Info Sehat

Dopamine Detox: Tren Baru untuk Atasi Kecanduan Gawai

August 4, 2020 | Muhammad Hanif S.
feature image

Saat melakukan hal yang menyenangkan, tubuhmu melepaskan senyawa kimia bernama dopamin. Misalnya, bermain game atau membuka media sosial. Tapi lama-kelamaan, kebiasaan ini bisa menjadi candu. Untuk mengatasinya, ada sebuah tren kekinian bernama dopamine detox.

Istilah yang cukup asing di telinga masyarakat Indonesia, tapi sudah mulai banyak dikenal di Amerika Serikat. Seperti apa dopamine detox itu? Apa saja efeknya bagi tubuh? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Apa itu dopamine detox?

Dopamine detox, atau dopamine fasting, adalah salah satu cara untuk membatasi kegiatan atau perilaku yang memicu pelepasan dopamin di otak.

Puasa dopamin adalah istilah yang diciptakan oleh Dr. Cameron Sepah, seorang pakar psikiatri di University of California, San Fransisco. Metode ini pertama kali menjadi tren di kawasan Silicon Valley, tempat banyak startup besar berada.

Dopamin sendiri adalah neurotransmiter di otak yang mampu memberikan rasa bahagia dan kesenangan. Dengan berpuasa dopamin, seseorang akan terhindar dari rasa candu atau ketergantungan terhadap sesuatu.

Baca juga: Bisa Buat Detoksifikasi, Ini 10 Manfaat Buah Pir Lainnya yang Jarang Diketahui

Tujuan dopamine detox

Secara konsep, dopamine detox merupakan sebuah metode yang menitikberatkan pada perubahan perilaku kognitif.

Metode ini diyakini bisa mengembalikan ‘kehidupan normal’ setelah tubuh terbiasa menerima rangsangan dari teknologi, seperti bunyi ponsel, notifikasi media sosial, dan sebagainya.

Saat tubuh sudah ‘kecanduan’ dengan rangsangan-rangsangan tersebut, sisi emosional akan ikut terdampak. Secara tidak langsung, hal tersebut akan memengaruhi kelangsungan hidup.

Manfaat untuk tubuh

Dopamine detox adalah cara efektif untuk mengurangi kecanduan. Ini menjadi penting, karena jika seseorang telah mempunyai ketergantungan berlebih pada satu kebiasaan, bisa jadi aktivitas yang lain akan terdampak.

Saat dopamin terbiasa dilepaskan dalam jumlah yang besar, tubuh secara tidak langsung akan dipaksa untuk melakukan sesuatu yang ‘menyenangkan’.

Pada kasus tertentu, seseorang akan menjadikan kebiasaan tersebut sebagai gaya hidup, yang mana jika terlewat akan berpengaruh pada kondisi emosional.

Selain itu, dengan melakukan dopamine detox, otak akan lebih optimal dalam menjalankan tugasnya. Menurut Kent Berridge, seorang profesor di bidang psikologi dan ilmu saraf, saat tak ada rangsangan yang memicu pelepasan dopamin, otak akan beristirahat dan kembali mendapat fungsi terbaiknya.

Cara melakukan dopamine detox

Tidak ada aturan khusus dalam menjalankan dopamine detox. Yang terpenting, usahakan untuk membatasi perilaku-perilaku yang bisa memicu pelepasan banyak dopamin. Caranya adalah sebagai berikut:

  1. Singkirkan benda yang menjadi stimulus atau buat menjadi lebih sulit diakses.
  2. Lakukan aktivitas yang berlawanan dengan keinginan.
  3. Tutup semua celah yang memungkinkanmu untuk melakukan ‘kecurangan’. Misalnya, blokir situs web yang sering kamu kunjungi saat melakukan metode ini.

Sedangkan untuk durasi, kamu bisa melakukannya selama:

  • 1 hingga 4 jam menjelang tidur
  • Satu hari penuh pada akhir pekan
  • 1 minggu penuh per tahun (dengan berlibur ke suatu tempat)

Aturan tersebut tidak mengikat. Artinya, kamu bisa menyesuaikan dengan kemampuan. Cobalah dengan yang paling ringan, misalnya membatasi penggunaan ponsel selama satu jam. Jika berhasil, tambah durasinya seperti yang telah disebutkan di atas.

Baca juga: Efektif Atasi Masalah Depresi dan Kecanduan Alkohol, Apa itu Hipnoterapi?

Kebiasaan yang harus dibatasi

Jika sudah mengetahui cara melakukan dopamine detox, kini saatnya kamu memahami apa saja hal-hal bersifat stimulus yang sebaiknya dihindari saat melakukan puasa ini, yaitu:

  • Internet. Hidup di era serba digital memaksa banyak orang untuk sering menggunakan internet. Sehingga, secara tidak sadar, kamu akan menjadi ketergantungan padanya.
  • Musik. Sebagian orang menggunakan musik untuk mengusir rasa bosan. Tak jarang, musik juga dijadikan teman saat beraktivitas. Cobalah untuk tidak mendengarkan musik saat melakukan dopamine detox.
  • Game. Bagi orang yang sudah kecanduan game, tentu saja sehari tanpa memainkannya akan terasa sangat sulit. Tapi di sinilah tantangannya. Pelepasan dopamin akan ditekan, sehingga otak dapat menjalankan fungsi lainnya.
  • Belanja. Tak sedikit orang yang tergiur untuk membeli sesuatu saat ada promo diskon. Cobalah untuk menahannya. Selain membatasi pelepasan dopamin, kamu juga akan lebih mudah untuk menghemat uang.
  • Pornografi. Meski terbilang tabu, tidak sedikit orang yang menjadikan pornografi sebagai tontonan rutin. Padahal, menurut sebuah publikasi di Perpustakaan Kedokteran Nasional Amerika Serikat, pornografi bisa merusak banyak bagian di otak.

Nah, itulah ulasan lengkap tentang dopamine detox beserta manfaat dan cara melakukannya. Dengan rutin menjalankannya, bukan tidak mungkin kamu akan terlepas dari kecanduan dan ketergantungan terhadap sesuatu. Tetap jaga kesehatan, ya!

Jaga kesehatan Anda dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!

Reference

  1. Healthline, diakses 2 Agustus 2020, Is Dopamine Fasting a Way to Fix Your Brain or a Silicon Valley Fad?
  2. Psycom, diakses 2 Agustus 2020, The Truth About Dopamine Fasting.
  3. Live Science, diakses 2 Agustus 2020, Is There Actually Science Behind ‘Dopamine Fasting’?
  4. Linkedin.com, diakses 2 Agustus 2020, The Definitive Guide to Dopamine Fasting 2.0 – The Hot Silicon Valley Trend.
  5. National Center for Biotechnology Information (NCBI), diakses 2 Agustus 2020, Pornography addiction: A neuroscience perspective.

    register-docotr