Kamus Penyakit

Mematikan Namun Bisa Diatasi, Ini Fakta Penyakit Kolera yang Mesti Kamu Ketahui

June 20, 2020 | Richaldo Hariandja
feature image

Penyakit kolera atau yang juga disebut asiatic cholera adalah penyakit menular di saluran pencernaan yang disebabkan oleh bakteri vibrio cholerae. Penyakit ini menyebabkan dehidrasi dan berujung pada kematian kalau tidak ditangani serius.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan ada 1,3 juta hingga 4 juta kasus penyakit kolera di seluruh dunia. Tiap tahun, ada 21-143 ribu kematian karena penyakit ini. Meskipun terkesan mematikan, tapi dengan penanganan tepat, risiko kematian dapat ditekan hingga 1 persen.

Baca Juga: Tak Cuma Mulut Berbusa, Ini Ciri-ciri Lain Anjing Terinfeksi Rabies

Sejarah penyakit kolera

WHO mencatat penyebaran kolera ke seluruh dunia berasal dari kolam di Sungai Gangga, India, pada abad ke-19. Enam kejadian pandemi yang berlangsung, membunuh lebih dari jutaan orang di seluruh benua.

Pandemi ketujuh, atau yang terakhir, dimulai di Asia Selatan pada 1961 dan mencapai Afrika pada 1971 dan Benua Amerika pada 1991. Saat ini, kolera menjadi endemi di banyak negara.

Di Indonesia, kolera menyebar pada 1820, bersamaan dengan penyebaran di Thailand dan Filipina. Pada saat itu, korban yang meninggal di Pulau Jawa saja mencapai 100 ribu orang.

Menariknya, seperti dilansir history.com, pandemik yang terbaru atau ke-7 ini bukan dimulai dari India, tapi dari Indonesia pada 1961. Pada 1990, lebih dari 90 persen kasus kolera yang dilaporkan ke WHO berasal dari Benua Afrika.

Penyebab kolera

Bakteri vibrio cholerae yang menyebabkan penyakit ini biasanya ditemukan di makanan atau air yang terkontaminasi oleh feses orang yang sudah terinfeksi penyakit ini. Sumber utama dari penyebaran biasanya ada di:

  • Persediaan air yang dikelola oleh perusahaan daerah air minum (PDAM)
  • Es yang dibuat dari air PDAM
  • Makanan dan minuman yang dijual oleh pedagang kaki lima
  • Sayuran yang tumbuh dengan air yang mengandung kotoran manusia
  • Ikan atau seafood yang mentah atau kurang matang yang ditangkap di perairan yang tercemar kotoran

Saat kamu mengonsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi itu, bakteri ini akan melepaskan racun di saluran pencernaan yang dapat menghasilkan diare berat.

Yang perlu diingat, kamu tidak akan terkena kolera hanya karena kamu bersentuhan dengan orang yang terinfeksi penyakit ini.

Penularan penyakit kolera

Dibutuhkan sekitar 100 juta bakteri V.cholerae untuk menginfeksi orang dewasa. Karena besarnya jumlah ini, kontaminasi yang signifikan terhadap makanan atau minuman sangat dibutuhkan untuk menyebarkan penyakit ini.

Pada saat wabah, bakteri penyebab kolera menjadi sangat menular secara langsung ataupun tidak langsung.

Masa penularan penyakit kolera dimulai ketika organisme penyebab penyakit ini diekskresikan melalui tinja. Ini dapat terjadi sekitar 6 hingga 12 jam setelah paparan ke bakteri dan berlangsung sekitar 7 hingga 14 hari.

Beberapa orang yang tidak memiliki gejala meskipun terinfeksi tetap akan mengekskresikan bakteri penyebab kolera untuk 7 sampai 14 hari setelah terinfeksi.

Masa inkubasi penyakit kolera

Masa inkubasi atau periode waktu sejak terpapar bakteri hingga munculnya gejala tidak menentu. Dia bisa terjadi mulai dari hitungan jam (sekitar 12 jam) hingga lima hari, dengan rata-rata masa inkubasi terjadi sekitar 2 hingga 3 hari.

Masa inkubasi paling cepat dapat berlangsung sekitar 6 hingga 12 jam. Dalam kondisi ini kamu perlu mendapatkan pertolongan dengan sangat cepat untuk penyembuhan.

Gejala penyakit kolera

Sekitar 1 dari 20 infeksi kolera adalah infeksi berat, persentase orang yang terkena penyakit ini tidak menunjukkan gejala sama sekali pun tinggi. Namun jika gejala muncul, biasanya akan berlangsung dalam 12 jam hingga 5 hari dari sejak terpapar.

