Info Sehat

Organoklorin Diduga Picu Penyakit Misterius di India, Bagaimana Faktanya?

December 9, 2020 | Muhammad Hanif S.
feature image

Penggunaan insektisida sering kali memberikan efek lain pada kesehatan manusia. Baru-baru ini, ratusan orang di India terserang penyakit misterius yang dicurigai berasal dari paparan organoklorin, insektisida yang sering digunakan untuk mengusir nyamuk.

Lantas, apa sebenarnya organoklorin itu? Apakah berbahaya untuk manusia? Apa saja dampaknya pada kesehatan jika terpapar? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Apa itu organoklorin?

Dikutip dari website Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, organoklorin merupakan senyawa atau bahan kimia yang sering dipakai sebagai insektisida, biasa digunakan oleh petani untuk membasmi hama.

Organoklorin merupakan insektisida yang masuk dalam kelompok chlorinated hydrocarbon, secara kimiawi tergolong relatif stabil dan kurang reaktif dalam penggunaannya. Hal tersebut ditandai dengan dampak residunya yang lama terurai di lingkungan.

Organoklorin bisa menjadi racun bagi mamalia, termasuk manusia. Menurut Litbang Kementerian Kesehatan, tak hanya mampu membunuh serangga, organoklorin juga bisa merusak susunan saraf pada manusia, memicu penyakit kanker, hingga keracunan akut.

DDT bisa termakan oleh manusia karena dapat menempel pada umbi-umbian dan dedaunan. Tak hanya itu, residu DDT juga bisa ditemukan pada daging, ikan, dan unggas.

Baca juga: 8 Jenis Tanaman Pengusir Nyamuk, Berikut Daftar Lengkapnya!

Cara kerja organoklorin

Insektisida organoklorin bekerja dengan merangsang sistem saraf dan menyebabkan paratesia (kesemutan atau mati rasa), terganggunya keseimbangan, tremor (getaran), irabilitas (tidak mampu menanggapi rangsangan), dan yang terparah adalah kejang.

Seseorang yang terpapar zat toksik dari organoklorin biasanya akan merasakan mual, muntah, gelisah, tubuh menjadi lemah, sensasi tusukan pada kulit, kejang otot, hingga yang terberat adalah tidak sadarkan diri alias pingsan.

Penyakit misterius di India

Di minggu kedua Desember 2020, otoritas India melaporkan penyakit misterius di negara bagian selatan Andhra Pradesh yang menyerang 400 orang. Meski masih dalam penyelidikan, ratusan orang tersebut dicurigai terpapar organoklorin yang biasa dipakai untuk mengusir nyamuk.

Dilansir dari Reuters, penyakit yang belum diketahui secara pasti itu menyebabkan banyak warga merasakan gejala pusing, sakit kepala akut, muntah, hingga pingsan. Orang-orang telah menjalani pemeriksaan COVID-19, tetapi hasilnya negatif.

Di India sendiri, penggunaan organoklorin sebenarnya sudah dilarang dan dibatasi di banyak negara bagian. Hal itu dilakukan setelah adanya temuan atau penelitian yang mengaitkannya dengan kanker dan risiko gangguan kesehatan lainnya.

DDT atau Dikloro Difenil Tri Kloroetana adalah produk yang dipercaya menjadi pemicu masalah tersebut. Sebab, penggunaannya cukup masif di kalangan petani. Polutan, residu, dan endapan dari organoklorin diyakini telah menumpuk hingga menyebabkan kasus yang menyita perhatian.

Dampak kesehatan yang bisa ditimbulkan

Mengutip dari Medscape, gejala serangan atau onset dari paparan zat toksik organoklorin biasanya terjadi secara tiba-tiba. Zat organoklorin yang terhirup maupun terkena kulit dapat menyebabkan beberapa gangguan kesehatan berikut:

  • Iritasi telinga, hidung, dan tenggorokan
  • Penglihatan kabur
  • Batuk
  • Infeksi paru-paru akut
  • Infeksi kulit
  • Anoreksia (salah satu jenis gangguan makan)
  • Hepatotoksisitas, yaitu kerusakan sel-sel pada organ hati karena zat kimia yang bersifat toksik
  • Toksisitas ginjal
  • Gangguan sistem saraf dan otak
  • Gangguan sistem endokrin

Organoklorin dan risiko kanker

Salah satu risiko gangguan kesehatan yang cukup serius dari paparan organoklorin adalah kanker, terutama kanker payudara.

Menurut sebuah riset oleh sejumlah peneliti di Universitas Lampung, produk organoklorin seperti DDT memiliki sifat teratogen, atau bisa menyerupai estrogen atau antiestrogen. Jika masuk ke dalam tubuh wanita, zat itu dapat menyebabkan ketidakseimbangan hormon.

Ketika hormon menjadi tidak seimbang, hal tersebut dapat menyebabkan proses proliferasi (pengulangan siklus) sel pada payudara. Pada proses yang kompleks, ini bisa memicu perkembangan sel abnormal di area sekitarnya.

Penggunaan organoklorin di Indonesia

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menjelaskan, sejak puluhan tahun lalu, penggunaan DDT sebenarnya sudah dilarang. Namun, pada praktiknya, salah satu jenis insektisida ini masih sering dipakai untuk pengendalian malaria di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia.

Kementerian LHK menyarankan masyarakat yang masih menggunakan DDT agar mengganti dengan alternatif lainnya, misalnya tumbuhan kecubung dan lempuyang yang bisa digunakan sebagai insektisida.

Nah, itulah ulasan tentang organoklorin yang baru-baru ini diduga menjadi penyebab dari munculnya ratusan kasus penyakit misterius di India. Untuk meminimalkan dampak buruknya, mengganti organoklorin dengan alternatif lain adalah pilihan terbaik.

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

  1. Medscape, diakses 8 Desember 2020, Organochlorine Pesticide Toxicity.
  2. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, diakses 8 Desember 2020, Dampak Pestisida Organoklorin Terhadap Kesehatan Manusia Dan Lingkungan Serta Penanggulangannya.
  3. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, diakses 8 Desember 2020, DDT.
  4. Kementerian Kesehatan, diakses 8 Desember 2020, Toksikologi Pestisida Dan Penanganan Akibat Keracunan Pestisida.
  5. FK Universitas Lampung, diakses 8 Desember 2020, Dampak Penggunaan Pestisida Organoklorin terhadap Risiko Kanker Payudara.
  6. Reuters, diakses 8 Desember 2020, India investigates if organochlorines behind unknown illness.

    register-docotr