Kamus Obat

Beragam Jenis Obat Darah Tinggi dan Efek Sampingnya yang Perlu Kamu Ketahui

May 12, 2020 | Anisya Fitrianti
feature image

Obat darah tinggi yang tersedia di luar sana banyak sekali jenisnya. Obat darah tinggi terbagi ke dalam beberapa kelas dan setiap kelas obat menurunkan tekanan darah dengan cara yang berbeda.

Jika tidak diobati dengan tepat, penyakit tekanan darah tinggi (hipertensi) dapat menyebabkan banyak masalah kesehatan lain yang serius. Mulai dari serangan jantung, gagal jantung, stroke, dan penyakit ginjal.

Supaya tidak bingung dalam menemukan obat darah tinggi yang cocok, simaklah artikel di bawah ini.

Berikut adalah jenis obat darah tinggi yang umum tersedia:

1. Diuretik

Diuretik bekerja dengan meningkatkan buang air kecil yang akan mengurangi natrium serta cairan dalam tubuh. Hal ini dapat membantu menurunkan tekanan darah karena menurunkan volume darah.

Hipertensi ringan kadang-kadang dapat diobati cukup dengan menggunakan diuretik. 

Contoh obat yang termasuk diuretik adalah sebagai berikut: Contoh-contoh diuretik meliputi:

  •     Bumetanide (Bumex)
  •     Chlorthalidone (Hygroton)
  •     Chlorothiazide (Diuril)
  •     Ethacrynate (Edecrin)
  •     Furosemide (Lasix)
  •     Hydrochlorothiazide HCTZ (Esidrix, Hydrodiuril, Microzide)
  •     Indapamide (Lozol)
  •     Methyclothiazide (Enduron)
  •     Metolazone (Mykroz, Zaroxolyn)
  •     Torsemide (Demadex)

Salah satu efek samping dari konsumsi obat diuretik adalah hilangnya kalium. Zat ini dikeluarkan tubuh dalam bentuk urine bersama dengan natrium. 

Kalium dibutuhkan tubuh untuk menggerakan otot dalam tubuh. Saat tubuh kekurangan kalium,  tubuh dapat merasa kelelahan, lemah otot, kram kaki, hingga masalah dengan jantung. 

Pasien yang menggunakan diuretik tradisional biasanya akan disarankan untuk minum obat mereka dengan makanan kaya kalium, seperti jus jeruk atau pisang, atau mereka akan diberi resep suplemen kalium.

Namun saat ini sudah ada obat diuretik yang dikembangkan untuk mengatasi masalah kehilangan kalium. Obat-obatan tekanan darah ini dikenal sebagai “diuretik yang hemat kalium” seperti: 

  • amiloride (Midamor)
  • spironolactone (Aldactone)
  • triamterene (Dyrenium).

Di samping itu, ada juga jenis diuretik kombinasi yang merupakan gabungan diuretik hemat kalium dengan diuretik tradisional,seperti: 

  • amiloride hydrochloride/hydrochlorothiazide (Moduretic)
  • spironolactone/hydrochlorothiazide (Aldactazide)
  • triamterene/hydrochlorothiazide (Dyazide, Maxzide)

2. Beta blocker

Beta blocker bekerja dengan cara menghalangi aksi bahan kimia dalam tubuh yang merangsang jantung. Sehingga obat tekanan darah tinggi ini dapat mengurangi denyut jantung dan kekuatan memompa, serta mengurangi volume darah. 

Berikut adalah obat yang termasuk ke dalam kelas beta blockers:

  • Acebutolol (Sektral)
  • Atenolol (Tenormin)
  • Bisoprolol fumarate (Zebeta)
  • Carvedilol (Coreg) – Gabungan alpha / beta blocker
  •  Esmilol (Brevibloc)
  •  Labetalol (Trandate, Normodyne) – Gabungan alpha / beta blocker
  •  Metoprolol tartrat (Lopressor) dan metoprolol suksinat (Toprol-XL)
  •  Nadolol (Corgard)
  •  Nebivolol (Bystolic)
  •  Penbutolol sulfat (Levatol)
  •  Propranolol (Inderal)
  •  Sotalol (Betapace)
  •  HCTZ dan bisoprolol (Ziac) adalah beta blocker plus diuretik

Obat jenis ini memiliki efek samping seperti pusing, insomnia, kaki dan tangan dingin, detak jantung lambat, kesulitan bernafas hingga disfungsi ereksi. 

