Kesehatan Mental

Social Media Detox Kian Populer, Ini 4 Manfaatnya untuk Kesehatan Mental

August 8, 2020 | Muhammad Hanif S. | dr. Ario W. Pamungkas
feature image

Sosial media bisa bersifat candu. Bahkan, pakar di Michigan State University, Amerika Serikat, menyamakannya seperti ketergantungan pada obat-obatan. Ada banyak hal yang bisa kamu lakukan untuk mengatasi candu ini, salah satunya dengan social media detox.

Dalam banyak kasus, sosial media dapat membuat penggunanya mengalami gangguan kesehatan mental. Seberapa perlu untuk melakukan social media detox? Serta, apa saja manfaatnya bagi kesehatan mental? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Baca juga: Dopamine Detox: Tren Baru untuk Atasi Kecanduan Gawai

Apa itu social media detox?

Social media detox merupakan upaya pembatasan akses pada situs jejaring sosial, baik bersifat sementara maupun permanen. Istilah ini muncul mengikuti tren digital detox yang lebih dulu dikenal.

Medical News Today mendefinisikan sosial media sebagai ‘lubang hitam’ yang mampu menyedot banyak hal seperti perhatian, tenaga, waktu, dan emosi. Selain fokus pada interaksi sosial di kehidupan nyata, detoksifikasi dinilai perlu dilakukan untuk menghindari stres.

Penelitian yang dilakukan Pew Research Center menunjukkan fakta bahwa media sosial ikut andil dalam menciptakan gangguan psikologis seperti stres dan cemas, yang lama-kelamaan bisa memengaruhi kesehatan mental.

Masalah psikologis dapat muncul karena banyak faktor, misalnya cemburu dengan potret kehidupan orang lain yang nampak lebih baik, tuntutan untuk membalas setiap komentar dan pesan masuk, merasa harus selalu mengikuti status atau unggahan terbaru, dan lain sebagainya.

Manfaat social media detox untuk kesehatan mental

Dengan alasan di atas, social media detox adalah hal yang sangat wajar untuk dilakukan, terlebih untuk orang-orang yang ingin menjaga kesehatan mentalnya dari pengaruh yang ditimbulkan. Ada banyak manfaat social media detox untuk kesehatan mental, di antaranya adalah:

1. Memperbaiki kualitas tidur

Dengan melakukan social media detox, itu artinya kamu juga membatasi penggunaan ponsel untuk mengaksesnya. National Sleep Foundation menjelaskan, sinar biru pada cahaya smartphone bisa menghambat pelepasan melatonin, hormon pemicu rasa kantuk.

Itulah sebabnya mengapa kamu akan sulit tertidur saat sedang memainkan gadget. Dengan membatasi penggunaan ponsel untuk mengakses sosial media, kamu dapat terhindar dari paparan sinar itu, terutama pada malam hari.

Tidur adalah cara terbaik untuk mengembalikan dan mengatur ulang fungsi banyak organ. Tanpa tidur yang cukup, seseorang berisiko untuk mengalami gangguan kesehatan, termasuk pada mental.

Mengutip Harvard Medical School, saat memasuki periode tidur REM (rapid eye movement), seseorang akan mulai bermimpi. Di tahap ini, neurotransmiter dan hormon pemicu stres akan ditekan, sehingga kontrol emosi akan kembali seperti kondisi semula.

2. Mencegah gangguan kecemasan

Ilustrasi ciri-ciri FOMO. Sumber foto: www.twimg.com

Sebuah studi yang terbit pada The Journal of Social and Clinical Psychology menemukan fakta adanya keterkaitan sosial media dengan gangguan kecemasan.

Penggunaan sosial media yang ‘kurang memuaskan diri’ bisa menggangu aspek emosional, kemudian membuat pemakainya merasa seolah-olah terisolasi. Setelah itu, muncul kondisi yang bernama FOMO, atau fear of missing out.

