Kamus Obat

Mengenal Ranitidine, Obat Bebas yang Sempat Ditarik dari Peredaran

May 5, 2020 | Dani Kosasih | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Ranitidine adalah obat yang digunakan untuk mengobati gejala penyakit tukak lambung dan tukak usus yang berfungsi mengurangi berbagai gejala yang akan muncul akibat kadar asam lambung yang terlalu tinggi.

Selain mengatasi maag akibat asam lambung tersebut, ranitidine juga mampu mengobati berbagai penyakit perut dan kerongkongan.

Obat ini sempat ditarik dari peredaran

Pada Oktober 2019, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sempat memberikan perintah penarikan terhadap obat ranitidine dari pasaran.

Penarikan tersebut didasari oleh pemberitahuan dari Food and Drug Administration (FDA) atau Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat dan European Medicine Agency (EMA).

Mereka mengatakan bahwa terdapat cemaran N-Nitrosodimethylamine (NDMA) pada produk obat yang mengandung ranitidine yang diduga kuat mengandung senyawa yang dapat memicu kanker.

Ilustrasi obat. Foto: Freepik.com

Ranitidine akhirnya kembali boleh diedarkan

Pada November 2019, BPOM kembali membolehkan peredaran ranitidine di Indonesia.

Industri farmasi dapat kembali melakukan produksi dan mengedarkan produknya setelah memastikan bahwa hasil produksinya tidak mengandung NDMA melebihi ambang batas yang diperbolehkan.

Menurut BPOM, ambang batas yang diperbolehkan adalah 96 ng/hari sesuai dengan studi global yang menyepakati bahwa batas cemaran NDMA yang diperbolehkan tersebut.

BPOM sendiri mengakui telah melakukan kajian dan pengujian laboratorium terhadap cemaran N-nitrosodimethylamine (NDMA) dalam ranitidine di pasaran dan beberapa produk telah dinyatakan aman.

Cara penggunaan ranitidine

Untuk mengkonsumsi ranitidine tablet dan kapsul, kamu diwajibkan untuk mengikuti anjuran dokter dan selalu ingat untuk mengikuti keterangan pada kemasan.

Kamu dilarang keras untuk melebihi atau mengurangi dosis serta memperpanjang waktu penggunaan obat jika tanpa anjuran dokter.

Kamu bisa mengonsumsi obat ini sebelum atau sesudah makan di waktu yang sama setiap harinya agar obat dapat bekerja efektif.

Jika kamu lupa atau terlewat mengonsumsinya, perhatikan waktu yang sama saat kamu mengonsumsi obat tersebut. Jangan pernah menggandakan dosisnya.

Selalu perhatikan resep dokter. Foto: Freepik.com

Dokter biasanya akan meresepkan konsumsi obat ini sebanyak satu atau dua kali sehari. Kemungkinan dokter akan memberi resep 3 kali sehari untuk beberapa kondisi.

Dosis dan lama pengobatan ini akan didasarkan pada kondisi medis kamu. Untuk anak-anak, dosis juga dapat didasarkan pada berat badan. Ikuti instruksi dokter dengan cermat.

Dosis aman

Perhatikan instruksi dan anjuran dari dokter serta selalu ikuti keterangan pada kemasan obat. Beberapa pembagian dosis ranitidine ini didasarkan oleh respons tubuh terhadap obat, usia maupun keparahan kondisi kamu.

Dosis untuk ranitidine tablet dan kapsul:

Penyakit asam lambung atau GERD

Untuk dewasa: gunakan sebanyak 150 mg 2 kali sehari, konsumsi obat ini selama 6 minggu.

Untuk dosis obat yang lebih tepat baiknya konsultasikan terlebih dahulu gejala yang kamu rasakan.

Tindakan pencegahan

Ikuti petunjuk pada kemasan. Foto: Freepik.com

Obat ini tidak dianjurkan untuk digunakan pada anak-anak ketika digunakan untuk mengobati kondisi hipersekresi patologis atau untuk mempertahankan penyembuhan esophagitis erosif.

