Kamus Penyakit

Malaria

October 14, 2020 | Nik Nik Fadlah | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Nyamuk menjadi salah satu serangga yang dapat membawa penyakit melalui gigitannya. Salah satunya adalah malaria.

Malaria merupakan penyakit endemik di Indonesia. Menurut data yang dihimpun dari World Health Organization (WHO), penyakit ini merupakan ancaman serius.

Apa itu penyakit malaria?

Malaria merupakan penyakit yang disebabkan oleh parasit. Parasit ditularkan kepada manusia melalui gigitan dari nyamuk yang terinfeksi.

Penyakit ini merupakan penyakit yang dapat dicegah serta disembuhkan. Namun, kamu tetap harus berhati-hati pada penyakit ini karena penyakit ini juga dapat membahayakan tubuh.

Mengenal nyamuk malaria

Penyakit ini merupakan penyakit yang disebabkan oleh nyamuk Anopheles yang terinfeksi. Nyamuk malaria tersebut membawa parasit Plasmodium. Ketika nyamuk ini menggigit tubuh, parasit dilepaskan ke aliran darah.

Orang yang terkena penyakit ini biasanya akan merasakan sangat kesakitan, yang disertai dengan demam tinggi serta menggigil kedinginan.

Walaupun penyakit ini jarang terjadi di wilayah beriklim sedang, namun malaria masih umum terjadi negara tropis dan subtropis.

Apa penyebab malaria?

Seperti yang sudah diketahui sebelumnya bahwa penyakit ini merupakan penyakit yang disebabkan oleh nyamuk yang terinfeksi oleh parasit Plasmodium.

Terdapat empat jenis parasit malaria yang dapat menginfeksi manusia: Plasmodium vivax, P. ovale, P. malariae, dan P. falciparum.

Ketika parasit berada dalam tubuh, mereka dapat melakukan perjalanan ke hati, di mana mereka dapat berkembang menjadi dewasa. Setelah beberapa hari, parasit dewasa tersebut masuk ke dalam aliran darah dan mulai menginfeksi sel darah merah.

Dalam kurun waktu 48-72 jam, parasit yang terdapat di dalam sel darah merah dapat bertambah banyak. Hal ini menyebabkan sel yang terinfeksi pecah.

Parasit kemudian terus menginfeksi sel darah merah, mengakibatkan gejala yang terjadi dalam siklus yang dapat berlangsung dua hingga tiga hari.

Penyakit ini ditularkan melalui darah, oleh karena itu tindakan-tindakan ini beresiko seperti :

  • Transplantasi organ
  • Transfusi darah
  • Penggunaan jarum suntik bersama.

Siapa saja yang lebih berisiko terkena malaria?

Dilansir dari Mayo Clinic, faktor risiko terbesar untuk mengembangkan penyakit ini adalah tinggal atau mengunjungi daerah di mana penyakit itu umum berkembang.

Sedangkan, seseorang yang berisiko tinggi terkena penyakit serius meliputi:

  • Anak kecil dan bayi
  • Orang yang lebih tua
  • Wisatawan yang datang dari daerah tanpa malaria
  • Wanita hamil dan anak yang belum lahir.

Apa gejala dan ciri-ciri malaria?

Gejala penyakit ini dapat berkembang dalam kurun waktu 1-2 minggu setelah seseorang tekena gigitan nyamuk malaria yang terinfeksi, atau bisa saja gejala tersebut dapat muncul beberapa bulan atau lebih.

Gejala awal dapat menyerupai flu, seperti demam tinggi, menggigil, sakit kepala, otot tubuh sakit. Gejala lainnya dapat termasuk kelelahan, mual serta muntah. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah gejala malaria yang dilansir Healthline.

  • Menggigil yang dapat berkisar dari sedang hingga parah
  • Demam tinggi
  • Keringat berlebih
  • Sakit kepala
  • Mual
  • Muntah
  • Sakit perut
  • Diare
  • Anemia
  • Otot terasa sakit
  • Kejang
  • Koma
  • Tinja berdarah.

Jika kamu mengalami gejala-gejala di atas segeralah periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Apa saja komplikasi yang mungkin terjadi akibat malaria?