3. Penghambat Enzim Konversi Angiotensin / ACE Inhibitors

Angiotensin adalah hormon dalam tubuh yang menyebabkan pembuluh darah menyempit. Obat dalam kelas ACE Inhibitors ini  mampu menurunkan produksi angiotensin sehingga tekanan darah akan menurun. 

Contoh obat yang ada dalam kelas obat ACE Inhibitors adalah sebagai berikut:

  • Benazepril hydrochloride (Lotensin)
  • Captopril (Capoten)
  • Enalapril Maleate (Vasotec)
  •  Fosinopril sodium (Monopril)
  •  Lisinopril (Prinivil, Zestril)
  •  Moexipril (Univasc)
  •  Perindopril (Aceon)
  •  Quinapril hydrochloride (Accupril)
  •  Ramipril (Altace)
  •  Trandolapril (Mavik)

Konsumsi obat jenis ini dapat menimbulkan efek samping seperti batuk kering. Inhibitor ACE dapat menurunkan tekanan darah terlalu banyak, yang mengakibatkan hipotensi. Sehingga kamu mungkin merasakan gejala seperti sakit kepala, pusing, pingsan, dan mengurangi fungsi ginjal.

4. Angiotensin II receptor blockers (ARBs) 

Kelas obat ini juga melindungi pembuluh darah dari angiotensin. Saat angiotensin akan mempersempit pembuluh darah, ia butuh tempat untuk mengikatkan diri. Nah disinilah ARB akan mencegah terjadinya ikatan angiotensin ke reseptor pada pembuluh darah. Sehingga tekanan darah dapat menurun. 

Berikut adalah obat yang termasuk ke dalam kelas Angiotensin II receptor blockers (ARB) :

  • Azilsartan (Edarbi)
  • Candesartan (Atacand)
  • Eprosartan mesylate (Teveten)
  • Irbesarten (Avapro)
  • Losartin Potassium (Cozaar)
  • Olmesartan (Benicar)
  • Telmisartan (Micardis)
  • Valsartan (Diovan)

5. Antagonis kalsium atau Calcium channel blockers (CCBs)

Kalsium dapat meningkatkan kekuatan dan kekuatan kontraksi di jantung dan pembuluh darah. Untuk itu tubuh harus memblokir kalsium ke dalam jaringan otot polos supaya tekanan darah bisa menurun. 

Obat pada kelas  Calcium channel blockers (CCBs) mampu menurunkan tekanan darah dengan melemaskan pembuluh darah dan mengurangi denyut jantung.

Contoh obat yang termasuk ke dalam kelas ini adalah:

  • Amlodipine besylate (Norvasc, Lotrel)
  • Clevidipine (Cleviprex)
  • Diltiazem hidroklorida (Cardizem CD, Cardizem SR, Dilacor XR, Tiazac)
  • Felodipine (Plendil)
  • Isradipine (DynaCirc, DynaCirc CR)
  • Nicardipine (Cardene SR)
  • Nifedipine (Adalat CC, Procardia XL)
  • Nimodipine (Nimotop, Nymalize)
  • Nisoldipine (Sular)
  • Verapamil hidroklorida (Calan SR, Isoptin SR, Verelan, Covera HS)

6. Alpha-blockers

Dalam situasi tertentu, tubuh akan memproduksi hormon yang disebut katekolamin. Hormon-hormon ini dapat mengikat bagian sel yang disebut reseptor alfa. 

Ketika ini terjadi, pembuluh darah akan menyempit dan jantung berdetak lebih cepat dengan kekuatan yang lebih besar. Sehingga dapat menyebabkan tekanan darah dalam tubuh meningkat.