Sebelum menggunakan ranitidine, konsultasikan dengan dokter jika kamu memiliki alergi terhadap obat-obatan. Jangan lupa untuk memberikan informasi selengkapnya tentang riwayat medis yang kamu alami, seperti:

  • Kondisi gangguan darah tertentu (porfiria)
  • Masalah sistem kekebalan tubuh
  • Masalah ginjal
  • Masalah hati
  • Penyakit paru-paru
  • Masalah perut lainnya

Aturan minum pada lansia dan ibu hamil

Bagi lansia atau orang lanjut usia, memiliki kemungkinan kondisi yang lebih sensitif terhadap efek samping obat ini.

Sedangkan untuk ibu hamil atau menyusui, hingga saat ini diakui masih belum ada penelitian yang memadai mengenai apakah ranitidine aman dikonsumsi.

Meskipun menurut Food and Drug Administration (FDA) atau Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat menerangkan bahwa ranitidine termasuk dalam risiko kehamilan kategori B atau tidak berisiko pada beberapa penelitian.

Konsultasikan dosis yang tepat pada dokter. Foto: https://image.freepik.com/free-photo/pregnant-woman-touching-her-belly_1220-850.jpg

Namun, kamu harus selalu tetap mengkonsultasikan kondisimu kepada dokter untuk mempertimbangkan potensi manfaat dan risikonya sebelum menggunakan obat ini.

Hal-hal yang harus diperhatikan

Segeralah mencari bantuan medis jika kamu mengalami gejala seperti:

  • Rasa mulas yang parah dan tidak biasa
  • Dada terasa nyeri yang parah
  • Rasa sakit yang menyebar ke lengan atau bahu
  • Mual-mual
  • Keluar keringat yang berlebih pada tubuh

Penggunaan obat ini juga dapat meningkatkan resiko terkena pneumonia. Konsultasikan ke dokter jika kmau mengalami gejala pneumonia berikut:

  • Nyeri dada
  • Demam
  • Nafas pendek
  • Batuk yang mengeluarkan lendir berwarna hijau atau kuning

Efek samping

Sebagaimana dengan obat lain, ranitidine juga memiliki efek samping. Untuk kasus alergi, biasanya akan muncul tanda-tanda seperti:

  • Gatal-gatal
  • Sulit bernapas
  • Pembengkakan pada wajah
  • Pembengkakan pada bibir
  • Pembengkakan pada lidah
  • Pembengkakan pada tenggorokan

Selain itu, ranitidine juga memiliki efek samping yang cukup serius. Segeralah hentikan penggunaan obat dan carilah bantuan medis jika kamu mengalami kondisi seperti:

  • Sakit perut
  • Kehilangan nafsu makan
  • Urine berwarna gelap
  • Mata menguning
  • Demam
  • Menggigil
  • Batuk berlendir
  • Jantung berdenyut tidak biasa seperti melambat atau terlalu cepat
  • Tubuh mudah memar atau berdarah
  • Halusinasi

Interaksi ranitidine dengan obat lain

Terdapat kemungkinan besar bahwa ranitidine mampu berinteraksi dengan obat lain, vitamin maupun obat herbal yang kamu konsumsi.

Guna mendapatkan hasil yang maksimal dan mencegah berbagai komplikasi yang berbahaya, pastikan kamu memberikan keterangan dan informasi terkait riwayat medis selengkap-lengkapnya guna mendapatkan anjuran yang sesuai dari dokter.

Beberapa contoh obat yang dapat menyebabkan interaksi dengan ranitidine terbagi menjadi beberapa klasifikasi, seperti:

Obat-obatan yang tidak boleh digunakan bersama dengan ranitidine

  • Delavirdine: Jangan minum delavirdine dengan ranitidine. Melakukannya dapat menyebabkan efek berbahaya. Ranitidine mengurangi kadar delavirdine dalam tubuh yang artinya delavirdine tidak akan bekerja dengan maksimal pula.

