Kamus Penyakit

Difteri

April 29, 2020 | Dani Kosasih | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Difteri disebabkan oleh Corynebacterium diphteriae yang umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan.

Di Indonesia secara khusus, dan dunia pada umumnya, penyakit ini sempat terjadi sampai mencapai tingkat Kejadian Luar Biasa (KLB). Menurut data Centers for Disease Control and Prevention (CDC), angka kematian pada anak dengan usia kurang dari 5 tahun rata-rata mencapai 5-10 persen.

Sedangkan angka yang cukup tinggi, yaitu sekitar 20 persen terjadi pada orang dewasa dengan usia di atas 40 tahun.

Baca Juga: Harapan Sehat Penderita Diabetes, Terapkan Kardio dan Diet Rendah Kalori

Apa itu penyakit difteri?

Difteri adalah infeksi bakteri serius yang memengaruhi selaput lendir dan tenggorokan. Penyakit ini dapat menyebabkan terjadinya inflamasi pada bagian amandel (tonsil).

Penyakit ini menghalangi jalan napas yang akhirnya menyebabkan kamu yang terinfeksi akan mengalami kesulitan dalam bernapas.

Apa penyebab difteri?

Corynebacterium diphtheriae adalah bakteri utama penyebab tonsilitis difteri. Biasanya, penularan bakteri ini terjadi antara manusia ke manusia lainnya secara droplet (percikan ludah) dari batuk, bersin atau muntah.

Penyakit ini mudah menyebar dari satu orang ke orang lain. Selain itu, penularan juga bisa melalui alat makan, atau kontak langsung melalui persentuhan luka yang terbuka pada kulit.

Bahkan, seseorang juga bisa tertular karena bersentuhan dengan suatu benda, seperti mainan, yang tersentuh oleh bakteri yang menyebabkan difteri.

Siapa saja yang lebih berisiko terkena difteri?

Anak-anak di bawah usia 5 tahun dan orang dewasa di atas 60 tahun sangat berisiko untuk tertular infeksi. Meksipun demikian, orang-orang yang berisiko untuk tertular tonsilitis difteri juga meliputi:

  • Anak-anak dan orang dewasa yang tidak melakukan vaksinasi
  • Seseorang yang tinggal di lingkungan yang ramai dan tidak sehat
  • Seseorang yang berpergian ke daerah di mana infeksi difteri lebih sering terjadi

Difteri pada anak dapat menyebabkan gejala yang membuat mereka tidak nyaman. Oleh karenanya, sebaiknya segeralah tangani sejak dini.

Apa gejala dan ciri-ciri difteri?

Racun yang dihasilkan oleh bakteri penyebab penyakit ini akan membunuh sel-sel sehat dalam tenggorokan yang akhirnya akan menjadi sel-sel mati yang membentuk membran (lapisan tipis) abu-abu pada tenggorokan.

Selain itu, racun yang dihasilkan oleh bakteri juga berpotensi menyebar dalam aliran darah dan merusak jantung, ginjal, serta sistem saraf.

Penyaki ini umumnya memiliki masa inkubasi sekitar dua sampai lima hari sejak bakteri masuk ke tubuh. Gejalanya pun dapat dibedakan berdasarkan lokasi infeksi. Berikut beberapa di antaranya:

1. Difteri pernapasan

Ini merupakan kasus yang paling banyak ditemui. Bahkan, sebelum dikembangkannya pengobatan medis yang efektif, sekitar setengah dari kasus dengan gejala seperti ini meninggal dunia. Beberapa gejalanya adalah:

  •  Tubuh merasa lemah
  •  Tenggorokan terasa sakit
  •  Nyeri saat menelan
  •  Demam tidak tinggi atau kurang dari 38,5 derajat Celcius.

Pada keadaan yang lebih berat dapat ditandai dengan:

  •  Sulit menelan
  •  Sesak napas
  •  Pembengkakkan pada leher yang tampak seperti leher sapi (bullneck).

Khusus difteri pada anak, lokasi utama terdapat pada tenggorokan bagian atas dan bawah.

