Kulit & Perawatan Tubuh

Mengatasi Sindrom SAHA dengan Terapi Hormonal, Seperti Apa?

August 17, 2020 | Dani Kosasih | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Sindrom SAHA merupakan kependekan dari seborrhoea, acne, hirsutism, dan alopecia. Kondisi sindrom SAHA memiliki kaitan erat dengan sindrom ovarium polikistik (PCOS) pada wanita.

Kaitan ini dipengaruhi oleh kesamaan hormon androgen serta kemiripan gejala-gejala yang dihasilkan. Selain itu, sindrom  SAHA dan sindrom ovarium polikistik juga sama-sama dapat menyebabkan infertilitas pada wanita.

Baca Juga: Mengenal Penyakit PCOS: Gejala, Penyebab dan Hal Penting yang Wajib Diketahui

Usia wanita yang bisa terkena SAHA sindrom

Menurut sebuah publikasi medis, sindrom SAHA umumnya terjadi pada wanita dengan usia muda hingga paruh baya yang mengalami peningkatan kadar androgen dalam darah.

Dalam kasus sindrom SAHA, diagnosis dan evaluasi klinis yang cermat sangat penting dilakukan untuk mengidentifikasi penyebabnya.

Gejala sindrom SAHA

Karena sindrom SAHA sangat erat dengan masalah kulit dan rambut, maka gejalanya pun bisa bermacam-macam yang berhubungan dengan kedua masalah tersebut.

Beberapa gejala umum yang biasa dialami penderita sindrom SAHA adalah:

  • Kulit bersisik atau seborrhea
  • Jerawat atau acne
  • Rambut yang tumbuh di wajah dan badan atau hirsutism
  • Rambut rontok atau andogenic alopecia.

Gejala lainnya

Penyebab utama sindrom SAHA adalah kelebihan hormon androgen. Hormon ini memiliki peran penting dalam menjaga berbagai fungsi organ tubuh wanita, terutama tulang dan organ reproduksi.

Namun, saat jumlah hormon tersebut meningkat dan menjadi berlebihan, maka kamu pun memiliki risiko mengalami beberapa kondisi seperti:

  • Menstruasi tidak teratur
  • Suara berubah menjadi lebih dalam dan berat
  • Klitoris yang membesar
  • Payudara mengecil
  • Otot-otot tubuh membesar
  • Obesitas
  • Infertilitas
  • Masalah psikologis, seperti depresi dan gangguan kecemasan.

Baca Juga: Apa Itu SAHA Syndrome dan Bagaimana Cara Menanganinya?

Terapi hormonal untuk pengobatan sindrom SAHA

Terapi hormonal merupakan salah satu cara yang direkomendasikan oleh dokter untuk menangani sindrom SAHA. Pengobatan dengan melakukan terapi hormonal biasanya menggunakan hormon sintesis.

Fungsi hormon sintesis ini adalah untuk menurunkan kadar hormon androgen di dalam tubuh wanita yang mengalami sindrom SAHA.

Sebelum dilakukan terapi hormonal untuk wanita yang mengalami sindrom SAHA, terlebih dahulu dokter akan melakukan pemeriksaan untuk mencari penyebabnya.

Jenis pemeriksaan yang mungkin akan dilakukan adalah pemeriksaan fisik dan pemeriksaan pendukung seperti tes darah. Hasil tes darah ini nantinya akan digunakan untuk mengukur kadar hormon androgen di dalam tubuh wanita yang mengalami sindrom SAHA.

Obat yang dikonsumsi

Apabila setelah melakukan pemeriksaan, dokter mengatakan bahwa kamu menderita sindrom SAHA, maka untuk selanjutnya, kemungkinan dokter pun akan memberikan kamu beberapa jenis obat yang harus dikonsumsi.

Berikut beberapa jenis obat yang mungkin akan diberikan pada wanita yang mengalami sindrom SAHA:

Obat antiandrogen

Obat antiandrogen biasanya diberikan apabila ditemukan adanya kemungkinan kadar hormon androgen yang cukup tinggi di dalam tubuh wanita yang mengalami sindrom SAHA.

Pemberian obat antiandrogen ini mampu menurunkan kadar hormon androgen tersebut serta mengatasi gejala sindrom SAHA yang mungkin akan bermunculan.

Obat-obatan antiandrogen yang mungkin akan diberikan oleh dokter seperti siproteron asetat, spironolakton, dan flutamide.

Pil kontrasepsi kombinasi

Jika kamu tidak sedang hamil atau memiliki rencana untuk hamil dan kamu mengalami sindrom SAHA, maka salah satu obat untuk terapi hormonal yang mungkin akan diberikan adalah pil kontrasepsi yang mengandung antiandrogen.

Pil tersebut merupakan pil kontrasepsi kombinasi. Pil ini sendiri ada berbagai macam dengan kandungan yang berbeda-beda.

Secara umum, pil kontrasepsi kombinasi memiliki kandungan seperti Levonorgestrel, Norgestimate, Desogestrel, Drospirenon, dan Siproteron asetat (CPA).

Sedangkan untuk pil kontrasepsi kombinasi yang dapat mengatasi jerawat hiperandrogen adalah yang mengandung kombinasi Etinilestradiol dan Siproteron asetat (CPA).

Biasanya penggunaan pil kontrasepsi kombinasi yang mengandung Etinilestradiol dan Siproteron asetat, juga akan membuat kadar hormon androgen menjadi normal kembali.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

1. pubmed.ncbi.nlm.nih.gov (2000). Diakses 14 Agustus 2020. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/11595813/

2. ncbi.nlm.nih.gov (2013). Diakses 14 Agustus 2020. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3830374/

3. semanticscholar.org. Diakses 14 Agustus 2020. https://www.semanticscholar.org/paper/The-SAHA-Syndrome-Orfanos-Adler/7b97ba2dd1a6ded80a12bf02b05ad741504e94de

4. researchgate.net. Diakses 14 Agustus 2020. https://www.researchgate.net/publication/11753877_The_SAHA_syndrome

5. ncbi.nlm.nih.gov (2017). Diakses 14 Agustus 2020. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5749694/

6. researchgate.net. Diakses 14 Agustus 2020. https://www.researchgate.net/publication/289708320_A_case_of_SAHA_syndrome

7. The SAHA Syndrome. Diakses 14 Agustus 2020. http://link-springer-com-443.webvpn.fjmu.edu.cn/chapter/10.1007%2F978-3-540-69375-8_75

8. dermnetnz.org. Diakses 14 Agustus 2020. https://dermnetnz.org/topics/anti-androgen-therapy/

    register-docotr