Alpha-blocker akan bekerja dengan memblokir katekolamin dari ikatan dengan reseptor alfa. Sehingga darah dapat mengalir melalui pembuluh darah lebih bebas dan jantung berdetak secara normal. Hal ini membantu menurunkan tekanan darah. Berikut adalah obat yang termasuk ke dalam kelas alpha-blocker:

  • doxazosin (Cardura)
  • prazosin (Minipress)
  • terazosin (Hytrin)

Konsumsi obat ini dapat menimbulkan efek samping seperti penurunan tekanan darah yang tiba-tiba saat berdiri.Hal ini bisa menjadi bahaya karena menyebabkan pusing atau bahkan pingsan. Selain itu, alpha blocker dapat menyebabkan peningkatan detak jantung, sakit kepala, mual, dan kelemahan.

7. Alpha-2 receptor agonist

Methyldopa, sebelumnya dikenal dengan nama merek Aldomet, adalah salah satu obat tekanan darah tertua yang masih digunakan. Obat ini pertama kali diperkenalkan lebih dari 50 tahun yang lalu.

Methyldopa bekerja di sistem saraf pusat untuk menurunkan tekanan darah. Obat ini sudah digunakan selama bertahun-tahun dan dianggap sebagai pengobatan dengan pengembangan nomor satu untuk para ibu hamil. 

Obat ini sebagian besar dapat ditoleransi dengan baik, tetapi beberapa pasien mungkin mengalami pusing, mengantuk, lemah, sakit kepala, dan mulut kering.

8. Central agonists

Beberapa obat hipertensi bekerja di sistem saraf pusat, termasuk obat dalam kelas ini.  Karena bekerja di dalam saraf pusat, central agonists memiliki kecenderungan untuk menyebabkan kantuk. Contoh obat yang termasuk ke dalam kelas ini adalah:

  • klonidin hidroklorida (Catapres) 
  • guanfacine hidroklorida (Tenex).

9. Vasodilator

Vasodilator bekerja dengan melemaskan otot-otot di dinding pembuluh darah, terutama di arteri kecil yang disebut arteriol. 

Setelah mengonsumsi vasodilator,  pembuluh darah akan melebar sehingga darah mengalir dengan lebih mudah. Akibatnya, tekanan darah akan menurun. Contoh vasodilator adalah sebagai berikut:

  •  hydralazine (Apresoline)
  •  minoxidil (Loniten)

Efek samping dari obat ini dapat menyebabkan pertumbuhan rambut tubuh yang berlebihan, serta penambahan berat badan dan pusing. Di samping itu gejala seperti sakit kepala, jantung berdebar, bengkak di sekitar mata, dan nyeri di persendian juga mungkin terjadi.

10. Antagonis aldosteron

Antagonis aldosteron bekerja dengan menghalangi bahan kimia yang disebut aldosteron. Mengonsumsi obat ini dapat mengurangi jumlah cairan yang ditahan tubuh sehingga membantu tubuh untuk menurunkan tekanan darah. 

Berikut adalah obat yang termasuk ke dalam kelas antagonis aldosteron:

  • eplerenone (Inspra)
  •  spironolactone (Aldactone)

11. Direct renin inhibitors (DRIs).

Obat-obatan dalam kelas ini bekerja dengan memblokir bahan kimia dalam tubuh yang disebut renin. Hal ini membantu memperlebar pembuluh darah sehingga menurunkan tekanan darah. Satu-satunya tipe DRI yang saat ini tersedia di Amerika Serikat adalah:

  •     aliskiren (Tekturna)

Baca juga: Cara Tepat Gunakan Candesartan, Obat untuk Tekanan Darah Tinggi

Merencanakan pengobatan darah tinggi 

Bagi sebagian orang, diuretik menjadi pilihan obat pertama untuk mengobati tekanan darah tinggi. Namun bagi sebagian lainnya, mengonsumsi diuretik saja tidak cukup untuk mengontrol tekanan darah.

Untuk mengobati darah tinggi, diuretik dapat dikombinasikan dengan beberapa obat lainnya. Seperti beta-blocker, ACE inhibitor, angiotensin II receptor blocker, atau calcium channel blocker (CCBs). 