Gejala yang berlangsung ini bisa terjadi dengan ringan hingga berat. Antara lain sebagai berikut:

  • Diare berair dalam jumlah besar, biasanya air yang keluar akan nampak seperti warna air cucian beras
  • Muntah-muntah
  • Kram pada kaki

Jika kamu terkena penyakit kolera, maka kamu bisa kekurangan cairan dalam tubuh dengan sangat cepat, sekitar 20 liter per hari. Kondisi dapat menyebabkan dehidrasi berat dengan ciri sebagai berikut:

  • Kulit yang mengendur
  • Mata yang cekung
  • Mulut yang kering
  • Sekresi berkurang, salah satu contohnya adalah kamu jadi kurang berkeringat
  • Detak jantung yang menjadi cepat
  • Tekanan darah rendah
  • Pusing atau pening
  • Menurunnya berat badan dengan cepat

Dehidrasi juga dapat mengakibatkan syok yang dan berujung pada terganggunya sistem peredaran darah. Kondisi ini dapat membahayakan nyawa kamu, sehingga kamu butuh pertolongan medis dengan segera.

Diagnosis penyakit kolera

Untuk mendiagnosis penyakit ini, dokter dapat memperkirakan dengan melihat seberapa berat diare cair, muntah-muntah, dan kecepatan dehidrasi yang kamu alami. 

Riwayat perjalanan kamu pun akan dijadikan pertimbangan dokter. Jika kamu belum lama pulang dari tempat yang memiliki sejarah kolera atau sanitasi yang buruk.

Sampel kotoran kamu akan dites di laboratorium, jika sudah ada perkiraan kolera, maka kamu harus memulai perawatan dengan segera, bahkan sebelum hasil tes laboratorium keluar.

Penanganan penyakit kolera

Umumnya, yang menyebabkan orang meninggal karena kolera adalah dehidrasi. Jadi penanganan yang terpenting adalah memberikan larutan rehidrasi oral (oral rehydration solution/ORS).

Meskipun ada ORS yang dijual di apotek, tapi untuk membuat ORS di rumah, kamu bisa mencobanya dengan langkah sebagai berikut:

  • Siapkan 1 liter air, 6 sendok teh gula dan setengah sendok teh garam
  • Campurkan semua bahan ke dalam air yang dingin atau hangat
  • Aduk hingga merata

Kolera yang sangat berat membutuhkan pasokan cairan secara intravena. Untuk orang dewasa dengan berat yang mencapai 70 kg, dibutuhkan sekitar 7 liter cairan intravena. Sementara penggunaan antibiotik dapat memperpendek durasi dari sakit kamu.

Akan tetapi WHO tidak memberikan rekomendasi tersebut karena ada risiko resistensi yang tumbuh pada bakteri. Obat anti-diare tidak akan digunakan karena mereka akan mempertahankan bakteri di dalam tubuh.

Pencegahan penyakit

Kolera biasanya disebarkan lewat makanan dan kondisi kurang higienis. Beberapa langkah sederhana dapat menurunkan risiko terkena kolera, salah satunya adalah melakukan hal ini jika kamu berkunjung ke lokasi endemi penyakit ini:

  • Hanya makan buah yang sudah dikupas
  • Hindari makan salad, ikan mentah, dan sayuran yang tidak dimasak
  • Pastikan makanan yang akan kamu konsumsi sudah dimasak sepenuhnya
  • Pastikan air yang akan kamu konsumsi aman, berada di dalam kemasan atau sudah dimasak
  • Hindari makanan pinggir jalan, karena ini dapat menjadi sumber kolera atau penyakit lain

Kamu harus segera mencari pertolongan medis jika mengalami gejala seperti kaki kram, muntah-muntah dan diare di wilayah di mana ada penyakit kolera.

Vaksin kolera

Ada tiga vaksin kolera yang direkomendasikan oleh WHO. Yaitu Dukoral, Shanchol dan Euvichol, ketiganya membutuhkan dua dosis untuk memberikan perlindungan penuh.

Dukoral harus diminum dengan air putih, dan akan menghasilkan perlindungan hingga 65 persen selama dua tahun. Antara dosis pertama dan kedua membutuhkan jeda minimal 7 hari dan tidak lebih dari 6 bulan.

Shanchol dan Euvichol tidak perlu diminum dengan air, keduanya memberikan perlindungan hingga 65 persen selama lima tahun. Antara dosis pertama dan kedua membutuhkan jeda dua minggu.