Penyakit ini dapat secara cepat menjadi serius dan dapat mengancam jiwa. Beberapa komplikasi parah yang disebabkan oleh penyakit ini yang biasanya disebabkan oleh infeksi P. falciparum, di antaranya adalah:

  • Gagal hati dan gagal ginjal
  • Kejang-kejang dan koma
  • Anemia yang parah yang dapat merusak sel darah merah
  • Penyakit kuning (kulit dan mata yang menguning) dari hilangnya sel darah merah
  • Kematian.

Waspadai malaria serebral

Komplikasi lain dari malaria adalah malaria serebral. Malaria serebral adalah komplikasi parah yang disebabkan oleh jenis malaria Plasmodium falciparum.

Jika sel darah yang dipenuhi oleh parasit jenis malaria ini memblokir pembuluh darah kecil ke otak, maka pembengkakan otak atau kerusakan otak dapat terjadi.

Tak hanya itu, malaria serebral juga dapat menyebabkan kejang dan koma. Oleh karena itu, kamu harus mewaspadai parasit jenis malaria ini.

Bagaimana cara mengatasi dan mengobati malaria?

Untuk mengetahui cara mengobati malaria, kamu dapat menyimak penjelasan selengkapnya di bawah ini.

Perawatan malaria di dokter

Perawatan malaria di dokter melibatkan pemeriksaan malaria. Untuk mendiagnosis penyakit ini, dokter akan mengecek riwayat kesehatan, melakukan pemeriksaan fisik, serta tes darah. Tes darah merupakan cara satu-satunya yang dapat dilakukan untuk mengonfirmasi.

Tes darah dapat membantu dokter untuk mengetahui kehadiran parasit dalam darah, jenis apa yang diderita, serta apakah parasit tersebut kebal atau tidak pada obat-obatan.

Tak hanya itu saja, pemeriksaan malaria ini juga dilakukan untuk membantu menentukan apakah penyakit ini menyebabkan komplikasi yang serius atau tidak. Maka dari itu, melakukan pemeriksaan malaria merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan.

Baca juga: Demam Berdarah: Kenali Gejala dan Cara Pencegahannya

Cara mengatasi malaria secara alami di rumah

Melalukan pengobatan di dokter merupakan cara efektif untuk mengobati malaria. Akan tetapi, ada beberapa cara yang bisa kamu lakukan di rumah untuk mengurangi ketidaknyamanan akibat gejala yang ditimbulkan, seperti yang dilansir dari Very Well Health.

Sebaiknya selalu pastikanlah kamu:

  • Mendapatkan asupan cairan yang cukup
  • Mempertahankan nutrisi yang memadai
  • Pertahankan suhu yang nyaman, gunakan kompres dingin atau selimut hangat jika kamu merasa kedinginan atau kepanasan
  • Istirahat yang cukup.

Apa saja obat malaria yang biasa digunakan?

Ada beberapa obat-obatan yang biasa digunakan untuk mengobati kondisi ini. Berikut penjelasan selengkapnya.

Obat malaria di apotek

Pengobatan yang dilakukan biasanya untuk penyakit ini adalah dengan menggunakan obat khusus untuk membunuh parasit. Sebaiknya konsumsilah obat-obatan ini sesuai dengan resep dokter,

Jenis obat yang digunakan bervariasi tergantung pada jenis parasit malaria apa yang diderita, keparahan gejala yang dimiliki, umur, serta apakah kamu sedang hamil atau tidak.

Obat antimalaria yang biasa digunakan adalah:

Kombinasi terapi berbasis Artemisinin

Pengobatan ini merupakan pengobatan utama yang biasa dilakukan pada penyakit ini. Ada beberapa perbedaan dari terapi ini.

Sebagai contoh mengikutsertakan artemether-lumefantrine (Coaertem) serta artesunate-amodiaquine. Masing-masing terapi ini merupakan kombinasi dari dua atau lebih obat yang bekerja untuk melawan parasit dengan cara yang berbeda.

Chloroquine phosphate

Chloroquine merupakan pengobatan yang dapat dilakukan untuk semua parasit yang sensitif pada obat.

Tetapi di banyak bagian di dunia, parasit yang menjadi penyebab penyakit ini kebal terhadapt chloroquine. Oleh karenanya, obat ini tidak lagi merupakan pengobatan yang efektif.

