Kesehatan Mental

Sering Berbohong Tanpa Alasan yang Jelas? Awas Jadi Pathological Liar!

October 21, 2020 | Muhammad Hanif S.
feature image

Meski bukan tindakan yang seharusnya dilakukan, berbohong terkadang bisa menyelamatkan seseorang dari situasi sulit. Namun, jika hal tersebut dilakukan secara berulang dan konsisten tanpa maksud yang jelas, bisa jadi itu adalah tanda dari kebohongan patologis.

Siapa pun bisa menjadi pathological liar, termasuk orang-orang yang berada di sekitarmu, seperti rekan kerja bahkan sahabat dan saudara sendiri. Lalu, bagaimana cara mengenali pembohong seperti itu? Yuk, simak ulasannya berikut ini!

Apa itu pathological liar?

Pathological liar adalah seseorang yang gemar berbohong secara kompulsif. Artinya, ada dorongan untuk berbohong meski tanpa motif yang jelas. Ini berbeda dengan sebagian besar orang yang melakukan kebohongan dengan maksud tertentu.

Seorang pathological liar biasanya tidak memiliki motivasi tertentu untuk berbohong. Menurut sebuah penelitian, hal tersebut kemungkinan besar dipengaruhi oleh adanya gangguan saraf atau kelainan hormon di dalam tubuh.

Baca juga: 5 Jenis Gangguan Psikologis yang Sering Terjadi, Apa Sajakah Itu?

Penyebab pathological liar

Penyebab dari kebohongan patologis belum diketahui secara pasti. Hanya saja, menurut sebuah riset, ada beberapa hal yang bisa memicu seseorang untuk melakukan pathological lying, yaitu:

1. Factitious disorder

Factitious disorder atau gangguan buatan adalah kondisi di mana seseorang bertindak seolah-olah sedang sakit fisik atau mental, padahal sebenarnya tidak. Keadaan ini dapat dipengaruhi oleh sejumlah faktor, seperti:

  • Rasa percaya diri yang rendah
  • Trauma terhadap sesuatu, misalnya pelecehan
  • Depresi
  • Penyalahgunaan obat

2. Gangguan kepribadian

Kebohongan patologis adalah gejala yang mungkin timbul dari gangguan kepribadian (personality disorder) tertentu, seperti:

  • Gangguan kepribadian ambang (borderline personality disorder): Kondisi yang membuat seseorang sulit mengatur emosinya. Pengidapnya mungkin mengalami perubahan suasana hati yang parah.
  • Gangguan kepribadian narsistik (narsistic personality disorder): Kondisi saat seseorang menginginkan perlakukan khusus dan kekaguman dari orang lain.
  • Gangguan kepribadian antisosial (antisocial personality disorder): Kondisi ketika seseorang menutup diri dari kehidupan sosial dan lingkungan sekitar.

Baca juga: Pasanganku Terlalu Narsis, Bagaimana Cara Menghadapinya?

3. Demensia frontotemporal

Sebuah studi pada 2011 menemukan fakta bahwa orang yang gemar melakukan kebohongan patologis memiliki pola perilaku yang mirip seperti pengidap demensia frontotemporal.

Jenis demensia ini memengaruhi bagian otak bernama frontal dan temporal, yang dapat menyebabkan perubahan perilaku, seperti:

  • Kurangnya empati
  • Perubahan minat (preferensi) terhadap makanan
  • Mudah bosan
  • Perilaku kompulsif

Bagaimana cara membedakan kebohongan patologis?

Sebuah riset memaparkan bahwa manusia, secara rata-rata, melakukan kebohongan 1,65 kali dalam sehari. Kebohongan yang dilakukan adalah untuk maksud tertentu, alias punya tujuan yang jelas. Kebohongan ini disebut sebagai white lies.

Di sisi lain, ada orang yang gemar berbohong tanpa motif yang jelas, dilakukan secara berulang dan konsisten. Inilah yang disebut dengan kebohongan patologis.

Seseorang biasanya melakukan white lies tanpa ada niat jahat dan dampak berbahaya, melainkan hanya untuk mengindari masalah atau berusaha menyenangkan orang lain. Contohnya adalah:

  • Kamu berbohong sedang pusing sebagai alasan untuk menghindari meeting.
  • Berbohong sebagai alasan ketika terlambat datang ke kantor.
  • Kamu mengatakan telah membayar tagihan untuk mengelak ketika lupa belum melunasinya

Sementara untuk kebohongan patologis, ciri-cirinya meliputi:

  • Dilakukan secara kompulsif (ada dorongan)
  • Menjadi kebiasaan, dilakukan secara terus-menerus
  • Tidak merasa bersalah ketika ketahuan berbohong
  • Tidak takut dengan risiko ketahuan
  • Berbohong seolah-olah menjadi ‘korban’ atau seseorang yang telah berjasa

Contoh kebohongan patologis adalah:

  • Membuat riwayat atau sejarah hidup palsu, seperti mengatakan bahwa telah mencapai atau mengalami sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi.
  • Mengaku mempunyai penyakit yang mengancam nyawa, padahal sebenarnya tidak.
  • Berbohong demi mendapat pengakuan orang lain, misalnya pernah menjalin hubungan dengan orang terkenal.

Mendeteksi pembohong patologis di lingkungan sekitar

Mengidentifikasi pembohong patologis tidaklah mudah. Teman atau sahabat pun terkadang bisa saja melakukannya. Berbeda dengan white liar, pembohong patologis bisa menceritakan sesuatu secara detail dan rinci, meski sebenarnya itu hanyalah kepalsuan.

Berikut beberapa tanda yang bisa membantumu untuk mengidentifikasi pembohong patologis:

  • Sering membicarakan tentang pengalaman dan pencapaian yang terkesan menakjubkan atau heroik.
  • Bercerita tentang peristiwa tertentu di mana orang tersebut seolah-olah menjadi korban.
  • Mampu menanggapi pertanyaan yang rumit dengan cepat, namun biasanya perkataannya tidak jelas.

Bagaimana cara mengatasinya?

Saat bertemu dengan teman atau kerabat yang suka melakukan kebohongan patologis, kamu harus tetap bisa mengontrol diri. Tak perlu marah, frustasi, atau bahkan melakukan konfrontasi. Tetaplah bersikap suportif dengan berusaha untuk tidak melibatkan diri terlalu jauh.

Mengutip dari Medical News Today, kebohongan patologis bukanlah kondisi yang bisa dengan mudah dideteksi, sehingga tidak ada pengobatan formal untuk mengatasinya. Penanganannya biasanya menggunakan metode khusus untuk gangguan kepribadian, misalnya psikoterapi.

Nah, itulah ulasan lengkap tentang pathological liar yang perlu kamu tahu. Memahami ciri-ciri pembohong patologis bisa membantumu dalam mengenali lawan bicara.

Pastikan untuk mengecek kesehatan Anda dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Download di sini untuk berkonsultasi dengan mitra dokter kami.

Reference

  1. Healthline, diakses 20 Oktober 2020, How Do I Cope with Someone Being a Pathological Liar?
  2. Medical News Today, diakses 20 Oktober 2020, What to know about pathological liars.
  3. Wiley Online Library, diakses 20 Oktober 2020, The Prevalence of Lying in America: Three Studies of Self‐Reported Lies.
  4. Research Gate, diakses 20 Oktober 2020, The neuropsychological correlates of pathological lying: Evidence from behavioral variant frontotemporal dementia.
  5. Research Gate, diakses 20 Oktober 2020, Pathological lying revisited.
  6. Nature Neuroscience, diakses 20 Oktober 2020, The brain adapts to dishonesty.

    register-docotr