Kamus Penyakit

Sering Incar Perempuan, Kenali Gejala Batu Empedu

May 9, 2020 | Dewi Nurfitriyana | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Salah satu jenis penyakit yang umum ditemukan pada orang dewasa di Indonesia adalah batu empedu. Tak hanya sering ditemukan pada kaum hawa, orang yang mengalami kelebihan berat badan juga termasuk kategori yang rentan terkena penyakit ini.

Meski sering kali penderita batu empedu tidak merasakan gejala yang signifikan, namun tetap saja penyakit ini tak bisa dianggap remeh karena berbahaya dalam jangka panjang.

Untuk mengenali gejala dan fakta-fakta lain seputar penyakit batu empedu yang perlu diketahui, ada baiknya kamu membaca ulasan di bawah ini:

Baca Juga: 6 Manfaat Ginseng Bagi Tubuh: Tambah Stamina hingga Turunkan Gula Darah

Apa itu batu empedu?

Setiap orang memiliki sebuah organ yang dinamakan kantung empedu di dalam tubuhnya. Ia berfungsi sebagai ‘tas penyimpanan’ cairan empedu yang membantu proses pencernaan. Dalam kondisi normal, cairan ini akan berwarna hijau kekuningan.

Walaupun penderitanya sering tidak merasakan rasa sakit yang intens, namun gejala yang sering ditemukan pada penyakit ini adalah nyeri pada perut bagian bawah. Rasa sakit ini bisa timbul dan hilang tergantung pada tipe batu empedu yang diderita.

Pada beberapa kasus ada juga penderita yang mengeluhkan rasa sakit di perut bagian atas. Gejala ini sering disalahartikan sebagai angin duduk atau serangan jantung.

Bagaimana batu empedu terbentuk?

batu empedu
Batu empedu di dalam plastik. Sumber foto: Shutterstock

Kantung empedu pada manusia berbentuk seperti buah pir. Ia terletak persis di bawah organ hati yang menghasilkan cairan empedu. Cairan ini merupakan komponen penting dalam sistem pencernaan karena berfungsi mencerna lemak dan menghancurkan zat-zat racun yang berbahaya bagi tubuh.

Setiap hari sel-sel liver mengeluarkan cairan empedu, mengalirkannya ke sebuah kanal kecil yang disebut canaliculi. Selanjutnya masuk ke dalam saluran empedu melalui dua jalan masuk:

  1. Saluran empedu yang mengarah langsung kepada usus untuk bercampur dengan sari-sari makanan untuk dicerna lebih lanjut.
  2. Menuju ke cabang saluran empedu lainnya yang disebut cystic duct lalu berakhir di kantung empedu. Jika kantung empedu yang dimasuki terlalu penuh, cairan ini bisa berubah menjadi pekat dan mengeras menjadi batu

Ketika cairan empedu yang dihasilkan tidak mampu melarutkan kolesterol dan bilirubin yang terlalu banyak, cairan ini akan mengendap dan mengkristal menjadi batu-batu kecil.

Penyebab munculnya batu empedu

Dilansir dari medicinenet.com, berdasarkan publikasi penelitian yang dilakukan oleh Harvard, 80% penyakit ini disebabkan oleh kadar kolesterol yang tinggi di dalam tubuh. Sisanya baru diakibatkan kandungan garam kalsium dan bilirubin yang berlebihan.

Meski hingga kini belum ada satu penelitian pun yang dapat menentukan penyebab utama terjadinya batu empedu, namun beberapa teori mengindikasikan hal-hal di bawah ini sebagai penyebabnya:

Kadar kolesterol terlalu tinggi

Menimbulkan batu kolesterol berwarna kuning yang cukup keras dan semakin banyak, apabila liver terus menerus menghasilkan kolesterol yang tidak dapat larut dalam cairan empedu.

Terlalu banyak bilirubin bisa sebabkan batu empedu

Bilirubin adalah zat kimia yang dihasilkan ketika organ hati menghacurkan sel-sel darah merah yang telah rusak. Pada kondisi tertentu, kerusakan fungsi liver atau gangguan sistem peredaran darah juga dapat membuat hati memproduksi kadar bilirubin yang lebih tinggi dari seharusnya.

Batu empedu berwarna coklat tua atau hitam adalah tipe yang akan terbentuk ketika saluran empedu gagal menghancurkan kelebihan bilirubin tersebut.

Cairan empedu yang menjadi pekat

Saluran empedu idealnya harus kosong agar tetap sehat dan mampu berfungsi dengan optimal. Apabila gagal mengosongkan diri, cairan empedu yang ada di dalamnya akan memekat dan menyebabkan terbentuknya batu empedu.