Keterangan WHO terhadap vaksin kolera per 2017 adalah sebagai berikut:

  • Vaksin harus diberikan di wilayah endemi kolera, di wilayah krisis kemanusiaan dengan risiko tinggi kolera dan selama wabah kolera. Tidak lupa diberikan juga pencegahan kolera dan strategi penanganan kolera di wilayah ini
  • Vaksin kolera tidak boleh mengganggu ketentuan penanganan kolera yang lebih memiliki prioritas tinggi untuk mengatasi wabah kolera

Faktor penyakit risiko

Risiko tinggi kamu terkena penyakit ini adalah dengan mengonsumsi makanan atau minuman yang terinfeksi bakteri V. cholerae, selain itu kamu juga memiliki risiko tinggi jika:

  • Kamu bekerja di layanan kesehatan dan menangani pasien dengan kolera
  • Pekerja bantuan medis yang bekerja untuk mengatasi wabah kolera
  • Kamu bepergian ke area dengan kolera yang dapat ditularkan tanpa mengikuti protokol kesehatan

Epidemi skala besar penyakit ini dapat terjadi karena adanya cadangan air kota yang terkontaminasi kotoran manusia dan makanan pinggir jalan.

Kamu akan memiliki risiko tinggi memiliki reaksi infeksi yang berat dari bakteri V. cholerae jika kamu:

  • Memiliki achlorydia, kondisi yang menyingkirkan asam hidroklorik dari perut
  • Memiliki golongan darah O
  • Memiliki kondisi medis kronis
  • Tidak memiliki akses terhadap obat ORS atau obat lainnya

Solusi jangka panjang

WHO menilai solusi jangka panjang pengendalian kolera berada di pertumbuhan ekonomi serta akses yang merata terhadap air minum yang aman dikonsumsi dan sanitasi yang layak.

Untuk itu, dibutuhkan aksi yang menyasar perbaikan lingkungan untuk memastikan penggunaan air yang aman, sanitasi dasar dan praktik higienis yang baik di wilayah dengan kasus kolera tinggi.

Promosi kesehatan

Kampanye pendidikan kesehatan yang diadaptasikan dengan adat dan kepercayaan lokal harus mendorong diadaptasikannya praktek higienis yang baik.

Di antaranya dengan melakukan praktek mencuci tangan dengan sabun, penyiapan dan penyimpanan makanan yang baik serta pembuangan tinja yang aman pada anak.

Selanjutnya, kampanye untuk meningkatkan kepedulian terhadap potensi dan risiko serta gejala kolera juga harus dilakukan pada saat terjadinya wabah. Hal ini dilakukan supaya masyarakat tempat terjadinya wabah jadi lebih peduli terhadap protokol kesehatan yang baik.

Baca Juga: Sedang Mempersiapkan Pernikahan? Kenali Pentingnya Cek Kesehatan Sebelum Menikah!

Informasi bagi traveler

Centers for Disease Control and Prevention Amerika Serikat secara khusus mengeluarkan informasi dan panduan bagi warga negara mereka yang hendak berpelesir ke wilayah atau negara dengan risiko kolera.

Para traveler diminta untuk menerima vaksin kolera jika akan bepergian ke wilayah dengan penyebaran kolera yang aktif. Selain itu para traveler juga diminta untuk mengonsumsi makanan dan minuman yang aman dan sering cuci tangan.

Dalam imbauan terhadap makanan dan minuman yang harus dijaga, digarisbawahi agar para traveler menghindari makanan mentah atau kurang dimasak dengan sempurna karena makanan tipe ini berisiko tinggi terkontaminasi.

Untuk negara yang tidak memiliki layanan tap water yang aman, beberapa traveler biasanya menyiasati dengan menyaring sendiri minuman mereka. Meskipun demikian, traveler diingatkan jika tidak semua negara yang memiliki tap water otomatis aman.

Bukan cuma menghindari penyakit kolera, menjaga kebersihan dan tetap higienis juga penting untuk mencegah kamu dari berbagai penyakit.

Jangan ragu untuk berkonsultasi tetang masalah kesehatan kamu dan keluarga dengan dokter kami yang sedia 24/7 di Good Doctor. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference
  1. History.com (2017) diakses 17 Juni 2020. https://www.history.com/topics/inventions/history-of-cholera
  2. Isainsmedis.id diunduh 17 Juni 2020. https://isainsmedis.id/index.php/ism/article/viewFile/71/72
  3. Who.int diunduh 17 Juni 2020. https://www.who.int/cholera/vaccines/OCV_use_International_Workers_Travelers_Technical_Note.pdf?ua=1
  4. Cdc.gov (2019) diakses 17 Juni 2020. https://wwwnc.cdc.gov/travel/yellowbook/2020/preparing-international-travelers/food-and-water-precautions
  5. Cdc.gov (2019) diakses 17 Juni 2020. https://www.cdc.gov/cholera/travelers.html
  6. Medicalnewstoday.com (2018) diakses 17 Juni 2020. https://www.medicalnewstoday.com/articles/189269
  7. Medicinenet.com (2020) diakses 17 Juni 2020. https://www.medicinenet.com/cholera/article.htm
  8. Who.int (2019) diakses 17 Juni 2020. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/cholera
  9. Webmd.com (2019) diakses 17 Juni 2020. https://www.webmd.com/a-to-z-guides/cholera-faq#1
    register-docotr