Hal tersebut memaksa pengguna sosial media untuk merasa harus terus terhubung, dengan cara selalu mengecek notifikasi di ponsel. Jika dibiarkan, kondisi ini akan berdampak pada kesehatan mental, terutama gangguan kecemasan.

Baca juga: Sering Dianggap Sama, Ini Lho Perbedaan Stres dan Depresi

3. Memperbaiki mood

Social media detox diyakini dapat memperbaiki mood atau suasana hati. Ini dibuktikan oleh sebuah penelitian di Amerika Serikat pada 2014 yang memaparkan, sosial media bisa mengubah suasana hati penggunanya dalam sekejap.

Suasana hati itu bisa berupa senang, sedih, marah, tertekan, frustasi, hingga merasa kesepian. Perubahan-perubahan tersebut bisa memengaruhi kesehatan mental secara perlahan, yang berujung pada gangguan bipolar atau depresi akut.

4. Mencegah untuk selalu kompetitif

Pada banyak kasus, sosial media adalah platform yang sering digunakan untuk menunjukkan pencapaian tertentu dari penggunanya. Secara tidak langsung, hal tersebut dapat memicu pengguna lain untuk melakukan hal serupa.

Pada akhirnya, tak sedikit yang saling bersaing untuk mengunggah sesuatu yang dianggap sebagai pencapaian. Istilah pencapaian sendiri tidak hanya merujuk pada prestasi atau materi, tapi juga gaya hidup.

Menurut sebuah penelitian, pola kompetitif seperti itu hanya akan mendorong kecemburuan dan perilaku narsisme berlebihan. Psychology Today menjelaskan bahwa orang-orang dengan narsisme tinggi sangat rentan dengan gangguan depresi.

Nah, itulah manfaat social media detox yang perlu kamu ketahui. Kamu bisa mulai menerapkannya secara bertahap, karena semakin lepas dari candu sosial media, risiko untuk mengalami gangguan mental juga akan menurun. Tetap jaga kesehatan, ya!

Pastikan untuk mengecek kesehatan Anda dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Download di sini untuk berkonsultasi dengan mitra dokter kami.

Reference

  1. Center for Mental Health, diakses 5 Agustus 2020, Anxiety, loneliness and Fear of Missing Out: The impact of social media on young people’s mental health.
  2. LifeHack.org, diakses 5 Agustus 2020, 9 Reasons Why a Social Media Detox Is Good for You.
  3. Medical News Today, diakses 5 Agustus 2020, Is it time you went on a social media detox?
  4. Verywell Mind, diakses 5 Agustus 2020, What is a Digital Detox?
  5. Self.com, diakses 5 Agustus 2020, 6 Potential Mental Health Benefits of Deleting Social Media.
  6. Psychology Today, diakses 5 Agustus 2020, Why Are Narcissistic People Prone to Depression?
  7. Stanford Medicine, diakses 5 Agustus 2020, How social media can affect your mood.
  8. HelpGuide.org, diakses 5 Agustus 2020, Social Media and Mental Health.
  9. ChildMind.org, diakses 5 Agustus 2020, Does Social Media Cause Depression?
  10. Harvard Medical School, diakses 5 Agustus 2020, Sleep and mental health.
  11. SleepFoundation.org, diakses 5 Agustus 2020, How Blue Light Affects Kids & Sleep.
  12. Pew Research Center, diakses 5 Agustus 2020, Psychological Stress and Social Media Use.
  13. Michigan State University, diakses 5 Agustus 2020, Excessive Social Media Use Is Comparable To Drug Addiction.
  14. Guilford Journals, diakses 5 Agustus 2020, No More FOMO: Limiting Social Media Decreases Loneliness and Depression.
  15. Science Direct, diakses 5 Agustus 2020, Glancing up or down: Mood management and selective social comparisons on social networking sites.
  16. American Academy of Family Physicians, diakses 5 Agustus 2020, Social Media Use and Mood Disorders: When Is It Time to Unplug?
  17. National Center for Biotechnology Information (NCBI), diakses 5 Agustus 2020, Online Social Networking and Mental Health.

    register-docotr