Covid-19

Tuberkulosis di Tengah Pandemi COVID-19, Apa Saja yang Harus Diwaspadai?

October 8, 2020 | Anisya Fitrianti | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Hingga saat ini penyakit tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu penyakit menular paling mematikan di dunia. Setiap tahunnya, tercatat  ada 10 juta kasus TBC dan lebih dari 1 juta kematian akibat TBC di seluruh dunia.

Di tengah pandemi COVID-19, badan kesehatan dunia atau WHO mengimbau masyarakat untuk tidak mengesampingkan ancaman dari pandemi sebelumnya, yakni TBC. Pasalnya, bila kedua penyakit tersebut sama-sama meluas, angka kematian diprediksi bisa meningkat tajam. 

Penderita TBC berisiko tinggi terkena COVID-19

Meski COVID-19 dapat menyerang siapa saja, kelompok orang yang memiliki penyakit bawaan akan lebih rentan terpapar. Faktor seperti penyakit TBC, diabetes, penyakit jantung, lanjut usia, hingga pasien TBC pun dapat meningkatkan risiko infeksi COVID-19. 

Menurut WHO, penderita TBC yang terkena COVID-19 sangat berisiko mengalami kondisi yang lebih buruk. Terutama bila pengobatan TBC dihentikan. Untuk itu sangat penting bagi para penderita TBC tetap menjalani pengobatan dan menerapkan protokol kesehatan. 

Penyebab TBC dan COVID-19

Penyakit TBC disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang ditemukan pada tahun 1882 oleh Robert Koch. Sedangkan pada kasus COVID-19, penyebabnya adalah virus SARS-CoV-2 yang baru ditemukan tahun 2019. 

Meski memiliki perbedaan penyebab, kedua penyakit ini sama-sama menyerang saluran pernapasan. Namun pada TBC, infeksi dapat menyebar ke bagian tubuh lain di luar paru-paru seperti kelenjar getah bening, usus, tulang hingga otak. 

Baca juga: 77 % Pasien COVID-19 Menderita Obesitas, Yuk, Intip 4 Cara Hindari Kelebihan Berat Badan   

Penularan TBC dan COVID-19

Penyakit tuberkulosis (TBC) dan COVID-19 sama-sama menyebar melalui kontak dekat yang terjadi di antara orang. Namun cara penularannya berbeda. 

Penularan TBC bisa terjadi melalui percikan (droplet) dari orang dengan TBC saat batuk, bersin, berteriak, atau bernyanyi yang kemudian terhirup oleh orang lain.

Percikan tersebut membuat bakteri penyebab TBC melayang di udara selama berjam-jam sehingga menginfeksi siapapun yang menghirupnya.

Sementara itu, penularan COVID-19 terjadi ketika ada percikan dari orang dengan COVID-19 saat batuk, bersin, menghembuskan napas, atau berbicara yang kemudian mendarat di permukaan benda lalu terjadi kontak kemudian menyentuh mata, hidung, atau mulut. 

Di samping itu masa onset TBC lebih lama dibandingkan COVID-19 yang diketahui memiliki masa inkubasi hingga 14 hari.

Baca juga:6 Tips Mencegah COVID-19 di Rumah yang Perlu Dilakukan 

Gejala TBC dan COVID-19

Gejala TB dan COVID-19 bisa serupa, misalnya batuk, demam dan sesak napas. Hal ini dapat membuat kebingungan dalam diagnosis pasien TBC maupun COVID-19. Namun secara spesifik, gejalanya dapat dibedakan.

Gejala umum TBC:

  • Demam
  • Letih
  • Batuk, dapat terjadi lebih dari 2 minggu dan kronik
  • Turun berat badan
  • Nafsu makan menurun
  • Berkeringat saat malam
  • Sesak napas terjadi secara konstan

Gejala umum COVID-19:

  • Demam
  • Sakit kepala
  • Letih
  • Batuk, terjadi secara tiba-tiba. Batuk kering dan akan berdahak pada kasus yang berat
  • Terkadang ada nyeri tenggorokan
  • Tidak ada penurunan berat badan dan nafsu makan serta tidak berkeringat saat malam
  • Sesak memburuk dalam hitungan hari 

Hal yang perlu diperhatikan penderita dan penyintas TBC

Untuk mencegah paparan COVID-19, ada beberapa hal yang penting diterapkan oleh para penderita maupun mantan pasien TBC. Seperti:

  • Menerapkan etika batuk dan bersin
  • Selalu menjaga kebersihan tangan dengan mencucinya di bawah air mengalir menggunakan sabun atau menggunakan handsanitizer 
  • Hindari menyentuh area wajah terutama mata, hidung dan mulut
  • Hindari keramaian
  • Selalu menjaga jarak aman

Pengobatan penyakit  TBC

Dalam kebanyakan kasus, pengobatan tuberkulosis tidak berbeda pada orang dengan atau tanpa infeksi COVID-19. Pengobatan TBC tidak boleh dilewatkan karena risiko kematian penderitanya berada di angka 50%. Bahkan bisa lebih tinggi bila pasien sudah lanjut usia atau memiliki penyakit lain. 

Menurut WHO, sampai saat ini pasien COVID-19 yang juga memiliki TBC, tidak boleh menghentikan pengobatan TBC. Pengobatan TBC harus terus berlangsung untuk menjaga kesehatan pasien, mengurangi penularan dan mencegah berkembangnya resistensi obat.

Bila kamu atau kerabat dekatmu adalah penderita TBC, layanan kesehatan dapat diakses secara online demi menghindari keramaian. Obat juga lebih baik dikirim sehingga tidak perlu selalu ke klinik.

Pencegahan penyakit TBC

Nah, untuk mencegah paparan penyakit TBC di tengah pandemi COVID-19, ada beberapa hal penting yang harus kamu terapkan, seperti:

  • Memakan makanan yang bergizi 
  • Tidak merokok
  • Berolahraga
  • Memelihara tempat tinggal agar memiliki perputaran udara yang baik 
  • Menjemur alas tidur agar tidak lembab
  • Bagi bayi yang baru lahir, pastikan mendapat vaksin BCG 

Selama masa pandemi COVID-19, WHO juga terus memantau pencegahan dan perawatan penyakit TBC. Bagaimanapun layanan kesehatan untuk para pasien TBC harus dipertahankan untuk mengantisipasi pertemuan dari kedua pandemi. 

Jaga kesehatan kamu dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!

Reference
  • Togun, T., Kampmann, B., Stoker, N.G. et al. Anticipating the impact of the COVID-19 pandemic on TB patients and TB control programmes. Ann Clin Microbiol Antimicrob 19, 21 (2020). https://doi.org/10.1186/s12941-020-00363-1
  • Who.int. (2020). Diakses pada 6 Oktober 2020. Q&A: Tuberculosis and COVID-19
  • Soptbindonesia.org. (2020). Diakses pada 6 Oktober 2020.  Informasi TBC & COVID-19
    register-docotr