Kesehatan Mental

Benarkah Stres dapat Menyebabkan Stroke? Simak 5 Fakta Menarik Berikut

October 13, 2020 | Dewi Nurfitriyana
feature image

Kamu pasti setuju kalau stres terlalu sering akan membuat hidup menjadi tidak sehat. Ini dapat menyebabkan pusing, sakit perut, kecemasan, susah tidur dan banyak lagi. Tapi, apakah stres juga bisa mengakibatkan stroke?

Dilansir dari Webmd, orang yang mudah stres biasanya memiliki karakter cepat marah, tidak sabar, agresif, atau senang menciptakan konflik. Kategori orang seperti ini cenderung lebih rentan terkena stroke, dibandingkan dengan rekan mereka yang lebih santai.

Baca juga: Penyakit Psikologis Suka Menunda Pekerjaan alias Procrastination, Sudah Kenal Belum?

Apa itu stres?

Stres adalah respons tubuh terhadap ancaman, baik yang nyata maupun yang baru ada di dalam pikiranmu.

Biasanya saat stres, tubuh mengeluarkan beberapa tanda seperti detak jantung semakin kencang, otot menegang, dan tubuh mengeluarkan keringat dalam jumlah banyak.

Ini semua bertujuan untuk membuat kamu bersiap menghadapi suatu kondisi tertentu, misalnya yang sifatnya berbahaya.

Dalam kadar yang wajar, stres bisa membantu kamu mengerjakan sesuatu dengan cepat. Tetapi jika terlalu sering, stres dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan, salah satunya adalah stroke.

Apa yang terjadi pada tubuh selama mengalami stres?

Selama stres, otak menghasilkan dua zat kimia yang berfungsi mempersiapkan kamu menghadapi ancaman. Bahan kimia ini adalah kortisol dan adrenalin yang diproduksi tanpa memandang jenis stres.

Jadi entah itu disebabkan kerusakan fisik, ketakutan, kesedihan, atau beban harian akibat pekerjaan. Dua bahan kimia ini akan dilepaskan otak dan membuat kamu mempersiapkan diri menghadapi kondisi yang menegangkan.

Baca juga: Hati-hati Gaya Hidup Tidak Sehat Menjadi Faktor Penyebab Stroke

Apakah stres bisa menyebabkan stroke?

Jawabannya bisa iya, dan bisa tidak. Dr. Ryan Sundermann, seorang dokter di East Central Iowa Acute Care, Amerika Serikat, berkata bahwa apabila kamu termasuk kategori berisiko rendah, maka stres tinggi yang terputus-putus seharusnya tidak membuat kamu terpapar risiko stroke.

Adapun yang dimaksud dengan kategori risiko rendah meliputi:

  1. Memiliki berat badan normal / lemak tubuh rendah
  2. Kadar kolesterol jahat yang rendah
  3. Tekanan darah terkendali, dengan atau tanpa obat
  4. Rutin berolahraga
  5. Mengikuti pola makan sehat dan seimbang
  6. Tidak memiliki riwayat penyakit pembuluh darah dalam keluarga

Namun jika kamu berisiko tinggi, misalnya karena memiliki riwayat penyakit stroke pada salah satu anggota keluarga, atau memiliki kebiasaan merokok, maka setiap ada peristiwa yang menegangkan sangat mungkin meningkatkan kortisol dan adrenalin, sehingga memicu terjadinya stroke.

Bagaimana stres mengakibatkan stroke?

Menurut Heartandstroke, kaitan antara stres dan stroke sangat kuat dan tidak dapat disangkal. Pertama, stres dapat menyebabkan jantung bekerja lebih keras, meningkatkan tekanan darah, serta meningkatkan kadar gula dan lemak dalam darah.

Hal-hal ini jika dibiarkan terus menerus sangat mungkin meningkatkan risiko pembentukan gumpalan pada jantung atau otak, dan menyebabkan stroke.

Tak hanya itu, ketika stres kamu cenderung akan makan berlebihan, makan makanan yang tidak sehat, dan melakukan berbagai perilaku hidup tidak sehat lainnya. Ini juga memicu munculnya risiko gangguan stroke.

Saat berada di bawah tekanan konstan, kamu juga akan memiliki kadar kortisol dan hormon stres lainnya secara terus-menerus. Ini akan menyebabkan retensi garam, yang meningkatkan tekanan darah.

Lama kelamaan hal tersebut akan menyebabkan stres pada pembuluh darah, yang berarti pembuluh tidak dapat melebar untuk mengontrol aliran darah dengan lebih baik. Inilah yang bisa membuat kamu terkena stroke.

Cara mencegah dan menangani stres agar tidak terkena stroke

Perlu diingat bahwa kunci utama untuk mengendalikan hal ini bersumber dari dirimu sendiri. Jadi coba ambil waktu sejenak dan lakukan beberapa hal di bawah ini untuk mengatasi maupun mencegah stroke akibat stres.

  1. Cobalah untuk melihat sisi positif dari semua hal
  2. Terimalah kenyataan bahwa ada hal yang tidak dapat kamu kendalikan.
  3. Bersikaplah tegas, namun bukan agresif. Usahakan untuk selalu menyampaikan apa yang kamu rasakan, pendapat dan keyakinanmu daripada memendamnya dan beralih menjadi bersikap marah
  4. Pelajari dan praktikkan teknik relaksasi, seperti meditasi, atau yoga
  5. Berolahragalah secara teratur. Karena tubuh akan terlatih melawan stres dengan lebih baik saat alam kondisi bugar.
  6. Makan makanan yang sehat dan seimbang.
  7. Belajar untuk mengatur waktu dengan lebih efektif.
  8. Tetapkan batasan dengan tepat dan belajarlah untuk mengatakan tidak pada permintaan yang akan membuat stres berlebihan dalam hidupmu.
  9. Luangkan waktu untuk hobi, minat, dan relaksasi.
  10. Istirahat dan tidur yang cukup, karena bagaimana pun tubuh akan membutuhkan waktu untuk pulih dari peristiwa stres.
  11. Jangan mengandalkan alkohol, narkoba, atau perilaku kompulsif untuk mengurangi stres.
  12. Cari dukungan sosial dengan menghabiskan cukup waktu dengan orang yang kamu sayangi
  13. Jika gejala stres berlanjut, tak ada salahnya mencari bantuan medis pada psikolog atau ahli kesehatan mental lainnya untuk manajemen stres.

Itulah beberapa hal yang bisa kamu lakukan untuk mengatasi dan mencegah stres berlebihan dalam kehidupan sehari-hari. Coba terapkan mulai dari sekarang, ya. Selain bisa membuat kamu lebih tenang beraktivitas, ini juga bisa membuatmu terhindar dari risiko penyakit stroke.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

register-docotr