Kamus Penyakit

Tetanus

September 18, 2020 | Muhammad Hanif S. | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Tetanus merupakan penyakit yang tidak boleh disepelekan. Data yang dirilis World Health Organization (WHO) menyebutkan, prevalensi penyakit tetanus masih mengkhawatirkan, meski jumlah kasusnya cenderung menurun dari tahun ke tahun.

Pada 2018, tidak kurang dari 70 ribu orang di seluruh dunia meninggal dunia akibat penyakit ini. Infeksi bakteri yang sangat cepat disebut-sebut menjadi alasan utama dari banyaknya kasus yang muncul.

Dengan tingkat kematian yang relatif tinggi, ada baiknya kamu benar-benar memerhatikan berbagai pemicu dan gejala dari penyakit ini. Yuk, cari tahu informasi lengkap tentang tetanus dengan ulasan berikut ini.

Apa itu penyakit tetanus?

Tetanus adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh racun bakteri penyerang sistem saraf, memicu terjadinya kontraksi otot yang sangat menyakitkan. Kontraksi ini biasanya terjadi di sekitar rahang dan leher.

Bakteri penyebab tetanus adalah blostridium tetani (c. tetani). Bakteri ini mengeluarkan racun sangat kuat yang langsung menyerang sistem saraf manusia melalui aliran darah.

Tetanus merupakan penyakit berbahaya, karena menyebabkan kematian. Penyakit ini bisa mengganggu kemampuan bernapas seseorang.

Baca juga: Ragam Pilihan Salep Penghilang Bekas Luka yang Manjur

Apa penyebab penyakit tetanus?

Seperti yang telah disebutkan di atas, penyebab utama dari penyakit tetanus adalah bakteri c. tetani. Bakteri ini memiliki daya tahan relatif lama di luar tubuh, paling sering ditemukan di kotoran hewan dan tanah yang terkontaminasi.

Saat bakteri tersebut masuk ke dalam tubuh, mereka akan berkembang dengan sangat cepat, lalu melepaskan racun tetanospasmin. Saat racun tersebut masuk ke dalam aliran darah, dia akan menyebar ke seluruh tubuh.

Selain melalui luka atau infeksi pada kulit, bakteri c. tetani juga bisa masuk ke dalam tubuh menggunakan medium tusukan benda tajam. Oleh karena itu, segera bersihkan luka secara menyeluruh untuk mencegah berkembangnya infeksi.

Bakteri ini juga bisa masuk ke dalam tubuh lewat gigitan hewan atau serangga, meski kasus yang satu ini jumlahnya relatif kecil.

Siapa saja yang lebih berisiko terkena penyakit tetanus?

Setiap orang yang belum pernah mendapat suntikan tetanus memiliki risiko yang sama terkena penyakit ini.

Namun, orang-orang dengan pekerjaan tertentu seperti petani, pemadam kebakaran, dan konstruksi, atau tukang kebun, dianggap memiliki paparan risiko yang lebih lebih tinggi.

Tingkat kematian akibat tetanus paling banyak terjadi pada bayi dan orang tua.

Apa gejala dan ciri-ciri penyakit tetanus?

Gejala atau tanda-tanda dari penyakit tetanus biasanya muncul sekitar 10 hari setelah infeksi awal. Meski, ini tidak bisa dijadikan tolok ukur. Sebab, tidak sedikit yang mengalami gejala penyakit ini pada hari ke-4 setelah infeksi pertama.

Pada umumnya, semakin dekat lokasi racun c. tetani dengan pusat saraf, maka semakin cepat masa inkubasi dari bakteri tersebut.

Gejala paling umum dari tetanus adalah kejang dan kaku otot. Kejang bisa bermula di bagian rahang, kemudian menjalar ke leher dan tenggorokan. Akibatnya, kamu mungkin akan kesulitan menelan makanan atau minuman.

Selain itu, gejala-gejala umum yang biasanya akan muncul adalah:

  • Darah pada feses.
  • Diare.
  • Suhu tubuh terus meninggi.
  • Sakit tenggorokan.
  • Sensitif terhadap sentuhan.
  • Sakit kepala.
  • Jantung berdebar.
  • Berkeringat.

Apa saja komplikasi yang mungkin terjadi akibat penyakit tetanus?