2. Difteri hidung

Meskipun zat racun yang dihasilkan oleh difteri hidung sulit diserap dalam tubuh, namun zat racun tersebut dapat dengan mudah menyebarkan infeksi kepada orang lain.

Gejala awal yang dialami penderita biasanya mirip seperti flu biasa yang kemudian berkembang membentuk membran atau selapun di jaringan antara lubang hidung yang disertai lendir dan dapat bercampur darah.

3. Difteri kulit

Gejala difteri kulit yang paling umum adalah terdapat ruam pada kulit. Kasus seperti ini adalah kasus yang paling jarang terjadi, khususnya di negar-negara dengan kondisi ekonomi yang baik.

Kasus ini banyak dilaporkan menyerang para tuna wisma dan biasanya terjadi di daerah-daerah tropis. Kondisi yang paling sering ditemui berawal dari infeksi yang terjadi di daerah terbuka pada kulit yang mampu melebar dan menimbulkan rasa sakit selama beberapa minggu atau lebih.

Infeksi difteri kulit dapat menularkan bakteri ke saluran pernapasan pada orang yang mengalami penurunan imunitas. Namun, meski begitu, infeksi pada kulit ini tergolong ringan karena dapat dengan mudah diobati.

Kasus seperti ini biasanya terjadi tanpa gejala dan bisa menjadi penular karena mereka dapat menyebarkan bakteri tanpa diketahui bahkan oleh dirinya sendiri. Orang yang terinfeksi yang tidak sadar akan penyakitnya dikenal sebagai carrier difteri.

Apa saja komplikasi yang mungkin terjadi akibat difteri?

Jika tidak segera diobati, racun dari bakteri akan menyebabkan komplikasi yang serius dan mengancam jiwa khususnya pada anak-anak dan lansia. Beberapa komplikasi yang mengancam jiwa, seperti:

1. Masalah pernapasan

Racun yang dihasilkan dari bakteri penyebab penyakit ini akan merusak jaringan di area infeksi langsung seperti hidung dan tenggorokan. Di area tersebut, infeksi menghasilkan membran berwarna abu-abu yang terdiri dari sel-sel mati yang akan menghambat saluran pernapasan.

2. Kerusakan jantung

Toksin atau racun dapat menyebar melalui aliran darah dan merusak jaringan lain di tubuh yang akan menyebabkan komplikasi seperti peradangan otot jantung (miokarditis).

Komplikasi ini dapat menyebabkan masalah seperti detak jantung yang tidak teratur, gagal jantung, dan kematian mendadak.

3. Kerusakan saraf

Racun penyakit ini dapat merusak saraf yang membantu mengendalikan otot yang digunakan untuk bernapas. Jika otot-otot ini menjadi lumpuh, maka kamu mungkin perlu bantuan mekanis untuk bernapas.

4. Difteri hipertoksik

Hipertoksik adalah bentuk komplikasi yang paling berbahaya. Difteri hipertoksik ini akan memicu pendarahan yang parah hingga menyebabkan gagal ginjal.

Bagaimana cara mengatasi dan mengobati difteri?

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengobati tonsilitis difteri. Berikut adalah penjelasan selengkapnya.

Perawatan di dokter

Dokter akan menanyakan beberapa hal seputar gejala yang kamu alami. Jika diperlukan, dokter juga akan mengambil sampel dari lendir di tenggorokan, hidung, atau ulkus di kulit untuk diperiksa di laboratorium.

Apabila kamu diduga kuat mengalami atau telah tertular, maka dokter akan segera melakukan tindakan pengobatan. Tindakan tersebut bisa dilakukan bahkan sebelum ada hasil pasti dari laboratorium.

Bagi kamu yang terinfeksi dan mengalami kesulitan bernapas, dokter akan menganjurkan proses pengangkatan membran (selaput). Sedangkan penderita dengan gejala pada kulit, akan dianjurkan untuk membersihkannya dengan sabun dan air secara rutin.

Cara mengatasi difteri secara alami di rumah

Sembuh dari penyakit ini membutuhkan banyak istirahat. Sebaiknya hindarilah melakukan aktivitas fisik apapun. Kamu juga mungkin memerlukan mendapatkan nutrisi melalui cairan dan makanan lunak untuk sementara waktu karena kesulitan untuk menelan.

