Kamus Penyakit

Epilepsi, Penyakit Sistem Saraf Pusat yang Tak Mengenal Usia

May 8, 2020 | Nik Nik Fadlah | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Epilepsi atau ayan merupakan gangguan sistem saraf pusat (neurologis) di mana aktivitas otak menjadi tidak normal, sehingga menyebabkan kejang atau periode perilaku yang tidak biasa, dapat menimbulkan sensasi, dan terkadang kehilangan kesadaran.

Penyakit ini merupakan penyakit yang tidak menular dan dapat terjadi pada siapa saja, baik itu pria maupun wanita, dari semua ras, latar belakang etnis, dan usia.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai penyakit ini, kamu dapat menyimak pembahasannya di bawah ini.

Apa itu epilepsi?

Penyakit epilepsi merupakan gangguan neurologis paling umum yang berada di peringkat keempat dan dapat menyerang orang-orang dari segala usia. Kondisi umum yang memengaruhi otak ini sering menyebabkan kejang.

Tahukah kamu bahwa menurut World Health Organization (WHO), sekitar 50 juta orang di seluruh dunia menderita penyakit ini. Diperkirakan bahwa sekitar 70% orang yang menderita penyakit ini dapat hidup bebas dari kejang jika didiagnosis dan diobati dengan benar.

WHO juga menyebutkan bahwa risiko kematian dini pada orang yang menderita penyakit ini tiga kali lebih tinggi dibandingkan dengan populasi umum.

Di banyak bagian dunia, orang yang menderita penyakit ini serta keluarganya mengalami stigma (pandangan negatif) dan diskriminasi.  

Penyakit ini merupakan gangguan kronis yang dapat menyebabkan kejang berulang yang tidak diprovokasi. Kejang merupakan arus tiba-tiba dari aktivitas listrik di otak.

Jenis-jenis kejang dalam epilepsi

Terdapat dua jenis kejang, yakni kejang umum yang memengaruhi seluruh otak, dan kejang fokal atau parsial yang hanya memengaruhi satu bagian otak.

Kejang yang terjadi pada penyakit ini dapat dikaitkan dengan cedera otak atau kecenderungan keluarga, akan tetapi, seringkali penyebabnya tidak dapat diketahui.

Kejang ringan merupakan kejang yang sulit untuk diketahui karena hal tersebut hanya berlangsung beberapa detik saat kehilangan kesadaran.

Kejang yang lebih kuat dapat menyebabkan kejang urat dan otot berkedut yang tidak dapat terkendali, serta dapat berlangsung beberapa detik hingga beberapa menit.

Meskipun gejala kejang dapat memengaruhi bagian tubuh mana pun. Peristiwa listrik yang yang menghasilkan gejala kejang hanya terjadi di otak.

Lokasi peristiwa, bagaimana penyebarannya, seberapa banyak otak terpengaruh, dan beberapa lama hal tersebut terjadi memiliki efek yang mendalam.

Oleh karenanya, faktor tersebut menentukan jenis kejang dan dampak yang akan terjadi pada individu.

Penyebab terjadinya epilepsi

Penyebab terjadinya penyakit ini tidak dapat diidentifikasi pada sekitar setengah orang yang menderita kondisi ini.

Akan tetapi, pada setengah kondisi lainnya, penyakit ini dapat ditelisik dari berbagai macam faktor, berikut adalah beberapa faktor yang memengaruhi terjadinya epilepsi.

1. Pengaruh genetik

Beberapa jenis epilepsi yang dikategorikan berdasarkan jenis kejang yang dapat dialami serta dapat memengaruhi otak, mungkin saja dapat disebabkan oleh faktor keluarga.

Dalam kasus ini sangat memungkinkan adanya pengaruh genetik.

Para peneliti telah menghubungkan beberapa jenis penyakit ini pada gen yang lebih spesifik. Tetapi bagi kebanyakan orang, gen hanyalah bagian dari penyebab epilepsi.

Gen tertentu dapat membuat seseorang lebih sensitif terhadap kondisi lingkungan sehingga memicu terjadinya kejang.

2. Trauma kepala atau cedera kepala

Cedera kepala dapat terjadi pada saat kelahiran atau dari kecelakaan selama masa muda atau saat sudah dewasa. Misalnya saja adalah cedera kepala yang disebabkan oleh kecelakaan mobil atau cedera traumatis lainnya.

3. Gangguan otak

Gangguan otak dapat menyebabkan kerusakan pada otak, seperti tumor dan stroke yang dapat menyebabkan terjadinya penyakit ini. Stroke merupakan penyebab utama epilepsi pada orang dewasa yang berumur lebih dari 35 tahun.

4. Penyakit menular

Beberapa penyakit menular seperti meningitis, AIDS, dan ensefalistis virus dapat menyebabkan terjadinya penyakit ini.