Menambahkan obat lainnya setelah mengonsumsi diuretik dapat mempercepat penurunan tekanan darah. Di samping itu, konsumsi obat tambahan juga dapat mengurangi efek samping.

Dokter akan meresepkan obat kombinasi jika kamu membutuhkannya. Seperti beta-blocker dengan diuretik atau ARB dengan calcium channel blocker. Penggunaan obat kombinasi mungkin akan membuat kamu lebih nyaman. 

Untuk mengobati darah tinggi sudah banyak obat kombinasi yang tersedia seperti: 

  • triamterene / hydrochlorothiazide (Dyazide)
  • triamterene dan hydrochlorothiazide, keduanya diuretik
  • valsartan / hydrochlorothiazide (Diovan HCT) – valsartan adalah ARB dan hydrochlorothiazide adalah diuretik

Apakah aman untuk minum obat tekanan darah tinggi saat hamil?

Beberapa obat tekanan darah tinggi harus benar-benar dihindari saat hamil karena dapat membahayakan ibu dan perkembangan janin. Obat-obatan ini termasuk kelas penghambat ACE dan penghambat reseptor angiotensin II.

Reserpin juga dapat berbahaya selama kehamilan dan hanya digunakan jika tidak ada alternatif lain. Obat-obatan yang aman untuk digunakan saat kehamilan adalah metildopa, beberapa diuretik dan beta blocker termasuk labetalol.

Bagaimana penggunaan obat tekanan darah pada orang lanjut usia?

Obat jenis beta blocker mungkin tidak efektif untuk hipertensi pada mereka yang berusia di atas 60 tahun. Pada pasien usia lanjut kemungkinan lebih baik memberikan dua obat tekanan darah tinggi pada dosis rendah dibandingkan satu pada dosis lebih tinggi.

Olahraga yang dapat menurunkan tekanan darah 

Olahraga termasuk dalam faktor gaya hidup lain yang dapat menurunkan tekanan darah. Setidaknya orang dewasa harus melakukan olahraga sekitar 150 menit seminggu. 

Kamu bisa melakukan olahraga kardiovaskular seperti berjalan, bersepeda, berkebun, atau latihan aerobik lainnya. Yoga, tai chi, dan latihan pernapasan juga dapat membantu mengurangi tekanan darah. 

Jadikan olahraga sebagai aktivitas yang menyenangkan dan temukan olahraga yang kamu sukai. 

Pengobatan pada kondisi penyakit tertentu

Jenis obat tekanan darah yang diresepkan dokter mungkin tergantung pada masalah kesehatan apa yang sedang kamu alami.

Misalnya, jika sedang menderita penyakit arteri koroner dan tekanan darah tinggi, dokter mungkin akan meresepkan beta-blocker

Sedangkan jika kamu menderita diabetes, dokter mungkin meresepkan ACE inhibitor atau ARB. Obat-obatan ini dapat membantu melindungi ginjal dari kerusakan diabetes dengan menurunkan tekanan darah di ginjal

Konsultasi dengan dokter

Tekanan darah tinggi adalah kondisi serius yang memerlukan perawatan untuk mencegah masalah kesehatan yang lebih parah. Jika kamu bingung dengan semua opsi pengobatan yang ada, dokter dapat memberi tahu obat mana yang paling cocok untuk kamu. 

Saat konsultasi dengan dokter, kamu juga bisa menanyakan beberapa hal berikut:

  • Apakah perlu obat untuk mengendalikan tekanan darah?
  • Apakah ada risiko tinggi terhadap efek samping tertentu dari pengobatan tekanan darah?
  • Apakah obat kombinasi tekanan darah menjadi pilihan yang baik untuk dikonsumsi?
  • Apakah ada diet atau olahraga yang disarankan untuk membantu menurunkan tekanan darah?

Jangan ragu untuk konsultasikan keluhan tekanan darah yang kamu rasakan melalui Good Doctor. Caranya, buka aplikasi Grab kemudian pilih fitur Kesehatan, atau langsung klik di sini

Reference
    register-docotr