Jika pasien penyakit tetanus tidak mendapat penanganan serius, bukan tidak mungkin bakteri pemicunya akan menguasai tubuh. Hasilnya, berbagai komplikasi penyakit lain bisa terjadi, seperti:

  • Pneumonia aspirasi, yaitu radang paru-paru yang disebabkan oleh masuknya benda atau zat asing ke dalam organ pernapasan. Dalam hal ini, bakteri c. tetani berhasil menyusup ke dalam paru-paru.
  • Kejang tonik, yaitu kondisi saat infeksi sudah menyebar ke bagian otak. Saat kondisi ini terjadi, kejang tidak hanya berlangsung pada satu bagian tubuh, tapi beberapa organ sekaligus.
  • Fraktur, yaitu kondisi yang mana banyak bagian dari tulang mengalami kepatahan diakibatkan oleh kejang otot yang kronis.
  • Emboli paru, yaitu penyumbatan di organ paru-paru. Akibatnya, pasien penyakit tetanus akan sulit bernapas. Pada tahapan ini, terapi oksigen atau ventilator sangat dibutuhkan.
  • Laringospasme, yaitu kejang pada otot pita suara yang menyebabkan pasien penyakit tetanus sulit bicara dan bernapas. Komplikasi ini bisa berujung pada kematian.
  • Gagal ginjal akut, yaitu kondisi saat otot mengalami kejang yang sangat parah. Ini bisa merusak sejumlah bagian penting dalam ginjal, termasuk memicu bocornya protein ke dalam urine.

Bagaimana cara mengatasi dan mengobati penyakit tetanus?

Mengutip Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sampai saat ini, belum ada obat medis yang bisa membunuh bakteri ini. Vaksin yang ada hanya bekerja dengan menangani berbagai komplikasi dan efek dari racun itu sendiri.

Selain itu, pemberian vaksin hanya bisa menghambat atau menyetop penyebaran dari racun yang disebarkan oleh bakteri. Vaksin ini biasanya dimasukkan ke dalam tubuh pasien dengan cara injeksi atau suntikan.

Perawatan penyakit tetanus di dokter

Ketika kamu terserang tetanus, dokter atau petugas medis akan memberikan penanganan, terutama membersihkan luka dan mengambil kotoran di dalamnya jika ada.

Setiap luka terbuka akibat penyakit tetanus harus mendapat perhatian serius, demi mencegah terjadinya infeksi. Luka yang harus segera mendapat penanganan dari tenaga kesehatan di antaranya adalah:

  • Luka bakar yang memberi dampak pada banyak jaringan kulit.
  • Jenis luka tusuk dari benda yang telah terkontaminasi.
  • Luka terbuka dengan rasa nyeri yang tidak berkurang setelah enam jam dari infeksi pertama.
  • Luka akibat operasi yang tak kunjung membaik setelah beberapa jam.

Setiap pasien dengan luka di atas perlu menerima suntikan tetanus immunoglobulin (TIG) sesegera mungkin. TIG memiliki antibodi yang mampu menghambat penyebaran bakteri c. tetani.

Pada beberapa kasus, dokter akan melakukan prosedur operasi terhadap pasien penyakit tetanus. Tujuannya, mengangkat jaringan otot yang telah terinfeksi dan atau yang telah rusak. Prosedur ini disebut dengan debridemen.

Selain itu, beberapa pasien penyakit tetanus mungkin membutuhkan ventilator. Alat ini diperlukan saat pasien sudah mengalami komplikasi yang mengganggu saluran pernapasan.

Cara mengatasi penyakit tetanus secara alami di rumah

Sebelum memutuskan untuk mencari penanganan medis, tidak ada salahnya melakukan pertolongan pertama secara mandiri terhadap luka yang ada, baik luka tusuk atau infeksi. Kamu bisa melakukan beberapa langkah berikut:

  • Bersihkan luka. Saat pertama kali mengetahui ada luka terbuka, segera bersihkan luka tersebut dengan air mengalir. Sebelum dicuci, jangan pernah menutup luka tersebut agar bakteri tidak terjebak di dalam area infeksi.
  • Kendalikan perdarahan. Jika luka mengalami perdarahan, segera beri tekanan agar darah tidak terus mengucur.
  • Gunakan krim antibiotik. Krim atau salep ini akan membantu mencegah penyebaran bakteri, setidaknya untuk sementara waktu. Krim juga bisa memperlambat pertumbuhan bakteri pemicu tetanus.
  • Tutup luka. Setelah dibersihkan menggunakan air bersih dan memberikan krim, tutup luka tersebut untuk menghindari paparan bakteri lain yang bisa memperparah kondisi.
  • Ganti balutan. Kamu perlu mengganti perban atau penutup luka yang digunakan secara berkala. Ini juga berlaku meski telah mendapat penanganan dokter. Perban yang kotor adalah tempat ideal untuk berkembangnya bakteri.