5. Cedera prenatal

Sebelum lahir, bayi sangat sensitif pada kerusakan otak yang dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Misalnya saja, infeksi yang terjadi pada ibu, gizi buruk, atau bahkan kekurangan oksigen. Kerusakan otak ini dapat menyebabkan terjadinya epilepsi atau bahkan cerebral palsy.

6. Gangguan perkembangan

Penyakit ini terkadang dapat dikaitkan dengan gangguan perkembangan yang terjadi pada seseorang. Misalnya saja, gangguan perkembangan serius yang menganggu kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi atau yang lebih dikenal sebagai autisme, serta neurofibromatosis.

Gejala epilepsi

Kejang merupakan gejala utama pada penyakit ini. Karakteristik kejang bervariasi dan bergantung pada di mana gangguan otak pertama kali dimulai, serta seberapa jauh gangguan tersebut menyebar.

Oleh karena itu, gejalanya berbeda-beda sesuai dengan jenis kejang dan tidak dapat disamakan dari orang ke orang.

  • Kejang fokal (parsial)

Kejang fokal (parsial) merupakan kejang yang hanya berdampak pada satu bagian otak.

Kejang parsial yang sederhana: Kejang ini tidak melibatkan kehilangan kesadaran. Gejalanya meliputi, perubahan pada indra perasa, penciuman, penglihatan, pendengaran, atau sentuhan. Gejala lainnya adalah pusing, kesemutan, serta kedutan pada anggota tubuh

Kejang parsial kompleks: Kejang ini melibatkan hilangnya kesadaran. Gejala lain yang dapat ditimbulkan misalnya saja, tatapan kosong, tidak responsif, dan mengulangi gerakan secara berulang-ulang

  • Kejang umum

Kejang umum merupakan kejang yang melibatkan seluruh bagian otak. Ada enam jenis kejang yang termasuk dalam kejang umum, di antaranya adalah:

Kejang absen: Kejang absen sering juga disebut dengan “petit mal seizures” yang dapat menyebabkan tatapan kosong. Kejang jenis ini juga dapat menyebabkan gerakan berulang seperti memukul bibir atau berkedip. Tak hanya itu saja, kejang ini juga biasanya dapat menyebabkan hilangnya kesadaran dalam jangka pendek

Kejang tonik: Kejang tonik dapat menyebabkan otot menjadi kaku

Kejang atonik: Kejang jenis ini dapat menyebabkan hilangnya kontrol otot dan dapat menyebabkan kamu jatuh secara tiba-tiba

Kejang klonik: Kejang ini ditandai dengan gerakan otot, wajah, leher, dan lengan yang tersentak-sentak

Kejang miokloni: Kejang ini menyebabkan gerakan cepat yang spontan pada lengan dan kaki

Kejang tonik-klonik: Kejang ini biasanya disebut dengan grand mal seizures. Kejang jenis ini memiliki gejala pengerasan tubuh, gemetar, kehilangan kontrol kandung kemih atau usus, menggigit lidah, serta hilangnya kesadaran

Apa yang memicu terjadinya kejang pada epilepsi?

Selain memiliki banyak jenis kejang, kamu juga harus memperhatikan apa saja yang menjadi pemicu kejang pada penyakit ini. Beberapa orang dapat mengidentifikasi hal-hal atau situasi yang dapat memicu terjadinya kejang.

Beberapa pemicu kejang yang sering dilaporkan adalah:

  • Kurang tidur
  • Menderita sakit atau demam
  • Stres
  • Lampu yang terang, lampu berkedip, atau bahkan pola cahaya
  • Kafein, alkohol, obat-obatan, atau bahkan narkotika
  • Melewatkan makan, makan berlebihan, atau dapat disebabkan oleh bahan makanan tertentu

Mengidentifikasi kejang memang tidak mudah. Insiden kecil tidak selalu diartikan sebagai pemicu kejang, namun seringkali merupakan kombinasi dari faktor-faktor yang memicu kejang.

Apakah penyakit ini dapat diwariskan?

Mungkin ada sekitar 500 gen yang berhubungan dengan epilepsi. Genetika dapat memberikan ‘ambang kejang’ alami.

Jika kamu mewariskan ambang kejang rendah kamu akan lebih rentan terhadap pemicu kejang. Ambang batas kejang yang lebih tinggi memungkinkan kamu memiliki risiko kejang yang lebih kecil.

Penyakit ini terkadang menyerang keluarga. Meskipun demikian, risiko mewariskan kondisi ini cukup rendah. Kebanyakan orang tua yang menderita penyakit ini tidak memiliki anak dengan penyakit ini.

Pada umumnya, risiko untuk terkena penyakit ini pada usia 20 tahun adalah sekitar 1%. Jika kamu memiliki orang tua yang menderita penyakit ini, karena sebab genetik risiko kamu untuk terkena penyakit ini naik menjadi 2-5%.

Jika orang tua kamu menderita penyakit ini yang disebabkan oleh sebab lain, misalnya saja stroke atau cedera otak, itu tidak akan memengaruhi risiko terkena epilepsi.

