Kamus Penyakit

Bukan Diare Biasa, Kenali Penyakit Disentri agar Tepat Penanganannya!

May 14, 2020 | Putri Prima Soraya | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Ketika kita mengalami kondisi perut sakit diikuti feses menjadi lebih cair, berlendir dan berdarah, pasti kita langsung memvonis diri kita terkena penyakit diare akut. Padahal, bisa saja loh kita terkena penyakit disentri.

Penyakit disentri dan diare sering dianggap sama oleh orang-orang. Padahal kedua penyakit ini merupakan kondisi klinis yang berbeda, meskipun memiliki gejala yang hampir sama. Perbedaan mendasar antara kedua penyakit ini adalah pada daerah yang terinfeksi.

Selain sering salah membedakan dengan penyakit diare, banyak juga loh orang yang sering menyepelekan penyakit disentri. Padahal, penyakit ini dapat menjadi suatu wabah penyakit, yang jika tidak ditangani dengan benar dapat berakibat fatal.

Baca Juga: Metformin: Dosis dan Efek Sampingnya untuk Pengidap Diabetes

Pengertian

Disentri merupakan penyakit infeksi pada usus yang menyebabkan feses mengandung darah atau lendir. Secara luas dianggap sebagai gangguan pencernaan yang ditandai oleh peradangan usus, terutama usus besar.

Kita dapat terserang penyakit ini karena adanya kontaminasi yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan dan air. Saat terserang disentri, sebaiknya kita segera mendapatkan pengobatan, agar tidak mengalami kondisi komplikasi seperti dehidrasi parah.

Umumnya, disentri dapat diobati dengan antibiotik dan obat antiparasit. Untuk itulah penting mengetahui gejala dan penyebab disentri, agar pengobatan yang kita dapatkan sesuai dengan kondisi kita.

Penyebab

Berdasarkan penyebabnya disentri dapat digolongkan menjadi dua jenis, yaitu:

1. Disentri bakteri

Disentri ini biasanya disebabkan oleh bakteri shigella. Namun, bisa juga disebabkan oleh bakteri lainnya seperti Escherichia coli, Salmonella, Clostridium difficile, dan Campylobacter jejuni. Ini merupakan jenis yang umum terjadi.

2. Disentri amuba

Disentri amuba atau  disebut juga amoebiasis, merupakan penyakit yang disebabkan oleh amuba (parasit bersel tunggal) yang disebut Entamoeba histolytica. Sanitasi yang buruk di tempat tinggal kamu bisa menjadi penyebab terserang penyakit ini.

Disentri akibat amuba umumnya menunjukkan kondisi yang lebih parah, hal ini dikarenakan amuba dapat terus hidup dalam tubuh manusia meskipun gejalanya telah hilang. Kemudian, gejala dapat muncul kembali ketika sistem kekebalan tubuh seseorang melemah.

Perbedaan antara disentri dan diare

Meskipun keduanya merupakan kondisi medis yang dapat disebabkan oleh infeksi akibat bakteri dan memiliki gejala seperti  sakit perut, kram, dan demam. Kedua penyakit ini sebenarnya merupakan kondisi klinis yang berbeda.

Disentri, jauh lebih parah dibandingkan diare. Diare merupakan suatu kondisi di mana feses berair, sedangkan pada disentri feses disertai  juga dengan adanya darah dan lendir.

Diare adalah penyakit yang menyerang usus halus, sedangkan disentri menginfeksi usus besar. Diare biasanya disebabkan oleh E.coli, sedangkan disentri disebabkan oleh E.coli, shigella, dan salmonella.

Gejala

Tanda dan gejala penyakit ini dapat bertahan lima hingga tujuh hari atau bahkan lebih lama. Beberapa kasus menunjukkan gejala yang berbeda dari mulai gejala ringan, hingga gejala berat yang dapat menimbulkan risiko dehidrasi.

Meskipun memiliki gejala yang hampir sama, disentri bakteri dan disentri amuba memiliki perbedaan, perbedaan gejala  ini dapat digunakan sebagai acuan untuk mengetahui apa penyebab penyakit ini yang dialami oleh seseorang.

Disentri bakteri biasanya dapat menyebabkan gejala, seperti:

  • Diare dengan kram perut
  • Demam
  • Mual dan muntah
  • Darah atau lendir dalam diare.

Sedangkan disentri amuba biasanya tidak menimbulkan gejala di awal terjadinya infeksi. Gejala akan muncul dalam rentang dua hingga empat minggu setelah terinfeksi. Gejala yang muncul biasanya seperti:

  • Mual
  • Diare
  • Perut kram
  • Penurunan berat badan
  • Demam
  • Nyeri di bagian kanan atas perut
  • Pembengkakan pada hati.

