Diet dan Nutrisi

Catat 6 Alasan Mengapa Kamu Tidak Boleh Sering-Sering Makan Mi Instan

December 1, 2020 | Dewi Nurfitriyana | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Mi instan adalah makanan kesukaan banyak orang. Selain karena rasanya enak, penyajiannya pun tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama. Tak heran jika makanan yang satu ini sering dikonsumsi dalam berbagai kesempatan.

Tapi, jangan sampai kamu mengonsumsinya terlalu sering. Soalnya ada berbagai penelitian yang mengemukakan bahwa kebiasaan ini bisa memberikan dampak yang berbahaya bagi kesehatan.

Baca juga: Catat! Ini Ragam Alternatif Cara Membuat Mie Ayam Sehat

Bahaya mengonsumsi mi instan terlalu sering

Berikut adalah beberapa alasan mengapa mi instan tidak boleh sering-sering dimakan.

Berisiko menyebabkan kanker

Konsumsi mi instan akan membebani sistem pencernaan karena mengharuskannya memecah mi yang telah diproses selama berjam-jam.

Proses mencerna makanan yang menjadi lambat ini juga akan membuat bahan-bahan kimia beracun dan pengawet dari mi instan menjadi lebih lama disimpan di dalam tubuh.

Dua bahan kimia yang paling sering ditemukan dalam mi instan adalah butylated hydroxyanisole (BHA) dan t-butyhlhydroquinone (TBHQ).

Keduanya bersifat karsinogenik yang bisa menyebabkan beberapa penyakit seperti asma, diare, bahkan kanker jika dikonsumsi berlebihan.

Meningkatkan risiko penyakit metabolisme

Sebuah penelitian yang diterbitkan di Ncbi menyebutkan bahwa peningkatan konsumsi mi instan dilaporkan memiliki kaitan erat dengan sindrom metabolik di Korea Selatan.

Ini merupakan sekelompok gejala seperti tekanan darah tinggi, atau kadar kolesterol HDL rendah, yang meningkatkan risiko seseorang terkena obesitas, stroke, dan semacamnya.

Studi yang melibatkan peserta dengan usia rata-rata 20 tahunan tersebut juga menyebutkan bahwa kelompok yang makan mi instan lebih dari 3 kali dalam seminggu, memiliki kadar trigliserida lebih tinggi dibanding dengan yang memakan mi hanya 1 kali dalam sebulan.

Memicu risiko gangguan jantung

Kandungan kalori, karbohidrat olahan, lemak, dan natrium yang tinggi dalam mi instan sangat berkontribusi pada peningkatan risiko penyakit jantung.

Pernyataan ini didukung oleh sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Nutrition.

Di situ disebutkan bahwa wanita yang mengonsumsi lebih banyak mi instan, berisiko 68 persen lebih tinggi terkena gangguan fungsi jantung.

Tinggi garam

Garam memang bisa membuat makanan terasa sedap. Akan tetapi jika jumlahnya terlalu banyak, garam bisa memengaruhi kesehatan kita secara keseluruhan.

Mi instan sendiri adalah salah satu makanan yang tinggi akan garam. Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam American Journal of Hypertension, konsumsi natrium yang tinggi adalah faktor utama dalam menyebabkan tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan bahkan kematian.

Baca juga: Yuk, Kenali Bagian-Bagian Jantung dan Fungsinya agar Lebih Paham Menjaga Kesehatannya!

Mengandung monosodium glutamat (MSG)

Ini adalah penambah rasa yang sangat populer di makanan Asia, termasuk mi instan.

Meski Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan Amerika Serikat (FDA), telah mengategorikan MSG sebagai zat aditif yang aman. Akan tetapi MSG tetap perlu dicantumkan dalam label makanan karena efek berbahayanya yang masih kontroversial.

Adapun konsumsi MSG yang berlebihan bisa menimbulkan beberapa reaksi pada tubuh seperti:

  1. Sakit kepala
  2. Keringat berlebihan
  3. Wajah tertekan atau sesak
  4. Mati rasa, kesemutan atau rasa terbakar di wajah, leher, dan area lainnya
  5. Detak jantung yang cepat dan berdebar-debar
  6. Nyeri dada
  7. Mual, dan
  8. Lesu.

Bahan kimia dalam bumbunya juga berbahaya

Dilansir dari Thailandmedical, dalam satu paket bumbu penyedap mi instan terdapat setidaknya 15 zat aditif makanan dan bahan kimia yang berbeda-beda.

Beberapa di antaranya bahkan bersifat karsinogenik, dan bisa meningkatkan risiko penyakit tertentu seperti stroke, tekanan darah tinggi, sampai gangguan fungsi jantung.

Jumlah konsumsi mi instan yang dinilai relatif aman

Ahli diet dari Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, Seow Vi Vien, menyatakan bahwa satu bungkus mi instan bisa mengandung hingga 1.700 mg natrium, atau sekitar 85 persen dari jumlah asupan natrium harian yang direkomendasikan.

Ia pun menyebutkan bahwa ada baiknya jika kamu hanya memakan mi instan sebanyak satu hingga dua kali saja dalam seminggu.

Apa anak-anak boleh makan mi instan?

Mengingat mi instan memiliki bahan kimia dan pengawet yang berbahaya. Maka alangkah baiknya jika si Kecil tidak mengonsumsinya terlalu sering.

Jika Moms hendak menjadikan mi sebagai makanan selingan, upayakan untuk memilih mi instan berbahan alami dan buatan rumahan yang minim bahan kimia.

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

Instant noodle consumption is associated with cardiometabolic risk factors among college students in Seoul, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5449380/ diakses pada 30 November 2020

Sodium and Health Virtual Collection, https://academic.oup.com/ajh/pages/sodium_and_health diakses pada 30 November 2020

Instant Noodle Intake and Dietary Patterns Are Associated with Distinct Cardiometabolic Risk Factors in Korea, https://academic.oup.com/jn/article/144/8/1247/4637708 diakses pada 30 November 2020

Are Instant Noodles Bad for You?, https://www.healthline.com/nutrition/instant-noodles#TOC_TITLE_HDR_9 diakses pada 30 November 2020

Why instant noodle is ad for your health, https://www.thailandmedical.news/news/why-instant-noodles-is-bad-for-your-health diakses pada 30 November 2020

Is Noodles Good for Babies & Kids?, https://parenting.firstcry.com/articles/noodles-for-babies-kids-is-it-safe/ diakses pada 30 November 2020

Nutrition and healthy eating, https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/nutrition-and-healthy-eating/expert-answers/monosodium-glutamate/faq-20058196 diakses pada 30 November 2020

Limit intake of instant noodles and add healthier ingredients, https://www.straitstimes.com/singapore/askst-limit-intake-of-instant-noodles-and-add-healthier-ingredients diakses pada 30 November 2020

    register-docotr