Kamus Penyakit

Penyakit Tick-Borne di China, Apakah Berpotensi Jadi Wabah Baru Seperti COVID-19?

August 12, 2020 | Muhammad Hanif S. | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Saat dunia belum selesai menghadapi pandemi COVID-19, perhatian global kembali menuju China. Ya, ada gelombang baru dari penyakit lain yang tak kalah mengkhawatirkan, bernama severe fever with thrombocytopenia syndrome (SFTS) atau dikenal dengan Tick-Borne.

Hingga pekan pertama bulan Agustus, tak kurang dari 60 warga lokal terinfeksi penyakit ini, serta tujuh lainnya meninggal. Apa sebenarnya penyakit SFTS itu? Apakah berpotensi menjadi wabah seperti COVID-19? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Baca juga: Flu Babi G4, Ancaman Pandemi Baru yang Harus Diwaspadai

Kemunculan penyakit SFTS (Tick-Borne)

Kasus severe fever with thrombocytopenia syndrome (SFTS) pada 2020 bukan yang pertama kali terjadi. Penyakit ini pernah ada pada 2009 lalu di negara yang sama, dengan cara penularan yang hampir mirip, yaitu melalui gigitan kutu. Oleh karena itu, penyakit ini lebih dikenal dengan istilah ‘tick-borne’.

Dari sejumlah penelitian yang pernah dilakukan, penyakit ini ternyata pernah melanda sejumlah negara di kawasan Asia Timur, seperti Jepang dan Korea. Kasusnya cukup menyita perhatian kala itu, karena dalam rentang waktu tiga tahun, lebih dari 2 ribu orang telah terinfeksi.

Sekitar 90 persen dari kasus SFTS ditemukan pada petani atau pekerja hutan yang tinggal di pedesaan. Dengan tingkat infeksi yang relatif tinggi, sejumlah kalangan mulai khawatir terhadap penyebarannya. Terlebih, penularannya berpotensi terjadi dari orang ke orang.

Mengenal penyakit SFTS

Penyakit SFTS atau tick-borne disebabkan oleh novel bunya virus (virus baru) atau yang juga disebut Huaiyangshan virus. Mengutip dari Science Direct, virus ini masuk dalam genus Phlebovirus pada keluarga Bunyaviridae.

Virus ini bekerja dengan cara mengelabui sistem imun tubuh. Saat sistem kekebalan mendeteksi adanya virus tersebut, maka perlawanan besar-besaran akan langsung dilakukan. Akibatnya, pasien akan merasakan demam tinggi dalam waktu yang tidak sebentar.

Sheng Jifang, Direktur Departemen Penyakit Menular di First Affiliated Hospital of Zhejiang University School of Medicine, menjelaskan, novel bunya virus dapat ditularkan dari hewan (kutu) serta orang yang terinfeksi ke orang lain melalui darah, luka, dan pernapasan.

Gejala penyakit tick-borne

Salah satu gejala penyakit tick-borne adalah muncul ruam melingkar. Sumber foto: www.yhoccongdong.com

Berbicara soal gejala infeksi tick-borne, salah satu tanda yang paling terasa adalah demam di atas 38° Celcius. Seperti namanya, penyakit ini lebih dikenal sebagai penyakit demam kronis. Pada beberapa kasus, kulit juga menunjukkan ruam-ruam berbentuk lingkaran.

Orang yang terinfeksi penyakit ini rentan mengalami penurunan jumlah trombosit (keping darah) dan leukosit (sel darah putih).

Pada kasus yang ringan, gejala bisa mereda dengan sendirinya. Namun, jika keadaan semakin memburuk, kegagalan fungsi sejumlah (multi) organ bisa saja terjadi.

Baca juga: Sempat Geger di Indonesia, Kenali Gejala dan Penanganan Penyakit Flu Burung

Pencegahan penularan infeksi

Cara terbaik untuk meminimalkan risiko terjangkit penyakit ini adalah dengan tidak mengunjungi hutan atau semak-semak di musim panas. Sebab, saat musim tersebut, kutu berkembang biak secara aktif di tempat-tempat tersebut.

Jika telah mendapat gigitan, jangan pernah abaikan setiap luka yang ada. Sebagian serangga yang ada di hutan, termasuk kutu, memiliki kemungkinan menjadi inang dari virus tertentu, termasuk SFTS.

Selain tidak mengunjungi hutan atau semak-semak di musim panas, kamu juga sangat disarankan untuk membatasi kontak langsung dengan orang-orang yang terinfeksi. Sebab, penularannya dapat terjadi melalui pernapasan, darah, dan luka terbuka.

Apakah berpotensi menjadi wabah?

Belum berakhirnya pandemi COVID-19 membuat sebagian kalangan khawatir jika tick-borne akan menjadi wabah baru. Namun, jika melihat perkembangannya, penyakit ini hanya menyebar di kawasan Asia Timur.

Berbicara soal potensi menjadi wabah, Sheng Jifang menyampaikan, SFTS kemungkinan hanya menjadi epidemi lokal. Artinya, penyebarannya terbatas di lingkup area terdampak saja.

Pernyataan Sheng Jifang berbanding lurus dengan argumen Dicky Budiman, seorang epidemiolog di Griffith University, Australia. Menurut Dicky, potensi tick-borne menjadi wabah relatif kecil, termasuk peluangnya masuk ke Indonesia.

Tingkat fatalitasnya juga tegolong rendah. Kematian pada pasien lebih disebabkan oleh koagulasi intravaskular dan kegagalan multi organ.

Nah, itulah ulasan tentang infeksi tick-borne yang saat ini sedang melanda Tiongkok. Meski penyebarannya di Indonesia relatif kecil, tetap jaga kesehatan agar tubuh terhindar dari penyakit, ya!

Jangan pernah ragu untuk konsultasikan masalah kesehatanmu bersama dokter terpercaya di Good Doctor. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

register-docotr