi. Bayi dengan berat badan lahir rendah juga berisiko mengalami kejang. Yang kemudian dapat berkembang menjadi epilepsi pada bayi.

Sedangkan untuk bayi yang lahir normal, ada beberapa yang menyebabkan kejang terjadi, seperti:

1. Struktural

Kurangnya oksigen ke otak saat dilahirkan. Ini bisa menyebabkan dua jenis kerusakan otak yang disebut dengan hipoksia perinatal dan displasia serebral atau disgenesis.

Pada hipoksia perinatal, dapat menyebabkan cedera pada otak yang disebut ‘ensefalopati hipoksik-iskemik’ atau terlahir dengan beberapa kerusakan pada otak. Sedangkan displasia serebral atau disgenesis, menyebabkan otak bayi tumbuh dengan tidak normal.

2. Metabolik

Memiliki kadar glukosa, kalsium, atau magnesium yang rendah dalam darah.

3. Infeksi

Mengalami infeksi seperti meningitis atau ensefalitis.

4. Genetik

Kondisi medis, seperti self-limiting familial infantile seizures,  atau memiliki kelainan seperti  kekurangan GLUT 1, atau kelainan genetik, seperti sindrom Ohtahara.

Bukan cuma anak-anak yang berisiko terserang epilepsi. Berikut beberapa kategori yang memiliki tingkat risiko lebih tinggi terkena epilepsi:

  • Sejarah keluarga. Jika memiliki riwayat keluarga epilepsi, mungkin kamu berisiko lebih tinggi mengalami gangguan kejang.
  • Cedera kepala. Pernah mengalami cedera kepala sangat berisiko tinggi mengalami kejang epilepsi.
  • Stroke dan penyakit pembuluh darah lainnya. Stroke dan penyakit pembuluh darah lainnya bisa menyebabkan kerusakan otak, yang kemudian dapat memicu epilepsi. 
  • Demensia. Demensia dapat meningkatkan risiko epilepsi pada orang yang lebih tua.
  • Infeksi otak. Infeksi seperti meningitis, yang menyebabkan peradangan di otak atau sumsum tulang belakang, dapat meningkatkan risiko mengalami epilepsi.
  • Kejang di masa kecil. Risiko epilepsi pada anak meningkat jika pernah mengalami kejang dengan durasi lama, mengalami kondisi sistem saraf lain atau riwayat epilepsi dalam keluarga.

Apa gejala dan ciri-ciri epilepsi?

Kejang adalah gejala utama dari epilepsi pada anak dan juga orang dewasa. Namun setiap orang bisa mengalami jenis kejang yang berbeda-beda. Berikut beberapa jenis kejang yang umum terjadi.

Kejang parsial

Orang yang mengalami kejang parsial tetap dalam kondisi sadar, dan kejang ini masih dibagi lagi menjadi dua jenis, yaitu:

  • Kejang parsial sederhana, dengan gejala pusing, kesemutan dan kedutan pada anggota badan. Serta adanya perubahan indra perasa, penciuman, penglihatan, pendengaran dan peraba.
  • Kejang parsial kompleks. Gejalanya berupa tatapan kosong, tidak responsif dan melakukan gerakan berulang.

Kejang umum

Kejang umum masih terbagi lagi menjadi enam jenis yang berbeda, yaitu:

  • Absen, dengan gejala tatapan kosong, dan dapat menyebabkan gerakan berulang. Biasanya penderita hampir kehilangan kesadaran.
  • Tonik, gejalanya otot menjadi kaku.
  • Atonik, gejalanya berupa hilang kendali atas fungsi otot. Bisa membuat orang yang mengalaminya jatuh mendadak.
  • Klonik, ditandai dengan gerakan otot wajah, leher atau lengan yang berulang.
  • Mioklonik, gejalanya kedutan pada lengan dan kaki secara spontan.
  • Tonik-klonik, gejalanya tubuh kaku, gemetar, hilang kontrol kandung kemih atau usus, menggigit lidah dan hilang kesadaran.

Apa saja komplikasi yang mungkin terjadi akibat epilepsi?

Beberapa komplikasi epilepsi yang mungkin terjadi, antara lain:

  • Risiko kerusakan permanen atau kematian akibat kejang parah yang berlangsung lebih dari lima menit
  • Risiko kejang berulang dan orang tersebut tidak sadarkan diri selama jeda antara satu waktu kejang ke waktu kejang berikutnya
  • Kematian mendadak yang tidak dapat dijelaskan pada epilepsi. Kondisi ini hanya menyerang sekitar 1 persen penderita epilepsi

Selain itu, di beberapa tempat orang dengan penyakit epilepsi akan dilarang untuk mengendarai kendaraan bermotor. Karena dianggap berbahaya, kejang bisa kambuh kapan saja, termasuk saat sedang mengemudi.