Pengobatan alami

Pengobatan disentri secara alami, sebaiknya dilakukan juga dengan analisis penyebab dan peningkatan kebersihan. Beberapa obat alami yang dapat menjadi pilihan, yaitu:

1. Teh hitam

Teh hitam dapat berfungsi sebagai astringen yang dapat mendinginkan perut yang terinfeksi. Kandungan  karbon dan katekin dalam teh hitam juga sangat bermanfaat untuk meluruhkan toksin dari pencernaan dan memadatkan feses.

Pengobatan menggunakan teh hitam dapat dilakukan dengan cara menyeduh teh hitam, dapat juga ditambahkan dengan madu sebagai pemanis. Sifat madu sebagai antiinflamasi alami juga dapat membantu meredakan peradangan pada usus.

2. Jamur kuping

Pemanfaatan jamur kuping untuk mengobati disentri dapat dilakukan dengan cara, merebus jamur kuping sebanyak 15 gram dalam air dua gelas dan biarkan menyusut hingga menjadi satu gelas, kemudian ramuan disaring dan dapat diminum.

Cara lainnya yang lebih mudah yaitu dengan cara dimakan secara langsung. Manfaat dari jamur kuping adalah membantu memadatkan feses sekaligus membantu mengangkat toksin dalam pencernaan.

3. Krokot dan sambiloto

Krokot dan sambiloto merupakan daun herbal yang mengandung beragam senyawa baik yang bersifat mengatasi peradangan dan infeksi. Krokot dan sambiloto dapat berguna sebagai antibakteri dan memiliki sifat memadatkan feses.

Selain itu, kedua tanaman ini mengandung beberapa jenis anti toksin yang efektif menyingkirkan toksin yang dilepaskan bakteri dan amuba dalam pencernaan.

4. Daun andong

Daun andong merupakan sejenis tanaman perdu yang memiliki khasiat unik dalam mengatasi produksi lendir yang tidak wajar dalam usus besar.

Daun andong juga membantu menyerap racun dalam usus besar yang  memicu feses menjadi cair. Terdapat pula kandungan anti inflamasi alami yang penting untuk mengatasi peradangan.

5. Jambu biji

Jambu biji merupakan buah yang sangat kaya akan zat astringen. Astringen ini bersifat basa dan memiliki sifat disinfektan dan antibakteri, sehingga dapat membantu menyembuhkan disentri dengan menghambat pertumbuhan mikroba dan mengeluarkan lendir ekstra dari usus.

6. Air kelapa

Air kelapa juga bisa digunakan sebagai obat tradisional untuk mengobati disentri. Di dalam air kelapa banyak terkandung zat elektrolit yang bisa membantu menggantikan cairan tubuh serta membunuh bakteri penyebab penyakit diare.

Penggunaan kelapa sebagai obat tradisional ini juga mudah dibuat, air kelapa murni dapat diminum secara langsung tanpa tambahan bahan apapun.

7.  Jeruk

Mengonsumsi jeruk dengan tambahan sedikit air atau jus dapat dijadikan sebagai alternatif pengobatan disentri. Buah jeruk  dapat membantu mendorong bakteri baik di dalam usus untuk tumbuh.

Kamu juga bisa menambahkan yoghurt sebagai prebiotik untuk membunuh bakteri jahat pada usus dan menghasilkan asam asetat.

8. Oralit alami

Pada saat terserang penyakit ini, harus selalu dipastikan bahwa penderita tidak mengalami dehidrasi. Untuk menghindari terjadinya dehidrasi dapat dilakukan pemberian oralit. Jika sedang dalam keadaan terdesak, oralit dapat dibuat sendiri dengan bahan-bahan yang ada di rumah.

Cara pembuatannya dapat dilakukan dengan cara yaitu yang pertama menyiapkan alat dan bahan. Penting untuk kamu mengecek kembali kebersihan peralatan yang digunakan. Kemudian siapkan 1 liter air dalam wadah dan tambahkan 6 sendok teh gula dan setengah sendok teh garam.

Idealnya, orang dewasa memerlukan sedikitnya 250 ml air racikan oralit ini setelah buang air besar. Jumlah oralit yang dibutuhkan agar terhindar dari dehidrasi perlu disesuaikan, dengan kondisi dan usia penderita.

Pengobatan medis

Jika kamu mengidap penyakit ini yang diakibatkan oleh bakteri, biasanya hanya perlu perawatan ringan dan banyak istirahat. Atau bisa juga menggunakan obat-obatan yang dijual di apotek, seperti bismuth subsalicylate untuk membantu meringankan kram dan diare.

Hal yang perlu kamu perhatikan saat terserang adalah sebaiknya kamu menghindari obat yang memperlambat pergerakan  usus, seperti loperamide ataupun obat atropin-difenoksilat, karena kedua obat tersebut dapat memperburuk kondisi penyakit ini.

Pada kasus disentri yang disebabkan oleh bakteri, perlu dilakukan pengobatan dengan menggunakan antibiotik. Golongan antibiotik yang biasanya diresepkan oleh dokter di antaranya adalah golongan  ceftriaxone, ciprofloxacin dan trimethoprim- sulfamethoxazole.

