Kamus Penyakit

Musim Hujan Tiba, Waspadai Penularan Penyakit Leptospirosis!

September 26, 2020 | Muhammad Hanif S. | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Hujan sudah turun di beberapa daerah di Indonesia. Itu artinya, puncak musim hujan akan berlangsung tak lama lagi. Satu hal yang menjadi kewaspadaan bersama adalah banjir.

Selain bisa melumpuhkan banyak aktivitas, banjir juga dapat menyebabkan penyakit bernama leptospirosis.

Leptospirosis tidak hanya menyerang orang dewasa, tapi juga anak-anak. Lantas, apa itu penyakit leptospirosis? Seperti apa gejalanya? Apakah bisa membahayakan nyawa? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Baca juga: Waspada! Ini 3 Penyakit yang Paling Sering Muncul Akibat Banjir

Apa itu leptospirosis?

Leptospirosis adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Penularannya bisa melalui makanan yang terkontaminasi atau terjadi kontak fisik dengan urine hewan yang telah terinfeksi.

World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa bakteri pemicu leptospirosis banyak dijumpai pada hewan pengerat, terutama tikus. Oleh karena itu, untuk meminimalkan penularan, sebisa mungkin hindari kontak fisik atau terkena urine dari tikus.

Jika tidak diobati dengan tepat, penyakit ini bisa menyebabkan komplikasi serius, seperti gagal ginjal hingga gangguan jantung. Pada kasus yang jarang terjadi, kondisi tersebut bisa menyebabkan kematian.

Penyebab leptospirosis

Bakteri penyebab penyakit leptospirosis berasal dari genus Leptospira. Meski umumnya terdapat pada hewan pengerat, bakteri ini juga bisa dijumpai pada binatang lainnya, seperti anjing, babi, reptil amfibi, dan hewan ternak.

Bakteri Leptospira hidup di organ ginjal hewan, lalu ditularkan ke manusia lewat urine yang dikeluarkan. Bakteri bisa masuk ke dalam tubuh manusia melalui sentuhan kulit, luka terbuka, hidung, dan mulut.

Dilansir WebMD, bakteri Leptospira lebih sering ditemukan di negara beriklim hangat, seperti Afrika, Amerika Tengah dan Selatan, Asia Tenggara, serta Karibia.

Hubungan antara penyakit leptospirosis dan musim hujan

Di Indonesia, musim hujan erat kaitannya dengan banjir. Ketika banjir, tikus-tikus yang tinggal di liang tanah akan keluar untuk menyelamatkan diri. Tikus tersebut kemudian mencari tempat tinggal baru, termasuk di sekitar manusia.

Urine tikus yang bercampur dengan air banjir bisa menyebarkan bakteri Leptospira. Jika air tersebut terkena kulit atau luka terbuka, hal ini dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terinfeksi.

Gejala penyakit leptospirosis

Gejala penyakit leptospirosis biasanya muncul dalam 5 hingga 14 hari setelah infeksi pertama. Meski begitu, pada beberapa kasus, tanda-tandanya juga bisa dirasakan pada 30 hari setelah paparan awal.

Gejala leptospirosis terjadi secara bertahap. Pada kasus yang ringan, gejalanya bisa berupa:

  • Demam
  • Panas dingin
  • Nyeri otot
  • Sakit kepala
  • Mual dan muntah
  • Batuk
  • Hilang nafsu makan

Jika tidak mendapat penanganan yang tepat, gejala tersebut bisa memburuk seiring berjalannya waktu, seperti:

  • Sesak napas
  • Pembengkakan di kaki dan tangan
  • Muncul rasa sakit di ulu hati
  • Detak jantung semakin cepat
  • Kaku otot pada leher
  • Kebingungan
  • Tidak mampu mengontrol gerakan
  • Kejang

Kapan harus ke dokter?

Tak perlu menunggu hingga muncul gejala berat untuk periksa ke dokter. Jika kamu sudah merasakan tanda-tanda ringan, segera periksakan diri ke layanan kesehatan terdekat. Sebab mengutip dari Healthline, gejala awal yang menyerupai flu sering membuat orang abai terhadap penyakit ini.

Pemeriksaan yang paling umum adalah tes darah. Tes ini mendeteksi kemungkinan adanya antibodi yang telah terbentuk di dalam tubuh.

Jika memerlukan hasil pendukung, dokter mungkin akan melakukan serangkaian pemeriksaan lain seperti tes urine, rontgen dada, dan menggunakan alat pemindai.

Pengobatan dan penanganan leptospirosis

Kebanyakan kasus leptospirosis terjadi pada skala ringan dan bisa sembuh sendiri. Tapi untuk mencegah kondisinya agar tak memburuk, ada baiknya tetap periksa ke dokter. Sebab, jika tak ditangani dengan benar, hal ini bisa meningkatkan risiko terkena beberapa komplikasi serius.

Leptospirosis pada tahapan parah disebut dengan penyakit Weil (Weil’s disease). Ketika sudah mengidap penyakit ini, kemungkinan besar kamu akan mendapat perawatan di rumah sakit.

Karena disebabkan bakteri, pengobatan yang digunakan umumnya adalah dengan antibiotik, baik oral maupun injeksi intravena.

Pada gejala berat seperti sesak napas, dokter biasanya akan memasang ventilator sebagai penambah oksigen.

Baca juga: Wajib Tahu! Ini 5 Jenis Penyakit yang Ditularkan oleh Tikus

Leptospirosis pada anak

Dikutip dari Leptospirosis Information Center, anak-anak adalah golongan usia yang paling rentan terkena penyakit ini. Sebab, usia anak-anak gemar bermain dan beraktivitas di banyak tempat, termasuk di area dengan genangan air.

Gejala leptospirosis pada anak hampir tak ada bedanya dengan orang dewasa. Hanya saja, kondisinya bisa lebih berat. Anak-anak belum memiliki imunitas sekuat orang dewasa, sehingga tubuhnya lebih sensitif terhadap infeksi bakteri maupun virus.

Pada anak-anak, leptospirosis bisa ditandai dengan munculnya ruam kemerahan pada kulit, mudah mengantuk, sakit perut, hingga sensitif terhadap cahaya.

Pencegahan leptospirosis

Cara terbaik untuk mencegah tertular leptospirosis adalah dengan menghindari paparan bakteri pemicunya, yaitu dengan:

  • Jauhi genangan air, termasuk banjir akibat hujan
  • Gunakan sepatu bot dan sarung tangan kedap air jika terpaksa menerobos atau masuk ke dalam genangan atau banjir
  • Hindari kontak fisik dengan hewan yang terinfeksi, terutama tikus
  • Selalu cuci tangan
  • Gunakan disinfektan
  • Gunakan tudung saji pada makanan

Nah, itulah ulasan tentang penyakit leptospirosis yang perlu kamu tahu. Jika terjadi banjir, usahakan untuk tidak masuk ke dalam air agar terhindar dari penyakit ini, ya. Tetap jaga kesehatan!

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

  1. World Health Organization (WHO), diakses 25 September 2020, Leptospirosis (including Weil disease).
  2. Centers for Disease Control and Prevention (CDC), diakses 25 September 2020, Leptospirosis.
  3. WebMD, diakses 25 September 2020, Leptospirosis.
  4. Leptospirosis.org, diakses 25 September 2020, Issues with children and infants.
  5. Kementerian Kesehatan, diakses 25 September 2020, Musim Hujan Tiba, Hati-hati Leptospirosis dan Penyakit Lainnya.
  6. Healthline, diakses 25 September 2020, Weil’s Disease.

    register-docotr