Gejala dan ciri-ciri batu empedu

Sebagian besar orang tidak menyadari bahwa dirinya sebenarnya menderita gangguan kesehatan yang satu ini. Mereka baru sadar ketika melakukan serangkaian tes seperti ultrasound atau x ray pada perutnya.

Meski begitu dilansir dari medicinenet.com, 10% penderita batu empedu yang semula tidak sadar lambat laun akan mengalami gejala yang semakin signifikan dan memburuk.

Adapun gejala yang umum terjadi diberi istilah medis biliary colic. Ini merupakan tanda utama yang dirasakan 80% penderita penyakit ini. Kondisi ini muncul akibat saluran empedu (baik cystic, maupun hepatic) yang tiba-tiba tidak berfungsi karena tehalangi oleh batu. Secara umum ciri-ciri dari gejala ini adalah sebagai berikut:

  1. Menimbulkan rasa sakit berkepanjangan
  2. Berlangsung selama 15 menit dan paling lama 4-5 jam. Apabila durasi rasa sakit sampai 5 jam, ini merupakan pertanda bahwa batu empedu yang dialami telah menimbulkan komplikasi seperti cholecystitis.
  3. Rasa sakitnya biasanya tidak bisa ditoleransi namun bisa dikurangi dengan merebahkan diri atau berjalan-jalan.
  4. Pada beberapa kasus, rasa sakit yang muncul juga bisa timbul di bagian punggung, tepatnya pada ujung bawah tulang belikat sebelah kanan.
  5. Meski jarang terjadi, rasa sakit juga bisa muncul di bawah tulang dada sehingga sering disalahartikan sebagai angin duduk.
  6. Nyeri yang ditimbulkan biliary colic umumnya mereda secara bertahap begitu batu empedu bergeser ke dalam saluran empedu sehingga tak lagi menghalangi kantung empedu.
  7. Biliary colic biasanya adalah gejala yang terjadi berulang kali. Jadi sekali kamu mengalaminya, kemungkinan besar ini akan terjadi lagi di masa yang akan datang.

Selain biliary colic, beberapa gejala batu empedu lain yang bisa muncul adalah sebagai berikut:

  1. Mual
  2. Muntah
  3. Air seni berwarna gelap
  4. Tinja berwarna tanah liat
  5. Sendawa, dan
  6. Gangguan pencernaan

Gangguan kesehatan mungkin tidak hilang setelah batu empedu diangkat

Membuang batu empedu atau biasa disebut dengan tindakan medis (cholecystectomy) relatif dapat menghilangkan gejala-gejala penyakit ini, kecuali apabila terdapat beberapa kondisi di bawah ini:

  1. Batu empedu tertinggal di saluran empedu
  2. Ada masalah kesehatan lain di saluran empedu
  3. Batu empedu bukan penyebab utama gejala penyakit yang ditimbulkan

Jenis-jenis batu empedu

Ada beberapa jenis batu empedu tergantung material pembentuknya, di antaranya:

Batu empedu kolesterol

Kolesterol merupakan zat yang harus diencerkan dalam cairan empedu agar tubuh terhindar dari kadar yang melebihi batas wajar. Agar cairan empedu dapat melakukannya, kolesterol harus larut di dalam kantung empedu.

Perlu diingat kolesterol sendiri adalah lemak, dan cairan empedu adalah zat yang memiliki karakteristik air. Seperti yang kita tahu, lemak tidak dapat langsung larut di dalam air. Oleh karena itu agar proses pelarutan ini bisa terjadi, hati akan memproduksi dua ‘detergen’ yakni asam empedu dan lecithin.

Ketika kolesterol yang ada terlalu banyak dibanding kedua detergen ini, tidak semua kolesterol akan ‘tercuci’ dan ia akan tersisa sehingga membentuk batu-batu empedu.

Batu empedu pigment

Pigment merupakan sampah yang dihasilkan dari hemoglobin. Ketika sel darah merah di dalam tubuh rusak dan dihancurkan, ia akan berubah menjadi senyawa kimia yang dinamakan bilirubin dan terlepas ke dalam darah. Bagaimana proses ini bisa sampai menghasilkan batu empedu pigment?

Batu pigment bewarna hitam

Apabila terdapat kandungan bilirubin terlalu banyak dalam cairan empedu, saat ia bercampur dengan zat-zat lain seperti kalsium akan membentuk pigment yang tidak dapat larut dengan baik di dalam cairan empedu.

Seperti halnya kolesterol, ia akan menumpuk, menempel satu sama lain dan membentuk partikel yang tumbuh membesar menjadi batu hitam yang keras.

