Kesehatan Mental

Tanda-tanda Pasangan Melakukan Gaslighting, Apa Dampak Psikisnya?

December 6, 2020 | Fitri Chaeroni | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Belakangan istilah gaslighting makin sering kita dengar dari berbagai media, termasuk seperti media sosial. Hal ini kerap terjadi pada orang yang tengah menjalin hubungan romantis.

Gaslighting merupakan salah satu emotional abuse yang dapat berdampak negatif pada seorang korban.

Untuk mengetahui apa itu gaslighting, apa gejala dan tandanya, kamu bisa simak ulasan berikut ini!

Apa itu gaslighting?

Gaslighting adalah jenis emotional abuse atau kekerasan emosional yang menyebabkan korbannya mempertanyakan perasaan, naluri, dan kewarasan mereka sendiri.

Korban kehilangan kemampuan untuk mempercayai persepsinya sendiri. Kondisi ini bisa terjadi dalam sebuah hubungan, umumnya hubungan antara pasangan pria dan wanita. 

Istilah gaslighting sendiri pertama kali muncul pada sebuah film berjudul Gas Light yang rilis pada 1938. Dalam film tersebut, seorang suami mencoba membuat istrinya gila dengan meredupkan lampu (yang bertenaga gas) di rumah mereka.

Sang suami kemudian menyangkal bahwa lampu berubah ketika sang istri mulai mempertanyakan kondisi tersebut.

Baca Juga : Alasan Psikologis Korban KDRT Sulit Lepas dari Bayang-bayang Pasangan Toxic

Jenis-jenis gaslighting pada sebuah hubungan

Melansir National Domestic Violence Hotline, ada beberapa teknik atau cara orang yang abusive melakukan gaslighting pada pasangannya. Berikut beberapa di antaranya:

  • Withholding: pasangan yang abusive menyangkal atau berpura-pura tidak memahami atau mendengar pasangannya. Contohnya: “Aku tidak ingin mendengar ini lagi,” atau “Kamu mencoba membuatku bingung.”
  • Countering: pasangan yang abusive mempertanyakan ingatan korban tentang sebuah peristiwa, bahkan ketika korban mengingatnya dengan akurat. Contohnya: “Kamu salah, kamu tidak pernah mengingat sesuatu dengan benar.”
  • Blocking/Diverting: pasangan yang abusive mengubah topik pembicaraan dan/atau mempertanyakan pemikiran korban. Contohnya: “Apakah itu ide aneh lain yang kamu dapatkan dari [teman/anggota keluarga?” atau “Kamu hanya mengkhayal.”
  • Trivializing: pasangan yang abusive membuat kebutuhan atau perasaan korban tampak tidak penting. Contohnya: “Kamu akan marah karena hal kecil seperti itu?” atau “Kamu terlalu sensitif”.
  • Forgetting/Denial: pasangan yang abusive berpura-pura telah melupakan apa yang sebenarnya terjadi atau menyangkal hal-hal seperti janji yang diberikan kepada korban. Contohnya: “Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan,” atau “Kamu hanya mengada-ada.”

Jika pasangan kamu melakukan beberapa hal di atas, mungkin saja secara tanpa sadar kamu sedang menjadi korban gaslighting.

Baca Juga : Gaslighting: Kenali Tandanya dan Ketahui Cara Menghindari Sebelum Terlambat!

Ciri-ciri dan tanda seseorang menjadi korban gaslighting

Dalam sebuah hubungan, gaslighting biasanya terjadi secara bertahap. Pada awalnya kamu mungkin merasa apa yang pasangan abusive kamu lakukan itu biasa saja.

Namun, seiring waktu, pola-pola pelecehan ini terus berlanjut dan kamu bisa menjadi merasa bingung, cemas, terisolasi, dan tertekan, dan kamu mulai kehilangan semua perasaan tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Robin Stern, PhD yang seorang psikoanalisis pernah menulis di Psychology Today, berikut beberapa gejala atau kamu kamu menjadi korban gaslighting:

  • Kamu terus-menerus mempertanyakan diri sendiri
  • Kamu bertanya pada diri sendiri, “Apakah aku terlalu sensitif?” beberapa kali sehari
  • Kamu sering merasa bingung bahkan merasa aneh
  • Kamu selalu meminta maaf kepada pasangan
  • Kamu tidak dapat memahami mengapa, dengan begitu banyak hal yang tampaknya baik dalam hidup kamu, kamu tidak lebih bahagia
  • Kamu sering membuat alasan atas perilaku pasangan kamu kepada teman dan keluarga
  • Kamu mendapati diri kamu menahan informasi dari teman dan keluarga sehingga kamu tidak perlu menjelaskan atau membuat alasan
  • Kamu tahu ada sesuatu yang sangat salah, tetapi kamu tidak pernah bisa mengungkapkannya, bahkan kepada diri kamu sendiri
  • Kamu mulai berbohong untuk menghindari keterpurukan
  • Kamu kesulitan membuat keputusan sederhana
  • Kamu merasa bahwa kamu dulunya adalah orang yang sangat berbeda, lebih percaya diri, lebih suka bersenang-senang, lebih santai
  • Kamu merasa putus asa dan tidak bahagia
  • Kamu merasa seolah-olah kamu tidak dapat melakukan sesuatu dengan benar

Jika kamu merasakan beberapa hal di atas, mulailah untuk melihat kembali seperti apa hubunganmu berjalan, bicarakan dengan teman yang tepercaya, dan mulailah berpikir untuk mengubah dinamika hubungan kamu.

Dampak gaslighting pada hubungan dan korban

Seiring waktu, seseorang yang menjadi korban gaslighting dari pasangan abusive mungkin mulai percaya bahwa mereka tidak dapat mempercayai diri sendiri.

Atau bahkan membuat korban merasa aneh dan memiliki gangguan kesehatan mental. Gaslighting ini dapat menyebabkan:

  • Kegelisahan (anxiety)
  • Depresi
  • Isolasi
  • Trauma psikologis

Semua ini dapat berdampak jangka panjang pada kesehatan mental dan harga diri seseorang. Hal itu juga dapat mempersulit individu untuk meninggalkan situasi yang menyiksa.

Jika gaslighting terjadi dalam suatu hubungan, itu bisa menjadi bagian dari pola kontrol koersif yang lebih luas. Kontrol koersif adalah pelecehan emosional yang memberikan kendali kepada pelaku kekerasan atas kehidupan pasangannya.

Lakukan konsultasi dengan pihak ketiga jika kamu merasa menjadi korban gaslighting. Jangan diabaikan begitu saja, ya!

Pastikan untuk mengecek kesehatan mental kamu dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Download di sini untuk berkonsultasi dengan mitra dokter kami.

Reference

National Domestic Violence Hotline. Diakses pada 4 Desember 2020. What is Gaslighting?

Healthline. Diakses pada 4 Desember 2020. How to Recognize Gaslighting and Get Help

Psychology Today. Diakses pada 4 Desember 2020. Are You Being Gaslighted?

    register-docotr