Bagi wanita, penyakit ini tidak akan memengaruhi untuk memiliki anak. Namun, beberapa obat yang dikonsumsi untuk mengobati penyakit ini dapat memengaruhi bayi yang belum lahir.

Maka dari itu, sangat sekali disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu pada dokter serta memberi tahu dokter jika sedang hamil.

Bagaimana pengobatan pada epilepsi?

Kebanyakan orang dapat mengatasi penyakit ini. Perawatan yang diperuntukkan untuk mengobati penyakit ini didasarkan pada gejala, kondisi medis, serta seberapa baik kamu merespons terapi.

Beberapa opsi perawatan meliputi:

  • Obat anti-epileptik (antikonvulsan dan antiseizure): Obat-obatan ini dapat mengurangi jumlah kejang yang dimiliki. Pada sebagian orang, obat ini dapat menghilangkan kejang. Agar efektif, sebaiknya obat ini harus dikonsumsi persis dengan yang sudah ditentukan oleh dokter
  • Stimulator saraf vagus: Alat ini biasanya ditempatkan dibawah kulit dada yang secara elektrik merangsang saraf yang mengalir melalui leher. Hal ini dilakukan guna untuk membantu mencegah kejang
  • Diet ketogenik: Lebih dari setengah orang yang tidak merespons pengobatan mendapatkan manfaat dari diet tinggi lemak dan rendah karbohidrat ini
  • Pembedahan otak: Area otak yang menyebabkan aktivitas kejang dapat diangkat maupun diubah

Pengobatan lain yang dapat dilakukan untuk mengobati penyakit ini hingga saat ini masih diteliti. Salah satu pengobatan yang mungkin dapat tersedia di masa depan adalah stimulasi otak yang mendalam.

Ini merupakan prosedur di mana elektroda ditanamkan di otak. Kemudian, generator akan ditanamkan di dada. Generator berguna untuk mengirimkan impuls listrik ke otak untuk membantu mengurangi kejang.

Baca juga: Diet Keto: Definisi, Cara Kerja, dan Aturan Aman Menerapkannya

Obat-obatan yang biasanya digunakan untuk epilepsi

Pengobatan pertama yang harus dilakukan guna mengobati penyakit ini adalah dengan obat antikejang. Obat ini dapat mengurangi frekuensi dan keparahan kejang.

Obat-obatan tersebut tidak bisa menghentikan kejang yang sudah berlangsung. Dan juga bukan obat yang dapat menyembuhkan epilepsi, tetapi lebih membantu untuk mengurangi frekuensi kejang.

Beberapa obat tersebut adalah:

  • Levetirasetam (Keppra)
  • Lamotrigin (Lamiktal)
  • Topiramat (Topamax)
  • Sodium valporat (Depakote)
  • Karbamazepin (Tegretol)
  • Etosuksimid (Zarotin)

Obat-obatan tersebut tersedia dalam bentuk tablet, sirup, serta injeksi yang dapat diminum 1-2 kali sehari. Sama seperti kebanyakan obat, obat-obatan tersebut juga memiliki efek samping. Oleh karena itu, sebaiknya obat ini tidak dikonsumsi sembarangan, dan harus sesuai dengan resep dokter.

Bagaimana mencegah epilepsi?

Menurut WHO, sekitar 25% kasus epilepsi dapat dicegah. Mencegah cedera otak merupakan cara yang paling efektif dalam mencegah epilepsi pasca-trauma.

Perawatan perinatal yang memadai akan mengurangi jumlah kasus penyakit ini yang disebabkan oleh cedera saat lahir.

Pengobatan obat-obatan atau metode lain untuk menurunkan suhu tubuh dari anak-anak yang terkena demam dapat mengurangi kemungkinan kejang demam.

Pencegahan epilepsi yang dikaitkan oleh stroke yang difokuskan pada pengurangan faktor risiko kardiovaskular juga dapat dilakukan.

Misalnya saja langkah-langkah untuk mencegah atau mengontrol tekanan darah tinggi, diabetes dan obesitas, serta menghindari tembakau dan penggunaan alkohol yang berlebihan.

Infeksi sistem saraf pusat adalah penyebab umum yang menyebabkan terjadinya penyakit ini di daerah tropis, di mana banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah yang terkonsentrasi.

Menghapus parasit di lingkungan tersebut serta pemberian edukasi tentang cara menghindari infeksi dapat menjadi cara yang efektif untuk mengurangi epilepsi di seluruh dunia, misalnya saja kasus-kasus akibat neurocysticercosis.  

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

Epilepsy.com (2014). Diakses pada 5 Mei 2020. What is Epilepsy? 

Healthline (2017). Diakses pada 5 Mei 2020. Everything You Need to Know About Epilepsy 

Mayo Clinic (2019). Diakses pada 5 Mei 2020. Epilepsy 

World Health Organization (2019). Diakses pada 5 Mei 2020. Epilepsy

    register-docotr