Sedangkan, disentri yang diakibatkan oleh amuba, pengobatan dapat dilakukan dengan metronidazole atau tinidazole. Obat-obatan ini membunuh berguna untuk parasit. Dalam beberapa kasus, obat lanjutan diberikan untuk memastikan semua parasit hilang.

Pencegahan

Kita dapat melakukan beberapa cara untuk mengurangi risiko terkena disentri. Hal-hal yang dapat kita lakukan, di antaranya adalah:

  • Mencuci tangan sebelum memegang, makan atau memasak makanan
  • Hindari berbagi handuk dengan orang lain
  • Pastikan air yang kita minum bersih dan bebas kontaminasi
  • Jika menggunakan air kran, rebuslah air terlebih dahulu.

Baca Juga: Waktu Olahraga Saat Puasa, Pagi atau Malam Hari?

Komplikasi

Jika kita tidak mengikuti arahan pengobatan yang sesuai, mungkin saja seseorang mengalami penyakit komplikasi. Pada kasus disentri, penyakit komplikasi lainnya yang mungkin terjadi dapat meliputi:

1. Ketidakseimbangan elektrolit

Elektrolit merupakan zat yang dibutuhkan oleh tubuh agar bisa bekerja secara normal. Pada kasus disentri ketidakseimbangan elektrolit akan terjadi, karena adanya diare yang menyertai penyakit ini pada seseorang.

Ketidakseimbangan kadar elektrolit bisa menimbulkan berbagai gangguan pada fungsi organ di dalam tubuh. Bahkan pada kasus yang berat, bisa menyebabkan kejang, koma, dan gagal jantung.

2. Obstruksi usus

Kondisi obstruksi usus dapat menimbulkan gangguan penyerapan makanan atau cairan, di dalam saluran pencernaan. Obstruksi usus merupakan kondisi adanya penyumbatan yang terjadi di dalam usus, baik usus halus maupun usus besar.

3. Abses hati

Abses hati dapat menjadi penyakit komplikasi, pada seseorang yang terkena disentri akibat amuba. Amuba dapat menginfeksi organ tubuh lainnya termasuk hati.

4. Artritis postinfectious

Komplikasi yang dapat menyerang seseorang yang terkena disentri adalah artritis postinfectious. Penyakit ini mengakibatkan seseorang dapat mengalami nyeri sendi, iritasi mata, dan sakit saat buang air kecil.

5. Kejang

Biasanya komplikasi ini jarang terjadi, namun pada anak-anak disentri dapat menimbulkan gejala berupa kejang. Meskipun umumnya tidak berbahaya, jika kejang terjadi secara terus menerus sebaiknya segera lakukan pemeriksaan medis.

6. Penyebaran infeksi

Penyebaran infeksi dikenal juga dengan sebutan sepsis, sepsis lebih sering terjadi pada orang yang mengalami gangguan kekebalan sistem imun tubuh. Sepsis dapat menyebabkan infeksi aliran darah (septikemia) atau kondisi di mana bakteri berhasil masuk ke dalam aliran darah.

7. Sindrom Uremik Hemolitik (HUS)

Sindrom Uremik Hemolitik (HUS) adalah kondisi ketika infeksi yang menyerang sistem pencernaan memproduksi racun yang kemudian merusak sel darah merah.

Itulah hal-hal mengenai disentri yang perlu kita ketahui. Kunci utama agar terhindar dari penyakit ini adalah dengan menjaga kebersihan lingkungan sekitar dan selalu menerapkan pola hidup sehat.

Jaga kesehatan kamu dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!

Reference

Zakaria, M.M., Mahzuni, D. and Septiani, A., 2019. IMPLEMENTASI PENGOBATAN ALTERNATIF SEBAGAI BENTUK KEARIFAN LOKAL PADA MASYARAKAT DESA MEKARGALIH KECAMATAN JATINANGOR KABUPATEN SUMEDANG. Dharmakarya, 8(1), pp.46-52. 

IMPLEMENTASI PENGOBATAN ALTERNATIF SEBAGAI BENTUK KEARIFAN LOKAL PADA MASYARAKAT DESA MEKARGALIH KECAMATAN JATINANGOR KABUPATEN SUMEDANG | Zakaria | Dharmakarya

Linked Id (2017) . Diakses pada 12 Mei 2020. Natural Home Remedies for the treatment of Dysentery

Healtgrades. Diakses pada 12 Mei 2020. Dysentery – Symptoms, Causes, Treatments

Healthline (2017). Diakses pada 12 Mei 2020. Dysentery: Symptoms, Treatment, and More

Medical News (2017). Diakses pada 12 Mei 2020. Everything you should know about dysentery

WebMd (2019). Diakses pada 12 Mei 2020. What is Dysentery

Nhs (2020). Diakses pada 12 Mei 2020. Dysentery

Bio differences (2017). Diakses pada 12 Mei 2020. Difference Between Diarrhea and Dysentery (with Comparison Chart)

    register-docotr