Kamus Obat

Sebelum Konsumsi, Pelajari Dosis, Manfaat dan Efek Samping Kortikosteroid si Obat Peradangan hingga Gatal

June 16, 2020 | Dhiamara Arradea
feature image

Kamu pernah mendengar obat kortikosteroid? Steroid merupakan bahan kimia yang terjadi secara alami di dalam tubuh. Tubuh memiliki dua buah kelenjar adrenal yang terdiri dari dua organ endokron, di mana yang satu mengelilingi yang lain.

Bagian pertama, medula adrenal mensekresi katekolamin. Bagian kedua, kortkes adrenal menyusun 80 persen bagian kelenjar dan terdiri dari tiga lapisan, zona glomerulasa, fasikulata, retikularis.

Baca Juga: Bumil, Biar Enggak Deg-degan Yuk Cari Tahu Bagaimana Proses Melahirkan

Apa itu obat kortikosteroid?

Kortikosteroid merupakan obat yang mengandung hormon steroid yang diperlukan oleh tubuh. Dilansir dari familydoctor.org, steroid merupakan jenis obat dengan efek anti-inflamasi yang kuat. Obat ini mampu membantu, mengurangi kemerahan, pembengkakan, dan rasa nyeri.

Dalam sebuah riset pun, mengatakan kortikosteroid ini sudah banyak dipakai sejak tahun 1940-an sebagai anti-inflamasi dan gangguan autoimun.

Kortikostreoid juga sering digunakan untuk terapi alergi dan gangguan pada pernapasan atau penyakit obstruksi pulmonar kronik, gangguan kulit, saluran pencernaan sebagai anti-poliveratif.

Obat kortikosteroid oral

Apabila kamu mengalami peradangan (inflamasi) dan alergi, kamu dapat menggunakan jenis obat kortikostreoid yang dikonsumsi secara oral atau diminum. Selain itu kamu juga dapat melakukannya secara injeksi atau melalui suntikan.

Dilansir dari patient.info, kelompok yang paling umum digunakan kortikosteroid adalah glukokortikoid di mana dalam kelompok ini termasuk steroid seperti:

  • Prednisolon. Umumnya digunakan untuk membantu mengendalikan kondisi peradangan dan alergi seperti asma, rheumatoid arthiritis dan colitis. Obat ini disebut juga dengan Deltacortril®; Deltastab®; Dilacort®; Pevanti®. Tersedia dalam bentuk tablet, tablet salut enterik, tablet larut, larutan oral dan injeksi.
  • Betametason. Umumnya digunakan  untuk kondisi alergi dan inflamasi; dan kelainan bawaan kelenjar adrenal biasa disebut congenital adrenal hyperplasia (CAH).  Obat ini disebut juga dengan betametason natrium fosfat dan tersedia dalam bentuk tablet.
  • Dexametason. Umumnya digunakan untuk kondisi alergi dan inflamasi; kelainan kelenjar adrenal bawaan yang disebut hiperplasiaadrenal congenital (CAH); diagnosis penyakit cushing; bersama kemotrapi; kontrol gejala dalam perawatan paliatif; dan pada anak-anak, croup. Tersedia dalam tablet, obat cair oral, obat tetes mata dan injeksi
  • Hidrokortison. Umumnya digunakan untuk perawatan pengganti kortisol pada orang dengan penyakit Addison atau setelah operasi pengangkatan kelenjar adrenal. Obat ini disebut juga dengan Plenadren® (tablet pelepasan yang dimodifikasi). Tersedia dalam tablet dan tablet pelepas termodifikasi.
  •  Metilpredinsolon. Umumnya digunakan untuk kondisi alergi dan inflamasi. Obat ini disebut juga Medrone®. Tersedia dalam bentuk tablet.
  • Deflazacot. Umumnya digunakan untuk kondisi alergi dan inflamasi pada orang dewasa atau anak-anak. Obat disebut juga Calcort®. Tersedia dalam bentuk tablet.

Kenapa steroid oral diresepkan dan berapa dosisnya?

Dilansir dari patient.info steroid oral akan digunkaan untuk mengobati sejumlah besar kondisi seperti

  • Penyakit radang usus
  • Penyakit autoimun
  • Penyakit sendi dan otot
  • Alergi
  • Asma
  • Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK)

Steroid juga dapat mengobati beberapa kanker, selain itu obat ini dapat diresepkan sebagai pengobatan pengganti untuk orang-orang yang kekurangan steroid alami sendiri.

Dosisnya pun akan bervariasi baik itu individual maupun yang diresepkan. Untuk waktu yang singkat biasanya dosis yang diberikan relatif tinggi dan diresepkan setiap hari, selama beberapa hari atau satu minggu lebih.

Kemudian apabila untuk waktu yang lebih lama, dan berencana melakukan perawatan umum yaitu memulai dengan dosis tinggi untuk mengendalikan gejala yang nantinya akan dikurangi secara perlahan.

