Info Sehat

Awas, Berat Badan Turun Bisa Buat Rambut Rontok, Atasi dengan 5 Langkah Ini

September 23, 2020 | Dewi Nurfitriyana | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Rambut rontok adalah kondisi yang bisa dialami oleh pria maupun perempuan. Biasanya ini terjadi ketika kamu bertambah tua.

Tapi selain faktor umur, penurunan berat badan juga ternyata bisa mengakibatkan rambut menjadi rontok tidak karuan.

Agar tidak mengganggu penampilan, kamu perlu mencari tahu penyebab, gejala, dan cara mengatasi rambut rontok akibat berat badan turun lewat ulasan berikut ini.

Siklus kehidupan rambut

Dalam keadaan normal, rambut tumbuh sebanyak ½ inchi per bulan selama kurang lebih 2 tahun. Setelah itu rambut akan masuk ke fase istirahat yang dikenal dengan istilah telogen. Di akhir fase ini, rambut-rambut lama akan rontok untuk memberi ruang bagi rambut baru.

Umumnya kamu akan kehilangan sekitar 10 persen rambut, dari total keseluruhan rambut yang kamu miliki untuk memasuki fase istirahat tersebut. Jumlah ini akan menjadi semakin banyak, jika kamu mengalami stres fisik dan emosional akibat diet.

Baca juga: Benarkah Manfaat Garam Himalaya Lebih Baik dari Garam Biasa?

Mengapa berat badan turun bisa membuat rambut rontok?

Dilansir dari lindoraclinic, rambut rontok akibat penurunan berat badan umumnya disebabkan oleh kondisi yang dikenal sebagai telogen effluvium (TE).

Kondisi ini adalah efek samping yang paling banyak terjadi dari penurunan berat badan secara mendadak akibat berkurangnya asupan protein. Hal tersebut juga akan membuat rambut memasuki fase tidur terlalu dini.

Bagaimana penurunan berat badan bisa membuat rambut rontok?

Secara rinci, beberapa faktor yang membuat penurunan berat badan bisa menyebabkan rambut rontok adalah:

Kekurangan asupan protein

Pola diet yang kurang memerhatikan jumlah asupan protein akan sangat berdampak pada kulit, rambut, dan kuku. Ini dikarenakan ketiga hal tersebut sebagian besar dibentuk oleh protein.

Kekurangan protein yang sehat dalam makanan, dapat menyebabkan putusnya helai rambut yang menolak untuk tumbuh kembali.

Kekurangan zat besi

Meski sampai saat ini belum ditemukan fakta tentang berapa tingkat defisiensi zat besi yang bisa menyebabkan rambut rontok. Namun hal ini tetap dipercaya sebagai penyebab utama kerontokan rambut.

Beberapa faktor risiko seperti kehilangan darah saat menstruasi, penggunaan H2 blocker dan pola makan vegan maupun vegetarian, juga dapat membuat kamu kekurangan zat besi dan mengalami rambut rontok.

Baca juga: Unik dan Ampuh! Yuk Coba 7 Tips Hidup Sehat ala Korea Selatan Ini

Kekurangan zink

Mineral yang satu ini sangat penting untuk kesehatan kulit dan rambut. Meskipun jenis defisiensinya jarang terjadi, namun faktor risiko seperti penuaan, anoreksia, malabsorpsi, dan pola makan vegetarian sangat bisa membuat berat badan turun sehingga rambut menjadi rontok.

Kekurangan vitamin D

Salah satu fungsi vitamin D adalah merangsang pertumbuhan folikel rambut baru. Oleh karena itu para ahli percaya bahwa kekurangan vitamin D dapat menyebabkan rambut rontok atau menipis.

Bukti terkuat yang menunjukkan hubungan keduanya, adalah defisiensi vitamin D dan penyakit alopecia areata. Ini adalah kondisi autoimun yang menyebabkan rambut rontok tidak merata.

Gejala rambut rontok akibat penurunan berat badan

Dilansir dari Livestrong, gejala yang paling mudah terlihat dari kondisi ini adalah jumlah rambut yang semakin menipis dan rontok.

Untuk mendiagnosisnya, dokter perlu memeriksa pola kebotakan dan riwayat kesehatan yang ada pada keluargamu.

Beberapa jenis tes, mulai dari tes darah, tes sampel rambut dan biopsi, juga dapat membantu dokter menentukan penyebab terjadinya rambut rontok yang kamu alami.

Cara mengatasi rambut rontok dengan memperbaiki pola makan

Secara sederhana, cara yang paling mudah dilakukan untuk mencegah rambut rontok akibat penurunan berat badan adalah dengan makan makanan bergizi seimbang. Kamu bisa melakukan hal ini dengan mencoba beberapa langkah berikut:

Langkah 1

Pastikan kamu mengonsumsi cukup kalori setiap hari meski kamu ingin menurunkan berat badan.

Hal ini penting, sebab membatasi asupan kalori terlalu ketat sangat rentan membuat rambut rontok.

Ini bisa terjadi karena tubuh menjadi tidak memiliki cukup energi untuk mendukung pertumbuhan rambut.

Langkah 2

Penuhi kebutuhan asupan protein yang merupakan komponen utama pembuatan rambut.

Mengingat kebutuhan protein ini bisa berbeda bagi setiap orang, kamu bisa menentukan jumlah protein yang dibutuhkan, berdasarkan berat badan dan tingkat aktivitas yang dilakukan setiap hari.

Langkah 3

Masukkan biji-bijian, buah-buahan, dan sayuran ke dalam menu makanan harian kamu. Biji-bijian utuh mengandung zat besi yang jika jumlahnya kurang, merupakan faktor utama penyebab kerontokan rambut.

Buah dan sayur juga mengandung vitamin A, C dan E serta seng, yang semuanya berkontribusi pada pertumbuhan rambut.

Langkah 4

Konsumsi suplemen nutrisi, seperti multivitamin, yang mendukung kesehatan rambut.

Langkah 5

Timbang berat badanmu sekali seminggu untuk mengukur kemajuan yang kamu capai.  

American Council on Exercise, menyarankan penurunan berat badan tidak lebih dari 2 lbs atau sekitar 900 gram per minggunya. Jika jumlahnya lebih dari itu, kamu sangat berisiko mengalami kerontokan rambut.

Pastikan untuk mengecek kesehatan Anda dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Download di sini untuk berkonsultasi dengan mitra dokter kami.

Reference

Unexplained Weight Loss & Hair Loss https://www.livestrong.com/article/290159-unexplained-weight-loss-hair-loss/ diakses pada 22 September 2020

How to Prevent Hair Loss When Losing Weight https://www.livestrong.com/article/327771-how-to-prevent-hair-loss-when-losing-weight/ diakses pada 22 September 2020

The Connection Between Weight Loss and Hair Loss https://www.verywellfit.com/effects-of-weight-loss-on-hair-4114184 diakses pada 22 September 2020

What causes hair loss during dieting? https://www.lindora.com/faq/what-causes-hair-loss-during-dieting/#:~:text=Hair%20Loss%20Dieting%20Research,prematurely%20enters%20the%20telogen%20phase. diakses pada 22 September 2020

 

    register-docotr