Obat-obatan yang akan meningkatkan risiko efek samping

  • Procainamide: Mengkonsumsi ranitidine dosis tinggi bersamaan dengan procainamide dapat menyebabkan efek samping dari procainamide sendiri
  • Warfarin: Mengkonsumsi ranitidine bersama dengan warfarin dapat meningkatkan risiko pendarahan atau pembekuan darah. Dokter mungkin akan melakukan pengawasan yang lebih ketat jika kamu menggunakan obat ini secara bersamaan
  • Midazolam dan triazolam: Mengkonsumsi ranitidine bersama dengan salah satu dari obat ini akan meningkatkan risiko kantuk yang ekstrem dan dapat bertahan lama
  • Glipizide: Mengkonsumsi obat ini bersama dengan ranitidine dapat meningkatkan risiko gula darah rendah

Obat-obatan yang membuat efeknya tidak bekerja secara maksimal

  • Atazanavir: Jika kamu diharuskan mengonsumsi obat ini bersamaan dengan ratidine, maka dokter akan memberi tahu berapa lama jeda waktu saat mengonsumsi di antara dosis obat ini.
  • Gefitinib: Jika menggunakan gefitinib dan ranitidine dengan natrium bikarbonat antasid, maka gefitinib kemungkinan tidak akan bekerja dengan baik. Konsultasikanlah kondisi ini dengan dokter jika kamu terpaksa harus menggunakan gefitinib dan ranitidine bersamaan

Saran penyimpanan

  • Simpan ranitidine pada suhu kamar antara 59° F dan 86° F (15° C dan 30° C)
  • Jauhkan ranitidine dari cahaya matahari langsung
  • Jangan menyimpan obat ini di tempat yang lembap seperti kamar mandi

Tips untuk kamu yang sedang traveling

  • Selalu bawa ranitidine dalam perjalanan kamu
  • Saat dalam penerbangan, selalu simpan ranitidine dalam tas jinjing kamu
  • Tidak perlu khawatir saat ranitidine masuk dalam pemeriksaan sinar x di bandara karena tidak memiliki pengaruh pada obat
  • Bawalah ranitidine di dalam wadah berlabel resep asli obat kamu agar jika diperlukan untuk menunjukkan obat tersebut pada petugas bandara
  • Jangan meninggalkan ranitidine di dalam mobil khususnya ketika cuaca sangat panas atau sangat dingin

Meskipun ranitidine dijual bebas, namun akan lebih baik jika kamu berkonsultasi kebutuhan yang sesuai dengan kondisi tubuh dan medis kamu kepada dokter agar mendapatkan dosis yang tepat.

Jaga kesehatan Anda dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!

Reference

1. pom.go.id (2019) diakses 30 April 2020. https://www.pom.go.id/new/view/more/klarifikasi/102/PENJELASAN-BPOM-RI-TENTANG-PENARIKAN-PRODUK-RANITIDIN–YANG-TERKONTAMINASI-N-NITROSODIMETHYLAMINE–NDMA-.html
2. pom.go.id (2019) diakses 30 April 2020. https://www.pom.go.id/new/view/more/klarifikasi/104/PENJELASAN-BADAN-POM-RI–TENTANG-PRODUK-RANITIDIN-YANG-DAPAT-DIEDARKAN-KEMBALI.html
3. drugs.com (diakses 30 April 2020. https://www.drugs.com/ranitidine.html
4. webmd.com diakses 30 April 2020. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-4091-4033/ranitidine-oral/ranitidine-liquid-oral/details
5. drugs.com diakses 30 April 2020. https://www.drugs.com/dosage/ranitidine.html
6. healthline (2018) diakses 30 April 2020. https://www.healthline.com/health/ranitidine-oral-tablet#interactions
7. pom.go.id (2019) diakses 30 April 2020. https://www.pom.go.id/new/admin/dat/20191004/Lampiran_Penjelasan_Badan_POM_tentang_Penarikan_Ranitidin_yang_Terdeteksi_NDMA.pdf

    register-docotr