Kesehatan Mental

Tak Bisa Lepas dari Media Sosial? Awas Kena Sindrom FOMO!

August 10, 2020 | Muhammad Hanif S. | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Saat ini, media sosial hampir tak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Ada banyak fungsi yang dijalankan oleh media sosial, salah satunya adalah tren gaya hidup. Tanpa disadari, kondisi ini justru bisa memunculkan FOMO.

Jika dibiarkan, FOMO dapat memberi dampak yang buruk pada kesehatan mental. Seperti apa sih FOMO itu? Apa saja ciri-cirinya? Serta, bagaimana bisa FOMO memengaruhi kesehatan mental? Yuk, simak ulasannya berikut ini.

Baca juga: Dopamine Detox: Tren Baru untuk Atasi Kecanduan Gawai

Apa itu FOMO?

Melansir Centre for Mental Health, FOMO atau fear of missing out merupakan keinginan untuk selalu terhubung dengan apa yang dilakukan orang lain. Kata ‘fear’ yang terkandung di dalamnya mengacu pada rasa takut yang muncul saat melewatkan hal tersebut.

Dalam banyak kasus, FOMO sering dikaitkan dengan penggunaan media sosial. Seseorang yang memiliki FOMO akan berusaha untuk selalu mengecek smartphone-nya agar tak ketinggalan unggahan terbaru di media sosial atau hanya sekadar memeriksa notifikasi.

Pada tahapan yang akut, fokus pengidap FOMO mungkin akan langsung teralihkan sesaat setelah mendengar bunyi ‘beep’ dari ponselnya. Lama-kelamaan, hal ini akan berperngaruh pada rutinitas harian lainnya.

Mengapa bisa terjadi?

Mengutip dari Verywell Family, pada umumnya, setiap orang selalu peduli dengan ‘posisi’-nya di lingkungan sosial. Tapi dengan munculnya media sosial, FOMO menjadi nampak lebih terasa, terutama pada kaum muda atau generasi milenial.

Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa orang-orang yang memiliki sindrom FOMO cenderung menaruh perhatian besar pada media sosial, misalnya sekadar melihat pembaruan unggahan. Rasa percaya diri akan turun jika tidak bisa melakukan hal seperti yang dilihat pada unggahan.

Belum lagi, bagi sebagian besar remaja, media sosial telah menjadi platform sebagai tolok ukur kehidupan. Artinya, standar kehidupan diukur berdasarkan unggahan yang dilihat. Ini yang kemudian memunculkan dorongan kuat untuk terus terhubung dengan cara selalu mengecek ponsel.

Baca juga: Sering Dianggap Sama, Ini Lho Perbedaan Stres dan Depresi

Ciri-ciri dan gejala FOMO

Ilustrasi ciri-ciri FOMO. Sumber foto: www.twimg.com

Mengecek media sosial adalah hal yang wajar untuk dilakukan. Sayangnya, tidak sedikit yang terjebak pada sindrom FOMO. Ciri-cirinya adalah sebagai berikut:

1. Menunda pekerjaan lain

Orang dengan FOMO cenderung lebih mementingkan media sosial ketimbang hal lain. Ini dibuktikan oleh sebuah penelitian baru-baru ini, seseorang yang mengidap FOMO akan mudah tergoda untuk membuka media sosial, lalu menunda pekerjaan lainnya.

2. Tekanan pada pikiran

Jika unggahan dari teman membuatmu stres, besar kemungkinan kamu mengalami FOMO. Sebuah publikasi di Perpustakaan Kedokteran Nasional Amerika Serikat memaparkan bahwa pengidap FOMO cenderung menaruh perhatian serius pada unggahan di media sosial.

Bahkan, pada beberapa kasus, pikiran menjadi kacau dan akhirnya menghambat produktivitas.

3. Menghabiskan lebih banyak uang

Pengidap FOMO cenderung mengukur standar kehidupannya dengan apa yang dilihat di media sosial. Tak sedikit yang rela merogoh kocek untuk memenuhi ‘kebutuhan semu’ tersebut.

