Diet dan Nutrisi

Sering Diabaikan, Ini Tanda dan Gejala Anoreksia yang Perlu Diketahui

April 28, 2020 | Ajeng Annastasia | dr Wawan Harimawan
feature image

Anoreksia seringkali dianggap sebagai hal yang biasa, padahal gejala aneroksia perlu diperhatikan sejak awal.

Anoreksia nervosa atau anoreksia adalah kondisi gangguan makan yang membuat penderitanya memiliki obsesi berlebihan untuk memiliki tubuh yang kurus.

Orang yang mengidap penyakit ini biasanya memiliki berat badan yang sangat rendah atau tidak normal. Selain itu, mereka juga merasa sangat takut bila berat badannya bertambah.

Saking terobsesinya dengan tubuh yang kurus, pengidap anoreksia seringkali terlihat begitu membatasi asupan makanan mereka setiap hari.

Orang dengan anoreksia dapat menunjukkan berbagai gejala yang berhubungan dengan fisik, emosional, dan perilaku. Berikut ini beberapa gejala anoreksia nervosa yang perlu kamu ketahui:

Baca juga: Agar Tak Mudah Stres, Kenali Tips-tips Mengatasi Mood Saat PMS Datang

Gejala anoreksia secara fisik

Tidak mau makan dan selalu lelah bisa jadi gejala anoreksia. Foto: Shutterstock.com

Orang dengan anoreksia umumnya menunjukkan  beberapa tanda atau gejala fisik di bawah ini, yang meliputi:

  • Insomnia
  • Kelelahan
  • Tubuh tampak kurus
  • Penurunan berat badan ekstrem
  • Pusing
  • Dehidrasi
  • Tekanan darah rendah
  • Kulit kering atau kekuningan
  • Sakit perut atau sembelit
  • Pembengkakan pada lengan atau kaki
  • Detak jantung tidak teratur
  • Mengalami masalah rambut, seperti rambut yang menipis, patah, atau rontok
  • Gangguan menstruasi
  • Sensitif terhadap udara dingin
  • Gigi mudah rusak
  • Jari kaki dan tangan yang kebiruan
  • Rambut menjadi tipis 

Gejala anoreksia secara emosional 

Cemas dan sakit kepala berlebihan, bisa jadi gejala anoreksia. Foto: Shutterstock.com

Selain gejala fisik, penderita gangguan makan anoreksia juga dapat mengalami beberapa gejala yang berhubungan dengan kondisi emosional atau psikologis, seperti:

  • Depresi
  • Merasa cemas
  • Cenderung hiperaktif, perfeksionis dan bersikap impulsif
  • Sangat sensitif terhadap kritik, kegagalan, dan kesalahan
  • Nafsu makan menjadi tidak teratur
  • Mudah marah
  • Suasana hati datar
  • Merasa takut jika berat badan naik

Gejala anoreksia secara perilaku

Penderita anoreksia dapat menunjukkan beberapa perilaku di bawah ini, seperti:

  • Sangat membatasi asupan makanan, baik itu melalui diet yang ketat atau berpuasa
  • Berolahraga secara berlebihan
  • Memuntahkan makanan dengan sengaja setelah makan atau mengonsumsi obat-obatan tertentu yang berfungsi untuk menurunkan berat badan, seperti obat pencahar, pelangsing, dan lain-lain 
  • Suka melewatkan waktu makan atau bahkan menolak untuk makan 
  • Menghindar makan di depan umum
  • Penurunan minat berhubungan seks
  • Kerap menimbang berat badan
  • Mengisolasi diri, dan menghindari interaksi sosial
  • Suka bercermin untuk memeriksa kekurangan bentuk tubuh
  • Sering membuat alasan untuk tidak makan
  • Kerap berbohong sudah makan

Baca juga: Mengenal Penyakit PCOS: Gejala, Penyebab dan Hal Penting yang Wajib Diketahui

Penyebab anoreksia

mencegah lapar saat puasa
Anoreksia disebabkan oleh faktor psikologis dan lingkungan. Foto: Shutterstock.com

Penyebab anoreksia belum diketahui secara pasti. Namun, dugaan sementara, orang yang memiliki riwayat keluarga dengan masalah gangguan makanan akan jauh lebih mungkin mengembangkan penyakit ini dibandingkan dengan mereka yang tidak.

Selain itu, anoreksia juga dapat disebabkan oleh kombinasi faktor-faktor berikut ini, yaitu faktor:

Psikologis

Sebagian penderita anoreksia sering dikaitkan dengan pengidap gangguan kecemasan tertentu, seperti obsessive-compulsive disorder (OCD).

Hal ini karena orang dengan OCD diketahui memiliki karakter tertentu yang dapat mendukung perkembangan gejala anoreksia, misalnya mempunyai pikiran yang obsesif.

Lingkungan

Pemujaan berlebihan terhadap tubuh kurus membuat sebagian wanita merasa terbebani untuk memiliki tubuh yang kurus pula.

Akibatnya, tidak sedikit di antara mereka yang mulai membatasi asupan makanan, mengonsumsi obat pelangsing, hingga melakukan diet ketat. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat berujung pada penyakit anoreksia.

Pencegahan anoreksia

Sampai saat ini, tidak ada satupun cara pasti untuk mencegah anoreksia. Walau begitu, Anda bisa pergi konsultasi ke dokter untuk melakukan pemeriksaan gejala awal anoreksia maupun untuk mencegah gejalanya bertambah semakin parah. 

Reference

1, 7, 9. Mayo Clinic (2018) diakses 7 Oktober 2019. Anorexia nervosa → reference writing style is incorrect, should be single number
2. NCBI diakses 7 Oktober 2019. Neurobiology of anorexia and bulimie nervosa
3. NCBI diakses 7 Oktober 2019. Altered brain response to reward and punishment in adolescents with anorexia nervosa
4. NCBI diakses 7 Oktober 2019. Micronutrient status in 153 patients with Anorexia Nervosa
5. NCBI diakses 8 Oktober 2019. Serotonin activity in anorexia and bulimia nervosa: relationship to the modulation of feeding and mood
6. NCBI diakses 8 Oktober 2019. Oxytocin secretion is associated with severity of disordered eating psychopathology and insular cortex hypoactivation in anorexia nervosa.
8. WebMD diakses 8 Oktober 2019. Understanding Anorexia – the Basics

    register-docotr