Batu pigment berwarna coklat

Jika terjadi penyusutan pada saluran empedu, bakteri dari usus dua belas jari akan naik menuju saluran dan kantung empedu. Bakteri lalu bercampur dengan kalsium dan pada akhirnya menyebabkan terjadinya batu pigmen yang berwarna coklat.

Faktor yang meningkatkan risiko batu empedu

Secara medis beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya penyakit ini adalah;

  1. Jenis kelamin, di mana perempuan lebih berisiko dibanding laki-laki
  2. Usia, semakin tua usia seseorang umumnya ia menjadi lebih rentan terhadap penyakit ini
  3. Kehamilan menyebabkan produksi cairan empedu dengan kolesterol yang lebih banyak. Pada saat ini saluran empedu juga tidak dapat berfungsi secara normal. Kombinasi keduanya disebabkan oleh perubahan hormon selama hamil.
  4. Terapi hormon dan pil KB juga menjadi faktor pemicu karena pada dasarnya keduanya dapat memengaruhi produksi hormon di dalam tubuh.
  5. Penyakit crohn, penderita autoimun jenis ini hanya memiliki sedikit asam empedu sehingga tidak ada cukup detergen untuk mencuci kolesterol di dalam tubuh.

Komplikasi akibat batu empedu

Penyakit ini dapat mengalami komplikasi yang disebut cholecystitis akut. Ini terjadi karena batu empedu menghalangi saluran empedu. Di balik ‘halangan’ tersebut terdapat akumulasi cairan yang membuat saluran dan kantung empedu lama kelamaan menggelembung dan menyebabkan komplikasi ini.

Beberapa gejala yang menunjukkan komplikasi ini di antaranya adalah:

  1. Rasa sakit yang amat sangat pada bagian atas perut atau tengah kanan punggung
  2. Demam
  3. Meriang
  4. Kehilangan selera makan
  5. Mual, dan
  6. Muntah

Bagaimana mendiagnosis penyakit ini

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik terlebih dulu seperti mengecek kondisi mata dan kulit untuk melihat apakah terdapat perubahan warna yang signifikan atau tidak.

Jika terdapat warna kuning, bisa jadi itu menunjukan penyakit kuning sebagai akibat dari banyaknya bilirubin di dalam tubuh. Tes lain yang dimungkinan terjadi di antaranya adalah:

  1. Ultrasound untuk menghasilkan gambar perut. Ini akan membantu dokter melihat apa gejala yang kamu rasakan disebabkan oleh batu empedu atau acute cholecystitis.
  2. CT scan pada perut, untuk mengambil gambar hati dan bagian dalam perut.
  3. Scan radionuclide pada saluran empedu, dilakukan selama kurang lebih satu jam ini merupakan tes penting yang menyuntikkan zat radioaktif ke dalam nadi. Zat tersebut akan mengalir ke dalam darah, hati, dan terakhir kantung empedu. Selanjutnya dokter akan melihat apakah ada batu yang menghalangi saluran empedu atau tidak.
  4. Tes darah, untuk mengukur kadar bilirubin dalam darah dan melihat apakah organ hati dapat bekerja dengan baik atau tidak.
  5. Endoscopic retrograde cholangiopancreatography (ERCP), dilakukan dengan menggunakan kamera dan x ray, tes ini bertujuan untuk melihat masalah di dalam cairan empedu atau saluran pankreas.

Baca Juga: Agar Kembali Percaya Diri, Begini Cara Menghilangkan Stretch Mark

Pengobatan yang dapat dilakukan

Pada umumnya penyakit ini tidak memerlukan pengobatan apapun selama tidak menimbulkan rasa sakit. Bahkan tanpa sadar kamu bisa mengeluarkan batu empedu begitu saja. Namun apabila dirasa gejala yang ada semakin parah, maka kamu disarankan untuk segera berkonsultasi pada dokter.

Juga jika kamu tergantung kategori risiko tinggi yang perlu dioperasi karena adanya komplikasi, sebuah tabung drainase kemungkinan akan ditempatkan di kantung empedu melalui kulit untuk membantu mengeluarkan batu empedu dari dalam tubuh.

Beberapa suplemen tambahan seperti vitamin C, zat besi dan lecithin juga dapat membantu mencegah penyakit batu empedu. Konsultasikan pada dokter terkait dosis yang harus kamu terima terlebih dulu, ya.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

Gallstones (Pain, Symptoms, Causes, Diet, and Treatment), https://www.medicinenet.com/gallstones/article.htm#gallstone_definition_and_facts diakses pada 8 Mei 2020

Understanding Gallstones: Types, Pain, and More, https://www.healthline.com/health/gallstones diakses pada 8 Mei 2020

    register-docotr