Bagaimana cara mengatasi dan mengobati epilepsi?

Ada beberapa pilihan perawatan yang bisa dilakukan. Pemilihan perawatan tergantung dari rekomendasi dokter. Dokter akan menganjurkan perawatan setelah melihat keparahan kondisi pasien. Secara umum berikut perawatan yang biasa dilakukan.

Perawatan epilepsi di dokter 

  • Obat anti-epilepsi (antikonvulsan, antiseizure). Obat -obatan ini dapat mengurangi jumlah kejang yang terjadi. Pada beberapa orang, kejang dapat dikendalikan setelah mengonsumsi obat. Untuk hasil efektif, obat harus diminum persis seperti yang ditentukan.
  • Stimulator saraf vagus. Yaitu perawatan menggunakan alat khusus yang bekerja dengan cara menstimulasi saraf pasien. Ini dapat membantu mencegah kejang.
  • Operasi otak. Area otak yang menyebabkan aktivitas kejang dapat diangkat atau diperbaiki melalui operasi.

Cara mengatasi epilepsi secara alami di rumah

Selain perawatan di dokter, kamu juga bisa mencoba perawatan alami yang dilakukan di rumah. Beberapa cara yang bisa dilakukan yaitu:

Mengonsumsi obat herbal epilepsi

Perawatan menggunakan obat herbal epilepsi adalah salah satu pilihan yang populer. Jika ingin mengonsumsi obat herbal epilepsi, sebaiknya konsultasikan kepada dokter.

Karena kandungan tertentu dalam obat herbal epilepsi bisa saja menimbulkan interaksi dengan obat-obatan yang diresepkan oleh dokter.

Berusaha mengenali tanda kejang

Banyak orang dengan epilepsi menyadari tanda-tanda jika akan kejang. Mereka menyebutnya sebagai gejala aura, yang seringkali muncul di 20 menit sebelum kejang. 

Gejala tersebut bisa berupa gelisah, lelah, dan sakit kepala. Jika telah mengenali gejala tersebut kamu bisa mengendalikan diri dan mencegah kejang dengan teknik membuat pikirin lebih fokus. Caranya bisa dengan:

  • Meditasi
  • Mencium aroma yang kuat
  • Berusaha untuk sibuk dan fokus pada satu tugas
  • Serta berusaha menolak kejang secara sadar

Perawatan akupuntur dan kiropraktik

Ini adalah perawatan alternatif. Kamu bisa memanggil ahlinya untuk melakukan perawatan ke rumah. Perawatan yang berasal dari tiongkok kuno ini membantu untuk mengubah aktivitas otak dengan tusukan jarum di titik-titik tertentu di tubuh. 

Namun belum ada penelitian ilmiah yang membuktikan keampuhan pengobatan ini untuk menyembuhkan epilepsi.

Apa saja obat epilepsi yang biasa digunakan?

Ada obat medis yang diresepkan oleh dokter, tapi kamu juga bisa menggunakan obat-obatan alami untuk membantu mengelola kejang epilepsi. Berikut jenis-jenis obatnya.

Obat epilepsi di apotik

Obat yang paling umum digunakan adalah obat antiseizure. Berfungsi untuk membantu mengurangi frekuensi dan keparahan kejang. Obat ini tidak lantas menghilangkan epilepsi, namun hanya mengelola kejang. 

Selain antiseizure ada obat lainnya yang mungkin diberikan oleh dokter. Obat tersebut biasanya diberikan sesuai dengan jenis kejang yang dialami. Beberapa jenis yang paling umum adalah:

  • Evetiracetam (Keppra)
  • Lamotrigin (Lamictal)
  • Topiramate (Topamax)
  • Asam valproat (Depakote)
  • Karbamazepin (Tegretol)
  • Ethosuximide (Zarontin)

Obat ini bisa didapatkan di apotik, dalam bentuk tablet, cairan atau obat suntik. Obat-obatan ini harus diminum sesuai dengan resep, untuk membantu mengelola kejang, agar tidak bertambah parah.

Obat epilepsi alami 

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, jika salah satu pengobatan yang bisa dilakukan untuk mengelola kejang epilepsi adalah mengonsumsi obat herbal epilepsi. Berikut beberapa jenis herbal yang paling umum digunakan sebagai bahan obat herbal epilepsi:

  • Euonymus alatus
  • Senecio vulgaris
  • Artemisia vulgaris
  • Ailanthus altissima
  • Bunga peony
  • Scutellaria
  • Mistletoe

Apa saja makanan dan pantangan untuk penderita epilepsi?

Beberapa orang percaya bahwa pola makan sehat dapat membantu mengelola kejang epilepsi. Salah satu pola makan sehat yang dianjurkan adalah diet ketogenik.

