Info Sehat

Apa Risiko dan Bahaya di Balik Fogging Nyamuk DBD bagi Kesehatanmu?

September 28, 2020 | Nanda Hadiyanti
feature image

Mendekati musim hujan, kamu perlu mewaspadai penyakit demam berdarah dengue (DBD). Kasus DBD di Indonesia sendiri menjadi salah satu yang mendapat perhatian serius. Data Kemenkes mencatat sejak Januari hingga Juli 2020 lalu, terdapat 71.633 kasus.

Karena itu pemerintah juga giat mengajak masyarakat melakukan pencegahan demam berdarah, salah satunya dengan fogging nyamuk. Apa itu fogging nyamuk dan apakah ada risiko untuk kesehatan? Berikut penjelasan selengkapnya. 

Apa itu fogging nyamuk? 

Fogging atau pengasapan nyamuk adalah salah satu usaha untuk membunuh nyamuk yang membawa virus yang berisiko menulari manusia. Salah satunya nyamuk aedes aegypti, yang dapat menularkan DBD ke manusia melalui gigitannya. 

Fogging nyamuk di Indonesia umumnya menggunakan bahan kimia seperti malathion dan fenthion. Keduanya termasuk ke dalam insektisida jenis organofosfat. 

Tentunya, dengan menggunakan takaran yang sudah diperhitungkan batas amannya. Selain itu, saat pelaksanaan, pengasapan atau fogging nyamuk harus dilakukan oleh petugas terlatih di bawah pengawasan petugas kesehatan. 

Ada aturan khusus sebelum melakukan fogging nyamuk

Fogging dilakukan jika ditemukannya kejadian DBD di suatu daerah. Petugas kesehatan juga akan melakukan pemeriksaan jentik di sekitar pasien DBD sebelum melakukan pengasapan.

Jika tidak ada temuan atau tidak adanya laporan mengenai pasien DBD, maka pencegahan bisa dilakukan dengan cara lain, seperti:

  • Menggunakan bubuk abate pada penampungan air atau tempat yang bisa menjadi penampungan air lain, yang memungkinkan jentik nyamuk berkembang. 
  • Serta melakukan gerakan 3M: menguras, menutup dan mengubur. Menguras tempat penampungan air, menutup penampungan air. Serta mengubur barang bekas yang dapat menampung genangan dan berpotensi menjadi tempat berkembangnya jentik nyamuk.

Jika fogging harus dilakukan, apakah ada risiko gangguan kesehatan? 

Walaupun fogging atau pengasapan nyamuk menggunakan takaran dengan batas aman, tetapi tetap ada potensi menimbulkan efek samping bagi tubuh manusia. Pada kondisi tertentu, kandungan kimianya mungkin memberi dampak negatif.

Terlebih obat yang kerap digunakan termasuk dalam jenis insektisida organofosfat. Salah satu jenis yang bisa menyebabkan keracunan. Pada paparan tak terduga atau pada jumlah tertentu, organofosfat berisiko menyebabkan sejumlah kondisi seperti berikut ini:

Risiko gangguan kesehatan akibat obat fogging jenis organofosfat

  • Gangguan saraf
  • Membuat organ terlalu aktif hingga mengalami gangguan fungsi

Gejala keracunan zat kimia fogging jenis organofosfat

  • Mual 
  • Muntah
  • Batuk
  • Berkeringat
  • Penglihatan kabur
  • Sulit bernapas

Seseorang bisa keracunan melalui tiga cara

  • Keracunan karena menghirup zat tersebut
  • Terserap melalui kulit
  • Atau secara tidak sengaja tertelan, bisa karena meminum minuman yang terkontaminasi zat tersebut

Tindakan untuk mengatasi keracunan

  • Jika mengalami gejala keracunan, segera ganti pakaian dan mandi dengan sabun
  • Pada tahap ringan umumnya diatasi dengan obat atropin, obat yang biasa digunakan untuk keracunan
  • Pada tahap berat dibutuhkan tindakan medis seperti memberikan alat bantu pernapasan dan memeriksa kondisi vital pasien

Mencegah risiko efek samping fogging

Untuk mencegah risiko efek samping fogging, kamu perlu melakukan cara-cara berikut ini saat ada pengasapan di tempat tinggalmu. 

Lakukan sebelum fogging dilakukan

  • Simpan peralatan makan. Bungkus dan letakkan di tempat tertutup. Pastikan peralatan makan tidak terkena oleh asap fogging. Begitu juga dengan bahan-bahan makanan.
  • Amankan pakaian. Pakaianmu berpotensi terkena bau obat pengasapan dan tercemar zat kimianya, walaupun berada di dalam lemari. Salah satu cara untuk mengamankannya adalah dengan memasukkannya ke dalam plastik. 
  • Pastikan sirkulasi udara terbuka. Buka jendela dan pintu sebelum pengasapan dimulai. Saat proses dimulai, asap akan lebih cepat keluar rumah jika kamu membuka jendela dan pintu rumah. 

Lakukan setelah fogging selesai

  • Jangan langsung masuk ke dalam rumah. Bau dan asap tidak akan langsung hilang dari dalam rumah. Karena itu sebaiknya tunggu dulu sampai asap keluar dan saat ingin memasuki rumah sebaiknya mengenakan masker. 
  • Bersihkan rumah. Setelah fogging biasanya lantai, kaca atau permukaan lain akan terasa licin. Kamu perlu membersihkannya. Selain menghilangkan rasa licin juga untuk menghilangkan zat kimia yang tertinggal. 
  • Pastikan peralatan aman. Kamu perlu memastikan alat makan dan pakaianmu aman dari zat kimia. Jika ternyata permukaan peralatan makan juga terasa licin atau pakaian bau asap, sebaiknya bersihkan sebelum digunakan kembali. 

Pertimbangan fogging nyamuk di Indonesia

Sementara itu, meski sudah dikenal sebagai salah satu cara pencegahan penularan DBD, ternyata fogging dianggap bukan strategi utama mencegah DBD.

Seperti dilansir dari situs Kemkes.go.id, pencegahan menggunakan fogging baru bisa dilakukan jika memang sudah ada kasus di salah satu daerah. Untuk itu, sebelum terjadi kasus, sebaiknya mencegah dengan menjaga kebersihan dan menghindari jentik nyamuk dengan langkah 3M. 

Demikian penjelasan mengenai risiko gangguan kesehatan akibat fogging nyamuk. Punya pertanyaan lebih lanjut seputar penyakit DBD?

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

WHO, diakses 25 September 2020 Mosquito ‘fogging’ will not harm you, reminds WHO and Solomon Islands Ministry of Health
Merck Manual, diakses 25 September 2020 Insecticide Poisoning
Kemkes.go.id, diakses 25 September 2020 Hingga Juli, Kasus DBD di Indonesia Capai 71 Ribu
Dinas Kesehatan Lamongan, diakses 25 September 2020 Penanggulangan Demam Berdarah dengan Metode Pemberantasan Sarang Nyamuk
Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak, diakses 25 September 2020 Prosedur Pelaksanaan Fogging

    register-docotr