Kamus Penyakit

Bengkak pada Bagian Tubuh? Mungkin Kamu Mengalami Sindrom Nefrotik

June 20, 2020 | Nanda Hadiyanti
feature image

Tahukah kamu jika terdapat berbagai gangguan kesehatan pada ginjal. Selain adanya penyakit ginjal seperti batu ginjal atau gagal ginjal, ada juga kelainan pada ginjal yang disebut nephrotic syndrome atau penyakit sindrom nefrotik.

Seseorang yang mengalami sindrom ini mungkin akan mengalami penyakit ginjal lainnya di kemudian hari. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang sindrom ini, berikut penjelasannya mulai dari pengertian penyakit sindrom nefrotik hingga pengobatannya.

Apa itu penyakit sindrom nefrotik?

Sindrom nefrotik adalah kondisi gangguan yang terjadi pada ginjal. Di mana ginjal melepaskan terlalu banyak protein yang dibutuhkan tubuh ke dalam urine.

Kondisi ini bisa terjadi pada siapapun, termasuk pada anak-anak dan juga orang dewasa. Jika tidak menjalani perawatan, seseorang dengan sindrom ini akan mengalami pembengkakan di sekitar pergelangan kaki, mata dan wajah.

Apa yang menyebabkan penyakit sindrom nefrotik?

Kondisi ini terjadi karena rusaknya pembuluh darah kecil di ginjal, yang bernama glomerulus. Glomerulus yang sehat berfungsi untuk menyaring zat yang tidak perlu dari darah dan kemudian membuangnya sebagai urine.

Pada glomerulus yang rusak, terjadi kegagalan dalam menyaring yang menyebabkan protein dalam jumlah besar ikut terbuang bersama urine. Albumin adalah salah satu protein yang hilang, terbuang bersama urine.

Tubuh membutuhkan albumin untuk mengatur cairan di dalam tubuh agar tidak bocor ke jaringan tubuh sekitarnya. Akibatnya, cairan tubuh bocor dan berakibat timbulnya pembengkakan di beberapa bagian tubuh.

Apa saja yang bisa memengaruhi rusaknya glomerulus?

Terdapat beberapa hal yang memengaruhi rusaknya glomerulus sehingga terjadi sindrom ini. Beberapa hal tersebut dikelompokkan menjadi dua kategori. Yaitu penyebab utama dan penyebab sekunder penyakit sindrom nefrotik

Penyebab utama

Penyebab utama adalah masalah atau kondisi tertentu yang langsung terjadi pada ginjal.

  • Focal segmental glomerulosclerosis (FSGS). Yaitu kondisi yang menyebabkan luka pada glomerulus. Ini adalah penyebab paling umum sindrom nefrotik pada orang dewasa, bisa disebabkan oleh virus seperti HIV atau efek dari penggunaan obat-obatan.
  • Membranous nephropathy. Yaitu kondisi terjadinya penebalan pada glomerulus. Tidak diketahui apa yang menyebabkan penebalan, namun ini bisa terjadi bersamaan dengan penyakit lupus, hepatitis B, malaria dan juga kanker.
  • Minimal change disease (MCD). Kondisi ini umum dialami pada anak-anak yang mengalami sindrom nefrotik. Di mana ginjal terlihat bekerja normal saat diperiksa, namun ternyata tidak melakukan fungsi penyaringan dengan benar.
  • Kelainan pada pembuluh darah. Kondisi ini didapati gumpalan darah menyumbat pada pembuluh darah yang mengeluarkan darah dari ginjal.

Penyebab sekunder

Penyebab sekunder adalah penyakit-penyakit lain yang memengaruhi terjadinya penyakit sindrom nefrotik pada seseorang. Penyakit tersebut antara lain:

  • Diabetes. Penyakit ini gula darah yang tidak terkontrol menjadi penyebab rusaknya pembuluh darah di tubuh, termasuk pembuluh darah yang ada di ginjal.
  • Lupus. Lupus adalah salah satu penyakit autoimun yang menyebabkan peradangan di persendian, ginjal dan juga organ lainnya. Kondisi ini memengaruhi kerja ginjal seseorang.
  • Amiloidosis. Ini adalah salah satu penyakit langka disebabkan oleh menumpuknya protein amiloid pada organ. Salah satunya bisa menumpuk pada ginjal. Jika ini terjadi dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal.

Selain penyebab yang sudah disebutkan, rusaknya pembuluh darah glomerulus juga dikaitkan dengan mengonsumsi obat-obatan tertentu. Seperti obat penangkal infeksi atau obat pereda sakit jenis nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs).

Gejala pada orang dengan sindrom nefrotik

Sindrom ini bisa menyerang anak-anak dan juga orang dewasa. Masing-masing memiliki gejala berbeda.