Efek samping dan beberapa kemungkinan

Pemberian steroid secara singkat biasanya tidak menyebabkan efek samping berlebih. Misal dalam kurun waktu 1 hingga 2 minggu. Efek samping akan lebih mungkin terjadi apabila kamu menggunakannya untuk waktu jangka panjang (lebih dari 2-3 bulan).

Semakin tinggi dosisnya maka semakin besar pula risiko efek sampingnya. Untuk beberapa penyakit, manfaat dari penggunaan steroid biasanya lebih besar daripada efek sampingnya. Namun, efek samping terkadang menyusahkan.

Berikut beberapa efek samping utama yang mungkin terjadi.

  • Penipisan tulang (osteoporosis). Namun, ada beberapa obat yang dapat membantu melindungi dari ini jika risikonya tinggi
  • Berat badan bertambah
  • Peningkatan kemungkinan infeksi, karena steroid dapat menekan sistem kekebalan tubuh
  • Dapat mengaktifkan kembali TB (tuberculosis)
  • Tekanan darah meningkat
  • Gula darah tinggi (hipeglikemia)
  • Masalah kulit
  • Kelemahan otot
  • Perubahan mood dan perilaku
  • Peningkatan risiko terkena katarak
  • Peningkatan risiko ulkus duodenum dan ulkus lambung

Obat kortikosteorid topical

Dilansir dari pionas.pom.ac.id, kortkosteroid topical umumnya digunakan untuk mengganti radang kulit yang bukan disebabkan oleh infeksi. Kortikosteroid, menekan berbagai komponen reaksi pada saat digunakan saja.

Kortikosteroid sendiri bukanlah obat untuk menyembuhkan, karena bila pengobatan dihentikan kondisi semula mungkin muncul lagi.

Obat-obatan ini diindikasi hanya untuk menghilangkan gejala dan penekanan tanda-tanda penyakit. Obat ini juga tidak boleh digunakan sembarang gatal dan tidak direkomendasikan untuk akne vulgaris.

Kortikosteroid sistemik atau optikal yang kuat sebaiknya dihindari atau diberikan pada psoriaris dibawah pengawasan dokter spesialis. Pemakaian topical yang kuat dapat menimbulkan efek samping sistemik dan lokal.

Untuk psorias feksural di wajah hanya perlu meresepkan kortikosteroid yang lebih lemah untuk jangka waktu singkat (2-4 minggu) sedangkan untuk kasus kulit kepala dapat menggunakan kortikosteroid yang lebih kuat seperti betametason atau fluosinoid.

Kortikosteroid topical tersedia dalam beberapa bentuk:

  • Krim
  • Lotion
  • Gel
  • Salep
  • Mousses

Selain itu, obat ini terbagi menjadi 4 kekuatan (potensi) yang berbeda:

  • Ringan
  • Moderat
  • Ampuh
  • Sangat kuat

Kortikosteroid ringan, seperti hidrokortison, dapat dibeli bebas di apotek sedangkan jenis yang lebih kuat hanya boleh mengikuti saran dokter.

Siapa saja pengguna obat kortikosteroid?

Kebanyakan orang dewasa dan anak-anak dapat menggunakan kortkosteroid topical dengan aman. Tetapi ada situasi di mana mereka tidak dianjurkan.

  • Kamu memiliki luka di kulit atau infeksi pada kulit, kecuali dengan saran dokter
  • Memiliki kondisi kulit tertentu, termasuk jerawat, rosacea dan bisul kulit (kulit terbuka)

Seperti dilansir dari nhs.uk, umumnya obat ini dianggap aman untuk wanita hamil dan menyusui, dapat dianggap aman bila setelahnya kamu mencuci krim steroid yang dioleskan ke payudara sebelum menyusui. Kortikosteroid yang sangat kuat tidak dianjurkan untuk wanita amil dan menyusui.

Pemakaian untuk anak-anak

Anak-anak khususnya bayi sangat rentan terhadap efek samping. Namun, mereka tetap masih bisa menggunakannya dengan tujuan untuk mengatasi kondisi sebaik mungkin.

Kortikosteroid lemah seperti salep atau krim hidrokortison 1 persen bermanfaat untuk mengobati ruam popok dan untuk eksim pada masa anak-anak.

Kortikosteroid yang sangat paten hanya dapat digunakan berdasarkan konsultasi dengan dokter spesialis kulit. Obat ini dapat digunakan anak-anak dalam kondisi berikut:

  • Gigitan dan sengatan serangga, obat dengan potensi ringan seperti krim hidrokortison 1 persen
  • Ruam kulit yang disertai inflamasi berat akibat penggunaan popokpada bayi di atas 1 bulan, obat dengan potensi ringan seperti hidrokortison 0,5 persen atau 1 persen selama 5-7 hari.
  • Eksim ringan hingga sedang flexural dan eksim wajah atau psoriasis. Dalam kasus eksim ringan dapat menggunakan hidrokortison 1 persen.
  • Eksim berat di sekitar badan dan lengan pada anak usia di atas 1 tahun. Kortikosteroid dengan potensi kuat dapat digunakan selama 1 sampai tiga minggu. Kemudian, ganti dengan dengan potensi lebih ringan saat kondisi membaik.
  • Eksim di sekitar area kulit yang mengeras seperti telapak kaki. Kortikosteroid topical dengan potensi kuat dalam kombinasi dengan urea atau asma salisilat.