Selain kedua obat tersebut, ada beberapa obat antimalaria lain yang biasa digunakan, seperti:

  • Atovaquone-proguanil (Malarone)
  • Doxycycline
  • Mefloquine
  • Primaquine
  • Tafenoquine (Arakoda, Kozenis, Krintafel)
  • Quinine sulfate (Qualaquin).

Di masa depan, ada pengobatan yang memungkinkan untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh nyamuk ini. Obat antimalaria baru sedang diteliti dan dikembangkan.

Pengobatan penyakit ini ditandai dengan perjuangan terus-menerus antara perkembangan parasit yang kebal akan obat serta penelitian terhadap obat dan pencarian formulasi baru.

Obat malaria alami

Ada beberapa obat malaria alami yang bisa kamu temukan dengan mudah di rumah, di antaranya adalah:

  • Kayu manis
  • Kunyit
  • Jus jeruk
  • Jahe
  • Cuka sari apel
  • Jus jeruk nipis
  • Jeruk bali.

Meskipun demikian, ini hanya digunakan sebagai perawatan pendamping saja. Ketika mengalami malaria, kamu harus tetap melakukan pemeriksaan malaria di dokter ya.

Apa saja makanan dan pantangan untuk penderita malaria?

Ada beberapa makanan yang perlu dihindari untuk penderita malaria, ini termasuk:

  • Makanan berminyak
  • Makanan pedas dan goreng
  • Kue dan kue kering
  • Saus dan acar
  • Hindari konsumsi teh dan kopi

Bagaimana cara mencegah malaria?

Meskipun terkadang penyakit ini dapat mematikan, akan tetapi ada beberapa cara yang dapat dicegah untuk penyakit ini. Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan seperti yang dilansir dari situs NHS.

Menyadari risiko bahaya malaria

Hal pertama yang harus dilakukan adalah menyadari risiko penyakit ini. Sebaiknya, jika kamu ingin berpergian menuju negara penyebaran penyakit ini, periksalah terlebih dahulu apakah kamu membutuhkan pencegahan.

Meskipun kita tinggal di negara dengan penyebaran malaria yang umum, kita juga perlu untuk mengambil tindakan pencegahan untuk melindungi diri dari infeksi jika kita ingin berpergian ke area yang berisiko.

Menghindari diri dari gigitan nyamuk

Tidak mungkin untuk menghindari gigitan nyamuk sepenuhnya, tetapi semakin sedikit kamu tergigit semakin kecil pula terkena malaria.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghindari gigitan nyamuk, misalnya:

  • Berdiam dirilah di tempat yang memiliki AC dan penyaringan yang efektif di pintu dan jendela. Jika ini tidak memungkinkan, pastikanlah pintu dan jendela tertutup dengan rapat
  • Jika kamu tidak tidur dengan menggunakan AC, tidurlah di bawah kelambu yang telah diberi insektisida
  • Gunakan obat nyamuk di kulit dan lingkungan tidur
  • Kenakan celana panjang longgar dibandingkan dengan celana pendek, serta kamu juga dapat mengenakan pakaian panjang.

Mengonsumsi tablet antimalaria

Untuk mencegah terjadinya penyakit ini, kamu juga dapat mengonsumsi tablet antimalaria. Saat ini tidak ada vaksin yang tersedia yang menawarkan perlindungan terhadap penyakit ini.

Maka dari itu, sangat penting untuk mengonsumsi obat antimalaria untuk mengurangi kemungkinan terkena penyakit ini. Obat antimalaria sendiri dapat mengurangi risiko terkena penyakit ini sebesar 90 persen.

Instruksi penggunaan obat:

  • Pastikanlah kamu mengonsumsi obat yang benar. Kamu juga dapat memastikannya melalu dokter umum atau apoteker jika kamu tidak yakin
  • Ikutilah instruksi yang terdapat pada kemasan secara berhati-hati
  • Setalah melakukan perjalanan, konsumsilah hingga 4 minggu untuk menutupi masa inkubasi penyakit

Sebaiknya, berkonsultasilah terlebih dahulu dengan dokter sebelum kamu mengonsumsi obat ini. Hal ini dimaksudkan agar penggunaan obat tidak salah.

Dapatkan saran medis dengan segera

Kamu harus segera mencari bantuan medis jika kamu jatuh sakit saat berpergian di wilayah di mana malaria ditemukan, atau setelah kembali dari berpergian meskipun kamu sudah mengonsumsi obat antimalaria.

