Kesehatan Mental

Bisa Serang Anak-Anak, Kenali Lebih Jauh Post-Traumatic Stress Disorder dan Sejumlah Gejalanya

July 25, 2020 | Dani Kosasih
feature image

Post-traumatic stress disorder (PTSD) atau gangguan stres pascatrauma merupakan gangguan kecemasan yang bisa terjadi pada siapapun yang pernah mengalami atau menyaksikan peristiwa traumatis.

Di Amerika Serikat, PTSD telah memengaruhi sekitar 3,5 persen orang dewasa. Diperkirakan, satu dari 11 orang pasti akan didiagnosis kondisi ini. Biasanya, perempuan memiliki risiko paling besar dibandingkan laki-laki.

Baca Juga: Jangan Dianggap Enteng! Ini Bahaya PTSD yang Bisa Sebabkan Bunuh Diri

Siapa saja yang dapat mengalami post-traumatic stress disorder?

Melansir laman psychiatry.org, post-traumatic stress disorder dapat terjadi pada siapapun dari berbagai etnis, kebangsaan atau budaya, hingga usia berapapun.

Mereka yang pernah mengalami atau menyaksikan peristiwa traumatis, sangat mungkin untuk menderita PTSD.

Beberapa peristiwa tersebut seperti:

  • Bencana alam
  • Kecelakaan serius
  • Tindakan teroris
  • Terlibat dalam situasi perang atau pertempuran
  • Mengalami perkosaan atau pelecehan seksual
  • Mengalami berbagai bentuk kekerasan lainnya.

Gejala PTSD

Gejala post-traumatic stress disorder biasanya muncul setelah seseorang mengalami peristiwa traumatis. Waktu kemunculan dan tingkat keparahannya pun bisa berbeda bagi tiap orang.

Beberapa kasus ada gejala yang dimulai pada 3 bulan awal setelah mengalami peristiwa traumatis. Namun, ada juga kasus yang baru merasakan gejala setelah bertahun-tahun lamanya mengalami peristiwa traumatis.

Berikut beberapa gejala yang menunjukkan seseorang mengalami PTSD:

Memiliki ingatan kuat terhadap peristiwa traumatis

Bagi orang yang mengalami post-traumatic stress disorder seringkali teringat akan kejadian yang membuatnya trauma berulang kali. Pada kasus yang cukup berat, seseorang dengan PTSD  merasa seakan mengulang kembali kejadian traumatis tersebut.

Ingatan yang terus berulang ini akan mengganggu aktivitas bahkan sampai terbawa mimpi hingga menyebabkan orang dengan PTSD mengalami tekanan secara emosional.

Memiliki kecenderungan untuk menghindar

Orang dengan PTSD memiliki kecenderungan untuk selalu menghindari apapun yang berkaitan dengan pengalaman traumatis yang pernah dialami.

Memiliki kecenderungan perilaku dan emosi yang mudah berubah

Orang dengan PTSD akan lebih mudah merasa takut dan marah. Biasanya, perubahan perilaku dan emosi ini akan membahayakan dirinya atau orang lain di sekitarnya.

Perubahan emosi ini juga mampu membuatnya sulit tidur dan berkonsentrasi.

Selain itu, orang dengan PTSD juga akan mudah kaget, gelisah dan emosi yang meledak-ledak.

Pada banyak kasus, kondisi seperti ini sering menimbulkan masalah dan kesulitan bagi orang dengan PTSD untuk melakukan aktivitas sehari-hari, seperti tidur, makan, bekerja hingga berkonsentrasi.

Gejala post-traumatic stress disorder pada anak-anak

Post-traumatic stress disorder juga bisa terjadi pada anak-anak. PTSD pada anak memiliki gejala khusus, seperti:

  • Anak sering melakukan reka ulang peristiwa traumatis yang mereka alami melalui permainan
  • Anak akan sering mengalami mimpi buruk yang terkait dengan peristiwa traumatis yang dialaminya.

Penyebab post-traumatic stress disorder

Seperti kebanyakan masalah kesehatan mental, PTSD mungkin juga disebabkan oleh campuran permasalahan mental yang cukup kompleks, seperti:

  • Memiliki stres yang tertahan, termasuk durasi dan tingkat keparahan trauma yang dialami
  • Memiliki risiko kesehatan mental seperti riwayat kecemasan dan depresi yang diwariskan oleh keluarga
  • Memiliki masalah pada cara kerja otak yang mengatur bahan kimia dan hormon yang dikeluarkan sebagai respons terhadap stres.

Diagnosis PTSD

Melansir dari webmd.com, beberapa kasus menunjukkan bahwa diagnosis post-traumatic stress disorder baru bisa dilakukan setidaknya setelah satu bulan sejak saat peristiwa traumatis terjadi.

Dokter akan melakukan evaluasi saat gejala PTSD mulai terlihat dengan melakukan riwayat medis lengkap dan pemeriksaan fisik.

Dokter dapat menggunakan berbagai tes untuk menyingkirkan beberapa kemungkinan penyakit fisik lainnya yang tidak berhubungan dengan PTSD.

Jika dokter tidak menemukan adanya penyakit fisik, maka dokter akan merujuk kamu untuk mengunjungi psikiater, psikolog, atau profesional kesehatan mental lainnya.

Dokter mendasarkan diagnosis PTSD pada gejala yang dilaporkan. PTSD baru bisa didiagnosis jika orang tersebut memiliki gejala PTSD yang berlangsung selama lebih dari satu bulan.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

1. webmd.com. Diakses 21 Juli 2020. https://www.webmd.com/mental-health/post-traumatic-stress-disorder#2-5

2. mayoclinic.org. Diakses 21 Juli 2020. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/post-traumatic-stress-disorder/symptoms-causes/syc-20355967

3. nimh.nih.gov. Diakses 21 Juli 2020. https://www.nimh.nih.gov/health/topics/post-traumatic-stress-disorder-ptsd/index.shtml

4. psychiatry.org. Diakses 21 Juli 2020. https://www.psychiatry.org/patients-families/ptsd/what-is-ptsd

5. nhs.uk. Diakses 21 Juli 2020. https://www.nhs.uk/conditions/post-traumatic-stress-disorder-ptsd/symptoms/

6. apa.org (2017). Diakses 21 Juli 2020. https://www.apa.org/ptsd-guideline/ptsd.pdf

    register-docotr