Gejala pada orang dewasa

Orang dewasa yang mengalami sindrom bisa disebabkan berbagai hal, bisa karena penyebab utama atau penyebab sekunder. Namun, paling umum disebabkan oleh FSGS. Biasanya orang yang mengalaminya akan menunjukkan gejala:

  • Pertambahan berat badan
  • Kelelahan
  • Urine berbusa
  • Kehilangan selera makan

Jika disebabkan oleh FSGS maka kondisi sindrom ini bisa berkembang menjadi penyakit ginjal kronis dalam waktu lima hingga 10 tahun mendatang.

Sementara itu, diketahui juga, selain FSGS, diperkirakan lebih dari 50 persen orang dewasa yang mengalami kondisi ini disebabkan oleh penyebab sekunder seperti diabetes dan lupus.

Gejala pada anak-anak

Beberapa anak dapat mengalami kondisi ini karena bawaan lahir, yang terjadi di usia tiga bulan pertama setelah dilahirkan. Ini bisa karena cacat genetik bawaan atau infeksi setelah anak lahir.

Anak-anak yang mengalami kondisi bawaan ini biasanya memerlukan transplantasi ginjal. Selain bawaan, anak-anak yang mengalami sindrom ini bisa disebabkan oleh penyebab utama maupun sekunder. dan akan menunjukkan gejala:

  • Demam, mudah marah, cepat lelah dan tanda infeksi lainnya
  • Kehilangan selera makan
  • Adanya darah dalam urine
  • Diare
  • Tekanan darah tinggi

Anak-anak yang mengalami sindrom ini lebih mudah terkena infeksi, karena protein yang berfungsi untuk melindungi tubuh mereka terbuang dari tubuh melalui urine. Mereka juga mungkin mengalami kolesterol darah tinggi.

Bagaimana mendiagnosis penyakit sindrom nefrotik?

Untuk bisa mendiagnosis penyakit ini, dokter akan menanyakan mengenai gejala yang dialami pasien. Selain itu, dokter akan menanyakan riwayat medis pasien.

Dokter juga akan mencari tahu mengenai kondisi kesehatan yang mungkin berkaitan dengan sindrom ini. Serta menanyakan tentang obat-obatan yang sedang atau pernah dikonsumsi pasien.

Dokter juga akan menanyakan sejumlah kondisi yang biasanya menjadi faktor risiko seseorang mengalami sindrom ini. Berikut beberapa faktor risiko terjadinya sindrom nefrotik.

  • Kondisi penyakit lain. Penyakit ini bisa menyebabkan kerusakan pada ginjal. Beberapa penyakit tersebut antara lain diabetes, lupus, atau penyakit ginjal lainnya.
  • Infeksi spesifik. Beberapa infeksi yang memengaruhi sindrom ini antara lain, HIV, hepatitis B dan C, serta malaria.
  • Orang yang mengonsumsi obat anti infeksi dan NSAID.

Setelah itu, biasanya akan dilakukan pemeriksaan fisik, termasuk pemeriksaan awal untuk mengukur tekanan darah. Setelahnya baru dilakukan serangkaian tes seperti:

  • Tes urine. Sampel urine akan dikirim ke laboratorium untuk melihat jumlah protein yang ada di dalamnya. Pasien mungkin akan diminta memberikan urine yang dikumpulkan selama 24 jam terakhir.
  • Tes darah. Contoh darah akan diperiksa untuk melihat keseluruhan fungsi ginjal, dengan cara melihat kadar albumin dalam darah, kadar kolesterol dan trigliserida.
  • Ultrasonografi (USG). Ini dilakukan untuk mengevaluasi struktur ginjal pasien.
  • Biopsi. Dokter akan mengambil sampel jaringan ginjal dan akan dikirim ke laboratorium dan memastikan apakah pasien mengalami sindrom ini dan mencari tahu penyebabnya.

Jika diperlukan, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan. Ini berkaitan dengan adanya komplikasi pada sindrom nefrotik.