Efek samping dari kortikosteroid topical

Bila obat ini digunakan secara benar tentu tidak akan menimbulkan efek samping yang serius. Dilansir dari nhs.uk, efek samping paling umum dari obat ini adalah sensasi terbakar atau menyengat ketika obat diterapkan. Namun, nantinya akan kembali membaik karena kulit kamu terbiasa dengan perawatan.

Efek samping yang kurang umum dapat meliputi:

  • Perburukan atau pemberian infeksi kulit yang kamu sudah miliki
  • Folikel rambut yang meradang (folliculitis)
  • Penipisan kulit
  • Stretch mark, yang cenderung permanen meskipun akan berkurang seiring waktu.
  • Dermatitis kontak, yang merupakan iritasi kulit dan disebabkan oleh reaksi alergi ringan terhadap zat-zat dalam kortikosteroid tertentu
  • Jerawat, atau memburuknya jerawat
  • Rosacea, yang merupakan kondisi yang menyebabkan wajah menjadi merah dan memerah
  • Perubahan warna kulit, ini biasanya akan lebih terlihat jika terjadi pada orang dengan kulit gelap
  • Pertumbuhan rambut berlebihan pada area kulit yang sedang dirawat

Tentunya efek samping akan lebih mungkin terjadi jika kamu:

  • Menggunanakan kortkosteroid lebih kuat
  • Menggunakannya untuk waktu yang sangat lama, atau di area yang luas.

Umumnya lansia dan lebih muda lebih rentan terkena efek samping. Jika kortikosteroid topical kuat digunakan untuk jangka waktu yang panjang atau di daerah yang luas, ada risiko obat diserap ke dalam aliran darah dan menyebabkan efek samping internal, seperti:

  • Penurunan pertumbuhan pada anak-anak
  • Sindrom cushing

Baca Juga: Orang Dewasa Minum Obat Cacing? Jangan Ragu, Ini Dia Manfaatnya

Hal-hal yang perlu dipertimbangkan

Steroid adalah obat yang efektif menyelamatkan jiwa. Namun, mereka juga dapat menyebabkan efek samping. Termasuk kulit kering, kulit tipis, siklus mestruasi abnormal, dan tulang lemah.

Steroid juga dapat meningkatkan kadar gula darah atau tekanan darah tinggi. Karena efek samping ini, umumnya steroid digunakan untuk jangka pendek.

Dalam mengonsumsi obat kortikosteroid, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Dilansir dari familydoctor.com, diperlukan beberapa minggu bahkan bulan bagi tubuh kamu untuk membuat lebih banyak steroid sendiri.

Ada beberapa cara agar dapat menghentikan obat steroid dengan aman .

  • Jangan berhenti minum obat kamu kecuali dokter menyarankan
  • Jangan minum obat lain bersamaan dengan steroid tanpa meminta dokter terlebih dahulu, termasuk obat dan resep yang dijual bebas
  • Jika kamu merasa sakit ketika mengonsumsi obat padahal dikurangi, segera beri tahu dokter kamu atau konsultasikan
  • Pertimbangkan untuk membeli gelang yang berisi informasi medis kamu. Jika kamu tidak sadar, gelang ini akan memberi tahu petugas kesehatan bahwa kamu mengonsumsi steroid.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference
  1. Pionas.pom.go.id (2015). Diakses 14 Juni 2020. Kortikosteroid Topical
  2. Familydoctor.org (2018). Diakses 14 Juni 2020. How to Stop Steroid Medicines Safely
  3. Nhs.uk (2020). Diakses 14 Juni 2020. Topical corticosteroids
  4. Patient.info (2017). Diakses 14 Juni 2020. Oral Steroids
  5. ojs.iik.ac.id (2016). Diakses 14 Juni 2020. Review Kortikosteroid Induksi Sindrom Psikotik
  6. Patient.info (2020). Diakses 14 Juni 2020. Prednisolone Deltacortril Deltastab Dilacort Pevanti
  7. Patient.info (2019). Diakses 14 Juni 2020. Betamethasone Soluble Tablets
  8. Patient.info (2019). Diakses 14 Juni 2020. Dexamethasone
  9. Patient.info (2019). Diakses 14 Juni 2020. Methylprednisolone Tablets Medrone
  10. Patient.info (2019). Diakses 14 Juni 2020. Hydrocortisone Tablets For Cortisol Replacement Plenadren
  11. Patient.info (2019). Diakses 14 Juni 2020. Deflazacort Tablets Calcort
    register-docotr