Info Sehat

Sering Makan Kentang Goreng? Waspadai 5 Bahaya yang Mengintai Tubuh

July 16, 2020 | Muhammad Hanif S.
feature image

Kentang merupakan tanaman umbi yang sudah tak asing lagi bagi orang Indonesia. Ada sejumlah nutrisi menyehatkan di dalamnya, seperti karbohidrat, mineral, kalsium, seng, dan masih banyak lagi.

Sayangnya, teknik pengolahan sangat berpengaruh pada kandungan nutrisi tersebut. Kentang yang digoreng misalnya, justru dapat membahayakan kesehatan. Bagaimana bisa? Yuk, simak ulasannya berikut ini.

Bahaya kentang goreng untuk tubuh

Meski mengandung segudang nutrisi baik, kentang bisa menjadi makanan yang berbahaya dan mendatangkan penyakit serius. Kentang yang digoreng bisa terkontaminasi dan menciptakan senyawa-senyawa baru yang justru meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Apa saja?

1. Penyakit hipertensi

Bahaya dari kentang goreng yang pertama adalah dapat meningkatkan risiko terkena hipertensi atau tekanan darah tinggi. Menurut Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), hal ini disebabkan oleh tingginya natrium setelah proses penggorengan.

Natrium sendiri adalah kandungan yang umum dijumpai pada garam. Biasanya, kentang goreng yang dijual secara bebas, seperti di restoran atau kedai, mendapat campuran bumbu yang tidak sedikit, termasuk garam. Ini akan berbeda jika kamu membuatnya sendiri di rumah tanpa garam.

Baca juga: Waspada Hipertensi Si “Silent Killer”, Simak Hal-Hal Perlu Kamu Tahu

2. Penyakit jantung

Menurut sebuah penelitian oleh sejumlah ilmuwan di Spanyol, senyawa polar di dalam minyak goreng bisa mengontaminasi kentang yang digoreng. Senyawa polar merupakan gabungan dari dua zat yang saling mengikat partikel elektron pada masing-masing unsurnya.

Dalam hal ini, dua partikel itu berasal dari minyak goreng dan kentang. Secara ilmiah, senyawa polar memiliki konsentrasi yang berbeda dengan asam lemak tak jenuh tunggal di dalam darah. Ini bisa membuat tekanan darah menjadi tak stabil, terutama saat konsumsi berlebihan.

Tekanan darah tak stabil bisa membuka potensi berbagai gangguan jantung. Ini dipicu oleh kinerja jantung yang dipaksa untuk menyesuaikan diri dalam memompa darah, agar tekananannya tetap stabil.

3. Penyakit stroke

Penyumbatan pembuluh darah bisa picu stroke. Sumber foto: www.health.harvard.edu

Bahaya lain dari kentang goreng adalah dapat membuat seseorang terkena penyakit stroke. Bagaimana bisa? Saat memasuki penggorengan, terjadi peningkatan kadar pada lemak jenuh, kolesterol, dan karbohidrat.

Menurut Academy of Nutrition and Dietetics, meningkatnya kadar pada kandungan di atas bisa memperbesar risiko penyempitan pembuluh darah. Saat rongga pembuluh darah makin menyempit, bukan tidak mungkin akan terjadi penyumbatan.

Penyumbatan darah adalah alasan utama mengapa seseorang bisa terkena stroke. Penyakit ini dipicu oleh kurangnya pasokan darah pada otak yang berakibat berhentinya fungsi beberapa bagian dari organ tersebut.

Misalnya, tanpa darah, otak kecil akan sulit menerjemahkan impuls (rangsangan) dari saraf-saraf yang berhubungan dengan gerakan. Akibatnya, sejumlah bagian tubuh mengalami kelumpuhan, baik parsial maupun total. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa berlangsung permanen.

4. Risiko obesitas

Banyak yang tak menyadari bahwa terlalu makan makanan yang digoreng, termasuk kentang, dapat meningkatkan risiko obesitas. Sebuah publikasi di Perpustakaan Kedokteran Nasional Amerika Serikat menjelaskan, makanan yang digoreng memiliki kalori lebih banyak daripada yang tidak.

