Info Sehat

Hiperventilasi Bikin Sesak Napas, Kenali Gejala, Penyebab & Cara Menanganinya

November 11, 2020 | Anisya Fitrianti | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Pernahkah kamu melihat atau justru mengalami pernapasan cepat? Kondisi ini mungkin terjadi sebagai respons panik terhadap rasa takut, stres, atau fobia. Bagi sebagian orang kondisi ini terjadi sebagai respons terhadap keadaan emosional, seperti depresi, kecemasan, atau kemarahan.

Ketika pernapasan terasa cepat dan dalam, tubuh sangat mungkin mengalami sesak. Kondisi ini dinamakan hiperventilasi. Yuk,kenali selengkapnya mengenai gejala, penyebab dan cara mengatasi hiperventilasi.

Apa itu hiperventilasi?

Hiperventilasi atau overbreathing adalah kondisi dimana kamu mulai bernafas lebih cepat. Ketika terjadi hiperventilasi, seseorang akan menghembuskan nafas lebih banyak di bandingkan menarik nafas.

Hal ini menyebabkan kadar karbon dioksida yang rendah di dalam tubuh. Efeknya adalah penyempitan pembuluh darah yang memasok darah ke otak. Penurunan suplai darah ke otak ini menimbulkan rasa ringan pada kepala dan kesemutan di jari.

Hiperventilasi paling sering terjadi pada orang berusia 15 hingga 55 tahun. Kelompok wanita juga ditemukan lebih sering mengalaminya daripada pria. Terutama saat dalam kondisi hamil.

Baca juga: Jangan Panik, Begini Cara Tepat Mengatasi Sesak Napas Saat Hamil

Gejala hiperventilasi 

Hiperventilasi adalah kondisi yang serius. Gejalanya bisa berlangsung 20-30 menit. Gejala hiperventilasi bisa beragam, tapi gejala yang serius meliputi:

  • Sesak napas
  • Demam
  • Jantung berdebar
  • Vertigo
  • Cemas, gugup atau tegang
  • Merasa pusing atau pingsan
  • Nyeri atau sesak di dada
  • Sering menguap
  • Mati rasa atau kesemutan di tangan atau kaki
  • Berdarah.

Di samping gejala tersebut, beberapa gejala lain juga mungkin timbul, seperti:

  • Sakit kepala
  • Kembung
  • Berkeringat
  • Penglihatan kabur atau menyempit (tunnel vision)
  • Kehilangan kesadaran (pingsan).

Bila kamu atau kerabat dekatmu mengalami gejala-gejala seperti apa yang disebutkan di atas bicarakanlah dengan dokter. Kondisi tersebut mungkin berkaitan dengan sindrom hiperventilasi yang mirip dengan gangguan panik dan seringkali disalahartikan sebagai asma.

Penyebab hiperventilasi

Hiperventilasi dapat disebabkan oleh banyak faktor. Namun secara umum, hiperventilasi paling sering diakibatkan oleh situasi seperti kecemasan, panik, gugup, atau stres dalam bentuk panic attack.

Ada juga penyebab lain yang dapat menimbulkan hiperventilasi, di antaranya:

  • Perdarahan
  • Penggunaan stimulan
  • Overdosis obat
  • Kehamilan
  • Infeksi paru-paru
  • Ketoasidosis diabetik (komplikasi gula darah tinggi penderita diabetes tipe 1)
  • Cedera kepala
  • Berada di dataran tinggi.

Baca juga: Bosan Minum Obat, Inilah Cara Alami Mengatasi Sesak Napas

Cara menangani hiperventilasi 

Ketika mengalaminya, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah tetap tenang.  Kemudian, untuk menangani hiperventilasi lakukan langkah berikut:

  • Bernapaslah dengan posisi bibir yang mengerucut
  • Kemudian cobalah bernapas perlahan ke dalam kantong kertas atau tangan yang ditangkupkan
  • Cobalah bernapas menggunakan perut (diafragma)
  • Tahan napas selama 10 hingga 15 detik setiap kali.

Tujuan pengobatan hiperventilasi adalah untuk meningkatkan kadar karbon dioksida dalam darah. Hiperventilasi juga dapat diatasi dengan beberapa cara lain, misalnya:

Olahraga 

Latihan fisik yang rutin atau olahraga seperti jalan cepat atau jogging, sambil menarik dan mengeluarkan napas dari hidung membantu mengatasi hiperventilasi.

Mengurangi stres

Stres dan kecemasan seringkali dikaitkan dengan terjadinya hiperventilasi. Untuk itu, berkonsultasilah dengan tenaga profesional yang akan membantumu menghadapi stres dan mempelajari teknik pernapasan.

Terapi akupunktur

Akupunktur dilakukan dengan menempatkan jarum tipis ke area tubuh tertentu.  Melalui sebuah riset, pengobatan akupunktur diketahui membantu mengurangi kecemasan dan keparahan hiperventilasi.

Minum obat

Pada beberapa kondisi hiperventilasi yang parah, konsumsi obat mungkin disarankan oleh dokter. Contoh obat untuk hiperventilasi meliputi:

  • Alprazolam (Xanax)
  • Doxepin
  • Paroxetine (Paxil).

Perlu diingat, hiperventilasi dapat ditangani dengan tetap tenang. Kalimat penenang dari orang-orang terdekat seperti “kamu akan baik-baik saja” juga sangat membantu bila disampaikan dengan nada yang lembut.

Bila cara mengatur napas tidak kunjung berhasil dalam beberapa menit, segeralah cari pertolongan medis atau segera ke unit gawat darurat. 

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference
    register-docotr