Info Sehat

Terapi Warna Bisa Membantu Meredakan Nyeri, Benarkah?

December 12, 2020 | Nanda Hadiyanti | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Warna dipercaya dapat memengaruhi suasana hari dan emosi secara dramatis. Warna juga bisa dijadikan alat komunikasi untk menyampaikan pesan tertentu. Misalnya, warna biru yang dianggap bisa membuat seseorang merasa tenang atau rileks.

Beberapa profesi, seperti desainer interior mengetahui kaitan antara warna dan emosi tersebut. Tapi tahukah kamu jika warna juga bisa digunakan sebagai media terapi untuk pengobatan masalah mental dan juga penyakit fisik?

Mengenal terapi warna

Terapi warna atau chromotherapy adalah gagasan bahwa warna dan sinar dapat membantu merawat kesehatan fisik atau mental. Terapi warna ini sudah memiliki sejarah yang panjang.

Dilansir dari Healthline, diketahui bahwa terapi warna dan cahaya sudah mulai dilakukan di Mesir Kuno, Yunani, cina dan India. Terapi warna pun akhirnya ikut berkembang bersama budaya tempat-tempat tersebut. Seperti yang diungkap oleh salah satu ahli terapi warna.

“Hubungan kami dengan warna telah berkembang seiring dengan budaya, agama dan kehidupan kami sendiri,” ungkap Walaa Al Muhaiteeb, seorang ahli terapi dilansir dari Healthline.

Perkembangan terapi warna

Dulunya penggunaan warna dianggap sesuatu yang sangat simbolis. Seperti Tabib Mesir yang mengenakan penutup dada berwarna biru untuk sebagai pertanda kesucian mereka. Atau di Yunan, jubah emas digunakan sebagai penanda kebijaksanaan dan juga kesucian.

Saat ini, terapi warna dianggap sebagai salah satu pengobatan alternatif. Al Muhaiteeb sendiri menggunakan terpai warna untuk membantu orang lain melepaskan kecemasan, meredakan depresi dan membuat orang lain lebih terhubung dengan diri mereka sendiri.

Terapi tersebut dilakukan melalui pelatihan karya yang masih berkaitan dengan warna bersama, dan kegiatan lain yang mendukung seperti latihan pernapasan, meditasi dan sesi berbicara tatap muka empat mata.

Minimnya penelitian tentang terapi warna

Seperti yang sudah disebutkan, terapi warna bisa membantu mengatasi masalah kesehatan fisik atau mental. Tapi hingga kini ilmu kedokteran belum dapat memastikan apakah warna dan cahaya berwarna dapat membantu mengobati penyakit fisik atau meningkatkan kesehatan mental.

Meski begitu, terapi cahaya tetap dipercaya dapat mengatasi rasa sakit atau nyeri dan memberi pengaruh positif pada suasana hati seseorang. Walaupun penelitian ilmiah tentang terapi warna masih sangat terbatas.

Karena penelitian tentang terapi cahaya tidak mudah dilakukan, seperti yang diungkapkan oleh Mohab Ibrahim, PhD, MD, profesor anestesiologi di Fakultas Kedokteran Universitas Arizona. “Saya menemui banyak hambatan ketika mengusulkan cahaya sebagai pendekatan terapeutik,”

Meski begitu tetap saja ada beberapa terapi warna yang masih dilakukan. Beberapa warna digunakan karena memiliki manfaat yang spesifik untuk mengatasi kondisi tertentu.

Manfaat terapi warna untuk pengobatan

Terapi warna digunakan untuk pengobatan masalah mental ataupun penyakit fisik seperti:

  • Terapi cahaya untuk mengobati gangguan afektif musiman. Sejenis depresi yang biasanya muncul selama musim gugur dan musim dingin.
  • Fototerapi dengan cahaya biru, biasanya digunakan untuk mengobati penyakit kuning pada bayi yang baru lahir. Bayi diletakkan di bawah lampu biru agar kulit dan darahnya dapat menyerap gelombang cahaya tersebut dan megatasi kuning pada kulit bayi
  • Selain untuk menghilangkan bilirubin, cahaya biru di siang hari dapat meningkatkan kewaspadaan, perhatian, reaksi hingga suasana hati secara umum.
  • Namun perlu diperhatikan cahaya biru di malam hari dapat mengganggu jam biologis, karena menekan melatonin, hormon yang membantu tubuh untuk tidur.
  • Di luar hal yang sudah disebutkan, terapi warna juga diyakini dapat meredakan nyeri. Namun penelitiannya masih terbatas.

Nyeri dan juga cahaya hijau

Mohab Ibrahim, profesor anestesiologi di Fakultas Kedokteran Universitas Arizona, melakukan penelitian tentang efek lampu bercahaya hijau pada migrain dan nyeri fibromyalgia (nyeri tubuh, lelah dan gangguan tidur).

Ia melakukan penelitian ini setelah saudaranya mengatakan sakit kepalanya membaik setelah menghabiskan waktu di kebun dengan pepohonan dan tanaman hijau.

Hasil penelitian itu dianggap menggembirakan. Karena peserta yang terlibat mengungkapkan migrain dan nyeri fibromyalgia menjadi lebih ringan setelah 10 minggu terpapar lampu LED hijau setiap hari.

Ia yakin terapi warna bisa mengurangi nyeri hingga 10 persen. Walau memang ia masih meragukan jika terapi ini dapat menggantikan obat nyeri pada umumnya.

Sementara itu, Padma Gulur, MD, profesor anestesiologi dan kesehatan populasi di Duke University School of Medicine, telah meneliti efek terapi warna pada tingkat rasa sakit. Menurutnya mungkin saja nantinya ini dapat digunakan menjadi alternatif untuk mengatasi rasa sakit pada pasien.

Bagaimana jika ingin mencoba melakukan terapi warna?

Meski penelitian masih terbatas, kamu tetap bisa mencoba mencari tahu efek dari terapi warna. Mungkin saja dapat meningkatkan mood atau meningkatkan kualitas tidur. Beberapa yang bisa kamu lakukan untuk terapi warna mandiri antara lain:

  • Matikan ponsel atau komputer beberapa jam sebelum tidur. Ini dilakukan agar cahaya biru tidak mengganggu waktu tidur.
  • Gunakan pengaturan pencahayaan untuk mendapatkan warna yang lebih hangat jika menggunakan komputer di malam hari.
  • Kamu juga bisa mencoba menggunakan kacamata anti cahaya biru untuk melindungi mata dari pancaran cahaya ponsel, komputer atau TV kamu.
  • Terakhir, kamu bisa mencoba mendekorasi kamar kamu dengan berbagai warna untuk membantu meningkatkan suasana hati.

Demikian ulasan mengenai terapi warna dan kaitannya terhadap rasa sakit pada tubuh.

Punya pertanyaan lebih lanjut seputar info sehat lainnya? Silakan chat langsung dengan dokter kami untuk konsultasi. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

register-docotr