Saat kalori menumpuk tanpa disertai proses pembakaran yang seimbang, bersiaplah untuk mengalami kenaikan berat badan. Belum lagi, terdapat lemak trans yang selama ini dikenal sebagai salah satu pemicu utama obesitas.

Menurut penelitian, lemak trans adalah jenis lemak yang bisa memengaruhi hormon pengatur nafsu makan, dan buruk dalam proses pencernaannya. Lemak trans mudah menumpuk di perut, karena sulit untuk diproses.

Riset yang sama juga memaparkan, konsumsi lemak trans berlebih bisa membuat berat badan naik mulai 0,54 kg.

5. Rentan terkena diabetes

Selama ini, mungkin sebagian orang berpikir bahwa hanya makanan dengan tinggi gula yang bisa menyebabkan diabetes. Pendapat tersebut tak sepenuhnya benar. Sebab, diabetes juga dipengaruhi oleh faktor lainnya, misalnya sensitivitas insulin.

Para ilmuwan di University of Minnesota, Amerika Serikat, memaparkan, orang yang sering makan kentang goreng sangat rentan untuk terkena diabetes tipe 2. Lemak jenuh pada makanan yang digoreng, mampu menimbulkan resistensi insulin.

Kondisi tersebut dapat terjadi saat sel-sel tubuh tidak bisa mengolah gula darah secara optimal karena sensitivitas insulin yang rendah.

Baca juga: Jangan Ditunda, Cara Mencegah Diabetes Ini Perlu Dicatat Anak Muda

Batas konsumsi kentang goreng

Seperti yang telah dijelaskan, kentang merupakan jenis umbi-umbian yang kaya akan nutrisi, bahkan bisa menjadi alternatif sumber karbohidrat. Sayangnya, proses penggorengan bisa membuatnya terkontaminasi dan menciptakan senyawa-senyawa baru membahayakan.

Profesor Eric Rimm, nutrisionis Harvard School of Public Health, menyarankan, konsumsi kentang goreng sebaiknya tidak lebih dari enam potong di tiap porsi. Imbangi juga dengan nutrisi lain dari makanan yang berbeda, misalnya salad.

Dengan risikonya yang relatif tinggi, ada baiknya kamu juga membatasi atau bahkan menghindari total makan kentang goreng. Meski, konsumsi dalam batas normal dinilai tak akan memberikan dampak serius.

Nah, itulah sejumlah bahaya dari kentang goreng untuk tubuh yang perlu kamu tahu. Dengan membatasi konsumsinya, kamu bisa meminimalkan risiko beberapa penyakit merugikan. Tetap jaga kesehatan, ya!

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

  1. Healthline, diakses 8 Juli 2020, Why Are Fried Foods Bad For You?
  2. Healthline, diakses 8 Juli 2020, Sweet Potato Fries vs. French Fries: Which Is Healthier?
  3. Live Strong, diakses 8 Juli 2020, The Effects of French Fries on Your Body.
  4. Harvard School of Public Health, diakses 8 Juli 2020, Limit potatoes, says expert—they’re ‘starch bombs’.
  5. US Department of Agriculture (USDA), diakses 8 Juli 2020, Sodium.
  6. Academy of Nutrition and Dietetics, diakses 8 Juli 2020, 25 Heart-Healthy Cooking Tips.
  7. National Center for Biotechnology Information (NCBI), diakses pada 8 Juli 2020, Fast-food Habits, Weight Gain, and Insulin Resistance (The CARDIA Study): 15-year Prospective Analysis.
  8. National Center for Biotechnology Information (NCBI), diakses pada 8 Juli 2020, Dietary Fat and Weight Gain Among Women in the Nurses’ Health Study.
  9. National Center for Biotechnology Information (NCBI), diakses pada 8 Juli 2020, Trans Fatty Acids and Weight Gain.
  10. National Center for Biotechnology Information (NCBI), diakses pada 8 Juli 2020, Hypertension Is Related to the Degradation of Dietary Frying Oils.

    register-docotr