Info Sehat

4 Fakta Unik Soal Tes Alergi, dari Fungsi, Jenis, Prosedur, Hingga Risiko

November 12, 2020 | Dewi Nurfitriyana | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Tidak semua orang bisa mengonsumi semua jenis makanan. Ada sebagian yang akan mengalami reaksi alergi saat memakan makanan tertentu.

Misalnya produk yang mengandung susu, berbahan dasar hewan laut, dan lain-lain. Bukan hanya makanan, alergi juga bisa terjadi akibat paparan zat, atau kondisi lingkungan.

Nah untuk mengetahui apakah kamu mengidap alergi atau tidak, diperlukan tes alergi untuk mendapatkan jawabannya. Kira-kira seperti apa ya, prosedur dan risiko yang bisa terjadi dari tes yang satu ini?

Baca juga: 3 Jenis Alergi Ini, Paling Umum Terjadi di Indonesia Lho!

Apa itu tes alergi?

Alergi adalah kondisi di mana sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan terhadap sesuatu di lingkungan.

Misalnya, serbuk sari yang secara umum tidak berbahaya, pada tubuh penderita alergi bisa menyebabkan gejala pilek, bersin, hidung tersumbat, gatal, hingga mata berair.

Dilansir dari Healthline, tes alergi sendiri adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk menentukan apakah tubuh memiliki reaksi khusus terhadap zat tertentu.

Prosesnya bisa dilakukan dalam bentuk tes darah, tes kulit, atau diet eliminasi. Fungsi lain dari pengujian ini adalah untuk membantu menentukan jenis pengobatan yang diperlukan atas alergi yang diderita.

Pemicu alergi

Beberapa jenis reaksi alergi memang tidak berbahaya, namun ini bisa membuat penderitanya merasa tidak nyaman.

Oleh karena itu, penting untuk mengenali apa pemicu alergi, agar kamu bisa menghindari ketidaknyamanan tersebut.

Dikenal dengan istilah medis alergen, berikut adalah 3 jenis zat yang paling umum menimbulkan reaksi alergi pada tubuh seseorang:

Alergen yang dihirup

Pemicu alergi tipe ini membuat tubuh bereaksi saat bersentuhan dengan paru-paru, selaput lubang hidung, atau tenggorokan. Contoh yang paling banyak ditemukan dari alergen ini adalah serbuk sari.

Alergen yang tertelan

Merupakan pemicu alergi yang biasanya ditemukan dalam makanan tertentu, seperti kacang tanah, kedelai, dan hewan laut.

Alergen kontak

Ketika kulit seseorang yang menderita alergi bersentuhan dengan jenis alergen ini, maka tubuhnya akan mengeluarkan reaksi seperti ruam, gatal, atau bahkan sensasi panas.

Salah satu pemicunya adalah tanaman ivy yang biasa ditanam untuk menutupi tembok rumah.

Baca juga: Alergi pada Anak, Apa Saja Dampak Jangka Pendek yang Bisa Dialami?

Jenis dan prosedur tes alergi

Mengingat ada banyak pemicu alergi dan reaksi yang muncul juga bervariasi. Maka untuk mengujinya terdapat beberapa tes alergi yang umum dilakukan oleh dokter.

Tes tusuk kulit

Tes tusuk kulit adalah metode paling umum yang digunakan untuk mengidentifikasi penyebab alergi. Cara ini dinilai sederhana, cepat, dan murah karena dapat menguji berbagai alergen sekaligus.

Metode ini akan memberikan prediksi alergen yang optimal, jika digunakan untuk meneliti reaksi alergi langsung yang diberikan oleh tubuh.

Misalnya seperti rhinitis, asma, konjungtivitis eksim, alergi makanan, dan banyak lagi.

Prosedur tes tusuk kulit

Pertama-tama dokter akan mengoleskan beberapa alergen potensial di sepanjang lengan bawah. Masing-masing diberi jarak untuk mencegah terjadinya reaksi yang tumpang tindih.

Kemudian dokter akan membuat tusukan kecil di tengah setiap sampel tersebut sampai menembus lapisan luar kulit.

Jika ada respons alergi, kulit mungkin menunjukkan tanda-tanda kemerahan, bengkak, atau menghasilkan sekumpulan bintik di area yang terkena tusukan.

Tes intradermal

Umumnya tes ini menjadi langkah pengujian lanjutan apabila metode tusuk kulit tidak memberikan hasil yang akurat.

Biasanya ini terjadi karena tes tusuk kulit hanya mampu menembus lapisan permukaan kulit, dan tidak bisa sampai ke lapisan di bawah kulit.

Prosedur tes intradermal

Tes kulit intradermal dilakukan dengan menyuntikkan sedikit alergen ke dalam kulit, lalu dokter akan mengamati reaksi di lokasi penyuntikkan tersebut.

Uji tempel

Seorang dokter mungkin menggunakan tes tempel ketika alergen yang dicurigai memiliki respons yang tertunda.

Misalnya, apabila pemicu alergi baru menimbulkan reaksi setelah beberapa hari terpapar. Ini bisa terjadi misalnya pada kasus dermatitis kontak.

Prosedur tes alergi uji tempel

Dokter akan memasang tambalan yang berisi sampel alergen di punggung pasien selama sekitar 48 jam. Kemudian dokter akan melepas tambalan tersebut dan menilai reaksi alergi yang muncul.

Jika terdapat reaksi alergi, kemungkinan besar kulit akan terasa gatal dan menunjukkan tanda-tanda bengkak dan kemerahan.

Tes darah

Umumnya tes darah akan dilakukan saat metode-metode di atas tidak ada yang berhasil menghasilkan respons yang diinginkan.

Prosedurnya kurang lebih dimulai dengan pengambilan sampel darah untuk dites serum imunoglobulin E (IgE).

Selama analisis, ahli kesehatan akan mengekstrak IgE serum dari darah dan menilai respons imun terhadap alergen potensial yang berbeda.

Tes tantangan

Tes tantangan umum dilakukan untuk mengidentifikasi sumber alergi makanan. Metode ini sangat mudah, tetapi harus selalu dilakukan di bawah pengawasan ketat tenaga kesehatan profesional.

Selama tes tantangan, seseorang akan mengonsumsi sampel kecil dari alergen makanan potensial, sementara dokter mengamati gejala reaksi alergi.

Apa risiko dari pengujian alergi?

Tes medis apa pun mengandung beberapa risiko. Adapun risiko alergi pada tes kulit yang paling umum muncul adalah gatal dan bengkak pada kulit tempat tes dilakukan.

Sementara risiko alergi pada tes darah adalah nyeri atau pendarahan di bekas penyuntikkan jarum.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

register-docotr