Isolasi yang ketat diperlukan untuk mencegah penularan penyakit, terutama pada carrier. Tak hanya itu, selalu menuci tangan dengan benar sangat penting dilakukan untuk membatasi penyebaran infeksi.

Apa saja obat difteri yang biasa digunakan?

Untuk mengatasi tonsilitis difteri, berikut adalah obat yang biasa digunakan.

Obat difteri di apotek

Untuk mengobati penyakit ini, sebaiknya konsumsilah obat-obatan yang diresepkan oleh dokter. Hal ini dimaksudkan agar terhindar dari efek samping yang mungkin dapat ditimbulkan.

Anjuran yang akan diberikan oleh dokter adalah isolasi diri di ruang perawatan di rumah sakit dengan memberikan kamu dua jenis obat.

Antibiotik

Dokter akan memberikan kamu antibiotik untuk membunuh bakteri dan menyembuhkan infeksi. Dosis penggunaan antibiotik tergantung pada tingkat keparahan gejala dan lamanya tubuh kamu saat menderita penyakit ini.

Biasanya, akan dibutuhkan waktu selama dua minggu bagi kamu untuk mengkonsumsi antibiotik sesuai anjuran dokter. Namun, sebagian besar penderita telah dapat keluar ruang isolasi setelah mengkonsumsi antibiotik selama dua hari.

Setelah dua minggu mengkonsumsi antibiotik, kamu akan menjalani pemeriksaan laboratorium untuk melihat ada tidaknya bakteri dalam aliran darah. Jika bakteri tersebut masih ditemukan dalam tubuh, maka dokter akan melanjutkan penggunaan antibiotik selama 10 hari.

Antitoksin

Pemberian antitoksin berfungsi untuk menetralisasi toksin atau racun difteri yang menyebar dalam tubuh. Sebelum memberikan antitoksin, dokter akan mengecek apakah tubuh kamu memiliki alergi terhadap obat tersebut atau tidak.

Apabila terjadi reaksi alergi, dokter akan memberikan antitoksin dengan dosis rendah dan perlahan-lahan meningkatkannya sembari melihat perkembangan kondisi tubuhmu.

Obat difteri alami

Untuk mengobati penyakit ini, kamu juga dapat mencoba pengobatan alami. Berikut adalah pengobatan alami untuk tonsilitis difteri seperti yang dilansir dari Timesnownews.com.

  • Bawang putih: Bawang putih merupakan obat rumahan yang efektif untuk mengobati berbagai penyakit, termasuk difteri
  • Nanas: Mengonsumsi jus nanas dapat membantu melegakan tenggorokan, yang mana dapat mengurangi gejala kondisi ini. Jus nanas sendiri juga mengandung beta-karoten yang dapat membantu menyembuhkan difteri
  • Daun kemangi: Sifat antibakteri daun kemangi dapat membantu penyembuhan infeksi saluran pernapasan

Meskipun demikian, sebaiknya sebelum melakukan perawatan rumahan ini, ada baiknya berkonsultasi terlebih dahululah pada dokter, untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai obat tonsilitis difteri alami tersebut.

Baca Juga: Para Gamer Online, Hati-Hati Penyakit Tangan Ini Mengintai Kamu

Apa saja makanan dan pantangan untuk penderita difteri?

Sama seperti kebanyakan penyakit lainnya, difteri juga memiliki beberapa makanan yang harus dihindari. Di antaranya adalah:

  • Makanan pedas
  • Makanan berminyak dan berlemak
  • Alkohol

Bagaimana cara mencegah difteri?

Sebelum antibiotik tersedia, penyakit ini umum yang terjadi pada anak kecil. Saat ini, penyakit ini bukan hanya dapat diobati saja, tetapi juga dapat dicegah. Di antaranya dengan menjaga kebersihan dan imunisasi.

Imunisasi difteri sebagai langkah pencegahan

Melakukan imunisasi difteri dengan pemberian vaksin merupakan langkah paling baik untuk melakukan pencegahan, baik difteri pada orang dewasa, difteri pada anak, maupun pada carrier difteri.