Beberapa anak penderita epilepsi dapat mengurangi kejang dengan mengikuti diet ketat yang tinggi lemak dan rendah karbohidrat ini. Jika biasanya tubuh memecah karbohidrat, di dalam diet ketogenik ini tubuh memecah lemak untuk menghasilkan energi.

Dan kondisi ini dipercaya dapat membantu mereka yang mengidap epilepsi. Namun di sisi lain, diet ini memiliki efek samping berupa dehidrasi, sembelit, pertumbuhan yang lambat.

Lambatnya pertumbuhan dapat terjadi karena kekurangan nutrisi dan penumpukan asam urat dalam darah, yang dapat menyebabkan batu ginjal. Efek samping ini jarang terjadi jika diet diawasi dengan benar dan secara medis.

Bagaimana cara mencegah epilepsi?

Epilepsi adalah penyakit yang berhubungan langsung dengan otak. Maka cara pencegahan yang paling penting yang bisa dilakukan adalah menjaga terjadinya cedera otak. Atau berusaha menjaga kondisi otak sebaik mungkin.

Sementara untuk kamu yang sudah pernah mengalami epilepsi, ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mencegah epilepsi datang kembali, termasuk melakukan:

  • Menyadari pemicu yang mungkin terjadi dan pelajari bagaimana untuk mengatasi pemicu tersebut
  • Manajemen stres yang baik
  • Hindari alkohol dan obat-obatan 
  • Minum obat sesuai resep dokter
  • Kurangi cahaya silau atau lampu berkedip adat rangsangan visual lain
  • Makan yang sehat

Penting untuk mengenali pemicu kejang. Ada berbagai faktor dan salah satu studi pada 2014 mengidentifikasi stres, kurang tidur, dan kelelahan sebagai pemicu paling sering di antara 104 peserta sempel. Tingkat konsumsi alkohol yang tinggi juga bisa menjadi pemicu. 

Pada wanita, selama mendekati masa menstruasi, kejang mungkin terjadi lebih sering.

Memastikan epilepsi pada anak dan orang dewasa

Untuk mengetahui apakah kamu menderita epilepsi atau tidak, pertama dokter akan melihat dari riwayat medis, gejala-gejala yang dialami, termasuk deskripsi dan kapan kejang terjadi, untuk mendiagnosis epilepsi.

Pada anak-anak, dokter mungkin juga akan bertanya kepada kamu sebagai orang tua tentang faktor-faktor  yang bisa menjadi penyebab seperti:

  • Demam atau infeksi baru-baru ini.
  • Cedera kepala.
  • Kondisi kesehatan bawaan.
  • Kelahiran prematur.
  • Pemakaian obat-obat dosis tinggi.

Lebih lanjut, dokter juga akan melakukan beberapa tes untuk memastikan apakah kamu menderita epilepsi atau tidak. Tes yang mungkin kamu jalani seperti:

  • Pemeriksaan neurologis.
  • Tes darah untuk memeriksa masalah gula darah.
  • Tes pencitraan otak, seperti magnetic resonance imaging (MRI) atau computed tomography (CT) scan.
  • Electroencephalogram (EEG) untuk menguji aktivitas listrik di otak.
  • Lumbar puncture (spinal tap) untuk mengukur tekanan di otak dan saluran tulang belakang dan menguji cairan serebrospinal untuk infeksi atau masalah lain.

Perlu diketahui juga, kejang memang gejala utama dari epilepsi, tapi faktanya, seseorang baru dikatakan memiliki gejala epilepsi jika mengalami dua kali serangan kejang tidak beralasan.

Setelah diagnosis ditentukan maka dokter akan menentukan perawatan. Jika kamu memiliki keluarga yang terkena epilepsi, mencoba memahami penanganan saat kejang adalah salah satu bentuk dukungan yang bisa kamu lakukan. 

Jika kamu bertanya-tanya apakah epilepsi menular? Jawabannya epilepsi juga bukan suatu penyakit yang menular. Jika kamu masih ragu dengan pertanyaan apakah epilepsi menular, kamu bisa melihat langsung jawabannya dari situs WHO.

Dalam situs resminya WHO menyatakan bahwa epilepsi tidak menular. Sehingga kamu bisa membantu orang terdekat tanpa terbebani pertanyaan apakah epilepsi menular.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

Epilepsy action (2019). Diakses 30/06/20. Epilepsy in babies

Epilepsy Society (2019). Diakses 30/06/20. Causes of Epilepsy

Web MD (2019). Diakses 30/06/20. Common Epilepsy Causes and Seizure Triggers

Medical News Today (2019). Diakses 20/06/20. What to know about epilepsy

Mayo Clinic (2020). Diakses 20/06/20. Epilepsy

 

    register-docotr