Bahkan, mengutip dari Health by Principle, pengidap FOMO akan tetap membeli sesuatu meski tidak punya uang yang cukup. Akhirnya, utang adalah salah satu jalan yang akan ditempuh.

4. Cemas jika tidak membuka media sosial

Gejala paling umum dari FOMO adalah rasa takut atau cemas jika tidak membuka atau mengakses media sosial dalam jangka waktu tertentu. Hal ini disebabkan oleh dorongan yang kuat untuk selalu up-to-date dengan unggahan-unggahan terbaru yang muncul.

Bagaimana FOMO mengganggu kesehatan mental?

Psychology Today menyebutkan bahwa sindrom FOMO sangat berkaitan dengan kesehatan mental. Pada tahapan yang parah, FOMO akan benar-benar mengganggu kondisi mental, jika:

  • Rasa percaya diri menurun
  • Merasa kesepian
  • Inferioritas atau merasa lebih rendah dari orang lain
  • Membenci diri sendiri

FOMO juga ikut andil dalam menciptakan gangguan kecemasan yang dapat berujung pada depresi. World Health Organization sendiri telah memasukkan depresi sebagai gangguan mental yang kini tengah diidap oleh lebih dari 260 juta orang di seluruh dunia.

Baca juga: Stres Berlebih hingga Sakit? Awas Kena Gangguan Psikosomatis!

Bagaimana cara mengatasi FOMO?

FOMO adalah kondisi yang bisa mengganggu kesehatan mental jika terjadi terus-menerus. Sehingga, sangat penting untuk mengatasinya sesegera mungkin, salah satunya dengan mengubah perspektif tentang media sosial itu sendiri.

Alih-alih untuk mengukur standar kehidupan, gunakan jejaring sosial untuk mencari informasi-informasi penting atau pelatihan yang bisa mengasah kemampuan dan wawasan.

Tanamkan dalam diri jika tidak semua unggahan adalah real. Banyak orang hanya mengunggah hal menyenangkan ke akun pribadinya. Selain itu, tak ada salahnya juga untuk bersikap acuh. Dengan begitu, kamu tidak akan terpancing untuk menjadikan media sosial sebagai tolok ukur kehidupan.

Kamu bisa menerapkan JOMO atau joy of missing out, yaitu menikmati setiap hal yang dikerjakan tanpa khawatir dengan yang orang lain lakukan.

Nah, itulah ulasan lengkap tentang FOMO dan dampaknya untuk kesehatan mental. Tidak ada yang salah dengan menggunakan media sosial, tapi jangan biarkan kebiasaan tersebut menguasi diri sehingga mengganggu aktivitas lainnya. Tetap jaga kesehatan, ya!

Jangan pernah ragu untuk konsultasikan masalah kesehatanmu bersama dokter terpercaya di Good Doctor. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

  1. Centre for Mental Health, diakses 6 Agustus 2020, Anxiety, loneliness and Fear of Missing Out: The impact of social media on young people’s mental health.
  2. Verywell Family, diakses 6 Agustus 2020, How FOMO Impacts Teens and Young Adults.
  3. Psychology Today, diakses 6 Agustus 2020, The FoMo Health Factor.
  4. Research Gate, diakses 6 Agustus 2020, Envy on Facebook: A Hidden Threat to Users’ Life Satisfaction?
  5. LifeHack.org, diakses 6 Agustus 2020, What Is FOMO (And How to Get Over It).
  6. LifeHack.org, diakses 6 Agustus 2020, Why FOMO is Addictive and How to Overcome It.
  7. World Health Organization, diakses 6 Agustus 2020, Depression.
  8. Health by Principle, diakses 6 Agustus 2020, Fomo Is Making People Spend Money They Don’t Have.
  9. National Center for Biotechnology Information (NCBI), diakses 6 Agustus 2020, A threat to loyalty: Fear of missing out (FOMO) leads to reluctance to repeat current experiences.
  10. National Center for Biotechnology Information (NCBI), diakses 6 Agustus 2020, Fear of missing out (FoMO) and rumination mediate relations between social anxiety and problematic Facebook use.

    register-docotr