Sejak vaksin toxoid difteri diperkenalkan pada tahun 1940-an, secara global pada periode tahun 1980 hingga tahun 2000, total kasus menurun lebih dari 90 persen.

Di Indonesia sendiri, imunisasi DPT atau Difteri, Pertusis, dan Tetanus dimulai pada tahun 1976 dan diberikan tiga kali, yaitu pada bayi usia dua bulan, tiga bulan dan empat bulan.

Sekarang, pemberian vaksin telah berkembang dan dilakukan sebanyak lima kali. Yaitu pada saat anak berusia dua bulan, tiga bulan, empat bulan, satu setengah tahun, dan lima tahun. Selanjutnya dapat diberikan booster dengan vaksin sejenis (Tdap/Td) pada usia 10 tahun dan 18 tahun.

Imunisasi lanjutan yang dimasukkan ke dalam program imunisasi rutin pada usia 18 bulan ini dimulai sejak tahun 2014 serta imunisasi Td yang juga menggantikan imunisasi TT pada anak sekolah dasar.

Jenis vaksin imunisasi difteri

Perlindungan paling optimal pada masyarakat dapat dicapai dengan cakupan imunisasi rutin, baik dasar maupun lanjutan. Cakupan harus mencapai minimal 95 persen dan merata di setiap kabupaten/kota, dan tetap dipertahankan.

Berikut jenis vaksin untuk imunisasi rutin dan imunisasi lanjutan yang diberikan guna mencegah penyakit ini hingga saat ini:

  • DPT-HB-Hib (vaksin kombinasi mencegah Difteri, Pertusis, Tetanus, Hepatitis B dan Meningitis serta Pneumonia yang disebabkan oleh Haemophylus infuenzae tipe B)
  • DT (vaksin kombinasi Difteri Tetanus)
  • Td (vaksin kombinasi Tetanus Difteri)

Kamu juga perlu mengetahui bahwa apabila imunisasi DPT terlambat diberikan, maka imunisasi kejaran yang akan diberikan tidak akan mengulang dari awal.

Bagi anak di bawah usia tujuh tahun yang belum melakukan imunisasi DPT atau melakukan imunisasi yang tidak lengkap, masih dapat diberikan imunisasi kejaran dengan jadwal sesuai anjuran dokter.

Namun, bagi anak yang sudah berusia 7 tahun dan belum lengkap melakukan vaksin DPT, terdapat vaksin sejenis yang bernama Tdap untuk diberikan. Perlindungan tersebut umumnya dapat melindungi anak seumur hidup.

Pastikan untuk mengecek kesehatan Anda dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Download di sini untuk berkonsultasi dengan mitra dokter kami.

Reference

idionline.org diakses 26 April 2020. penatalaksanaandifteri.pdf

kemkes.org.id (2017) diakses 26 April 2020. http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/wp-content/uploads/2018/01/buku-pedoman-pencegahan-dan-penanggulangan-difteri.pdf

cdc.gov diakses 26 April 2020. https://www.cdc.gov/diphtheria/about/causes-transmission.html

kemkes.go.id (2018) diakses 26 April 2020. http://yankes.kemkes.go.id/read-mengenal-difteri-4303.html

mayoclinic.org diakses 26 April 2020. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/diphtheria/symptoms-causes/syc-20351897

tirto.id (2017) diakses 26 April 2020. https://tirto.id/penyakit-difteri-imunisasi-satu-satunya-cara-mencegah-penularan-cBzE

healthline (2018) diakses 15 September 2020. https://www.healthline.com/health/diphtheria

timesnownews.com (2018) diakses 15 September 2020 https://www.timesnownews.com/health/article/diphtheria-symptoms-causes-treatment-prevention-and-home-remedies-for-bacterial-infection/289660

kids Health (2016) diakses 15 September 2020 https://kidshealth.org/en/parents/diphtheria.html

m Tatva Health-PIE (2016) diakses 15 September 2020 https://www.mtatva.com/en/disease/diphtheria-treatment-diet-and-home-remedies/

    register-docotr