Penyakit ini dapat menjadi buruk dengan cepat. Maka dari itu sangat penting untuk mendiagnosis dan melakukan pengobatan segera.

Jika kamu memiliki gejala setelah mengonsumsi obat antimalaria, baik saat berpergian atau beberapa hari bahkan minggu setelah kamu kembali dari perjalanan, ingatlah untuk memberitahu dokter jenis obat apa yang telah kamu konsumsi.

Menggunakan obat anti-nyamuk

Dietil-m-toluamida atau yang lebih dikenal dengan DEET merupakan bahan kimia yang ditemukan di dalam obat antiserangga. Penggunaan ini tidak direkomendasikan pada bayi yang berusia kurang dari 2 bulan.

DEET aman untuk anak yang lebih besar, orang dewasa, serta ibu hamil jika mengikuti instruksi yang terdapat pada kemasan. Berikut adalah penggunaan DEED yang benar:

  • Gunakan pada kulit yang terpapar
  • Jangan menyemprotkannya ke wajah, semprotkanlah pada tangan dan tepuk-tepuk pada wajah
  • Hindarilah kontak langsung dengan mata dan mulut
  • Cuci tangan setelah mengaplikasikan DEED
  • Jangan mengaplikasikannya pada kulit yang iritasi
  • Selalu pastikan bahwa kamu mengaplikasikan DEED setelah kamu menggunakan sunscreen, jangan mengaplikasikan DEED sebelum sunscreen.

Obat malaria untuk corona

Dilansir dari Kompas.com, penelitian awal terhadap chloroquine/klorokuin yang merupakan obat malaria untuk corona dilakukan di Wuhan Institute of Virology dari Chinese Academy of Science.

Berdasarkan penelitian awal, obat malaria untuk corona ini dapat menghambat kemampuan virus baru untuk menginfeksi atau bahkan tumbuh dalam sel saat diuji pada kera.

Namun, sekelompok peneliti di Brasil, menghentikan uji obat malaria untuk corona ini pada pasien COVID-19. Hal tersebut dikarenakan, sejumlah pasien yang mengonsumsi chloroquine dalam dosisi tinggi mengalami kelainan ritme jantung yang serius.

Para ilmuwan pun langsung mewanti-wanti seluruh tenaga medis untuk tidak memberikan chloroquine dalam dosis tinggi kepada pasien COVID-19.

Meskipun demikian, Kementrian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan masih menggunakan chloroquine untuk pasien COVID-19 secara hati-hati dan dengan pengawasan yang ketat, seperti yang dilansir dari CNN Indonesia.

Jaga kesehatan kamu dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!

Reference

Healthline (2017). Diakses pada 12 Mei 2020. Malaria 

Livescience (2019). Diakses pada 12 Mei 2020. Malaria: Causes, Symptoms, & Treatment 

Mayo Clinic (2018). Diakses pada 12 Mei 2020. Malaria 

Republika (2020). Diakses pada 12 Mei 2020. Indonesia Endemis Malaria

World Health Organization (WHO) (2020). Diakses pada 12 Mei 2020. Malaria 

World Health Organization (WHO) (2020). Diakses pada 12 Mei 2020. Malaria in South-East Asia 

Webmd (2019). Diakses pada 12 Mei 2020. What Are Malaria Pills? 

CNN Indonesia (2020). Diakses pada 14 Oktober 2020. AS Larang, RI Tetap Gunakan Chloroquine untuk Pasien Corona 

Kompas.com (2020). Diakses pada 14 Oktober 2020. Percobaan Klorokuin untuk Obat Corona Dihentikan, Hasilkan Kelainan Ritme Jantung 

NDTV (2018). Diakses pada 14 Oktober 2020. World Malaria Day: 9 Most Effective Home Remedies for Malaria 

Paras Bliss (2017). Diakses pada 14 Oktober 2020. Foods to Eat and Avoid If You Have Malaria 

Very Well Health (2019). Diakses pada 14 Oktober 2020. How Malaria Is Treated? 

Renia, Laurent, Shanshan Wu Howland, Carla Claser (2012). Cerebral Malaria. NCBI (diakses pada 14 Oktober 2020)

    register-docotr