Komplikasi umum pada penyakit sindrom nefrotik

  • Penyakit arteri. Yaitu kondisi pembuluh darah yang membatasi aliran darah ke jantung.
  • Kurang aktifnya kelenjar tiroid. Kondisi ini juga disebut dengan nama hipotiroidisme. Yaitu jumlah hormon tiroid yang dihasilkan tubuh berjumlah sedikit.
  • Infeksi. Orang dengan sindrom ini berisiko tinggi terkena infeksi, termasuk pneumonia dan meningitis.
  • Gagal ginjal akut. Rusaknya ginjal juga akan memengaruhi ginjal kesulitan menyaring zat sisa dari tubuh dan menyebabkan gagal ginjal dan memerlukan dilakukan pencucian darah untuk membersihkan darah dari zat sisa tersebut.
  • Penyakit ginjal kronis. Jika ini terjadi seseorang akan membutuhkan pencucian darah atau bahkan bisa membutuhkan transplantasi ginjal.
  • Anemia. Sindrom ini juga bisa menyebabkan pasien kekurangan sel darah merah untuk membawa oksigen ke organ dan ke jaringan lain di tubuh.
  • Malnutrisi. Hilangnya protein bisa menyebabkan turunnya berat badan sehingga terjadinya malnutrisi dan juga mengakibatkan pembengkakan atau edema pada tubuh.
  • Penggumpalan darah. Protein yang mencegah pembekuan bisa hilang dari darah, meningkatkan risiko pembekuan darah.
  • Kolesterol tinggi dan trigliserida. Lebih banyak kolesterol dan trigliserida dilepaskan ke dalam darah. Ini bisa meningkatkan risiko penyakit jantung.
  • Tekanan darah tinggi. Kerusakan ginjal dapat meningkatkan jumlah produk limbah dalam darah. Ini bisa meningkatkan tekanan darah.

Pengobatan apa saja yang bisa dilakukan?

Obat-obatan yang diberikan diberikan untuk mengatasi gejala dan juga mengurangi efek dari sindrom ini. Bukan untuk mengatasi secara permanen kerusakan pada ginjal. Berikut obat-obatan yang biasanya diresepkan untuk pasien sindrom nefrotik:

  • Obat tekanan darah. Obat ini digunakan untuk menjaga tekanan darah agar dan juga digunakan untuk meminimalkan hilangnya protein dari tubuh. Obat-obatan ini bernama angiotensin-converting enzyme (ACE) dan angiotensin II receptor blockers (ARBs).
  • Obat pengencer darah. Sindrom ini memungkinkan terjadinya pembekuan atau penggumpalan darah. Dokter memberikan obat ini untuk mencegahnya. Yang termasuk dalam obat ini antara lain heparin dan warfarin.
  • Obat kolesterol. Sindrom ini juga bisa membuat kadar kolesterol tinggi, maka dokter mencegah terjadinya itu dengan memberikan obat seperti lovastatin dan atorvastatin kalsium.
  • Diuretik. Diuretik membantu ginjal melepaskan cairan berlebih dalam tubuh. Ini diberikan untuk mengurangi efek bengkak pada kaki dan wajah. Obat-obatan ini termasuk furosemid atau lasix dan spironolactone dan aldactone.
  • Obat sistem kekebalan tubuh seperti kortikosteroid. Obat-obatan ini membantu menjaga sistem kekebalan tubuh di bawah kendali dan dapat membantu untuk mengobati kondisi medis lainnya seperti lupus.

Selain obat-obat tersebut, dokter juga bisa saja menyarankan pasien melakukan beberapa jenis vaksin, seperti vaksin pneumokokus. Ini dilakukan untuk mengurangi terjadinya risiko infeksi. Mengingat sindrom ini membuat seseorang lebih mudah terkena infeksi.

Tak cuma obat-obatan, menurut artikel Webmd, pola hidup juga akan membantu meringankan gejala penyakit ini dan mencegah terjadinya komplikasi. Seperti perubahan pola makan dengan mengurangi garam. Jumlah garam akan membantu mengurangi pembengkakan.

Selain itu, dokter juga akan menyarankan pasien mengonsumsi makanan rendah lemak jenuh. Akan lebih baik lagi jika didukung dengan diet makanan rendah kolesterol.

Apakah penyakit sindrom nefrotik bisa dicegah?

Kamu tidak bisa melakukan pencegahan dengan pasti. Tapi kamu bisa melakukan beberapa hal untuk menjaga fungsi glomerulus tetap berjalan dengan baik. Beberapa hal yang bisa kamu lakukan antara lain:

  • Jaga tekanan darah tinggi dan diabetes, jika kamu memilikinya.
  • Pastikan untuk mendapatkan vaksin untuk infeksi umum, terutama jika kamu bekerja di sekitar orang yang menderita hepatitis atau berbagai penyakit lainnya.
  • Jika kamu sakit dan dokter meresepkan antibiotik, gunakan sesuai petunjuk. Minum antibiotik sampai habis sesuai resep, walaupun sudah merasa lebih baik.

Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter terkait dengan masalah kesehatan kamu melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference
  1. Healthline diakses 17 Juni 2020 Everything You Need to Know About Nephrotic Syndrome 
  2. Webmd diakses 17 Juni 2020 What Is Nephrotic Syndrome? 
  3. Mayoclinic.org diakses 17 Juni 2020 Nephrotic syndrome
  4. Kidney.org diakses 17 Juni 2020 Nephrotic syndrome
    register-docotr