Kamus Penyakit

Ini Dia 4 Fakta Lazarus Syndrome, Fenomena ‘Bangkit’ dari Kematian

August 19, 2020 | Dhiamara Arradea | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Fenomena lazarus syndrome dikenal sebagai fenomena ‘bangkit’ dari kematian. Di mana, pasien yang dinyatakan meninggal memiliki kembali aktivitas jantung secara mendadak. Tidak hanya itu, lazarus syndrome juga memiliki beberapa fakta loh!

Meski terbilang sangat langka, namun sebenarnya fenomena ini sudah bukan hal yang tidak biasa di dunia medis.

Baca Juga: Kenali Ciri-Ciri Anxiety Attack yang Mirip dengan Serangan Jantung

Apa saja fakta-faktanya?

Adapun beberapa fakta dari sindrom lazarus adalah sebagai berikut:

Asal muasal dinamakan lazarus syndrome

Dilansir dari medicalnewstoday.com, sindrom ini dinamakan lazarus dari Bertania, yang menurut perjanjian baru alkitab adalah kisah Lazarus yang dihidupkan kembali oleh Yesus Kristus 4 hari setelah kematiannya.

Sejak 1982, ketika fenomena lazarus pertama kali dijelaskan dalam literature medis, setidaknya ada 38 kasus yang telah tercatat.

Pada 2007, pada sekitar 82 persen kasus sindrom lazarus terjadi dalam waktu 10 menit setelah CPR dihentikan, dan sekitar 45 persen diantaranya kembali pulih dari penyakitnya.

Disebabkan oleh CPR

Fenomena lazarus mungkin terjadi karena adanya penumpukan tekanan di dada yang disebabkan oleh CPR. Setelah CPR dihentikan, tekanan ini secara bertahap dapat dilepaskan dan jantung kembali beraksi.

Namun, sebenarnya karena sedikitnya kasus pada sindrom ini, penyebab pasti di balik kondisi ini pun masih sulit untuk diketahui.

Kondisi tertentu yang mendukung

Dalam dunia medis, ada dua jenis kematian. Diantaranya adalah kematian klinis dan kematian biologis. Kematian klinis diartikan sebagai tidak adanya detak jantung, denyut nadi, dan pernapasan. Sedangkan, kematian biologis diartikan sebagai tidak adanya aktivitas otak.

Dalam beberapa kasus, tidak sesederhana itu untuk mengetahui seseorang bisa dikatakan mati. Ada beberapa kondisi medis yang bisa membuat seorang dikatakan mati, padahal tidak. Seperti:

Hipotermia

Di mana tubuh mengalami penurunan suhu yang tiba-tiba dan berpotensi menghasilkan dampak yang fatal. Biasanya disebabkan oleh paparan dingin yang berkepanjangan.

Hipotermia juga bisa menyebabkan detak jantung dan pernapasan melambat, hingga hampir tidah terdeteksi.

Katalepsi

Ditandai dengan keadaan seperti pernapasan melambat, sensitivitas berkurang, dan imobilitas total, yang berlangsung dari beberapa menit bahkan bisa sampai berminggu-minggu.

Kondisi ini dapat muncul sebagai gejala gangguan neurologis. Seperti, epilepsy dan penyakit Parkinson.

Sindrom terkunci

Pada sindrom ini, pasien biasanya sadar akan lingkungan. Tetapi mereka mengalami kelumpuhan total pada otot sukarela, terkecuali otot yang mengontrol gerakan mata.

Pada beberapa kasus, dokter akan mengira otak dari pasien ini telah mati, tetapi sebenarnya pasien masih sangat sadar.

Baca Juga: Kematian Mendadak Bisa Terjadi pada Bayi, Ini yang Harus Moms Waspadai

Penjelasan ilmiah masih kurang memadai

Memang sudah tidak diragukan lagi bahwa fenomena lazarus adalah kenyataan. Namun, sejauh ini penjelasan ilmiah pada kasus ini masih kurang memadai. Satu-satunya penjelasan yang masuk akal adalah auto-PEEP dan gangguan aliran vena.

Pada beberapa kasus, pasien harus dimonitor secara pasif setidaknya selama 10 menit setelah penghentian CPR sebelum memastikan kematian.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference
  1. Medicalnewstoday.com (2017). Diakses pada 18 Agustus 2020. The Lazarus phenomenon: When the ‘dead’ come back to life
  2. Ncbi.nlm.nih.gov. Diakses pada 18 Agustus 2020. The Lazarus phenomenon
    register-docotr