Baca juga: Ini 6 Pertolongan Pertama Serangan Jantung yang Perlu Kamu Tahu

Apa saja obat penyakit tetanus yang biasa digunakan?

Setelah penderita tetanus diberi langkah penanganan awal berupa pembersihan luka dan lainnya. Selanjutnya pasien penyakit tetanus biasanya akan diberi obat-obatan khusus berupa:

  • Antitoksin, berfungsi sebagai penetral racun yang telah dilepaskan oleh bakteri c. tetani.
  • Antibiotik, berfungsi melawan penyebaran bakteri c. tetani di dalam sirkulasi darah.
  • Vaksin, diberikan sesaat setelah dokter menetapkan diagnosis tetanus kepada pasien.
  • Obat penenang otot, berfungsi meredakan kaku otot yang bisa menyebabkan kejang.
  • Obat-obatan lain seperti magnesium sulfat, berfungsi mengendalikan aktivitas otot yang tidak sadar.

Bagaimana cara mencegah penyakit tetanus?

Cara terbaik untuk terhindar dari penyakit ini adalah meminimalkan terjadinya luka terbuka. Jika ada luka, pertolongan pertama yang telah dijelaskan di atas bisa kamu terapkan.

Sebagian besar kasus tetanus umumnya terjadi pada orang yang tidak atau belum pernah mendapatkan vaksin. Proses vaksinasi biasanya dilakukan pada saat masih kecil, yaitu pada usia nol sampai enam tahun. Meski, kamu masih tetap bisa melakukannya di rumah sakit terdekat.

Nah, itulah ulasan lengkap tentang tetanus yang perlu kamu tahu. Yuk, selalu perhatikan luka pada kulit sekecil apapun untuk meminimalkan risiko terjangkit bakteri ini!

Suntik tetanus

Dilansir dari Healthline, bakteri penyebab tetanus yakni c. tetani, dapat masuk ke tubuh melalui luka terbuka. Ketika ini terjadi pada dirimu, salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi infeksi bakteri tersebut, adalah dengan melakukan suntik tetanus.

Selain mencegah persebaran bakteri menjadi lebih luas, suntik tetanus juga dapat membantu kamu terhindar dari penularan penyakit akibat bakteri lainnya, seperti difteri dan pertusis (batuk rejan). Formulasi suntik tetanus sendiri terdiri dari beberapa jenis, yakni:

  1. DTaP, yang diberikan untuk anak-anak di bawah 7 tahun.
  2. Untuk anak-anak yang lebih tua dan orang dewasa, pencegahan tetanus dilakukan dengan memberikan vaksin tetanus tipe Tdap
  3. Sementara untuk mencegah tetanus dan difteri pada anak yang lebih kecil, vaksin tetanus yang dipakai adalah tipe DT dan Td.

Anti tetanus serum

Mencegah penularan tetanus juga bisa dilakukan melalui pemberian serum anti tetanus.

Disebut juga dengan istilah tetanus immunoglobin, pemberian anti tetanus serum ini biasanya dilakukan jika kekebalan tubuh terhadap penyakit ini tidak ada atau belum sempurna.

Hal ini salah satunya bisa terjadi apabila kamu belum vaksin tetanus sama sekali, atau belum mendapat dosis lengkap vaksin tetanus. Cara pemberiannya biasanya dilakukan saat proses pembersihan luka dengan dosis tertentu yang telah ditentukan.

Bahaya tetanus

Tetanus adalah penyakit serius yang bisa merusak sistem saraf dalam tubuhmu. Penyakit ini bisa menyebabkan kontraksi otot yang sangat sakit, terutama pada rahang dan leher. Bahaya tetanus juga bisa mengganggu kemampuan kamu bernapas dan bahkan mengancam nyawa.

Jadi jangan anggap sepele penyakit yang satu ini, karena pembiaran atau penanganan yang tidak tepat bisa menyebabkan berbagai dampak fatal, termasuk kematian. Segera periksakan ke dokter jika:

  • Luka tak kunjung membaik.
  • Luka dalam.
  • Ada kotoran dalam luka.
  • Vaksinasi yang belum tuntas.

Suntik tetanus saat hamil

Saat hamil, ada beberapa jenis vaksin yang dianjurkan untuk diambil, dan ada juga yang sebaiknya ditunda. Untuk mencegah tetanus, ibu hamil diperbolehkan suntik tetanus, tetapi dengan catatan vaksin yang diberikan adalah tipe Tdap yang sudah dilemahkan.

Satu dosis vaksin Tdap dianjurkan untuk diberikan setiap kali kamu hamil. Tujuannya untuk melindungi bayi dari risiko terkena batuk rejan (pertussis). Idealnya vaksin ini harus diberikan di antara minggu ke 27 dan 36 kehamilan.

Jenis penyakit tetanus

Penyakit tetanus dibedakan menjadi empat jenis. Masing-masing memiliki karakteristik berbeda. Empat jenis penyakit tetanus tersebut adalah tetanus umum, tetanus lokal, tetanus sefalik, dan tetanus neonatal.

1. Tetanus umum

Jenis tetanus ini adalah salah satu yang paling banyak ditemukan di hampir 80 persen pasien. Tanda paling umum yang bisa diamati adalah adanya kejang pada otot rahang selama beberapa menit, terutama saat ada rangsangan dari sentuhan, cahaya, dan suara.

Jika tidak mendapat penanganan tepat, kejang bisa berlanjut sampai mingguan, dan pemulihannya membutuhkan waktu berbulan-bulan. Kejang yang terjadi biasanya disertai demam, tekanan darah naik, detak jantung cepat, dan berkeringat.

Dalam kasus tertentu, rahang bahkan bisa ‘terkunci’ dan tak dapat digerakkan. Ini karena tetanospasmin telah menyerang saraf motorik, yang memicu terjadinya kontraksi pada otot di sekitar leher.

2. Tetanus lokal

Tetanus lokal umumnya terjadi sebelum tetanus umum. Berbeda dengan jenis tetanus sebelumnya, racun pada tetanus tipe ini hanya menyerang otot pada anggota tubuh tertentu, atau bersifat lokal.

Tetanus lokal sangat jarang terjadi. Persentasenya hanya satu persen dari total kasus. Meski begitu, jangan disepelakan karena dapat berakibat fatal.

Baca juga: Jenis-jenis Luka Bakar dan Cara Perawatannya yang Tepat

3. Tetanus sefalik

Tetanus jenis ini langka. Persentasenya terbilang kecil jika dibandingkan dengan tipe lain. Meski begitu, gejala yang muncul tak boleh disepelekan, karena bisa menyerupai tetanus umum, yaitu kejang.

Kejang dan kelumpuhan parsial disebabkan oleh ketidakseimbangan kranial, saraf di otak yang bertugas mengontrol pergerakan otot. Luka di kepala atau infeksi telinga (otitis media) mungkin bisa menjadi pemicunya.

Tetanus sefalik bisa berkembang menjadi tetanus umum, jika tidak ditangani dengan tepat. Ini bisa dilihat dari kemiripan gejala pada keduanya.

4. Tetanus neonatal

Selain tiga jenis tetanus yang telah disebutkan, ada satu tipe yang relatif jarang terjadi, yaitu neonatal. Tetanus ini mirip dengan tetanus umum, tapi terjadi pada bayi yang baru lahir.

Penyebab paling umum dari tetanus neonatal adalah ketidakmampuan ibu dalam menjaga kebersihan, sehingga membuat tali pusat bayi mudah mengalami infeksi. Infeksi juga bisa muncul saat alat medis yang digunakan untuk memotong tali itu tidak bersih atau terpapar oleh bakteri.

Bayi yang terjangkit tetanus neonatal akan kesulitan menelan, mengisap, dan kaku otot di bagian tubuh tertentu. Dalam kasus tertentu, bukan tidak mungkin kejang juga bisa terjadi.

Pastikan untuk mengecek kesehatan Anda dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Download di sini untuk berkonsultasi dengan mitra dokter kami.

Reference

  1. Centers for Disease Control and Prevention (CDC), diakses 1 Juni 2020, Tetanus.
  2. Mayo Clinic, diakses 1 Juni 2020, Tetanus.
  3. Medical News Today, diakses 1 Juni 2020, Everything you need to know about tetanus.
  4. NHK UK, diakses 1 Juni 2020, Tetanus.
  5. World Health Organization, diakses 1 Juni 2020, Tetanus.
  6. Side Effects of the Tetanus Shot, https://www.healthline.com/health/vaccinations/tetanus-shot-side-effects diakses pada 18 September 2020
  7. Tetanus, https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/tetanus/symptoms-causes/syc-20351625 diakses pada 18 September 2020
  8. Pregnancy week by week, https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/pregnancy-week-by-week/expert-answers/vaccines-during-pregnancy/faq-20057799#:~:text=One%20dose%20of%20Tdap%20vaccine,and%2036%20weeks%20of%20pregnancy. diakses pada 18 September 2020

    register-docotr